Bacaan Misa
Datanglah firman TUHAN semesta alam, bunyinya: "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar dan dengan kehangatan amarah yang besar. Beginilah firman TUHAN: Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung TUHAN semesta alam akan disebut Gunung Kudus. Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain-main di situ. Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran."
Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu,
Bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya,
Sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka.
Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN,
Sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi,
Untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,
Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.
Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."
Invitatorium
Pekan II Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah kita bergembira di hadapan Tuhan dan memuji Dia dengan lagu syukur.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita bergembira di hadapan Tuhan dan memuji Dia dengan lagu syukur.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Condongkanlah telinga-Mu dan dengarkanlah aku, ya Tuhan; datanglah menolong aku.
Mazmur 30 (31)
Seruan penuh kepercayaan orang yang tertekan kepada Allah
Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Lukas 23:46).
AntifonCondongkanlah telinga-Mu dan dengarkanlah aku, ya Tuhan; datanglah menolong aku.
Antifon 2Tuhan, biarlah cahaya wajah-Mu bersinar atas hamba-Mu.
AntifonTuhan, biarlah cahaya wajah-Mu bersinar atas hamba-Mu.
Antifon 3Terpujilah Tuhan, sebab Ia telah mencurahkan belas kasihan-Nya kepadaku.
AntifonTerpujilah Tuhan, sebab Ia telah mencurahkan belas kasihan-Nya kepadaku.
Responsorium Yehezkiel 34:12, 13, 14; Yohanes 10:10
Responsorium
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Bilakah aku menghadap dan memandang wajah Allah?
Mazmur 41 (42)
Antifon 1Bilakah aku menghadap dan memandang wajah Allah?
Antifon 2Pandanglah, ya Tuhan, dan kasihanilah kami.
Sir 36,1-7.13-16
Antifon 2Pandanglah, ya Tuhan, dan kasihanilah kami.
Antifon 3Terpujilah Engkau, ya Tuhan, di bentangan langit.
Mazmur 18 (19) A
Antifon 3Terpujilah Engkau, ya Tuhan, di bentangan langit.
Antifon KidungTerpujilah Tuhan, sebab Ia mengunjungi dan membebaskan kita.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTerpujilah Tuhan, sebab Ia mengunjungi dan membebaskan kita.
Doa Permohonan
℟. Semoga kami tetap mengabdi Engkau, ya Tuhan.
Kristus, imam abadi, Engkau telah mengaruniakan imamat suci kepada umatMu,* semoga kami mempersembahkan kurban rohani yang patut bagi Allah. ℟.
Limpahilah kami dengan hasil buah RohMu,* yakni kesabaran, kemurahan hati dan kelembutan hati. ℟.
Semoga kami mencintai Engkau, supaya kami memiliki Engkau,* agar kami dapat memuji Engkau dalam hidup kami. ℟.
Semoga kami mengusahakan yang berguna bagi saudara-saudara kami,* supaya mereka lebih mudah memperoleh keselamatan. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Ier 31, 33)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Allah dan melakukannya.
Mazmur 118 (119),41-48
Antifon 1Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Allah dan melakukannya.
Antifon 2MakananKu ialah melakukan kehendak Bapa.
Mazmur 39 (40),2-14.17-18 - I
Antifon 2MakananKu ialah melakukan kehendak Bapa.
Antifon 3Sekalipun aku miskin dan malang, namun Tuhan memperhatikan daku.
Mazmur 39 (40),2-14.17-18 - II
Antifon 3Sekalipun aku miskin dan malang, namun Tuhan memperhatikan daku.
Bacaan singkat Yer 32,40
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Ez 34, 31)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Tereloklah baginda di antara manusia, tampanlah wajah baginda.
Mazmur 44 (45) I
Antifon 1Tereloklah baginda di antara manusia, tampanlah wajah baginda.
Antifon 2Pengantin datang, songsonglah dia!
Mazmur 44 (45) II
Antifon 2Pengantin datang, songsonglah dia!
Antifon 3Allah telah merencanakan kehendakNya untuk menyatukan segala sesuatu dalam diri Kristus sebagai kepala.
Ef 1,3-10
Antifon 3Allah telah merencanakan kehendakNya untuk menyatukan segala sesuatu dalam diri Kristus sebagai kepala.
Bacaan Singkat (1Tes2,13)
Antifon KidungAku hendak mengagungkan Dikau selalu, ya Allahku.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungAku hendak mengagungkan Dikau selalu, ya Allahku.
Doa Permohonan
℟. Penuhilah keinginan umatMu, ya Tuhan.
Tuhan Yesus, selamatkanlah semua orang,* dan hantarlah mereka kepada pengetahuan akan kebenaran. ℟.
Lindungilah paus kami bapa..., dan uskup kami bapa...* bantulah mereka dengan kekuatanMu. ℟.
Tolonglah semua orang yang mengharapkan gaji yang adil,* agar hidup mereka terjamin dan penuh sukacita. ℟.
Semoga Engkau, ya Tuhan, melindungi orang-orang miskin,* dan menolong mereka dalam kesusahan. ℟.
KepadaMu kami percayakan arwah para rohaniwan-rohaniwati,* supaya mereka dapat memuji Engkau di surga. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Engkau datang memanggil orang yang berdosa.
Kristus, kasihanilah kami.℟.Kristus, kasihanilah kami.℣.Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami.
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonTuhan, Engkau sabar dan penuh kasih setia.
Mazmur 85 (86)
AntifonTuhan, Engkau sabar dan penuh kasih setia.
Bacaan singkat 1Tes 5,9-10
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Para Martir China
Abad ke-17 dan 18 Masehi
Pada tanggal 15 Januari 1648, Bangsa Tatar Manchuria menginvasi Fujian. Bangsa Manchu saat itu sangat membenci agama Kristen. Mereka menangkap lalu membunuh Santo Fransiskus Ferdinand de Capillas (Francisco Fernández de Capillas), seorang misionaris Dominikan yang berusia 40 tahun. Setelah memenjarakan dan menyiksa beliau, mereka memenggalnya sewaktu Pastor de Capillas sedang mendaraskan Doa Rosario. Tahta Suci Vatican memaklumkan beliau sebagai “protomartir” (martir paling pertama yang meninggal pada suatu negara) di China.
Sesudah gelombang pertama aktivitas misionaris di China saat akhir Dinasti Ming hingga awal Dinasti Qing, pemerintah Qing secara resmi melarang Agama Katolik (demikian pula dengan Protestanisme dikarenakan hubungannya dengan Katolik) pada tahun 1724, dan menggolongkannya sebagai 'sekte-sekte jahat dan doktrin-doktrin mengancam' dalam agama tradisional China.
Namun agama Katolik masih terus bertahan dan berkembang di wilayah-wilayah yang berada di luar kontrol pemerintah (terutama Sichuan), dan banyak umat Kristen berkebangsaan China yang melarikan diri ke kota-kota pelabuhan di Guangdong atau terus menuju wilayah asia tenggara seperti ke Indonesia. Justru banyak karya terjemahan Kristen yang dihasilkan pada periode ini, dan juga banyak misionaris pemberani secara sembunyi-sembunyi berkarya memasuki wilayah terlarang. Mereka menghindari kapal-kapal patroli China di sungai-sungai dan wilayah pantai, meskipun beberapa tertangkap dan dihukum mati.
Menuju pertengahan abad ke-18, lima misionaris Dominikan dari Spanyol yang berkarya antara tahun 1715 - 1747, dihukum mati sebagai dampak dilakukannya gelombang baru pemeriksaan yang dimulai pada 1729 dan kembali muncul pada 1746. Peristiwa tersebut terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Yongzheng dan putranya, Kaisar Qianlong. Lima Martir Kristus ini adalah :
1.Santo Peter Sanz, O.P., Uskup, menjadi martir pada tanggal 26 Mei 1747, di Fuzhou.
Keempat martir di bawah ini dibunuh pada tanggal 28 October 1748:
2. Santo Francisco Serrano Frías, O.P., Vikaris Apostolik dan Uskup
3. Santo Joachim Royo, O.P., Imam Dominikan
4. Santo John Alcober, O.P., Imam Dominikan
5. Santo Francis Diaz, O.P., Imam Dominikan
Kemartiran di awal Abad ke-19
Meskipun agama Katolik telah diakui oleh beberapa kaisar pada abad-abad sebelumnya, Kaisar Jiaqing (1796-1821) malah mengeluarkan beberapa dekrit yang menentang keberadaan Gereja di China. Dekrit pertama dikeluarkan pada 1805. Dua dekrit tahun 1811 ditujukan pada warga China yang belajar imamat untuk ditahbiskan, dan para Pastor yang menyebarkan agama Kristen. Dekrit tahun 1813 menyatakan pengampunan kepada semua umat Kristen yang secara spontan menyatakan bahwa mereka akan meninggalkan iman Katholik mereka, tetapi akan menghukum semua yang menolak untuk meninggalkan iman mereka.
Berikut ini adalah para martir yang terbunuh selama periode tersebut.
6. Santo Peter Wu, seorang katekis awam China. Lahir pada sebuah keluarga yang menganut agama asli, menerima pembaptisan pada tahun 1796 dan menjadi seorang penyiar yang aktif hingga akhir hidupnya. Segala upaya untuk membuat dirinya meninggalkan agamanya (Katolik) tidak berhasil, sampai akhirnya ia ditangkap pada tanggal 7 November 1814.
7. Santo Joseph Zhang Dapeng, seorang katekis awam dan seorang pedagang. Dibaptis tahun 1800 kemudian menjadi penggerak utama dalam misi di Kota Kony-Yang. Ia dipenjara kemudian dihukum mati pada tanggal 2 Maret 1815.
Pada tahun yang sama, terdapat dua dekrit yang memberi kekuasaan bagi Raja Muda di Sichuan untuk memenggal Uskup Dufresse, MEP (dari Paris Foreign Missions Society), dan beberapa warga China Kristen. Akibatnya terjadilah pemeriksaan (dan pembunuhan) yang semakin parah. Para martir yang terbunuh pada masa ini adalah:
8. Santo Gabriel-Taurin Dufresse, M.E.P., Uskup. Ditangkap tanggal 8 Mei 1815, dibawa ke Chengdu, divonis dan dieksekusi pada tanggal 14 September 1815.
9. Santo Augustine Zhao Rong, seorang Imam praja berkebangsaan China. Awalnya adalah seorang prajurit yang mengawal Monsignor Dufresse dari Chengdu ke Beijing. Ia terkesan akan kesabarannya kemudian memohon untuk menjadi katekumen. Setelah dibaptis, ia dikirim ke seminari dan menjadi pastor. Ia sendiri kemudian ditangkap dan disiksa hingga meninggal.
10. Santo John da Triora, O.F.M., Pastor. Dipenjara bersama dengan yang lain pada musim panas tahun 1815, ia kemudian divonis mati dan dieksekusi pada tanggal 7 Februari 1816.
11. Santo Joseph Yuan, seorang imam praja berkebangsaan China. Setelah mendengar kotbah Monsignor Dufresse, ia terkesan dan memutuskan menjadi katekumen. Ia kemudian menjadi Pastor dan berkotbah di berbagai wilayah. Ia ditangkap pada bulan Agustus 1816, divonis dicekik sampai mati, dan eksekusinya berlangsung pada tanggal 24 Juni 1817.
12. Santo Paul Liu Hanzuo, seorang imam praja berkebangsaan China, dibunuh tahun 1819.
13. Santo Francis Regis Clet dari Kongregasi Misi (Vincentian). Setelah memperoleh izin untuk pergi ke China, ia pergi pada tahun 1791. Setelahnya, selama 30 tahun ia menjalani hidup sebagai misionaris yang penuh pengorbanan. Ia berkotbah di tiga provinsi besar Kekaisaran China, yaitu Jiangxi, Hubei, dan Hunan. Namun seorang umat Kristen mengkhianatinya sehingga ia ditangkap, disiksa, dan atas vonis kaisar ia dicekik sampai mati pada tanggal 17 Februari 1820.
14. Santo Thaddeus Liu, seorang imam keuskupan berkebangsaan China. Ia menolak mangkir dari imannya, berkata bahwa ia adalah seorang pastor dan ingin setia pada agama yang selama ini ia sebarkan. Ia dicekik sampai mati pada tanggal 30 November 1823.
15. Santo Peter Liu, seorang katekis awam berkebangsaan China. Ia ditangkap tahun 1814 dan divonis pembuangan ke Tartar, ia tinggal di sana hampir 20 tahun. Setelah kembali ke tanah airnya, ia kembali ditangkap dan dicekik sampai mati tanggal 17 Mei 1834.
16. Santo Joachim Ho, seorang katekis awam berkebangsaan China. Ia dibaptis saat umur sekitar 20 tahun. Saat pemeriksaan besar-besaran di tahun 1814, ia ditangkap bersama banyak umat yang lain dan disiksa. Ia dibuang ke Tartar, tinggal selama hampir 20 tahun, kembali ke tanah airnya dan kembali ditangkap. Setelah menolak untuk mengingkari imannya, ia divonis mati oleh kaisar dengan cara dicekik pada tanggal 9 Juli 1839.
17. Santo Auguste Chapdelaine, M.E.P., seorang imam dari Diocese of Coutances (Gereja Katolik di Perancis). ia memasuki seminari Paris Foreign Missions Society dan berangkat ke China di tahun 1852. Ia tiba di Guangxi pada akhir tahun 1854, ditangkap tahun 1856, disiksa, divonis mati dalam penjara, dan meninggal pada bulan Februari 1856.
18. Santo Laurence Bai Xiaoman, seorang umat awam dan pekerja yang sederhana. Ia bergabung dengan Blessed Chapdelaine dalam tempat perlindungan yang diperuntukkan untuk misionaris kemudian keduanya ditangkap bersama. Ia tidak bisa dibujuk untuk mengingkari imannya sehingga akhirnya dipenggal pada tanggal 25 Februari 1856.
19. Santa Agnes Cao Guiying, seorang janda yang terlahir dalam keluarga Kristen lama. Berdedikasi pada kelompok gadis-gadis muda yang baru saja dibaptis, ia ditangkap dan divonis mati dalam penjara. Ia dieksekusi pada tanggal 1 Maret 1856.
Para Martir dari MaoKou dan Guizhou
Tiga orang katekis, dikenal sebagai Para Martir dari MaoKao (pada Provinsi Guizhou), dibunuh pada tanggal 28 Januari 1858 oleh perintah Mandarin (pejabat pemerintah) MaoKao:
20. Santo Jerome Lu Tingmei
21. Santo Laurence Wang Bing
22. Santa Agatha Lin Zao
Ketiganya telah dipanggil dan dipaksa meninggalkan agamanya. Setelah menolak, ketiganya dipenggal.
Di Guizhou, dua seminaris dan dua umat awam (seorang petani dan seorang janda yang bekerja sebagai koki di seminari), menjadi martir pada tanggal 29 Juli 1861. Mereka dikenal sebagai Para Martir dari Qingyanzhen (Guizhou):
23. Santo Joseph Zhang Wenlan, seminarian
24. Santo Paul Chen Changpin, seminarian
25. Santo John Baptist Luo Tingyin, umat awam
26. Santa Martha Wang Luo Mande, umat awam
Pada tahun berikutnya, pada tanggal 18 dan 19 Februari 1862, lima orang menjadi martir dan dikenal sebagai Para Martir dari Guizhou.
27. Santo Jean-Pierre Néel (John Peter Néel), MEP seorang pastor dari Paris Foreign Missions Society,
28. Santo Martin Wu Xuesheng, katekis awam,
29. Santo John Zhang Tianshen, katekis awam,
30. Santo John Chen Xianheng, katekis awam,
31. Santa Lucy Yi Zhenmei, katekis awam.
Perkembangan sosial dan politik pada Abad ke-19
Selama masa ini, beberapa kejadian politik sangat mempengaruhi kehidupan umat Kristen di China.
Bulan Juni 1840, komisaris kerajaan di Guangdong berkeinginan menghapuskan perdagangan opium yang dilakukan oleh Inggris; ia menyuruh membuang sebanyak 20.000 peti peti candu ke laut. Hal tersebut memicu perang yang dimenangkan oleh Inggris. Setelah perang berakhir, China terpaksan menandatangani perjanjian modern pertama mereka di tahun 1842, diikuti perjanjian oleh Perancis dan Amerika Serikat. Perancis mengambil kesempatan untuk mengambil alih Portugis sebagai kekuatan pelindung para misionaris di China. Dua dekrit dikeluarkan: dekrit pertama di tahun 1844 menyatakan bahwa masyarakat China diizinkan memeluk agama Katolik; dekrit kedua di tahun 1846 yang menghapuskan keputusan kuno tentang Katolik dan mengembalikan properti yang diambil alih di tahun 1724.[4] Perjanjian tahun 1844 juga menyebutkan bahwa para misionaris diperbolehkan untuk datang ke China, tetapi hanya pada beberapa kota pelabuhan yang dibuka untuk bangsa Eropa; ketentuan inilah yang menjadi dasar hukum untuk mengeksekusi Augustus Chapdelaine (disebutkan di atas).
Pada pertengahan abad ke-19 terjadi perang saudara di China yang dikenal sebagai Pemberontakan Taiping, yang dipicu oleh seorang umat Kristen sesat dari Guangdong yang bernama Hong Xiuqian. Ia mengklaim bahwa ia menerima misi khusus dari Tuhan untuk memerangi kejahatan dan menjadi gerbang bagi periode perdamaian. Hong dan para pengikutnya sukses mengambil alih wilayah yang luas, mereka menghancurkan kuil-kuil Buddhis dan Taois, serta melawan agama tradisional masyarakat. Perang tersebut kira-kira menelan 20-30 juta korban jiwa sehingga menjadikannya konflik paling berdarah kedua dalam sejarah manusia (setelah Perang Dunia II). Setelah pemberontakan dihancurkan, kerusakan yang ditinggalkan menyebabkan kekristenan memperoleh nama buruk karena asosiasinya dengan pemberontakan. Hal tersebut menjadi salah satu pemicu kekerasan terhadap para misionaris.
Hal lain yang memicu adalah meningkatnya hubungan antara aktivitas misionaris dengan imperialisme barat, termasuk aktivitas imperialis Perancis di China yang mengatasnamakan perlindungan mereka atas misi para misionaris.
Setelah kemartiran St.Agustinus Chapedelaine (disebutkan di atas pada tahun 1856, Perancis merespon dengan mengirimkan sebuah ekspedisi militer. Ekspedisi tersebut berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian Tianjin pada tahun 1860 yang memberikan kebebasan kepada para misionaris Katolik untuk mengelilingi China serta membeli tanah (hak tersebut juga diberikan kepada umat Protestan). Setelah itu, Gereja dapat hidup secara terbuka dan melaksanakan aktivitas misionarisnya, bahkan membuka sekolah-sekolah tinggi, universitas, dan penelitian ilmiah. Gereja semakin berakar dalam tradisi budaya China serta dalam hubungannya dengan pemerintah, terutama juga karena berbagai aktivitas kemanusiaan mereka yang bernilai tinggi.
Namun, para misionaris memprovokasi masyarakat China dengan membangun gereja-gereja atau sekolah di atas bekas kuil-kuil kuno atau di dekat kantor pemerintahan. Mereka juga menghapuskan institusi katolik pribumi yang selamat dari pelarangan pemerintah. Terkadang dalam kotbah juga ditegaskan bahwa mereka akan dilindungi dari masyarakat sekitar (yaitu dari tekanan dan kemarahan keluarga serta teman), dan bagaimana cara mereka melakukan pemisahan menyebabkan timbulnya rumor-rumor buruk diantara masyarakat setempat mengenai apa yang sebenarnya dilakukan umat Kristen. Rumor semacam itu juga menimpa sebuah rumah yatim piatu di Tianjin yang mengakibatkan pembunuhan 60 orang pada tahun 1870. Namun kolonialis Barat justru memanfaatkan tindakan pengrusakan dan pembunuhan tersebut (yang dilakukan oleh gerombolan maupun dinas rahasia) sebagai dalih untuk memeras keuntungan finansial dan ekonomi.
Aliran-aliran Protestan yang lebih tertutup diperlakukan dengan lebih baik oleh pihak-pihak yang berwenang.
Para kaum terpelajar serta keluarga terhormat di China, dalam gerakan bahwa tanah, menyebarkan pamflet yang menyerang iman Kristen sebagai pemahaman yang tidak rasional. Surat-surat edaran untuk pembakaran properti juga disebarkan ke kerumunan penduduk dan diperkirakan sebagai pemicu kekerasan terhadap umat Kristen. Bahkan terkadang tidak diperlukan edaran semacam itu untuk memprovokasi masyarakat menyerang umat Kristen. Misalnya peristiwa pada masyarakat Hakka yang tinggal di wilayah tenggara, para misionaris Kristen seringkali mencemooh kebiasaan penduduk yang berhubungan dengan agama setempat, termasuk diantaranya menolak mengambil bagian dalam sembahyang bersama untuk memohon hujan (karena para misonaris juga diuntungkan oleh hujan, mereka dipaksa juga untuk memngambil bagian dalam ritual) serta menolak menyumbangkan dana untuk mengadakan pementasan opera bagi para dewata China (para dewa yang dihormati dalam opera tersebut adalah dewa-dewa yang sama dengan yang dipuja para "Pemberontak Boxer" dalam pemberontakan yang terjadi berikutnya).
Misi Katolik menawarkan perlindungan kepada siapapun yang datang kepada mereka, termasuk para kriminal, pelanggar hukum, dan pemberontak terhadap pemerintah; hal tersebut meningkatkan kebencian pemerintah terhadap misi pengembangan agama.
Pemberontakan Boxer
Masa berkembangannya kekristenan di China sekali lagi mengalami hambatan oleh munculnya "Serikat Pendekar Keadilan dan Harmoni" (I Ho Ch'uan) yang lebih dikenal sebagai "Pendekar" atau Boxer. Gerakan Boxer muncul pada awal abad ke-20, didukung oleh para mandarin (pejabat kekaisaran) dan ibu Kaisar Kwang-hsue dan menyebabkan pertumpahan darah begitu banyak umat kristen. Llima uskup, 28 imam praja dan biarawan, dua bruder, sembilan suster, dan 30.000 umat awam. Diantara mereka banyak yang dinyatakan kudus. Pemberontakan ini dipicu oleh kebencian yang menumpuk kepada para orang asing selama dekade terakhir abad ke-19, akibat perubahan politik serta sosial pasca Perang Candu dan perjanjian-perjanjian tidak adil yang menguntungkan bangsa barat.
Namun, motif yang melatari pembunuhan para misonaris sangat berbeda, meskipun mereka juga berkebangsaan barat. Motif yang melatari adalah motif keagamaan; yang juga melatari pembunuhan terhadap umat awam berkebangsaan China. Dokumen sejarah yang bisa dipercaya menunjukkan bukti adanya kebencian terhadap umat Kristen. Sebuah dekrit dikeluarkan pada tanggal 1 Juli 1900 yang menyatakan bahwa era hubungan baik dengan para misionaris Eropa dan umat kristen telah berakhir: bahwa para misionaris harus dipulangkan saat itu juga dan umat Katolik dipaksa untuk ingkar, atau akan dibunuh. Beberapa kelompok kejadian pembunuhan yang terjadi ditunjukkan seperti di bawah ini.
a) Para Martir Shanxi, dibunuh tanggal 9 Juli 1900 (dikenal sebagai Pembantaian Taiyuan), merupakan anggota Ordo Fransiskan :
32. Santo Gregory Grassi, Uskup,
33. Santo Francis Fogolla, Uskup,
34. Santo Elias Facchini, Imam,
35. Santo Theodoric Balat, Imam,
36. Santo Andrew Bauer, Bruder;
b) Para Martir di Hunan Selatan, juga anggota Biara Fransiskan :
37. Santo Anthony Fantosati, Uskup (menjadi martir 7 Juli 1900),
38. Santo Joseph Mary Gambaro, Imam (menjadi martir 7 Juli 1900),
39. Santo Cesidio Giacomantonio, Imam (menjadi martir 4 Juli 1900).
Selain itu juga tujuh suster Franciscan Missionaries of Mary (tiga berkebangsaan Perancis, dua Italia, satu Belgia, dan satu Belanda):
40. Santa Mary Hermina of Jesus (in saec: Irma Grivot),
41. Santa Mary of Peace (in saec: Mary Ann Giuliani),
42. Santa Mary Clare (in saec: Clelia Nanetti),
43. Santa Mary of the Holy Birth (in saec: Joan Mary Kerguin),
44. Santa Mary of Saint Justus (in saec: Ann Moreau),
45. Santa Mary Adolfine (in saec: Ann Dierk),
46. Santa Amandina of Schakkebroek (Mary Amandina) (in saec: Paula Jeuris).
Para Sekular (awam) dari Ordo Franciscan, semua berkebangsaan China:
47. Santo John Zhang Huan, seminarian,
48. Santo Patrick Dong Bodi, seminarian,
49. Santo John Wang Rui, seminarian,
50. Santo Philip Zhang Zhihe, seminarian,
51. Santo John Zhang Jingguang, seminarian,
52. Santo Thomas Shen Jihe, umat awam dan pelayan,
53. Santo Simon Qin Chunfu, katekis awam,
54. Santo Peter Wu Anbang, awam,
55. Santo Francis Zhang Rong, awam dan seorang petani,
56. Santo Matthew Feng De, awam dan seorang katekumen,
57. Santo Peter Zhang Banniu, awam dan seorang karyawan.
Berikut ini adalah para umat awam:
58. Santo James Yan Guodong, petani,
59. Santo James Zhao Quanxin, pelayan,
60. Santo Peter Wang Erman, koki.
Gerakan Boxer dimulai di Shandong dan menyebar ke Shanxi dan Hunan, menuju Tcheli Tenggara (sekarang Hebei). Di Tcheli terdapat Apostolic Vicariate of Xianxian, dibawah naungan Ordo Jesuit, umat kristen yang terbunuh mencapai ribuan. Diantaranya adalah empat misionaris Yesuit berkebangsaan Perancis dan setidaknya 52 umat awam kristen pribumi; pria, wanita, dan anak-anak - yang tertua berusia 79 tahun dan termuda sembilan tahun. Semuanya menjadi martir pada bulan Juli 1900; sebagian terbunuh di dalam gereja di Desa Tchou-Kia-ho (atau Zhujiahe) yang menjadi tempat perlindungan. Saat itu mereka sedang berdoa bersama dua misionaris pertama pada daftar di bawah ini:
61. Santo Leo Mangin, S.J., Imam,
62. Santo Paul Denn, S.J., Imam,
63. Santo Rémy Isoré, S.J., Imam,
64. Santo Modeste Andlauer, S.J., Imam.
Nama-nama beserta usia para umat awam kristen yang menjadi martir adalah sebagai berikut:
65. Santa Mary Zhu born Wu, sekitar 50 tahun,
66. Santo Peter Zhu Rixin, 19 tahun,
67. Santo John Baptist Zhu Wurui, 17 tahun,
68. Santa Mary Fu Guilin, 37 tahun,
69. Santa Barbara Cui born Lian, 51 tahun,
70. Santo Joseph Ma Taishun, 60 tahun,
71. Santa Lucy Wang Cheng, 18 tahun,
72. Santa Maria Fan Kun, 16 tahun,
73. Santa Mary Qi Yu, 15 tahun,
74. Santa Maria Zheng Xu, 11 tahun,
75. Santa Mary Du born Zhao, 51 tahun,
76. Santa Magdalene Du Fengju, 19 tahun,
77. Santa Mary du born Tian, 42 tahun,
78. Santo Paul Wu Anju, 62 tahun,
79. Santo Ioannes Baptista Wu Mantang, 17 tahun,
80. Santo Paul Wu Wanshu, 16 tahun,
81. Santo Raymond Li Quanzhen, 59 tahun,
82. Santo Peter Li Quanhui, 63 tahun,
83. Santo Peter Zhao Mingzhen, 61 tahun,
84. Santo John Baptist Zhao Mingxi, 56 tahun,
85. Santa Teresa Chen Jinjie, 25 tahun,
86. Santa Rose Chen Aijie, 22 tahun,
87. Santo Peter Wang Zuolong, 58 tahun,
88. Santa Mary Guo born Li, 65 tahun,
89. Santa Joan Wu Wenyin, 50 tahun,
90. Saint Zhang Huailu, 57 tahun,
91. Santo Mark Ji Tianxiang, 66 tahun,
92. Santa Ann An born Xin, 72 tahun,
93. Santa Mary An born Guo, 64 tahun,
94. Santa Ann An born Jiao, 26 tahun,
95. Santa Mary An Linghua, 29 tahun,
96. Santo Paul Liu Jinde, 79 tahun,
97. Santo Joseph Wang Kuiju, 37 tahun,
98. Santo John Wang Kuixin, 25 tahun,
99. Santa Teresa Zhang born He, 36 tahun,
100. Saint Lang born Yang, 29 tahun,
101. Santo Paulus Lang Fu, 9 tahun,
102. Santa Elizabeth Qin born Bian, 54 tahun,
103. Santo Simon Qin Chunfu, 14 tahun,
104. Santo Peter Liu Ziyu, 57 tahun,
105. Santa Anna Wang, 14 tahun,
106. Santo Joseph Wang Yumei, 68 tahun,
107. Santa Lucy Wang born Wang, 31 tahun,
108. Santo Andreas Wang Tianqing, 9 tahun,
109. Santa Mary Wang born Li, 49 tahun,
110. Saint Chi Zhuzi, 18 tahun,
111. Santa Mary Zhao born Guo, 60 tahun,
112. Santa Rose Zhao, 22 tahun,
113. Santa Maria Zhao, 17 tahun,
114. Santo Joseph Yuan Gengyin, 47 tahun,
115. Santo Paul Ge Tingzhu, 61 tahun,
116. Santa Rose Fan Hui, 45 tahun.
Selain para korban pemberontakan Boxer tersebut, juga pantas dikenang :
117. Santo Alberic Crescitelli', seorang imam dari Pontifical Institute for Foreign Missions di Milan yang ditugaskan pada wilayah Shaanxi Selatan. Menjadi martir tanggal 21 Juli 1900.
Beberapa tahun kemudian, anggota Komunitas Salesian Society of St John Bosco ditambahkan dalam daftar nama martir di China. Keduanya terbunuh tanggal 25 Februari 1930 di Li-Thau-Tseul.
118. Santo Louis Versiglia, Uskup,
119. Santo Callistus Caravario, Imam.
Diplomat, penduduk, tentara asing, serta beberapa Tionghoa Kristen melarikan diri ke Legation Quarter dan tinggal selama 55 hari hingga Aliansi Delapan Negara datang dengan 20.000 tentara untuk memadamkan pemberontakan. Setelah kegagalan pemberontakan, pemerintah China menyadari bahwa tidak ada jalan lain kecuali melakukan modernisasi, yang akhirnya mengembangkan agama Katolik di China pada tahun-tahun berikutnya. Masyarakat China mulai menaruh hormat kepada para Kristen karena pembangunan sekolah-sekolah serta rumah sakit. Namun, pengasosiasian imperialisme barat dengan usaha misionaris tetap memicu kebencian terhadap misi kekristenan di China.
Semua misi tersebut akhirnya dilarang oleh penguasa komunis yang baru setelah berakhirnya perang Korea di tahun 1950. Hingga saat ini kehidupan misi dan umat Kristiani di China dapat tetap bertahan meskipun dianggap melanggar hukum.
Santa Eustakia
Eustakia adalah puteri bungsu Santa Paula, janda seorang bangsawan Romawi. Ia dikenal sebagai gadis Romawi pertama yang mengikrarkan kaul kemurnian hidup bagi Kristus. Oleh Santo Hieronymus, pembimbing rohaninya di Betlehem Eustakia diberi julukan "Bunga para Gadis."
Ketika ibunya Paula meninggalkan segala-galanya dan berangkat ke Palestina untuk mengurbankan hidupnya demi Kristus dan kepentingan sesama, Eustakia menemaninya. Ia mau menjadi seperti ibunya dalam hal pengabdian kepada Kristus dan sesama. Di Palestina, mereka berdua bersama-sama mengunjungi berbagai tempat suci yang pernah disinggahi Kristus semasa hidupNya. Paula, ibunya mendirikan sebuah biara di Betlehem dan Eustakia menjadi salah satu anggota biara itu.
Sepeninggal ibunya, Eustakia menjadi pemimpin biara itu di bawah bimbingan Santo Hieronymus. Sebagai pemimpin biara, Eustakia benarbenar menunjukkan teladan hidup yang cemerlang dalam mengamalkan segala kebajikan Kristiani demi kemuliaan Kristus.
Santo Hieronymus sangat mengagumi cara hidup Eustakia. Ada beberapa surat yang ditulisnya kepada Eustakia untuk menunjukkan kekagumannya pada cara hidup Eustakia. Dalam salah satu suratnya
ia menulis: "Eustakia, anakku dan adikku yang terkasih di dalam Kristus, Tuhan! Umurku dan kasih-sayangku memperkenankan aku menggunakan kata-kata seperti itu. Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan engkau untuk menjadi orang terkemuka di antara para gadis Romawi. Oleh karena itu, berjuanglah sekuat tenagamu agar tugasmu yang suci mulia itu kau selesaikan sampai tuntas di dalam nama Kristus Tuhan kita. Kiranya kebahagiaan yang telah kauperoleh dari Kristus, tidaklah hilang karena kebodohan yang hanya menuntut pengorbanan yang setengah-setengah."
Sebaliknya cara hidup Eustakia menjadi dorongan moral yang besar bagi Santo Hieronymus dalam usahanya menyelesaikan terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Setelah mengabdi Tuhan dalam waktu yang cukup lama, Eustakia meninggal dunia pada tahun 419. Tidak lama kemudian Santo Hieronymus pun menyusuli dia ke dalam kebahagiaan surgawi yang tak kunjung berakhir.
Santo Lorenzo Ruiz
St.Lorenzo Ruiz adalah salah seorang dari Enam belas martir yang dibunuh karena iman pada tahun 1637 di Nagasaki, Jepang. Ia dilahirkan di Binondo, Manila. Ayahnya seorang Tionghoa dan ibunya orang Filipina asli yang keduanya Katolik. Dari ayahnya ia belajar bahasa Cina sementara ibunya mengajarinya Bahasa Tagalog.
Ruiz kecil sering menjadi putra altar di biara gereja Binondo. Setelah dididik oleh para biarawan Dominika selama beberapa tahun, Ruiz mendapatkan gelar Escribano (kaligrafi) karena tulisan tangannya yang indah. Dia menjadi anggota dari Cofradia del Rosario Santissimo (doa Rosario Maha Kudus). Ia menikah dengan seorang wanita bernama Rosario dan mereka memiliki dua putra dan seorang putri. Keluarga Ruiz menjalani hidup yang damai dan tenang.
Pada tahun 1636 ia bekerja sebagai petugas administrasi pada Gereja Binondo, namun kemudian menggabungkan diri sebagai sukarelawan untuk berangkat menyebarkan Injil ke Jepang. Ruiz dan para sahabatnya berangkat Okinawa pada tanggal 10 Juni 1636. Mereka terdiri dari sembilan imam Dominikan, dua broeder, dua perempuan awam selibat dan tiga awam lainnya. Semuanya berhubungan dengan Ordo Dominikan dan semuanya lebih memilih mati daripada mengingkari iman kepada Yesus. Mereka semua adalah para misionaris yang berasal dari lima negara: Perancis, Italia, Jepang, Filipina dan Spanyol.
Saya adalah seorang Katolik dan sepenuh hati menerima kematian untuk Tuhan, Jika aku punya seribu nyawa, semuanya akan berikan kepada-Nya..." ~ St.Lorenzo Ruiz
Betapa mereka secara mengagumkan mengingatkan kita bahwa Gereja menjangkau seluruh dunia! Para martir ini banyak menderita sebelum akhirnya wafat dimartir, namun mereka tak hendak menyangkal iman Katolik. St Lorenzo mengatakan kepada para hakim yang mengadilinya bahwa andai ia memiliki seribu nyawa, ia akan menyerahkan semuanya untuk Kristus.
Lorenzo Ruiz dinyatakan sebagai yang terberkati (Beato) pada tahun 1981 oleh Paus John Paul II. Ada yang menarik pada upacara beatofikasi Santo dari Filipina ini. Upacara Beatofikasinya diadakan di Manila Filipina dan ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah sebuah upacara Beatofikasi diadakan diluar Vatican.
Pada tanggal 18 Oktober 1987 Lorenzo Ruiz dan kawan-kawannya; pahlawan-pahlawan iman yang gagah berani ini dimaklumkan kudus. Juga oleh Paus Yohanes Paulus II
Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja
Arti nama
Berasal dari bahasa latin: "Laurentius" yang berarti "Orang Laurentum". Laurentum adalah nama sebuah kota di Italia pada jaman Romawi kuno
Santo Wenseslaus
Bila dilihat dengan kacamata Gereja dewasa ini, Wenseslaus dapat dikatakan sebagai seorang awam Katolik yang mewarnai pemerintahan negara dengan asas-asas Kristiani sebagaimana diajarkan Kristus. Sebagai raja negeri Wratislav, Cekoslovakia, Wenseslaus dalam usianya yang masih begitu muda tampil sebagai seorang pemimpin yang berjiwa Kristen. Ia berada di dalam dunia dan berdiri tegak dengan semangat Kristiani memimpin rakyatnya dan menghadapi berbagai gejolak politik di negerinya.
Wenseslaus lahir di sebuah kota dekat Praha pada tahun 907 (buku lain 903). Ayahnya, Wratislaw, adalah seorang pangeran,dan penguasa negeri Bohemia yang dikenal saleh dan bijaksana. Ia memimpin rakyatnya berdasarkan asas-asas ajaran Kristiani. Ibunya, Dragomira, dikenal angkuh, gila hormat dan kuasa. Ia masih bermental kafir dan akrab dengan orang-orang kafir. Oleh karena kekafiran isterinya Dragomira, Wratislaw mempercayakan pendidikan anaknya kepada ibu kandungnya Ludmila. Ludmila, nenek Wenseslaus, dikenal sebagai seorang wanita yang saleh dan baik hati. Ia menyekolahkan Wenseslaus di Budetch, sebuah sekolah Latin yang tinggi mutunya.
Ketika Wenseslaus berusia 13 tahun, ayahnya meninggal dunia sewaktu memerangi kaum Magyars pada tahun 920. Dengan itu kekuasaan kerajaan jatuh ke tangan ibunya, Dragomira. Watak kekafiran Dragomira benar-benar terlihat jelas di dalam caranya memerintah. Ia menimbulkan banyak kekacauan karena menyokong orang-orang kafir untuk menyerang para pemimpin Katolik beserta seluruh umat. Korban pertama ialah Ludmila, ibu kandung Wratislaw, yang mendidik dan membesarkan Wenseslaus. Ludmila mati dicekik oleh kaki tangan Dragomira.
Pembunuhan atas Ludmila semakin memperburuk situasi negara. Dari dalam dan dari luar Bohemia datang banyak reaksi keras. Pangeran Bayern memaksa Dragomira meletakkan jabatannya dan mendesak Wenseslaus naik takhta menggantikan ibunya yang korup itu. Wenseslaus yang baru berusia 15 tahun mengambil alih kekuasaan pada tahun 922. Dengan dukungan banyak orang, ia memimpin rakyatnya. Cita-citanya ialah mewujudkan suatu negara yang adil dan makmur berlandaskan asas-asas Kristiani. Dengan seluruh sikap hidupnya, Wenseslaus berhasil memimpin rakyatnya. Ia dikenal sebagai seorang raja yang saleh, berani dan murah hati terutama kepada para janda dan anak yatim-piatu. Ia meringankan beban hidup orang-orang miskin, mengunjungi para tawanan untuk menghibur mereka. Lebih dari itu konon pada musim dingin ia sendiri menghantar kayu bakar kepada keluarga-keluarga miskin di sekitarnya.
Karyanya diletakkan di atas landasan iman yang kokoh. Ia menaruh devosi yang tinggi terhadap Sakramen Mahakudus. Kerapkali ia sendiri menjadi misdinar yang melayani imam pada waktu perayaan Ekaristi. Sering ia mengunjungi gereja pada tengah malam untuk berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Tetapi sebagaimana biasa kepemimpinan yang jujur dan adil senantiasa tidak luput dari berbagai rintangan bahkan ancaman. Banyak pembesar kerajaan tidak senang dengan Wenseslaus karena kejujuran dan keadilannya. Pemimpin para lawannya ialah adik kandungnya sendiri, yaitu Boleslaw yang didukung oleh Dragomira. Bersama pembesar lainnya, Boleslaw berusaha membunuh Wenseslaus dan melenyapkan agama Katolik dari bumi Bohemia. Untuk itu mereka mencari kesempatan emas yang tepat untuk pelaksanaan niat jahat itu.
Kelahiran putera sulung Boleslaw merupakan kesempatan emas itu. Boleslaw mengadakan suatu perjamuan besar untuk merayakan kelahiran puteranya. Ia mengundang Wenseslaus bersama seluruh pembesar kerajaan. Pada kesempatan itulah, Boleslaw menyerang kakaknya dari belakang dan menusuknya dengan sebilah pedang. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Wenseslaus berkata: "Adikku, semoga Tuhan mengampuni engkau." Wenseslaus adalah awam Katolik yang tangguh. Ia dibunuh karena perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan, kejujuran dan cinta kasih sepanjang masa pemerintahannya. Memang ia mati sebagai seorang negarawan, namun apa yang diperjuangkan dan dipertahankannya sesungguhnya nilai-nilai hidup yang abadi berdasarkan ajaran Kristus dan GerejaNya. Oleh karena itu ia digelari sebagai Saksi Iman, Martir Kristus. Makamnya dikunjungi oleh banyak peziarah. Ia dihormati sebagai pelindung negeri Cekoslovakia modern dan dikenal sebagai tokoh awam Katolik yang mampu menerjemahkan ajaran-ajaran iman di dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Banyak mujizat terjadi atas orang-orang yang berdoa dengan perantaraannya. Tetapi mujizat terbesar ialah pertobatan Boleslaw adiknya, pembunuh yang bengis itu. Wenseslaus baru berusia 22 tahun ketika ia gugur sebagai pelindung Gereja Kristus serta pembela keadilan dan kejujuran.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari