Bacaan Misa
Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!
Invitatorium
Pekan I Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah menyembah Tuhan, Pencipta kita.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah menyembah Tuhan, Pencipta kita.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Raja Kasih Gembalaku,
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Aku mengasihi-Mu, Tuhan; Engkaulah kekuatanku.
Mazmur 17 (18)
Syukur atas keselamatan dan kemenangan
Pada waktu itu terjadilah gempa bumi yang dahsyat (Wahyu 11:13).
AntifonAku mengasihi-Mu, Tuhan; Engkaulah kekuatanku.
Antifon 2Tuhan telah menyelamatkanku; Dia menginginkan aku menjadi milik-Nya.
AntifonTuhan telah menyelamatkanku; Dia menginginkan aku menjadi milik-Nya.
Antifon 3Tuhan, nyalakanlah terang untuk bimbinganku dan serakkanlah kegelapanku.
AntifonTuhan, nyalakanlah terang untuk bimbinganku dan serakkanlah kegelapanku.
Responsorium Ratapan 2:1
Responsorium Mazmur 77:6-7, 3; lihat 11, 10
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Tuhan, dalam terangMu kami melihat cahaya.
Mazmur 35
Antifon 1Tuhan, dalam terangMu kami melihat cahaya.
Antifon 2Tuhan, Engkau agung dan mulia, kuasaMu mengagumkan.
Ydt 16,2-3,15-19
Antifon 2Tuhan, Engkau agung dan mulia, kuasaMu mengagumkan.
Antifon 3Segala bangsa, elukanlah Allah dengan sorak-sorai.
Mazmur 46 (47)
Antifon 3Segala bangsa, elukanlah Allah dengan sorak-sorai.
Bacaan Singkat (Tb 4,16-17;19-20)
Lagu Singkat
Antifon KidungTunjukkanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan dan indahkanlah perjanjianMu yang kudus.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTunjukkanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan dan indahkanlah perjanjianMu yang kudus.
Doa Permohonan
℟. Kuduskanlah saudara-saudaraMu, ya Tuhan.
Semoga permulaan hari ini kami baktikan kepadaMu untuk menghormati kebangkitanMu,* dan segenap hari ini kami kuduskan dengan pekerjaan yang menyenangkan hatiMu. ℟.
Sebagai tanda cintakasihMu Engkau menggembirakan kami dengan hari yang baru,* maka perbaharuilah kami setiap hari demi kemuliaanMu. ℟.
Ajarlah kami melihat Engkau dalam segala hal,* dan menjumpai Engkau terutama dalam saudara yang malang dan miskin. ℟.
Semoga kami hari ini hidup berdamai dengan semua orang,* dan tidak membalas yang jahat dengan yang jahat. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (1 Pe 1, 13-14)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Terpujilah Engkau, ya Tuhan; ajarkanlah ketetapanMu kepadaku.
Mazmur 118 (119),9-16
Antifon 1Terpujilah Engkau, ya Tuhan; ajarkanlah ketetapanMu kepadaku.
Antifon 2Langkahku menempuh jalan perintahMu, ya Tuhan.
Mazmur 16 (17) I
Antifon 2Langkahku menempuh jalan perintahMu, ya Tuhan.
Antifon 3Bangkitlah, Tuhan, luputkan daku dari orang berdosa.
Mazmur 16 (17) II
Antifon 3Bangkitlah, Tuhan, luputkan daku dari orang berdosa.
Bacaan singkat 1Ptr 1,15-16
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Iac 4, 7-8a. 10)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Tuhanlah cahaya dan penyelamatku, siapa 'kan kutakuti?
Mazmur 26
Antifon 1Tuhanlah cahaya dan penyelamatku, siapa 'kan kutakuti?
Antifon 2Wajahmu kucari, ya Tuhan; janganlah wajahMu Kausembunyikan dari padaku.
Mazmur 26 II
Antifon 2WajahMu kucari, ya Tuhan; janganlah wajahMu Kausembunyikan dari padaku.
Antifon 3Kristuslah yang pertama dari segala ciptaan, Ia utama dalam segala sesuatu.
Kol 1,12-20
Antifon 3Kristuslah yang pertama dari segala ciptaan, Ia utama dari segala sesuatu.
Bacaan Singkat (Yak 1,22.25)
Antifon KidungPerbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang mahakuasa: kuduslah namaNya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungPerbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang mahakuasa: kuduslah namaNya.
Doa Permohonan
℟. Tunjukkanlah cinta kasihMu, ya Tuhan.
Ingatlah, ya Tuhan, akan GerejaMu dan lindungilah umatMu terhadap segala kemalangan,* sempurnakanlah kami dalam cinta kasihMu. ℟.
Semoga para bangsa mengenal Engkau, Allah satu-satunya,* dan Yesus Kristus, PuteraMu yang telah Kauutus. ℟.
Anugerahkanlah kesejahteraan kepada sanak saudara kami,* limpahilah mereka dengan berkat dan kehidupan selama-lamanya. ℟.
Hiburkanlah semua orang yang dibebani pekerjaan berat,* dan belalah kehormatan orang yang dipandang hina. ℟.
Semoga pintu belaskasihanMu terbuka bagi semua orang yang meninggal hari ini,* dan terimalah mereka dalam kerajaanMu. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
Antifon 1Sudilah Engkau menjadi gunung pengungsian dan benteng pertahananku yang kuat.
Mazmur 30 (31),1-6
Antifon 1Sudilah Engkau menjadi gunung pengungsian dan benteng pertahananku yang kuat.
Antifon 2Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 129 (130)
Antifon 2Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat Ef 4,26-27
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santa Elizabeth Bichier
Elizabeth dilahirkan pada tahun 1773. Ketika masih kanak-kanak, permainan kesukaannya ialah membuat benteng-benteng di pasir. Bertahun-tahun kemudian, wanita Perancis yang kudus ini memikul tanggung jawab pembangunan biara-biara bagi ordo para biarawati yang didirikannya.
“Aku rasa membangun memang dimaksudkan untuk menjadi pekerjaanku,” katanya bergurau, “sebab aku telah memulainya sejak masih kanak-kanak!” Sesungguhnya, hingga tahun 1830, yaitu delapan tahun sebelum wafatnya, Elizabeth telah mendirikan lebih dari enampuluh biara.
Selama masa Revolusi Perancis, keluarga Elizabeth kehilangan segala harta milik mereka. Hal ini terjadi karena kaum republik menyita harta milik para bangsawan. Tetapi, gadis muda berusia sembilan belas tahun yang sangat pandai ini belajar hukum agar dapat memenangkan kasus keluarganya di pengadilan. Ketika Elizabeth berhasil memenangkan perkaranya dan menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, tukang sepatu desa berseru, “Sekarang, satu-satunya hal yang perlu engkau lakukan adalah menikah dengan seorang kaum Republik yang baik!” Namun demikian, Elizabeth tidak memiliki niat untuk menikah dengan siapa pun, entah dari kalangan republik atau pun dari kalangan bangsawan. Di balik sebuah gambar Bunda Maria, ia menulis, “Aku membaktikan serta mempersembahkan diriku kepada Yesus dan Maria untuk selama-lamanya.”
Dengan bantuan St.Andreas Fournet, Elizabeth membentuk suatu ordo religius baru yang diberi nama Putri-putri Salib. Ordo baru ini berkarya dengan mengajar anak-anak dan melayani orang sakit. Elizabeth siap menghadapi segala bahaya demi menolong sesama. Suatu ketika ia mendapati seorang gelandangan terbaring sakit di sebuah gudang. Ia membawanya ke rumah sakit biara dan melakukan segala yang ia mampu untuknya hingga gelandangan itu meninggal dunia. Keesokan paginya, kepala polisi datang memberitahu bahwa ia ditangkap karena melindungi seseorang yang diyakini sebagai seorang penjahat. Elizabeth tidak takut, “Aku hanya melakukan apa yang mungkin engkau sendiri akan lakukan, Tuan,” katanya. “Aku menemukan orang sakit yang malang ini, dan merawatnya hingga ia meninggal. Aku siap untuk mengatakan kepada hakim apa yang telah terjadi.” Tentu saja, kejujuran dan belas kasihan santa kita ini mendapat banyak simpati. Orang banyak mengagumi jawaban-jawabannya yang jujur, tegas dan jelas.
Sahabat yang membantunya mendirikan ordo, St. Andreas Fournet, wafat pada tahun 1834. St. Elizabeth menulis kepada para biarawatinya, “Inilah kehilangan kita yang paling besar dan paling menyedihkan.” St. Elizabeth wafat pada tanggal 26 Agustus 1838. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1947
Arti nama
Berasal dari kata Yunani : Ελισαβετ (Elisabet), yang aslinya berasal dari kata Ibrani : אֱלִישֶׁבַע ('Elisheva') yang berarti : Tuhan adalah Hidup saya / Tuhan saya adalah kelimpahan / Pemuja Tuhan
Santa Mariam Baouardy
Santa Mariam Baouardy adalah seorang biarawati Karmel yang berasal dari keluarga Katolik Melkite Yunani. Ayahnya, Giries (Georgius) Baouardy, berasal dari desa Horfesch di Palestina sedangkan ibunya, Mariam Shahine, berasal dari Tarshiha, Palestina. Kedua desa tersebut didiami oleh orang Druze (Kristen Arab) yang kebanyakan merupakan rakyat jelata yang hidup sederhana.
Melkite adalah sebutan untuk Gereja Kristen yang beribadat menurut ritus Byzantine di Timur Tengah. Gereja ini terbagi dalam dua kelompok yaitu Gereja Ortodoks Melkite/Antiokhia, ar-Rumi Urtuduks yang terpisah dari Paus dan Gereja Katholik Melkite yang berada dalam persekutuan penuh dengan Paus. Gereja Katolik Melkite Yunani merupakan salah satu dari 22 gereja otonom dalam persekutuan penuh dengan Paus di Roma.Kelahiran dan Masa Kecil
Selama masa perkawinannya, pasangan Giries dan Mariam Shahine dikaruniai 12 anak laki-laki, namun tak seorangpun yang tetap hidup saat infansi, sehingga menimbulkan kesedihan yang besar bagi mereka. Mariam yang rajin berdevosi kepada Bunda Maria membujuk suaminya untuk pergi ke Betlehem dan memohon kepada Tuhan melalui Bunda Maria agar dikaruniai seorang anak perempuan. Maka mereka pun melakukan hal itu. Di depan gua tempat Kelahiran Yesus, mereka mengutarakan permintaan mereka dalam doa. Mereka percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa dan permohonan mereka itu. Karena iman mereka tersebut, maka pada tanggal 5 Januari 1846, pada malam Epifani, seorang bayi perempuan dilahirkan. Kelahiran bayi perempuan itu membawakan sukacita yang besar bagi pasangan Giries dan Mariam. Ketika si bayi berumur 10 hari, mereka membawanya ke sebuah Gereja lokal Melkite untuk menerima Sakramen Babtis. Bayi itu dipersembahkan di bawah perlindungan Perawan Marian dan diberi nama Mariam Baouardy.
Dua tahun kemudian keluarga tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki, yang diberi nama Boulos (Paul). Kebahagiaan semakin mewarnai kehidupan keluarga kecil itu. Namun rupanya kebahagiaan yang mereka rasakan itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Kedua orang tua Mariam dan Paul meninggal saat mereka masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang. Sesaat sebelum meninggal dunia, Giries menatap gambar Santo Yosef dan menyerahkan anak-anaknya kepada perlindungan Santo Yosef dan Bunda Maria. Sepeninggal kedua orang tua mereka, Paul kecil lalu dibawa oleh bibi dari pihak ibu di daerah Tarshiha, sedangkan Mariam diadopsi oleh paman dari pihak ayah di Abellin Galilea.
Pindah ke Galilea
Abellin adalah suatu daerah yang memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Dari puncak desa terlihat seluruh bagian atas Galilea. Mariam kecil sangat menyukai pemandangan itu. Ia sering memandang alam sambil mengenang kembali kehidupannya. Dari daerah itu jika memandang ke arah utara, nampak barisan gunung yang tinggi, perbatasan Lebanon. Di Timur Laut terdapat Jebel Shaykh yang megah dan awan menutupinya sepanjang tahun. Di sebelah Timur, gelombang bukit-bukit melandai lembut ke bawah menuju Danau Galilea, yang disebut juga Tiberias; di sebelah Selatan, dataran yang kaya Esdralon membentang sampai ke Gunung Karmel. Di sebelah Barat Laut melalui bukit pasir terdapat Laut Mediterania yang biru berkilauan.
Mariam tinggal bersama keluarga yang menyenangkan, pamannya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Ia merasa senang tinggal bersama keluarga pamannya itu. Suatu ketika, Mariam mengalami suatu peristiwa kecil yang membawa kesan tersediri baginya. Peristiwa itu terjadi di tengah-tengah kebun buah pamannya. Di sana ia mempunyai sebuah kandang kecil yang didiami oleh burung-burung kecil, hadiah yang diberikan kepadanya. Suatu hari terdorong oleh perhatian dan kasihnya, ia berniat memandikan mereka, namun karena Mariam kecil belum mengerti cara yang tepat, maka menyebabkan burung-burung itu mati karena basah. Kematian mereka melukai hati kecil gadis kecil itu. Dengan penuh dukacita ia menguburkan mereka, dan saat itu di lubuk hatinya ia mendengar suatu suara yang jelas, “Seperti ini, betapa segala sesuatu berlalu. Jika engkau memberikan hatimu, Aku akan selalu tetap bersamamu.”
Keteguhan Iman Marian
Saat Mariam berumur delapan tahun pamannya meninggalkan Palestina bersama seluruh keluarga dan menetap di Alexandria, Mesir. Ia tidak lagi melihat Ibillin yang dicintainya itu. Ketika Mariam berumur 13 tahun, ia dijodohkan dengan seorang pemuda, hal ini dilakukan menurut adat istiadat mereka. Pernikahan diatur tanpa persetujuan kedua pengantin. Kebiasaan ini terjadi di kalangan orang-orang Timur Tengah. Mengetahui hal tersebut, Mariam terkejut dan hatinya menjadi sangat sedih. Pada malam sebelum acara pernikahan itu diadakan, ia tidak dapat tidur. Ia tidak siap sama sekali untuk hidup sebagai seorang wanita yang menikah. Malam itu dengan sungguh-sungguh ia berdoa memohon bimbingan dan penghiburan. Kemudian dari kedalaman hatinya ia mendengar kembali suara yang begitu meneduhkan, “Segala sesuatu berlalu! Jika engkau berharap memberikan hatimu kepada-Ku, Aku akan tetap bersamamu.” Mariam mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah suara dari kekasih satu-satunya yang ia miliki yaitu Yesus. Malam itu ia lalui dengan doa yang mendalam di depan gambar Perawan Bunda Yesus; kemudian ia mendengar suara, “Mariam, Aku besertamu, ikuti bimbingan yang Kuberikan kepadamu. Aku akan menolongmu.”
Keesokan harinya, ketika Mariam menyatakan keberatannya untuk menikah dan ingin tetap perawan, paman yang mengadopsinya menjadi sangat marah. Ia meledak dalam kemarahan, berteriak, memukul dan menampar Mariam, tetapi tidak ada yang dapat mengubah ketetapan hati Mariam. Maka pamannya terpaksa mempekerjakan ia sebagai pekerja domestik, memberikan tugas-tugas dapur yang paling berat dan menempatkannya pada posisi yang lebih rendah daripada pembantu lainnya.
Mariam tenggelam dalam perasaan kesepian dan kehilangan harapan. Ia minta tolong kepada saudara laki-lakinya Paul. Ia menulis surat kepadanya dan memintanya supaya datang dan melihatnya di Alexandria. Dalam pengasingan oleh keluarga pamannya ini Mariam meminta bantuan kepada seorang pemuda muslim agar mengirim suratnya ke Nazaret. Pemuda itu menganjurkan Mariam mengungkapkan masalah pribadinya. Namun kemudian ia mencoba merayu Mariam untuk meninggalkan imannya. Kata-kata dan tindakannya secara langsung menyerang Kekristenan Mariam. Namun Mariam menolak rayuan pemuda itu dan dengan tegas menyatakan imannya akan Gereja Kristus; “Aku seorang putri Gereja Katolik, dan aku berharap oleh rahmat Allah untuk bertekun sampai mati di dalam kepercayaanku”.
Penolakan Mariam membuat pemuda muslim itu marah. Dengan mata penuh kebencian, ia memukul Mariam hingga roboh. Setelah itu ia mengambil pedang dan menggorok leher gadis itu. Mengira bahwa Mariam sudah mati, ia membuang tubuh berdarah itu di sebuah lorong gelap. Peristiwa mengerikan ini terjadi pada tanggal 8 September 1858.
Apa yang terjadi kemudian yaitu suatu peristiwa aneh dan indah. Mariam merasa ada seorang perempuan berpakaian biru membawanya ke atas dan menjahit luka di lehernya. Pengalaman ini terjadi di suatu gua. Beberapa tahun kemudian, Mariam menceritakan pengalamannya itu kepada salah seorang suster di Marseilles, katanya,
“Saya merasa diri saya berada di surga bersama Perawan Terberkati, para malaikat dan para kudus. Mereka merawat saya dengan baik sekali, dengan penuh kasih. Di antara mereka ada kedua orang tua saya. Saya melihat suatu tahta cemerlang Tritunggal Maha Kudus dan Yesus Kristus dalam kemanusiaan‑Nya. Tidak ada matahari, tidak ada lampu, namun segala sesuatu bersinar terang. Seseorang berbicara kepada saya. Mereka mengatakan bahwa saya seorang perawan, namun kitab saya belum selesai. Saat luka disembuhkan saya harus meninggalkan gua dan Bunda Maria membawa saya ke Gereja St. Katharina; saya dilayani oleh rahib Fransiskan. Saya pergi untuk mengaku dosa. Ketika kembali, perempuan berpakaian biru itu telah menghilang.”Beberapa tahun kemudian saat dalam keadaan ekstase, pada tanggal 8 September 1874, pada hari peringatan kelahiran Bunda Maria, Mariam mengatakan, “Pada hari yang sama pada tahun 1858, saya ada bersama Bunda Maria dan mengabdikan hidup kepadanya. Seseorang telah berusaha menggorok leher saya, tetapi pada hari berikutnya Bunda Maria merawat saya.”
Menjadi Biarawati Karmel
Sejak hidup terpisah dari pamannya, Mariam tidak pernah lagi melihat pamannya. Ia menyokong hidupnya sendiri dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Kristen Arab, Najjar. Selama itu kerinduan Mariam untuk mempersembahkan hidupnya pada Yesus semakin besar. Kemudian atas anjuran Bapa pengakuannya, Mariam bergabung dengan suster-suster St. Yosef. Bersama beberapa postulan dari Lebanon dan Palestina, ia tinggal bersama dengan para suster tersebut. Namun tak lama setelah itu kesehatannya menurun dan kejadian-kejadian mistik mulai dialaminya. Hal itu mengganggu kongregasi di mana ia tinggal. Mereka terkejut melihat gerakan-gerakan dan pancaran mistik yang terjadi. Berdasarkan alasan tersebut, maka Mariam tidak diperkenankan untuk memasuki masa novisiat. Kemudian oleh pembimbing novis di sana, Sr. Veronica, Mariam dimasukkan ke biara Karmel Pau. Mariam memasuki Karmel saat berumur 21 tahun sebagai seorang suster biasa. Ia mengambil nama Suster Maria dari Yesus yang Disalib.
Pengalaman Mistik
Suster Maria dari Yesus yang Disalib, mengucapkan kaul pertamanya pada tanggal 21 November 1871 sebagai Religius Karmel. Sebelum kejadian itu ia menderita kesengsaraan yang hebat. Salah satu yang paling mengerikan yaitu gangguan roh jahat selama 40 hari. Ia bertekun dalam kesederhanaan dan kepercayaan seorang anak kecil kepada Allah Putera dan Bunda-Nya yang Kudus, Maria. Penghargaan atas hal-hal itu mendatangkan hak paling istimewa bagi manusia. Ia menerima anugerah tetap stigmata dari Penyelamat yang disalib, mengalami levitasi, menerima karunia nubuat dan pengetahuan atas hati, dikuasai oleh malaikat baik, dan memiliki muka yang bercahaya. Ia berkata, “Segala sesuatu berlalu di atas bumi. Siapakah kita? Tidak lain selain debu, kehampaan, dan Allah sangat besar, sangat indah, sangat patut dicintai, namun tidak dicintai.”
Devosi Kepada Roh Kudus
Suster Maria dari Yesus yang Disalib berdevosi rutin kepada Roh Kudus, pemilik kebenaran tanpa kesalahan dan penyimpangan. Melalui Patriark Melkite Gregorius II, ia mengirim sebuah pesan kepada Paus Pius IX yang mengatakan bahwa Gereja, bahkan seminari-seminari, mengabaikan devosi sebenarnya kepada Roh Kudus, Sang Penghibur. Doanya kepada Yang Tak Dikenal :
“Roh Kudus, inspirasikan aku. Cintakasih Allah pakailah aku. Sepanjang jalan kebenaran pimpinlah aku. Maria ibuku yang baik, tengoklah aku. Bersama Yesus berkatilah aku. Dari segala yang jahat, segala ilusi, semua bahaya, lindungilah aku.”Doa sederhana dari Suster Maria ini menyebar ke seluruh dunia.
Akhir kehidupan
Suatu hari dalam bulan Agustus 1878, ketika sedang melakukan pekerjaannya di biara, Suster Maria mengalami suatu rasa kesakitan yang sangat hebat. Saat itu ia berusia 33 tahun. Ganggren timbul dengan cepat dan menyebar ke bagian pernafasannya. Ia tidak pernah sembuh dari luka tersebut. Ia begitu menderita akibat sakitnya itu, namun ia menerimanya dengan tabah dan tulus hati. Pada tanggal 26 Agustus 1878, Suster Maria kembali mengalami serangan kesulitan pernafasan yang amat hebat dan mengancam hidupnya. Setelah beberapa saat penderitaan yang dialaminya itu, Suster Maria meninggal dunia. Pada saat terakhir hidupnya itu, ia berbisik dengan lirih, “Yesusku, berbelaskasihlah.” Suster Maria menyerahkan dirinya kepada Yesus yang amat dicintainya, ia meninggalkan dunia ini untuk bertemu dan bersatu dengan kekasihnya. Saat itu pukul lima lewat sepuluh menit di pagi hari.
Ketika ia dimakamkan, pada batu nisan makamnya terukir tulisan: “Di sini dalam damai Tuhan beristirahatlah Suster Maria dari Yesus yang Disalib, profesi religius dengan kerudung putih. Suatu jiwa dengan rahmat-rahmat luar biasa. Ia dikenal karena kerendahan hatinya, ketaatannya, dan cintakasihnya. Yesus satu-satunya cinta dalam hatinya memanggil dia untuk diri-Nya dalam usia 33 tahun dan 12 tahun dari hidup religiusnya di Betlehem, 26 Agustus 1878.
Kanonisasi
Saat ini Suster Maria dari Yesus yang Disalib dikenal sebagai “Al Qiddisa” (yang kudus) di Ibillin, Palestina. Ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 13 November 1983 dan dikanonisasi pada tanggal 17 Mei 2015 bersama 3 orang kudus lainnya yaitu : Santa Jeanne-Emilie de Villeneuve, Santa Maria Cristina Brando dan Santa Maria Alfonsina Ghattas.
Misa kanonisasinya digelar di lapangan Santo Petrus Vatikan dan dihadiri oleh 2.000 warga Kristen Palestina, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Arti nama
Mariam ==> Ejaan Arab dan Ibrani untuk nama : Maria.
Maria = Versi Latin untuk nama Yunani Μαριαμ (Mariam) dan Μαρια (Maria). Ejaan Yunani ini adalah terjemahan yang digunakan dalam Kitab Perjanjian Baru untuk nama Ibrani : מִרְיָם (Miryam).
Dalam Kitab Suci, nama ini pertama kali di temukan pada kitab Keluaran 15:20 (nama saudari Musa dan Harun).
Arti nama "Maria" tidak diketahui secara pasti.
Ada beberapa teori yang menyebutkan nama ini berarti : "Pahit, Pedih, Lautan kepedihan, Lautan Kesedihan", dan "pemberontakan".
Teori lain menyebutkan nama ini berasal dari kata Mesir Kuno : "mr" (cinta) atau: "mry" (kekasih, yang dicintai).
Santa Teresia Yornet
Teresia lahir di Aytona, Spanyol pada tanggal 9 Januari 1843. Orangtuanya adalah petani miskin yang saleh dan sangat beribadat kepada Tuhan. Teresia belajar di sekolah setempat hingga memperoleh ijazah guru. Selama beberapa tahun ia mengajar di sekolah dasar Argensola. Masyarakat sekitar senang sekali dengannya karena carana mendidik anak-anak sangat baik.
Meskipun dunia pendidikan merupakan bidang kerja yang disenanginya, namun dia mencita-citakan sesuatu yang lebih mulia, yakni menjadi biarawati. Tak lama kemudian ia masuk novisiat suster-suster Klaris. Tetapi karena kesehatannya terganggu, Teresia tidak diperkenankan mengikrarkan kaulnya yang pertama. Ia lalu keluar dari tarekat suster-suster Klaris. Kemudian oleh seorang imam yang saleh, Teresia diminta untuk turut mendirikan sebuah kongregasi suster yang diabdikan untuk pelayanan dan perawatan orang-orang tua renta yang sakit dan miskin.
Pada tahun 1873 Teresia bersama beberapa orang gadis membentuk Kongregasi suster-suster Kecil. Dia diangkat sebagai pemimpin Kongregasi baru ini. Oleh suster-suster rekannya, dia disebut sebagai Teresia a Jesu. Dibawah kepemimpinannya, kongregasi ini berkembang pesat. Limabelas tahun kemudian, tatkala tarekat baru tersebut disahkan oleh Tahkta Suci, anggota-anggotanya telah bekerja di 58 rumah perawatan orang-orang jompo di Spanyol dan kemudian di Amerika Selatan. Sulit sekali membayangkan berbagai penderitaan yang harus ditanggung oleh suster-suster tersebut. Salah satu peristiwa yang baru menimpa mereka adalah meninggalnya 24 orang suster serta 70 orang tua karena serangan penyakit kolera. Menghadapi musibah besar ini, Teresia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyerahkan diri kepada penyelenggaraan Ilahi Allah. Imannya yang kokoh akan Allah memberi keteguhan kepada suster-suster lainnya yang melanjutkan karyanya demi kebahagiaan orang-orang tua yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Teresia Yornet meinggal dunia pada tanggal 26 Agustus.
Santo Zepherinus
Zepherinus terpilih menjadi Paus pada tahun 199. Ia memimpin Gereja dalam situasi yang sangat sulit karena aksi penganiayaan terhadap umat oleh Kaisar Lucius Septimus Severus. Di samping harus berusaha keras mengembalikan orang-orang beriman yang murtad, Zepherinus pun harus berjuang menegakkan iman yang benar dihadapan petinggi Kekaisaran Roma dan para heretic trinitarian. Untuk itu ia dengan setia dan penuh kasih sayang mendampingi para tahanan dan orang-orang berdosa yang bertobat. Paus Zepherinus mati sebagai martir Kristus pada tahun 217. Jenasahnya dikuburkan di pekuburan Santo Kallistus di Roma di samping Santo Tarsisius, martir Ekaristi pada abad ketiga.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari