Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
“Seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya.”
Aku, Yohanes, melihat Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu. Lalu tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung. Dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan, ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda lain di langit: Seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyapu sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkannya. Dan perempuan itu melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi. Tetapi tiba-tiba Anak itu direnggut dan dibawa lari kepada Allah dan ke hadapan tahta-Nya. Lalu perempuan itu lari ke padang gurun, di mana Allah telah menyediakan suatu tempat baginya. Kemudian aku mendengar suara yang nyaring di surga, “Sekarang telah tiba keselamatan, kuasa dan pemerintahan Allah kita! Sekarang telah tiba kekuasaan Dia yang diurapi Allah! Sebab para pendakwa yang siang malam mendakwa saudara-saudara kita di hadapan Allah, telah dilemparkan ke bawah!”
Refren: Di sebelah kananmu berdiri permaisuri, berpakaian emas dari Ofir.
(Mzm. 45:10-12.16; Ul.:10d)
Dengarlah, hai puteri, lihatlah dan sendengkanlah telingamu, Lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi bergairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya.
Di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari ofir.
Dengan sukacita dan sorak-sorai mereka dibawa, mereka masuk ke dalam istana raja.
“Kristus sebagai buah sulung, sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya.”
Saudara-saudara, Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tibalah kesudahan, yaitu bilamana Kristus menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh terakhir, yang Ia binasakan ialah maut.
Alleluya, alleluya.
Maria diangkat ke surga, para malaikat bergembira.
Alleluya, alleluya.
“Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan meninggikan orang-orang yang rendah.”
Beberapa waktu sesudah kedatangan malaikat Gabriel, bergegaslah Maria ke pegunungan menuju sebuah kota di wilayah Yehuda. Ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring; “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab Firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.” Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memerhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah Kudus. Rahmat-Nya turun temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Kira-kira tiga bulan lamanya, Maria tinggal bersama dengan Elisabet, lalu pulang ke rumahnya.
Invitatorium
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Kristus, putera Maria.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Kristus, putera Maria.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Bangkitlah, ya Perawan Ratu, Engkau layak dipuji selama-lamanya; ambillah tempat-Mu di kediaman mulia Raja abadi.
Mazmur 23 (24)
Tuhan masuk ke dalam bait-Nya
dunia dan semua penduduknya.
AntifonBangkitlah, ya Perawan Ratu, Engkau layak dipuji selama-lamanya; ambillah tempat-Mu di kediaman mulia Raja abadi.
Antifon 2Tuhan telah memilihnya, kekasih-Nya sejak semula. Ia telah membawanya untuk tinggal bersama-Nya.
Mazmur 45 (46)
Allah, perlindungan dan kekuatan kita
Ia akan disebut Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita (Matius 1:23).
AntifonTuhan telah memilihnya, kekasih-Nya sejak semula. Ia telah membawanya untuk tinggal bersama-Nya.
Antifon 3Hal-hal mulia dikatakan tentang Dikau, ya Perawan Maria.
Mazmur 86 (87)
Yerusalem adalah ibu kita semua
Yerusalem surgawi adalah wanita merdeka; dialah ibu kita (Galatia 4:26).
AntifonHal-hal mulia dikatakan tentang Dikau, ya Perawan Maria.
Responsorium
Responsorium
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur dari hari Minggu I, hlm 390
Antifon 1Berbahagialah engkau, santa Maria, sebab dari padamulah datang penyelamat dunia. Maka engkau bergembira dan mulia di hadirat Tuhan. Doakanlah kami pada Puteramu, (M.P. Alleluya)
Mazmur 62
Antifon 1Berbahagialah engkau, santa Maria, sebab dari padamulah datang penyelamat dunia. Maka engkau bergembira dan mulia di hadirat Tuhan. Doakanlah kami pada Puteramu, (M.P. Alleluya)
Antifon 2Santa Maria, engkaulah kebanggaan Yerusalem, sukacita Israel dan kehormatan umat Allah, (M.P. Alleluya)
Dan 3,57-88.56
Kidung ini tidak ditutup dengan 'Kemuliaan'.
Antifon 2Santa Maria, engkaulah kebanggaan Yerusalem, sukacita Israel dan kehormatan umat Allah, (M.P. Alleluya)
Antifon 3Perawan Maria, bersukacitalah, sebab engkau diperkenankan melahirkan Kristus penyelamat kita, (M.P. Alleluya)
Mazmur 149
Antifon 3Perawan Maria, bersukacitalah, sebab engkau diperkenankan melahirkan Kristus penyelamat kita, (M.P. Alleluya)
Bacaan Singkat (lh. Yes 61,10)
Lagu Singkat
Antifon KidungElok dan jelitalah puteri Yerusalem, yang naik bagaikan fajar merekah.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungElok dan jelitalah puteri Yerusalem, yang naik bagaikan fajar merekah.
Doa Permohonan
℟. Semoga bundaMu mendoakan kami, ya Tuhan.
Kristus, matahari sejati, perawan Maria telah mendahului Engkau seperti fajar mendahului siang,* semoga kami hidup dalam cahaya kedatanganMu. ℟.
Sabda kekal, Engkau telah memilih Maria menjadi bundaMu yang tak bernoda,* bebaskanlah kami dari noda dosa. ℟.
Penyelamat kami, pada saat penderitaan dan wafatMu, bundaMu berdiri di kaki salib,* semoga berkat doanya, kami mengambil bagian dalam penderitaanMu dengan gembira hati. ℟.
Yesus yang mahamurah, ketika terpaku pada salib, Engkau menyerahkan Maria kepada Yohanes sebagai bundanya,* semoga kami hidup selaku putera Maria yang sejati. ℟.
℟. Semoga bundaMu mendoakan kami, ya Tuhan.
Penyelamat dunia, berkat kekuatan penebusanMu, Engkau telah melindungi bundaMu terhadap noda dosa,* lindungilah kamipun terhadap dosa. ℟.
Penebus kami, Engkau menjadikan santa Maria tempat kediaman Roh kudus,* penuhilah kami juga dengan RohMu. ℟.
Sabda kekal, Engkau telah mengajar bundaMu memilih bagian yang terbaik,* semoga kami meneladan dia dan tekun mendengarkan sabdaMu. ℟.
Raja para raja, Engkau telah mengangkat bundaMu ke surga dengan jiwa raganya,* semoga hati kami tetap terarah kepadaMu. ℟.
Penguasa surga dan dunia, Engkau mentakhtakan Maria menjadi ratu yang mulia,* semoga kamipun Kauizinkan masuk ke dalam kemuliaan abadi. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan III Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (1 Sam 15, 22)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan III Mazmur
Madah
Antifon 1Jaminlah kesejahteraan hambaMu, ya Tuhan.
Mazmur 118 (119), 121-128
Antifon 1Jaminlah kesejahteraan hambaMu, ya Tuhan.
Antifon 2Pandanglah Tuhan, maka engkau akan berbahagia.
Mazmur 33 I
Antifon 2Pandanglah Tuhan, maka engkau akan berbahagia.
Antifon 3Tuhan itu dekat pada orang yang bertobat.
Mazmur 33 II
Antifon 3Tuhan itu dekat pada orang yang bertobat.
Bacaan singkat Zak 9,9
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan III Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Mich 6, 8)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur dari lingkaran empat pekan
Antifon 1Salam Maria, penuh rahmat; Tuhan sertamu, (M.P. Alleluya)
Mazmur 121 (122)
Antifon 1Salam Maria, penuh rahmat; Tuhan sertamu, (M.P. Alleluya)
Antifon 2Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu, (M.P. Alleluya).
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu, (M.P. Alleluya).
Antifon 3Terpujilah Engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, (M.P. Alleluya).
Ef 1,3-10
Antifon 3Terpujilah Engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, (M.P. Alleluya).
Bacaan Singkat (Gal 4,4-5)
Antifon KidungHari ini Perawan Maria naik ke surga; bersukacitalah, sebab ia meraja bersama Kristus selama-lamanya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungHari ini Perawan Maria naik ke surga; bersukacitalah, sebab ia meraja bersama Kristus selama-lamanya.
Doa Permohonan
℟. Terimalah doa Maria dan kasihanilah kami.
Engkau telah mengangkat Maria menjadi bunda yang bermurah hati,* semoga semua orang yang ditimpa mara bahaya mengalami cintanya. ℟.
Engkau menghendaki Maria sebagai ibu keluarga di rumah Yesus dan Yusuf,* semoga berkat doanya semua ibu memupuk cinta kasih dalam rumah tangganya. ℟.
Engkau menguatkan Maria, ketika ia berdiri di kaki salib, dan menggembirakan hatinya dengan kebangkitan PuteraMu,*hiburkanlah orang yang bersusah dan kuatkanlah harapan mereka. ℟.
Engkau membuka hati Maria untuk mendengarkan sabdaMu dan menyerahkan dirinya kepadaMu sebagai hamba yang setia,* semoga berkat doanya, kami menjadi hamba dan murid PuteraMu. ℟.
Engkau telah memahkotai Maria di surga,* semoga semua arwah bersuka ria di dalam kerajaanMu bersama para kudus. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
Madah
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat Why 22,4-5
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Isidorus Bakanja
Isidorus Bakanja lahir sekitar tahun 1887 di Bokendela Republik Demokratik Kongo, Afrika Tengah. Ia berasal dari suku Boangi, yang bermukim di dekat Sungai Botato, Bokendela. Di masa itu Kongo masih dikenal sebagai Kongo-Belgia karena merupakan wilayah jajahan Kerajaan Belgia. Para penjajah membawa banyak perusahaan swasta datang berinvestasi di Kongo. Salah satu diantaranya adalah sebuah perusahaan perkebunan karet bernama Société Anonyme Belge (SAB), tempat Isidorus bekerja sebagai buruh. Kemiskinan membuat Isidorus sudah harus bekerja sebagai buruh sejak ia masih kecil.
Pada usia 16 tahun, Isidorus berhenti dari SAB dan bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan konstruksi. Disini ia bertemu dengan Linganga, seorang pribumi Afrika yang sudah dibabtis menjadi seorang katolik. Linganga kemudian memperkenalkan Isidorus dengan para missionaris Trappist yang kemudian membimbing Isidorus menjadi seorang pengikut Kristus. Sebelumnya, Isidorus adalah seorang penganut animisme seperti kebanyakan warga suku Boangi.
Isidorus memutuskan untuk mengikuti kelas katekisasi yang diselenggarakan oleh para missionaris. Perlahan-lahan ia mulai meninggalkan praktek kepercayaan animist dan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Ia lalu dibaptis pada tanggal 6 Mei 1906 dan setahun kemudian ia pun diperkenankan untuk menerima Komuni Pertama. Oleh para missionaris, Isidorus dihadiahi sebuah Rosario dan Skapulir coklat St.Perawan Maria Bunda Karmel. Skapulir ini disebut “Bonkoto Malia” (kebiasaan Maria), yang selalu dipakai Isidorus.
Pada tahun 1908 Isidorus pindah ke kota Ikili dan bekerja pada perkebunan karet dibawah pengawasan seorang mandor bernama André van Cauter. Van Cauter adalah seorang atheis yang anti Kristen. Seperti umumnya kaum kolonial di Afrika, Van Cauter sangat membenci Gereja dan para missionaris. Mereka kerap menggunakan terminologi “Mon Pere” untuk menghina para missionaris dan segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja. Kebencian mereka timbul karena Gereja dan para misionaris selalu menentang mereka dalam mempraktekkan perbudakan dan sistem tuan tanah yang merugikan penduduk pribumi.
Isidorus mengalami banyak kekejaman dari Van Cauter. Namun ia tidak gentar. Ia tetap rajin berdoa Rosario dan suka menyanyikan kidung-kidung Maria saat bekerja. Hal ini membuat van Cauter naik pitam. Sang mandor lalu mengeluarkan aturan baru yaitu : Dilarang mempraktekkan dan mengajarkan ajaran Kristen saat bekerja.
Larangan ini tak digubris Isidorus. Ia malah mengajari rekan-rekannya berdoa secara Kristen. Sebelum bekerja, ia selalu mengajak mereka untuk berdoa bersama. Van Cauter pun murka. Ia memaksa Isidorus melepaskan skapulirnya dengan ancaman hukuman cambuk dengan cambuk kulit gajah dengan paku pada ujung-ujungnya. Isidorus menolak melepaskan “Bonkoto Malia”. Karena itu ia pun dipukuli dan skapulirnya direnggut dan dibuang ke anjing piaran Van Cauter. Isidorus lalu hukum dicambuk seratus kali lalu dirantai tanpa diberi makan dan minum. Cambukan yang diterima Isidorus membuat daging punggungnya koyak.
Kala Dorphinus, pengawas perusahaan tiba, van Cauter takut Dorphinus marah melihat seorang pribumi disiksa. Ia lalu melepaskan Isidorus dan mengusirnya pergi untuk menghindari kemarahan Dorphinus. Namun Dorphinus, yang telah mendengar cerita tentang Isidorus, memerintahkan untuk mencarinya. Dalam catatannya Dorphius menulis dengan perasaan ngeri :
"Saya melihat seorang pemuda. Ia dibawa dari hutan dengan punggung terkoyak dan bernanah. Lukanya berbau busuk, penuh lalat dan ditutupi dengan kotoran. Ia bersandar pada dua tongkat untuk dapat mendekati saya - dia tidak berjalan; ia menyeret dirinya..".Dihadapan Dorphius, van Cauter hendak membunuh Isidorus yang disebutnya sebagai : “binatang piaraan Mon Pere”. Namun ia dicegah oleh Dorphius. Dorphius membawanya ke rumah sakit tetapi Isidorus dapat merasakan bahwa ajalnya sudah dekat. Karena itu ia berpesan pada Dorphius :
“Bila Anda bertemu ibu saya, atau jika anda harus pergi ke pengadilan, atau jika anda bertemu seorang imam, katakanlah kepada mereka; saya disiksa karena saya seorang Kristen. Jika saya mati, saya akan berdoa bagi para penyiksa saya.”Dua misionaris yang menghabiskan beberapa hari dengannya melaporkan bahwa Isidorus telah menerima sakramen terakhir. Mereka meminta Isidorus untuk memaafkan Van Cauter dan ia menyakinkan mereka bahwa ia sudah memaafkan penyiksanya itu.
"Saya akan berdoa untuknya. Ketika saya di surga, saya akan banyak berdoa untuknya."
Setelah enam bulan dalam doa dan penderitaan, pada hari raya Bunda Maria diangkat ke Surga, 15 Agustus 1909, Isidorus Bakanja meninggal akibat infeksi pada luka-lukanya. Martir Kristus ini dikuburkan dengan berkalung skapulir dan sebuah rosario ditangannya.
Sejak kemartirannya, Ordo Karmel (Ordo Fratrum Beatissimae Mariae Virginis de Monte Carmelo - OCarm) mendukung proses beatifikasi Isidorus Bakanja karena kemartirannya dengan memperjuangkan pemakaian Skapulir Karmelit. Ordo Karmel juga memperingati kemartiran Isidorus dalam kalender perayaan mereka setiap tanggal 12 Agustus. Isidorus Bakanja akhirnya dibeatifikasi oleh paus Yohanes Paulus II pada tanggal 24 April 1994, saat kunjungan apostoliknya bapa suci ke Republik Demokratik Kongo.
Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja
Arti nama
Berasal dari nama Yunani Ισιδωρος (Isidoros)
Beato Klaudius Granzotto
Lahir dalam keluarga petani di San Lucia di Piave, Treviso, Italia, Beato Claudio Granzotto adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara yang sejak kecil telah terbiasa bekerja keras di ladang. Pada usia 9 tahun, ayahnya meninggal dunia. Enam tahun kemudian Claudio ikut wajib militer dan bertugas selama lebih dari tiga tahun.
Claudio memiliki bakat seni, terutama dalam seni rupa, yang membawanya bersekolah pada Akademi Seni Rupa Venesia. Ia meraih gelar diploma dengan nilai tertinggi pada tahun 1929. Pada saat itu ia telah sangat tertarik pada seni religius.
Pada tahun 1933 Claudio memutuskan untuk masuk biara Fransiskan. Pastor paroki yang menuliskan surat rekomendasi memberi keterangan : "Ordo tidak hanya menerima seorang seniman tapi juga orang kudus." Dalam biara, Claudio segera dikenal akan kehidupan doanya, karya amalnya dalam membantu para fakir miskin, dan bakat artistiknya yang tak diragukan lagi.
Biarawan yang kudus ini tutup usia pada pesta Bunda Maria Diangkat ke Surga, tanggal 15 Agustus 1947.
Arti nama
Claudius berasal dari bahasa Latin Claudus yang berarti "lemah”, “lumpuh".
Santa Perawan Maria diangkat ke Surga
Pada hari ini, kita merayakan peristiwan iman “Maria diangkat ke Surga”. Kita diajak Gereja untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda PuteraNya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaikat dan orang kudus.
Gereja percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII (1939-1958) pada tanggal 1 November 1950. Maklumat ini dapat dipandang sebagai ‘mahkota’ perkembangan devosi dan teologi seputar masalah ini.
Dogma ini sama sekali tidak menentukan apa-apa sehubungan dengan kematian Maria. Tidak diketahui secara pasti apakah Perawan terberkati ini meninggal, tetapi kalau pun toh terjadi, kematiannya tentu tidak disertai dengan ketakutan dan penderitaan sebagaimana biasanya dialami manusia, bahkan sebaliknya diliputi ketentraman dan kegembiraan sebagai suatu perpindahan dari dunia ke dalam keabadian. Dogma ini pada hakekatnya bertumpu pada iman umat sejak dahulu kala, bukannya pada satu teks Alkitab tertentu.
Dalam Konstitusi Apostolik itu, Sri Paus menyatakan: “Kami memaklumkan, menyatakan dan menentukannya sebagai suatu dogma wahyu ilahi: bahwa Bunda Allah yang Tak Bernoda, Perawan Maria telah menyelesaikan hidupnya didunia ini, diangkat dengan badan dan jiwa ke dalam kemuliaan surga”. Di antara 1849-1950, Vatikan dikirimi banyak sekali permohonan dari segala penjuru dunia agar kepercayaan akan Maria Diangkat ke surga diumumkan secara resmi sebagai dogma. Pada tanggal 1 Mei 1946, Paus Pius XII (1939-1958) mengirim kepada para uskup sedunia Ensiklik Deiparae Virginis; di dalamnya Paus menanyakan para uskup sedunia sejauh manakah mereka setuju agar dogma itu benar-benar dimaklumkan. Jawaban para uskup hampir senada, yaitu positif.
Paus bertitik tolak dari persatuan mesra Maria dengan Yesus, Puteranya, khususnya semasa Yesus masih kecil. Persatuan ini diyakini sebagai tidak mungkin tidak diteruskan selama-lamanya; tak mungkin Maria yang melahirkan Yesus dapat terpisah dari Yesus secara fisik. Selaku Puteranya, Yesus tentu menghormati ibuNya, bukan hanya BapaNya. Tanda-tanda pertama ibadat kepada Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, ditemukan para ahli di kota Yerusalem dalam masa awal Gereja Kristen. Pesta Maria Diangkat ke Surga sudah populer sekali di kalangan Gereja Timur pada abad ke VIII.
Konsili Vatikan II bicara juga tentang Dogma Maria Diangkat ke Surga. Konsili mengatakan: “Akhirnya, sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan Tak Tercela, yang senantiasa kebal terhadap semua noda dosa asal, diangkat ke kejayaan surgawi dengan badan dan jiwanya” (LG No.59). Dalam Lumen Gentium Nomor 68 tertulis: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwa, dan menjadi citra serta awal penyempurnaan Gereja di masa datang. Begitu pula dalam dunia ini-sampai tiba hari Tuhan (bdk. 2Ptr 3:10)-, ia bersinar gemilang sebagai tanda harapan yang pasti dan tanda hiburan bagi umat Allah yang sedang berziarah”.
Yesus yang sungguh Allah dan sungguh Manusia sekarang bertahkta di surga sebagai Raja kepadaNya telah diserahkan seluruh kekuasaan di surga dan di dunia. Dan Maria, ibuNya menyertai Dia dengan setia dalam seluruh karyaNya di tengah-tengah manusia kini bertahkta juga di surga sebagai Ratu Surgawi, yang mendoakan kita dihadapan PuteraNya dan menolong kita dalam semua kedudukan kita. Di dalam Yesus dan Maria, keluhuran martabat manusia tampak dengan cermelang. Kecermelangan martabat manusia itu bukan terutama karena keangungan manusia di antara ciptaan lainnya melainkan terutama karena karya Penebusan Yesus Kristus, Putera Maria, dan persatuan mesra denganNya. Pengangkatan Maria ke Surga dengan badan dan jiwanya menunjukkan juga kepada kita betapa tingginya nilai tubuh manusia dihadapan Allah karena Penebusan Yesus Kristus dan perastuan erat mesra denganNya. Oleh penebusan dan persatuan ini, tubuh kita tidak sehina tubuh hewan karena sudah dikuduskan oleh Kristus. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menghormati tubuh kita dan tubuh oranglain. Sehubungan dengan itu, biasanya kita berdoa: “Bunda Maria yang tak bernoda, murnikanlah badanku dan sucikanlah jiwaku!”
Santo Tarsisius
Tarsisius dihormati Gereja sebagai pelindung para akolit dan pelayan Misa. Menurut tradisi abad ketiga, yang didasarkan pada sebuah syair dari Paus Santo Damascus (366-384), Tarsisius adalah seorang martir yang mati di tangan orang-orang kafir karena ia menolak menyerahkan Tubuh Kristus kepada anjing-anjing penindas itu. Sedangkan menurut tradisi abad keenam, Tarsisius dikenal sebagai seorang akolit muda yang ditugaskan membawa Komuni Kudus kepada orang-orang Kristen yang dipenjarakan selama masa penganiayaan yang dilancarkan oleh Kaisar Valerianus (253-260). Penghormatan dan kebaktian kepada Sakramen MahaKudus didasarkan pada kesaksian iman Tarsisius. Tarsisius dikuburkan di pekuburan Santo Kallistus di Roma.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari