Bacaan Misa
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu--kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami--dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.
Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!
Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.
TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku,
Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya."
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya." Maka kata Yesus: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
Invitatorium
Pekan II Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah menyembah Tuhan, raja para kudus.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah menyembah Tuhan, raja para kudus.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Hanya Tuhan yang telah melakukan keajaiban demikian; kasih setia-Nya kekal selama-lamanya.
Mazmur 135 (136)
Nyanyian Paskah
Kami memuji Allah dengan mengingat perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib (Cassiodorus).
AntifonHanya Tuhan yang telah melakukan keajaiban demikian; kasih setia-Nya kekal selama-lamanya.
Antifon 2Ia membawa Israel keluar dari Mesir dengan tangan yang perkasa dan lengan yang teracung.
AntifonIa membawa Israel keluar dari Mesir dengan tangan yang perkasa dan lengan yang teracung.
Antifon 3Pujilah Allah surga; Ia telah menebus kita dari musuh-musuh kita.
AntifonPujilah Allah surga; Ia telah menebus kita dari musuh-musuh kita.
Responsorium Wahyu 19:7-9; Hosea 2:20
Responsorium Lihat Sirakh 48:1; Maleakhi 2:6
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur dari lingkaran empat pekan
Antifon 1Kami mewartakan kasihMu pagi hari, ya Tuhan dan kesetiaanMu di waktu malam.
Mazmur 91 (92)
Antifon 1Kami mewartakan kasihMu pagi hari, ya Tuhan dan kesetiaanMu di waktu malam.
Antifon 2Muliakanlah Allah kita.
Ul 32,1-12
Antifon 2Muliakanlah Allah kita.
Antifon 3Betapa mulia namaMu, ya Tuhan, di seluruh bumi.
Mazmur 8
Antifon 3Betapa mulia namaMu, ya Tuhan, di seluruh bumi.
Bacaan Singkat (Rom 12,1-2)
Lagu Singkat
Antifon KidungBarang siapa melakukan kehendak BapaKu, dialah suadara, saudari dan ibuKu, sabda Tuhan.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungBarang siapa melakukan kehendak BapaKu, dialah suadara, saudari dan ibuKu, sabda Tuhan.
Doa Permohonan
℟. Hanya Engkaulah kudus, ya Tuhan.
Engkau sudi menjadi serupa dengan kami dalam segalanya, kecuali dalam hal dosa,* Yesus Tuhan kami, kasihanilah kami. ℟.
Engkau mengundang kami semua untuk menaruh cinta yang sempurna,* Yesus, Tuhan kami, kuduskanlah kami. ℟.
Engkau berpesan agar kami menjadi garam dan terang dunia,* Yesus, Tuhan kami, terangilah hati kami. ℟.
Engkau datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,* Yesus, Tuhan kami, tolonglah kami mengabdi Engkau dan saudara-saudara kami. ℟.
Engkaulah sinar kemuliaan Bapa dan citra wajah Allah,* Yesus, Tuhan kami, semoga kami memandang wajahMu dalam kemuliaan kekal. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Dt 8, 5b-6)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Tuhan bersabda: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabdaKu takkan lenyap.
Mazmur 118 (119), 81-88
Antifon 1Tuhan bersabda: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabdaKu takkan lenyap.
Antifon 2Tuhan, Engkaulah harapanku, jadilah pelindungku dan bentengku terhadap musuh.
Mazmur 60 (61)
Antifon 2Tuhan, Engkaulah harapanku, jadilah pelindungku dan bentengku terhadap musuh.
Antifon 3Jagalah hidupku terhadap musuh, ya Tuhan.
Mazmur 63 (64)
Antifon 3Jagalah hidupku terhadap musuh, ya Tuhan.
Bacaan singkat 1Raj 2,2b-3
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Ier 6, 16)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan III Mazmur
Madah
Antifon 1Dari timur sampai ke barat terpujilah nama Tuhan.
Mazmur 112 (113)
Antifon 1Dari timur sampai ke barat terpujilah nama Tuhan.
Antifon 2Aku mengangkat piala untuk merayakan keselamatan sambil menyerukan nama Tuhan.
Mazmur 115 (116B,10-19)
Antifon 2Aku mengangkat piala untuk merayakan keselamatan sambil menyerukan nama Tuhan.
Antifon 3Tuhan Yesus telah menghampakan diri; sebab itu Allah meninggikan Dia selama-lamanya.
Kidung Flp 2,6-11
Antifon 3Tuhan Yesus telah menghampakan diri; sebab itu Allah meninggikan Dia selama-lamanya.
Bacaan Singkat (Ibr 13,20-21)
Lagu Singkat
Antifon KidungDi mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada, sabda Tuhan.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungYesus mewartakan kabar gembira tentang kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.
Doa Permohonan
℟. Tunjukkanlah belaskasihanMu kepada kami, ya Tuhan.
Segala kurnia yang kami terima hari ini, ya Tuhan, berasal dari kebaikanMu,* semoga pemberianMu itu menghasilkan buah dalam hati kami. ℟.
Engkaulah cahaya dan keselamatan para bangsa. Lindungilah kiranya saksi-saksiMu yang Kauutus ke seluruh dunia,* dan kobarkanlah api Roh kudus dalam hati mereka. ℟.
Bimbinglah semua orang, supaya dengan rela menanggapi tuntutan zaman ini,* sehingga dunia semakin sesuai dengan martabatnya yang luhur. ℟.
Engkaulah penyembuh jiwa dan raga. Ringankanlah penderitaan orang sakit, dampingilah orang yang menghadapi ajalnya,* dan hiburkanlah kami dalam belaskasihanMu. ℟.
Terimalah kiranya orang-orang mati dalam bilangan para kudusMu,* yang namaNya tercatat dalam buku kehidupan. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Doa Tobat
Madah
Antifon 1Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Mazmur 4
Antifon 1Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Antifon 2Pujilah Tuhan di waktu malam.
Mazmur 133 (134)
Antifon 2Pujilah Tuhan di waktu malam.
Bacaan singkat Ul 6,4-7
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santa Maria Mackillop
Masa Kanak-kanak dan Remaja
Maria Ellen Mackillop lahir pada tanggal 15 januari 1842 di Fitztroy, Melbourne Australia. Ayahnya bernama Alexander Mackillop, seorang mantan frater berkebangsaan Skotlandia yang berimigrasi ke Australia demi mencari kehidupan baru. Ibunya bernama Flora MacDonald putri seorang janda yang juga berasal dari Skotlandia. Alexander dan Flora dikaruniakan delapan orang anak. Maria Ellen Mackillop adalah putri sulungnya. Dari delapan bersaudara ini di kemudian hari salah satu saudaranya Donald menjadi Imam Yesuit dan satu saudarinya Lexie menjadi biarawati.
Mereka mengalami masa kanak-kanak yang tak menentu. Kehidupan keluarga tak dapat tenang dan sejahtera karena begitu banyak kegagalan dalam usaha sang ayah. Rasa khawatir yang senantiasa menyertai keluarga mereka dalam masa-masa sulit ini dijawab oleh keyakinan Flora sang ibu mereka bahwa “Allah akan menyediakan segalanya.” Ia sangat yakin akan kuasa Ilahi dalam hidup bersama anak-anaknya. Keyakinan sang ibu ini kemudian menjadi kekuatan utama bagi Maria anaknya di sepanjang hidupnya.
Sebagai anak sulung, tentu semua tanggung jawab dibebankan ke atas pundak Maria. Di usianya yang keempatbelas ia bekerja sebagai pelayan toko. Seiring situasi keluarga yang sedang dalam krisis ditambah kemampuan ayahnya yang tidak sanggup lagi untuk menopang keadaan ekonomi keluarga, menjadikan Maria sebagai tulang punggung utama keluarga besar MacKillop.
Pada tahun 1860, ketika usianya delapanbelas tahun, Maria pindah ke Penola, Australia Selatan, untuk bekerja pada pamannya, keluarga Cameron. Di sana ia bertugas mengasuh dan mendidik anak-anak. Tetapi, Maria tak hanya mengajar anak-anak keluarga Cameron, ia merasakan panggilan untuk mengajar anak-anak lain yang hidup dalam kemiskinan. Setiap hari ia selalu mengundang anak-anak lain untuk ikut belajar dengannya.
Bermodalkan pengetahuan seadannya Maria mengajarkan Katekismus dan bahan apa saja yang dapat diajarkannya kepada anak-anak tersebut. Usaha dan niat baik dari Maria ini lama kelamaan mendapatkan dukungan dari Pastor Julian Tenison Woods, imam paroki setempat. Kegiatannya mulai didukung oleh pastor paroki. Dalam diri pater Woods, Maria mendapatkan seorang pembimbing rohani; dengan senang hati ia mengungkapkan kerinduan dan angan-angannya untuk melayani kaum miskin, terutama dalam pendidikan anak-anak.
Maria mengajar selama dua tahun di Penola sebelum menerima pekerjaan mengajar anak-anak Cameron di Portland. Pada tahun 1864, Maria sudah berhasil membuka sekolah asramanya sendiri, “Bay View House Seminary for Young Ladies”, yang sekarang dikenal sebagai Bayview College. Ketika Maria masih mengajar di Portland, pastor Woods mengundang Maria dan saudara-saudaranya: Annie dan Lexie, datang ke Penola untuk memulai sebuah sekolah Katolik. Dengan bantuan saudaranya, John, sebuah kandang yang tak lagi digunakan, diubah untuk keperluan itu. John adalah seorang tukang kayu; sekarang dengan penghasilannya ia sudah dapat diandalkan untuk menopang hidup keluarga MacKillop. Dengan demikian, untuk pertama kali, di usianya yang keduapuluh empat tahun, Maria bebas menentukan jalan hidupnya sendiri.
Mendirikan Konggregasi Susteran dan menjadi Suster
Telah lama Maria memendam kerinduan untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan. Pada Hari Raya St.Yosef, 19 Maret 1866, Maria mulai mengenakan baju hitam sederhana sebagai realisasi awal tekadnya. Sementara itu, pater Woods ditunjuk sebagai Sekretaris Uskup Adelaide sekaligus sebagai Direktur Pendidikan untuk Australia Selatan.
Pada tanggal 21 November 1866, Maria dan saudarinya Lexie menanggalkan busana sekulir dan mengenakan baju postulan. Pater Woods kemudian menyusun regula (peraturan hidup dalam biara) Konggregasi susteran yang didirikannya bersama Maria. Inti regula adalah:
- Menekankan kemiskinan.
- mengandalkan penyelenggaraan ilahi;
- lepas dari kepemilikan barang pribadi;
- siap sedia pergi kemanapun mereka dibutuhkan.
Pada tanggal 15 Agustus 1867, Maria MacKillop secara resmi mengucapkan kaulnya dan mengambil nama Maria dari Salib. Ia menjadi biarawati pertama sekaligus Moeder Superior dari Konggregasi Suster-suster St.Yosef dari Hati Kudus; kongregasi susteran pertama yang didirikan di benua Australia. Maria juga menjadi biarawati asli Australia pertama yang berkarya diluar benua demi melayani dunia pendidikan dan kaum miskin. Pada akhir tahun 1867, telah terdapat sepuluh remaja putri Australia yang menggabungkan diri dalam Konggregasi Susteran ini. Biara mereka terletak di Grote Street, Adelaide.
Moeder Maria beserta para biarawati St.Yoseph mulai mengelola sekolah asrama di Penola yang terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan antara mereka yang mampu dan yang tidak mampu. Sekolah Maria menawarkan kepada para murid kesempatan untuk belajar ketrampilan-ketrampilan dasar kerja dan iman Katolik di samping pendidikan sekolah, dengan harapan kelak murid-murid dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Suster-suster St.Yoseph melayani juga anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar, kaum lanjut usia, mereka yang dipenjara, mereka yang sakit tanpa harapan hidup, panti asuhan dan panti jompo.
Uskup James Quinn dari Queensland mengundang Suster-suster St Yosef untuk berkarya di keuskupannya juga. Maka, pada tahun 1869, Maria dan sekelompok suster meninggalkan Adelaide dan berangkat ke Brisbane. Kongregasi ini berkembang pesat, pada tahun 1871, mereka telah memiliki 130 suster yang berkarya di lebih dari 40 sekolah dan lembaga-lembaga amal kasih di seluruh Australia Selatan dan Queensland.
Cobaan; Ekskomunikasi dan Pengusiran
Uskup Adelaide, Mgr.Sheil, Kondisi kesehatannya sangat buruk dan berakibat pada krisis kepemimpinan di Keuskupannya. Terjadi pertengkaran diantara para klerus yang membuat umat menjadi terpecah-belah. Pater Woods bersilang pendapat dengan beberapa klerus tentang pendidikan. Mereka menganggap pater Woods tak mampu mengelola sekolah dalam Keuskupan Adelaide. Para imam yang tak puas ini mengadu kepada Uskup Sheil. Mereka juga menganggap cara hidup para suster sebagai kurang pantas bagi kaum religius. Pada umumnya para suster St.Joseph hidup sebagaimana kaum miskin hidup. Mereka turut mengalami suka duka hidup kaum miskin sementara mengajar anak-anak. Yang lain kurang senang melihat para suster St.Joseph mengemis di jalan-jalan demi menopang hidup mereka.
Uskup Sheil memerintahkan suatu komisi untuk menyelidiki kehidupan para suster. Sebagai hasil, komisi merekomendasikan untuk mengubah regula dengan menempatkan masing-masing biara di bawah wewenang imam setempat. Ini bertentangan dengan apa yang diperjuangkan Suster Maria selama ini. Maria berupaya menjelaskan gagasannya kepada Uskup, namun hasilnya adalah hukuman Ekskomunikasi atas dirinya pada bulan September 1871. Uskup Sheil beranggapan bahwa “Maria McKillop telah mendorong para suster untuk membangkang dan tidak taat pada uskup.”
Walaupun Konggregassi Suster St.Joseph tidak dibubarkan, namun sebagian besar sekolah asuhannya ditutup. Suster Mary dilarang berhubungan dengan siapapun di Gereja. Namun selama 19 minggu masa ekskomunikasi ini, dua orang imam Jesuit, Hinteroecker SJ, Tappeiner SJ secara diam-diam tetap memberi moeder Maria topangan dan dukungan rohani. Ekskomunikasi ini berakhir ketika menjelang ajalnya, uskup Sheil sadar akan situasi yang sebenarnya dan mencabut hukuman ekskomunikasi atas Suster Maria McKillop.
Setelah segala peristiwa sulit ini, Maria berupaya untuk mendapatkan persetujuan resmi atas Konggregasi Suster St.Joseph dari Vatikan. Ia lalu berangkat ke Roma pada bulan Maret 1873. Maria bertemu dengan Paus Pius IX yang segera mengenalinya sebagai seorang suster yang pernah diekskomunikasi atas karya kerasulannnya. Bapa Suci memberkatinya dan menyemangati Maria dalam karya dan misi selanjutnya.
Bulan Desember 1874, Maria tiba kembali di Australia bersama 15 postulan dari Irlandia dan surat persetujuan dari Bapa Suci atas konggregasi dan struktur regula yang telah ditetapkan Maria. Regula tersebut menyatakan bahwa Kongregasi Suster St.Joseph dipimpin oleh seorang superior Jenderal dan dewannya sendiri serta tidak berada dibawah otoritas keuskupan setempat. Dalam kapitel general yang diadakan pada bulan Maret 1875, Suster Maria dengan suara bulat dipilih sebagai Superior Jenderal.
Namun Uskup Queenland, Mgr. James Quinn, berkeberatan dengan keputusan dari Tahta Suci tersebut. Ia mengungkapkan penolakannya apabila suster-suster yang bekerja di wilayah keuskupannya bernaung di bawah otoritas pusat kongregasi. Ia menginginkan agar para suster harus berada di bawah otoritas keuskupan. Uskup Mattew Quinn dari Bathrust juga menghendaki hal yang sama. Sebagai akibatnya semua suster St.Joseph harus pindah dari Queensland dan Bathrust. Uskup Reynolds dari Adelaide (Australia Selatan) di mana biara pusat Konggregasi Susteran St.Joseph berada juga melayangkan surat pengusiran terhadap Maria dari keuskupannya.
Maria lalu meninggalkan Adelaide menuju Sydney. Di sana ia disambut baik oleh uskup Agung Vaughan. Maria melanjutkan karyanya dari Sydney dan berupaya semaksimal mungkin memberikan dukungan kepada suster-susternya di Australia Selatan. Pada tahun 1883, Uskup Agung Vaughan wafat dan digantikan Uskup Agung Moran. Pada tahun 1885, Pleno Dewan Uskup Australia menyampaikan rekomendasi ke Tahta Suci agar suster-suster St.Joseph hendaknya tunduk di bawah uskup setempat di mana mereka berkarya. Sebaliknya, suster Maria McKillop atas nama suster-suster St.Joseph juga mengajukan petisi ke Roma memohon kelangsungan pemerintahan pusat bagi kongregasi mereka.
Pada tahun 1887, terbit keputusan Tahta Suci yang memerintahkan dihapuskannya dekrit dari Dewan Uskup Australia itu. Selanjutnya pada tanggal 14 Juli 1888 Paus Leo XIII memaklumkan Konggregasi Susteran St.Joseph dari Hati Kudus sebagai suatu Kongregasi Kanonik dengan biara pusat di Sydney. Tahta Suci kemudian menunjuk Suster Bernard sebagai Superior Jenderal Konggregasi Susteran tersebut dengan masa jabatan selama sepuluh tahun.
Wafat, Beatifikasi dan Kanonisasi
Pada tahun 1899, Moeder Bernard wafat; Maria dipilih kembali secara bulat sebagai Moeder Superior Jenderal. Kesehatannya mengalami kemunduran dan pada tahun 1901 ia terserang stroke yang menyebabkan bagian kanan seluruh tubuhnya lumpuh. Sejak itu ia harus mengandalkan kursi roda untuk bergerak. Meski demikian, pikiran dan perkataannya senantiasa terang dan jelas seperti sediakala. Kendati cacat fisiknya, para suster tetap memilihnya kembali sebagai superior general pada tahun 1905. Posisi ini diembannya sampai akhir hayatnya.
Pada tanggal 8 Agustus 1909, Maria Mackillop tutup usia. Ia meninggalkan hiruk-pikik dunia ini untuk menerima ganjaran abadinya dalam Kerajaan Surga. Saat tutup usia, karya kerasulannya telah menghasilkan 750 orang biarawati, 106 biara, 12 Lembaga Sosial yang menaungi lebih dari 1000 orang miskin dan anak-anak terlantar serta 117 sekolah.
Pada tanggal 19 Januari 1995 Suster Maria dari salib dibeatifikasi oleh Paus Santo Yohanes Paulus II. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 2010, Paus Benediktus XVI memaklumkan kanonisasi beata Maria dari salib. Santa Maria Mackillop merupakan orang kudus pertama yang berasal dari Australia.
Arti nama
Maria = Versi Latin untuk nama Yunani Μαριαμ (Mariam) dan Μαρια (Maria). Ejaan Yunani ini adalah terjemahan yang digunakan dalam Kitab Perjanjian Baru untuk nama Ibrani : מִרְיָם (Miryam).
Dalam Kitab Suci, nama ini pertama kali di temukan pada kitab Keluaran 15:20 (nama saudari Musa dan Harun).
Arti nama "Maria" tidak diketahui secara pasti.
Ada beberapa teori yang menyebutkan nama ini berarti : "Pahit, Pedih, Lautan kepedihan, Lautan Kesedihan", dan "pemberontakan".
Teori lain menyebutkan nama ini berasal dari kata Mesir Kuno : "mr" (cinta) atau: "mry" (kekasih, yang dicintai).
Santo Dominikus
Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol. Orangtuanya, Don Felix de Guzman dan Joana dari Aza dikenal sebagai bangsawan Kristen yang saleh dan taat agama. Joana ibunya kemudian dinyatakan Gereja sebagai 'beata'; kakaknya, Mannes dan Antonio mencurahkan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja sebagai imam; dua orang keponakannya menjadi imam dalam ordo religius yang didirikannya, Ordo Dominikan. Mannes dikemudian hari digelari 'beato' karena kesucian hidupnya dan pengabdiannya yang tulus kepada Tuhan dan Gereja.
Masa kecil dan mudanya ditandai dengan kesucian dan semangat belajar yang tinggi. Pendidikan awalnya ditangani langsung oleh pamannya yang sudah menjadi imam. Dominikus kemudian melanjutkan studinya ke sekolah Katedral Palencia. Pada umur 24 tahun ia masuk biara di Osma dan tak lama kemudian ditabhiskan menjadi imam. Karier imamatnya dimulai di Osma didukung oleh doa kontemplatif yang sungguh mendalam. Doa kontemplatif ini yang melahirkan cinta yang tulus kepada umatnya. Karya apostoliknya dimulai sejak tahun 1203 ketika aliran bidaah Albigensianisme melancarkan serangan terhadap kebenaran iman Gereja. Waktu itu, Dominikus bersama uskupnya, Diego d'Azevido sedang dalam perjalanan ke Denmark untuk melaksanakan suatu misi diplomatik bagi Raja Alfonso IX (1188-1230).
Albigensianisme, yang lahir pada awal abad ke-13 di kota Albi, Prancis Selatan ini, merongrong ajaran iman yang benar. Aliran ini mengajarkan bahwa segala yang jasmani itu jahat. Ajaran Gereja tentang Tritunggal MahaKudus, peristiwa penjelmaan dan Penebusan umat manusia dalam Pribadi Yesus Kristus diingkarinya; juga semua sakramen, ibadat dan apa saja yang merupakan ungkapan iman Gereja ditolak. Karena sangat fanatik, para penganut aliran sesat ini tanpa segan merusak gereja-gereja dan biara, menghancurkan gambar-gambar kudus dan salib. Segala hubungan antara Gereja dan Negara ditiadakan. Mereka sangat terampil dalam menyebarkan ajarannya sehingga menarik begitu banyak umat menjadi pengikut. Terdorong oleh desakan batin untuk memberantas pengaruh jahat aliran sesat ini, Dominikus mendapat ilham untuk mendirikan sebuah tarekat religius yang lebih memusatkan perhatian pada soal Pewartaan Sabda. Ordo religius Dominikus ini kemudian lazim dikenal dengan nama 'Ordo Praedicatorum' atau 'Ordo para Pengkhotbah'.
Pada pertengahan musim panas pada tahun 1206, seusai urusan diplomatik di Denmark dan kunjungan ke Roma, Dominikus bersama Uskup Diego kembali ke Spanyol. Di Montpellier, Prancis Selatan, mereka bertemu dengan para pengkhotbah utusan Paus yang mulai putus asa dalam mengemban tugas memberantas pengaruh ajaran aliran sesat Albigensianisme. Mereka berniat meninggalkan hidup biaranya karena gagal dalam tugas pewartaannya. Banyak faktor membuat mereka gagal: para bangsawan yang merupakan orang kepercayaan masyarakat sudah mengikuti aliran sesat itu; jumlah imam sangat sedikit dan tidak disiapkang dengan baik dalam hal cara mewartakan Injil, padahal para pewarta ajaran sesat itu sangat terampil dalam menyebarkan ajarannya; faktor kegagalan yang lain datang dari kalangan Uskup Prancis Selatan itu sendiri. Mereka acuh tak acuh terhadap bahaya yang menggoncang ajaran iman yang benar, dan lebih getol dalam hal-hal duniawi.
Menghadapi keputusasaan para utusan Paus, Uskup Diego dan Dominikus menasehati mereka untuk terus mewartakan Injil Kristus meskipun banyak rintangannya. Mereka dinasehati agar meniru teladan para Rasul dalam pewartaan Injil; memasuki pelosok-pelosok dengan berjalan kaki tanpa membawa uang dan makanan, dan bergaul rapat dengan rakyat yang sudah sesat. Diego dan Dominikus dengan setia menemani mereka dalam kegiatan pewartaan itu. Hasil yang dicapai cukup lumayan, meskipun masih ada juga kegagalan. Uskup Diego dan Dominikus serta Uskup Fulk dari Tolouse, Prancis Utara terus mendampingi para pewarta dalam perjuangan besar memberantas pengaruh jahat Albigensianisme.
Pada tahun 1214, Dominikus mendiskusikan bersama rekan-rekannya rencana mendirikan sebuah tarekat religius. Rencana ini didukung dan mulai dilaksanakan tahun berikutnya bersamaan dengan pemberian hadiah sebuah rumah besar oleh Petrus Seila dari Tolouse. Uskup Fulk memberi restunya.
Pandangan hidup yang dianut Ordo Dominikan, yang dikenal dengan nama 'Ordo Predicatorum' atau 'Ordo Pengkhotbah' ini merupakan sesuatu yang belum dikenal pada masa itu. Dominikus menggabungkan corak hidup kontemplatif dengan kehidupan aktif: mewartakan Injil di luar biara, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar dan lain-lain. Misinya sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang baru, karena pada masa itu hal pewartaan adalah tugas khas pada Uskup. Dengan kekhasan ini, Dominikus bermaksud memberikan Gereja suatu Ordo Religius Imam yang berbobot dan handal.
Restu atas berdirinya Ordo Dominikan ini diperoleh ketika Dominikus bersama Uskup Fulk mengikuti Konsili Lateran IV di Roma pada tahun 1215. Sri Paus Innocentius III (1198-1216) berjanji meneguhkan ordo itu apabila Dominikus sudah memiliki suatu aturan hidup membiara yang terbukti ampuh dan sebuah gereja sebagai tempat Misa Kudus dan upacara lainnya. Kedua tuntutan Paus ini akhirnya terpenuhi. Dominikus bersama rekan-rekannya sepakat memilih aturan hidup Santo Agustinus dan menyusun konstitusi ordo mereka. Uskup Fulk mempercayakan gereja Santo Romanus di Tolouse kepada Dominikus. Di samping gereja itu, Dominikus mendirikan rumah biaranya yang pertama.
Kekhasan Ordo Dominikan ini diperkuat oleh suatu pengalaman mistik. Ketika berdoa di Basilik Santo Petrus di Roma, Dominikus mengalami penglihatan berikut: Santo Petrus dan Paulus mendatangi Dominikus. Petrus menyerahkan kepadanya sebuah kunci, dan Paulus memberinya sebuah buku. Kepadanya Petrus dan Paulus berkata: "Pergilah dan wartakanlah Injil, karena engkau telah ditentukan Allah untuk misi pelayanan itu". Kecuali itu, dalam penglihatan itu pun Dominikus menyaksikan para imamnya mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Di Prancis Selatan sendiri, karya pewartaan itu sulit sekali dilaksanakan karena kerusuhan politik dan militer. Karena itu, Dominikus memutuskan untuk mewartakan Injil di wilayah Eropa lainnya seperti Spanyol dan Paris sembil tetap menggalakkan pewartaan di Tolouse dan Prouille. Dari wilayah-wilayah itu, Dominikus mulai melancarkan misi universal ordonya ke berbagai daerah.
Untuk mempertegas ciri khas ordonya, Dominikus mengundang imam-imamnya untuk membicarakan berbagai hal penting seperti pendidikan para imam Dominikan, kegiatan pewartaan, kepemimpinan ordo dan penghayatan kaul kemiskinan. Oleh imam-imamnya, Dominikus sendiri diangkat sebagai pemimpin ordo pertama. Ia pun diangkat sebagai pemimpin misi kePausan di Lombardia tatkala umat di wilayah itu diresahkan oleh ajaran sesat. Bersama Kardinal Egolino, Dominikus melancarkan perlawanan gencar terhadap berbagai ajaran sesat. Pekerjaan di Lombardia sangat menguras tenaganya.
Dominikus meninggal dunia di Bologna pada tanggal 6 Agustus 1221 setelah menderita sakit keras. Kesucian Dominikus sungguh luar biasa. Ia seorang pendoa yang merasakan benar makna kehadiran Allah. Tentang dirinya, rekan-rekannya berkata: "Ia terus berbicara dengan Tuhan dan tentang Tuhan; siang hari ia bekerja bagi sesamanya, dan malam hari ia berkontak dengan Tuhan". Sebelum meninggal ia berpesan: "Tetaplah teguh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!"
Santo Hormisdas
Pada masa kejayaan Kerajaan Sasanid di Persia selama 4 abad, seni dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Demikian juga agama yang dijadikan agama nasional yang sangat berkembang, sedangkan agama Kristen dihambat sedapat mungkin. Pada abad ketiga, Raja Bahram mengalahkan Chosroes II dan dengan kejam melancarkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Raja ini suka mengorbankan manusia. Untuk itu ia tidak segan-segan memilih korbannya di antara orang-orang Kristen. Hormisdas menjadi salah satu orang pilihan untuk dijadikan korban persembahan.
Ia adalah bangsawan turunan raja dari dinasti Achemenid. Sesudah disuruh datang ke istana, ia dipaksa meninggalkan imannya dan memeluk agama nasional. Sebagai seorang pangeran yang berani, Hormisdas menjawab: "Jikalau aku lakukan apa yang engkau perintahkan, maka aku menghina Tuhanku dan melanggar hukumNya. Siapa pun saja yang tidak mematuhi perintah-perintah Tuhan, tentu saja kesetiaannya kepada raja akan kendor, karena raja adalah seorang manusia biasa. Jika orang yang melanggar perintah raja dijatuhi hukuman mati, bagaimana nasib manusia yang berani melawan Allah?"
Mendengar kata-kata Hormisdas ini, raja naik darah dan menyuruh membelenggu Hormisdas. Harta miliknya disita. Ia ditugaskan menjaga kuda-kuda perang dan membersihkan kadang kuda itu. Meskipun mengalami penderitaan hebat, Hormisdas tidak bersedia menyangkali imannya. Oleh karena itu, ia dihukum mati.
Santo Largus
Santo Largus bersama santo Smaragdus adalah pembantu santo Siriakus. Mereka ditugaskan melayani para tahanan kristen yang dihukum kerja paksa membangun pemandian umum di kota Roma (Bath of Diocletian).
Suatu saat mereka tertangkap dan dipenjarakan. Namun beberapa waktu kemudian mereka dilepaskan setelah (menurut legenda) Santo Siriakus menyembuhkan putri Kaisar Diokletianus bernama Artemisa yang kerasukan setan. Artemisa bersama ibunya, Serena, kemudian dibabtis menjadi Kristen.
Ketika Kaisar Maximianus Herculeus naik tahkta, Siriakus, Largus dan Smaragdus ditangkap lagi dan dihukum mati bersama sekelompok martir Kristen yang tidak tercatat namanya.
Arti nama
Largus = Murah Hati (Latin)
Santo Siriakus
Siriakus adalah seorang diakon di kota Roma. Ia ditugaskan melayani orang-orang miskin dan orang-orang serani yang dihukum kerja paksa. Dalam melaksanakan tugas ini, ia dibantu oleh dua orang rekannya, Largus dan Smaragdus. Pada suatu hari mereka ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi kemudian mereka dilepaskan lagi karena Siriakus menyebuhkan anak Kaisar Diokletianus.
Ketika Kaisar Maksimianus naik tahkta, Siriakus dengan kedua temannya ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman mati karena tidak besedia meninggalkan imannya. Jenazah mereka dikuburkan di pinggir jalan ke Ostia.
Santo Smaragdus
Santo Smaragdus bersama santo Largus adalah pembantu santo Siriakus. Mereka ditugaskan melayani para tahanan kristen yang dihukum kerja paksa membangun pemandian umum di kota Roma (Bath of Diocletian).
Suatu saat mereka tertangkap dan dipenjarakan. Namun beberapa waktu kemudian mereka dilepaskan setelah (menurut legenda) Santo Siriakus menyembuhkan putri Kaisar Diokletianus bernama Artemisa yang kerasukan setan. Artemisa bersama ibunya, Serena, kemudian dibabtis menjadi Kristen.
Ketika Kaisar Maximianus Herculeus naik tahkta, Siriakus, Largus dan Smaragdus ditangkap lagi dan dihukum mati bersama sekelompok martir Kristen yang tidak tercatat namanya.
Arti nama
Smaragdus = Zambrud / Emerald (Latin)
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari