Bacaan Misa
Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak "ya" dan "tidak". Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah "ya" dan "tidak", tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada "ya". Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya.
Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.
Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.
Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebagaimana sepatutnya terhadap orang-orang yang mencintai nama-Mu.
Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku.
Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Invitatorium
Pekan II Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Allah, Tuhan yang mahamulia.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Allah, Tuhan yang mahamulia.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Berserahlah kepada Allah, dan Ia akan melakukan segalanya bagimu.
Mazmur 36 (37)
Nasib orang fasik dan orang baik
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi (Matius 5:5).
AntifonBerserahlah kepada Allah, dan Ia akan melakukan segalanya bagimu.
Antifon 2Jauhilah kejahatan, belajarlah melakukan kehendak Allah; Tuhan akan menguatkanmu jika engkau taat kepada-Nya.
AntifonJauhilah kejahatan, belajarlah melakukan kehendak Allah; Tuhan akan menguatkanmu jika engkau taat kepada-Nya.
Antifon 3Tunggulah Tuhan memimpin, lalu ikutilah jalan-Nya.
AntifonTunggulah Tuhan memimpin, lalu ikutilah jalan-Nya.
Responsorium Yosua 1:5, 6, 7, 9; Ulangan 31:20
Responsorium
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Kirimkanlah cahaya dan kebenaranMu, ya Tuhan.
Mazmur 42 (43)
Antifon 1Kirimkanlah cahaya dan kebenaranMu, ya Tuhan.
Antifon 2Ya Tuhan, sudilah menyelamatkan kami sepanjang hidup kami.
Yes 38,10-14.17-20
Antifon 2Ya Tuhan, sudilah menyelamatkan kami sepanjang hidup kami.
Antifon 3Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion.
Mazmur 64 (65)
Antifon 3Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion.
Bacaan Singkat (1Tes 5,4-5)
Lagu Singkat
Antifon KidungSelamatkanlah kami dari tangan semua lawan yang membenci kami, ya Tuhan.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungSelamatkanlah kami dari tangan semua lawan yang membenci kami, ya Tuhan.
Doa Permohonan
℟. Bimbinglah kami pada jalanMu, ya Tuhan.
KebangkitanMu, ya Tuhan Yesus, kami kenangkan dalam doa pagi ini,* semoga harapan akan kemuliaanMu menerangi kami sepanjang hari. ℟.
Terimalah, ya Tuhan, keinginan dan rencana kami,* dan berkatilah segala usaha kami pada hari ini. ℟.
Semoga kami hari ini maju dalam cinta kasihMu,* agar segala hal-ihkwal berguna bagi kami dan bagi semua orang. ℟.
Ya Tuhan, semoga terang kami bercahaya di depan orang,* sehingga mereka melihat perbuatan kami yang baik dan memuliakan Bapa di surga. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (1 Cor 12, 4-6)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Di perantuan aku mematuhi titahMu.
Mazmur 118 (119),49-56
Antifon 1Di perantuan aku mematuhi titahMu.
Antifon 2Allah akan memulihkan nasib umatNya, dan kita akan bersukacita.
Mazmur 52 (53)
Antifon 2Allah akan memulihkan nasib umatNya, dan kita akan bersukacita.
Antifon 3Allah menjadi penolongku, Tuhanku penopang hidupku.
Mazmur 53 (54),3-6.8-9
Antifon 3Allah menjadi penolongku, Tuhanku penopang hidupku.
Bacaan singkat 1Kor 12,24b.25-26
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (1 Cor 12, 24b. 25-26)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Tak mungkin kamu sekaligus mengabdi Allah dan kekayaan.
Mazmur 48 (49) I
Antifon 1Tak mungkin kamu sekaligus mengabdi Allah dan kekayaan.
Antifon 2Kumpulkanlah bagimu harta di surga, sabda Tuhan.
Mazmur 48 (49) II
Antifon 2Kumpulkanlah bagimu harta di surga, sabda Tuhan.
Antifon 3Layaklah Anakdomba yang disembelih itu menerima kemuliaan dan hormat.
Why 4,11; 5,9.10-12
Antifon 3Layaklah Anakdomba yang disembelih itu menerima kemuliaan dan hormat.
Bacaan Singkat (Rom 3,23-25a)
Antifon KidungKerjakanlah perbuatan besar bagi kami, ya Tuhan, karena Engkau mahakuasa, dan kuduslah namaMu.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungKerjakanlah perbuatan besar bagi kami, ya Tuhan, karena Engkau mahakuasa, dan kuduslah namaMu.
Doa Permohonan
℟. Lindungilah umatMu, ya Tuhan.
Ya gembala abadi, lindungilah uskup kami bapa...* dan semua gembala umatMu. ℟.
Ya Tuhan, perhatikanlah penuh belaskasihan semua orang yang dianiaya,* dan bebaskanlah mereka segera dari segala kesusahan. ℟.
Kasihanilah, ya Tuhan, semua orang yang papa,* dan berikanlah rezeki kepada yang lapar. ℟.
Terangilah para anggota dewan perwakilan rakyat,* supaya mereka menetapkan undang-undang yang adil dan bijaksana. ℟.
Dampingilah orang-orang yang sudah Kautebus dengan darahMu dan yang kini sudah meninggal,* izinkanlah mereka mengambil bagian dalam perjamuan nikah bersama Engkau. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
dan aku mengeluh sepanjang hari.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Aku mengakui dosaku di hadapanMu, Tuhan,*
dan kesalahanku tidak kusembunyikan.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Nasib orang berdosa sengsara belaka,*
tetapi orang yang percaya kepada Tuhan dilimpahi kasih setia.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonJanganlah wajahMu Kaupalingkan dari padaku, sebab kepadaMu aku percaya.
Mazmur 142 (143),1-11
AntifonJanganlah wajahMu Kaupalingkan dari padaku, sebab kepadaMu aku percaya.
Bacaan singkat 1Ptr 5,8-9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beata Anna Maria Taigi
“Keluargaku seperti Firdaus tampaknya, dan hatiku sungguh bahagia”, demikian kata Dominiko Taigi waktu berlangsungnya proses pernyataan beata atas diri Anna Taigi, isterinya. Kegembiraan dan kebahagiaan yang sama meliputi anak-anaknya serta pembantu yang melayaninya. Mereka semua kagum akan kesucian hidup Anna Maria yang sangat mencintai mereka dengan perhatian dan kebaikannya yang luar biasa.
Anna Maria Taigi hidup antara 1769-1837 dan terlahir di Siena.Ketika berumur enam tahun, ia berada di Roma untuk mengikuti pendidikan disana. Ia kelihatan saleh dan sederhana. Ia gemar mengenakan pakaian yang indah-indah serta gemar akan kesenangan-kesenangan dunia yang pantas. Perkawinannya dengan Dominiko Taigi berlangsung pada usia 21 tahun. Tuhan menganugerahkan kepadanya tujuh orang anak. Hidup mereka sederhana namun bahagia. Untuk menambah pendapatan keluarga, ia menerima pesanan jahitan. Memang banyak sekali pengalaman pahit dialaminya, namun semuanya dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan selalu meneguhkan hatinya dengan menganugerahkan kedamaian batin kepadanya. Baginya, mendidik dan membesarkan tujuh orang anak bukanlah perkara yang mudah. Ibu kandungnya sendiri tinggal bersama mereka. Beban tanggungannya semakin bertambah berat ketika Sophia anaknya menjadi janda dan kembali tinggal dengannya bersama enam orang anaknya yang lain.
Untuk mereka semua, Anna benar-benar menjadi seorang malaikat pelindung dan pendamai. Bagi tetangga-tetangganya, ia juga menjadi seorang penghibur. Pada suatu hari Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam rupa sebuah bulatan cahaya Ilahi. Dalam bulatan cahaya itu, ia dapat melihat segala sesuatu yang terjadi, baik di masa lampau, kini dan yang akan datang. Tuhan pun menganugerahkan kepadanya kemampuan mengenal keadaan batin orang lain dan mengetahui nasih orang lain.
Terdorong akan pengalaman akan Allah itu, Anna semakin yakin akan perlindungan Tuhan atas dirinya. Ia menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah sebagai kurban silih atas dosa-dosa dunia dan bagi keselamatan Gereja ditengah banyak masalah. Banyak sekali orang datang kepadanya untuk meminta bimbingan. Banyak waktu dihabiskannya untuk melayani orang-orang itu. Kesucian hidupnya ternyata berpengaruh besar terhadap lingkungan disekitarnya. Meski banyak kali disibukkan untuk melayani orang lain, namun apa yang menjadi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga tidak pernah dilalaikannya. Suami dan anak cucunya dilayani dengan penuh kasih sayang. Ia pun banyak membantu orang-orang susah dan menyembuhkan banyak orang sakit tanpa meminta bayaran.
Anna Taigi diberi gelar ‘beata’ bukan karena penglihatan ajaib yang dilihatnya tetapi karena kebaikan hatinya, kemiskinannya, kerendahan hatinya serta kerelaannya untuk menderita bagi jiwa-jiwa.
Beata Diana
Santo Dominikus memperluas karyanya ke Italia dan memilih kota Bologna sebagai pusat karyanya, karena buah-buah pikirannya diterima baik di Universitas Bologna.
Pada mulanya karya Dominikus di kota ini tidak terlalu berhasil. Banyak rintangan menghadang, terutama karena Tuan Andalo, seorang tuan tanah yang berkuasa di Bologna, tidak suka pada agama Kristen. Meski demikian, Dominikus tidak berputus asa. Tuhan tetap memberkati karyanya dan memberinya jalan keluar dari segala kesulitan. lewat Diana, puteri kesayangan Andalo, Dominikus mendapat jalan keluar untuk menanamkan pengaruhnya di Bologna. Diana menjadi sahabat baik Dominikus, dan sangat tertarik pada ajaran iman Katolik. Ia lalu memutuskan untuk mengikuti pelajaran agama dan ingin menjadi seorang biarawati. Ia yakin bahwa ia dapat membujuk ayahnya dan keluarganya agar tidak bersikap antipati terhadap agama Katolik. Kecuali itu, ia merasa yakin sekali bahwa ayahnya akan bersikap lunak dan akan membantu mendirikan sebuah biara Dominikan di kota Bologna.
Tetapi apa yang diyakininya tidak terjadi dengan mulus. Tatkala ia memberitahukan dan seluruh anggota keluarganya tentang niat sucinya untuk menjadi seorang biarawati, ia dimarahi dan cita-citanya ditolak mentah-mentah. Menghadapi kemarahan dan penolakan keluarganya itu, Diana segera mengambil keputusan berani untuk meninggalkan rumah dan lari mencari perlindungan pada para imam Agustinian di Roxana. Keputusan ini dilaksanakannya secara diam-diam. Hal ini sangat mengejutkan keluarganya. Mereka segera mencari Diana. Akhirnya mereka menemukan dia di Biara Roxana dan membawanya pulang ke rumah. Disana ia dipukul dan dikurung dalam sel. Tetapi beberapa hari kemudian, Diana berhasil meloloskan diri dan kembali ke Roxana. Keluarganya tidak berusaha mencarinya lagi.
Beato Yordan dari Saxon turut berusaha menenangkan keluarganya dan melembutkan hati tuan Andalo bersama anak-anaknya yang lain. Usaha Yordan ini disambut dengan baik dan berhasil. Tuan Andalo bersama anak-anaknya dapat menerima panggilan Diana dan membantu mendirikan sebuah biara kecil bagi biara Dominikan. Biara kecil ini kemudian dihuni Diana bersama empat orang kawannya. Cara hidup mereka menarik banyak orang sehingga dalam waktu relatif singkat merka mendapat tambahan anggota baru. Dua orang dari anggota baru adalah Sisilia dan Amata, sahabat karib Diana. Bersama Diana, Sisilia dan Amata berkembang dalam hidup rohani dan dalam pengabdian tulus kepada Allah. Kemudian mereka digelari ‘beata’(yang berbahagia) oleh Gereja pada tahun 1891.
Santo Efrem
Lahir di Nisibis tahun 306, Mesopotamia (sekarang: Nusaybin, Turki) dan meninggal tahun 373. Ia sebagai seorang penyair, guru, orator dan pembela iman, Efrem dikenal luas serta menjadi tokoh kebanggaan umat Kristen Syria. Semasa remajanya ia mengikuti pendidikan agama dari uskup Yakob dari Nasibis. Uskup Yakob-kemudian digelari ‘Kudus’ oleh Gereja-membimbing Efrem hingga di permandikan.
Ketika orang-orang Syria menduduki kota Nasibis pada tahun 363, orang-orang Kristen di Nasibis dipaksa keluar dari Nasibis. Efrem bersama orang-orang Kristen Nasibis mengungsi ke Edessa (Urfa di Irak). Di tempat pengungsian itu, umat mengangkatnya sebagai pemimpin rohani mereka. Efrem menerima tugas ini sebagai kesempatan emas untuk membaktikan diri pada umat. Ia mengajarkan mereka ajaran iman Kristen serta membesarkan hati mereka. Sementara itu ia sendiri menjalani suatu corak hidup yang keras sampai saat ajalnya. Ia rajin menulis buku-buku pembelaan iman. Buku-buku apologetisnya, homili-homilinya dalam bentuk puisi, berbagai nyanyian dan kidung Gereja ciptaannya, membuat dia dikenal luas dan berpengaruh besar di kalangan umatnya di Edessa, bahkan diseluruh Gereja. Di Gereja Timur ia dijuluki ‘Cahaya bangsa Syria’, ‘Rasul Bangsa Syria’, ‘Pujangga Gereja’, dan ‘Kecapi Roh Kudus’. Dua puluh tahun setelah kematiannya, Santo Yerome memasukkan namanya dalam daftar orang-orang Kristen yang masyur namanya.
Efrem dikenal karena ajaran-ajaran dogmatis dan pengetahuannya yang luas. Ia rajin membaca Kitab Suci dan merefleksikan misteri-misteri Allah. Komentar-komentarnya tentang Kitab Suci sangat bermanfaat pula waktu itu. Sebagai seorang komentator, ia lebih suka akan arti harafiah Kitab Suci dan enggan menafsirkannya secara alegoris. Ia ramah kepada orang-orang miskin dan yang menderita. Tatkala umat Edessa tertimpa kelaparan hebat pada tahun 378, ia berjuang keras untuk menyelamatkan mereka dari kematian. Kunci sukses hidupnya ialah kerendahan hatinya: ia tidak pernah menaruh kepercayaan pada diri sendiri melainkan pada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan senantiasa membimbingnya. Ia menolak di tabhiskan menjadi imam dan memilih tetap sebagai diakon sampai akhir hidupnya. Kepada Santo Basilius yang ditemuinya, ia berkata: “Sayalah Efrem, orang yang tersesat dari jalan ke surga. Karena itu kasihanilah saya orang berdosa ini. Bimbinglah saya melalui jalan yang sempit.”
Santo Felisianus
Santo Primus dan saudaranya Santo Felicianus adalah martir-martir gereja perdana yang menjadi saksi Kristus pada masa penganiayaan kaisar Diokletianus. Kakak beradik ini berasal dari keluarga kafir di kota Roma. Meskipun mereka masih kafir, namun mereka dikenal sebagai orang baik-baik yang disenangi banyak orang. Semenjak kecil, Primus dan Felicianus hidup di lingkungan kafir dan dididik oleh guru-guru kafir pula.
Pengenalannya akan iman Kristen sampai menjadi martir, berawal dari perkenalan mereka dengan Paus Feliks I (269-274). Dari bimbingannya kedua bersaudara ini mengenal iman Katolik dan dipermandikan.
Setelah permandiannya, mereka rajin berdoa dan melakukan kegiatan-kegiatan amal kasih, mengunjungi orang-orang Kristen di penjara untuk menghibur dan meneguhkan hati mereka. Tuhan melimpahkan rahmatNya kepada mereka dan melindungi mereka dari segala tindakan kejam para penguasa negara. Selama bertahun-tahun berkarya di tengah-tengah aksi penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh kaisar Diokletianus, Primus dan Felicianus selalu terhindar dari usaha penangkapan.
Tetapi akhirnya mereka di tangkap juga pada tahun 297 dan dipenjarakan bersama orang-orang Kristen lainnya. Didalam penjara mereka saling menghibur dan dengan tekun saling meneguhkan sesamanya yang lain. Setelah beberapa waktu, mereka di bawa ke Nomentum, kota kecil yang berjarak 12 mil dar Roma. Mereka diadili oleh Promotus. Dakwaan dan berbagai ancaman dikenakan pada mereka, namun iman mereka tetap teguh. Akhirnya mereka dijatuhi hukuman mati dengan cara dipancung.
Jenazah mereka dimakamkan di Nomentum. Pada tahun 649, Sri Paus Theodorus I (642-649) menyuruh memindahkan jasad mereka ke kota San Stephanus Rotondo. Inilah peristiwa pertama, dimana tulang-belulang para martir boleh dibawa keluar kota dari kota Roma.
Arti nama
Bentuk Latin dari nama : Felix; yang berarti : Beruntung, Sukses
Santo Joseph Anchieta
Santo Joseph Anchieta, SJ (José de Anchieta y Díaz de Clavijo) adalah seorang misionaris Jesuit dari Spanyol yang berkarya di Brasil pada paruh kedua abad ke-16. Ia adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah Brasil di masa awal kolonisasi wilayah di Amerika Selatan tersebut. Rasul bangsa Brazil ini adalah salah seorang pendiri kota São Paulo di tahun 1554 dan kota Rio de Janeiro pada tahun 1565.
Awal kehidupan
Misionaris Jesuit yang kudus ini lahir pada tanggal 19 Maret 1534 di San Cristobal de La Laguna, Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol. Ayahnya yang bernama Juan Anchieta y Zelaiaran adalah kerabat dekat dari pendiri Serikat Jesus, Santo Ignasius de Loyola. Ibunya bernama Mencia Díaz de Clavijo y Llarena, putri dari Sebastián de Llarena, seorang bangsawan Converso “Marrano” dari kerajaan Castile.
Converso (Feminim = Cenversa) adalah terminologi yang digunakan di Andalusia (wilayah semenanjung Iberia yang saat ini menjadi negara Spanyol dan Portugis) pada abad ke-14 sampai abad ke-15 untuk menyebut seseorang (atau sekelompok orang), berserta keturunannya yang dibabtis menjadi Katolik setelah Reqonquista.Terdapat dua golongan Converso; “Morisco” atau “Mourisco” (Portugis) yaitu para Converso yang berasal dari etnis Moor (yang beragama Islam) dan “Marrano” yaitu Converso yang berasal dari etnis Yahudi (penganut Judaisme). Perpindahan keyakinan secara masal ini terjadi akibat tekanan politik dari pemerintah dan Euforia pasca Reqonquista (Penaklukan kembali Andalusia dari tangan bangsa Moor) setelah takluknya Sultan Abu Abdullah Muhammad XII (Sultan Granada dan penguasa muslim terakhir di Andalusia), ditangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada tanggal 25 November 1491.
Saat berusia 14 tahun, Joseph Anchieta pindah ke Portugal untuk melanjutkan studi di Portugal di Royal College of Arts di Coimbra. Ditempat inilah Joseph merasakan panggilan Tuhan untuk menjadi seorang missionaris. Karena itu Setelah menamatkan studi di Sekolah Menengah, Joseph melamar ke Serikat Jesus dan diterima di Seminari Tinggi Jesuit di Coimbra pada tanggal 1 Mei 1551.
Pada masa Novisiat, Joseph menjalani laku silih yang berat dan berpantang secara berlebihan hingga kesehatannya terganggu. Ia menderita radang tulang punggung yang membuatnya menderita sakit berkepanjangan dan tulang punggungnya terlihat bungkuk.
Menjadi Missionaris
Pada tahun 1553, Joseph Anchieta termasuk diantara para misionaris Jesuit gelombang ketiga yang dikirim Serikat Jesus ke koloni Portugis di Brazil. Para pembesar biaranya mengharapkan iklim yang sejuk di Amerika Selatan dapat memulihkan kesehatannya. Namun kenyataan yang terjadi tidaklah demikian. Punggung nya tidak pernah membaik dan Joseph selalu merasa kesakitan selama 44 tahun ia berkarya di Brazil.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, dan harus mengalami beberapa kali kecelakaan di kapal, para missionaris tiba wilayah yang kini dikenal dengan nama São Vicente, desa pertama yang didirikan misi Jesuit di Brasil pada tahun 1534. Disanalah Joseph melakukan kontak pertama dengan orang-orang suku Indian Tapuia yang mendiami wilayah tersebut.
Pada akhir tahun 1553, Manuel da Nóbrega,SJ sebagai Provinsial Serikat Jesus pertama untuk wilayah Brasil, mengirimkan Joseph Anchieta bersama 12 orang Jesuit lainnya untuk menginisiasi karya misi di Piratininga, yang terletak di dataran tinggi sepanjang Sungai Tietê di Serra do Mar. Diwilayah terpencil ini 13 Jesuit ini mendirikan sebuah permukiman misionaris kecil dan merayakan misa untuk pertama kalinya pada tanggal 25 Januari 1554, tanggal yang menurut tradisi adalah tanggal pertobatan Santo Paulus (Ejaan Portugal = São Paulo). Sejak saat itu pula Piratininga dikenal sebagai São Paulo, dan tanggal 25 Januari dirayakan sebagai hari berdirinya kota tersebut.
Saat ini São Paulo adalah kota terbesar di Brasil dan di belahan bumi selatan. Kota ini juga merupakan wilayah Metropolitan terbesar ke-7 di seluruh dunia.Dari São Paulo, para Jesuit mulai berkarya diantara suku-suku indian. Mereka mulai mengajar katekese dan membabtis penduduk pribumi dalam nama Jesus. Selain itu mereka juga berkarya dalam bidang pendidikan dan berbagai karya amal kasih lainnya. Dimasa ini padre Joseph diketahui mengajarkan bahasa Latin pada suku Indian dan mulai mempelajari bahasa Indian Tupi. Kelak ia berhasil menyusun kamus dan buku tata bahasa Indian Tupi.
Karya para Jesuit ini berkembang sangat pesat hingga beberapa tahun kemudian didirikanlah Pátio do Colégio sebuah lembaga pendidikan tinggi pertama di São Paulo yang dikelola oleh Serikat Jesus.
Padre Joseph Anchieta sangat berjasa bagi pemerintah Kolonial Portugis saat terjadi pemberontakan dari suku-suku Indian di sepanjang pantai São Paulo, Rio de Janeiro dan Espírito Santo. Pemberontakan terjadi setelah suku-suku Indian membentuk sebuah aliansi yang disebut Konfederasi Tamoyo, dan bersekutu dengan pihak Prancis. Kemampuan Joseph Anchieta berbicara dalam bahasa Tupi sangat membantunya dalam upaya negosiasi dan ia juga berhasil mendapatkan kepercayaan dari orang-orang Indian hingga kesepakatan damai dapat disepakati antara Konfederasi Tamoyo dan pihak Portugis.
Dalam masa ini Joseph pernah disandera selama lima bulan oleh pihak Tamoyo. Selama dalam tahanan ia menyibukkan diri dengan menulis puisi dalam bahasa Latin untuk menghormati Kesucian Bunda Maria. Karena tidak memiliki perlengkapan menulis, Joseph menulis puisi tersebut di pasir basah dan menghafal baris demi baris puisi tersebut. Ketika akhirnya ia dibebaskan, Joseph berhasil menyalin kembali 4.172 baris puisi tersebut keatas kertas.
Misionaris ulung ini tercatat sukses membawa seluruh anggota suku Indian Maramomis kedalam iman Kristiani. Ia juga menggubah sandiwara yang dimainkan oleh murid-muridnya, dan menuliskan naskah sandiwaranya dalam bahasa Latin, Spanyol, Portugis, dan bahasa Indian Tupi. Karena naskah dramanya adalah yang pertama ditulis di Brasil, Joseph Anchieta kelak dinyatakan sebagai Bapak Sastra Brasil.
Tutup Usia dan Kanonisasi
Pada tahun 1570 Joseph Anchieta terpilih menjadi Provincial Serikat Jesus wilayah Brazil menggantikan mentornya, Manuel Nóbrega yang baru saja tutup usia. Ditahun itu juga misi Jesuit Brazil mendirikan sebuah Perguruan Tinggi di Rio de Janiero.
Meskipun kesehatannya tidak pernah prima dan punggungnya yang sering sakit, selama sepuluh tahun berikutnya padre Joseph Anchieta terus melakukan perjalanan ke Rio de Janeiro, Bahia, Espírito Santo dan São Paulo, demi mengkonsolidasikan karya misi Yesuit di Brasil. Pada tahun 1577, superior jenderal keempat Yesuit, Everard Mercurian, menunjuk Anchieta sebagai Superior Serikat Jesus di Brasil.
Seiring kesehatannya yang semakin memburuk, pada tahun 1591 Joseph Anchieta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan dan tugas-tugasnya. Ia menyepi ke biara Serikat Jesus di Reritiba, Espírito Santo, Brazil dan hidup dengan tenang dalam keheningan biara tersebut sampai tutup usia pada tanggal 9 Juni 1597.
Padre Joseph Anchieta dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada 3 April 2014. Ia adalah Santo ketiga dari negara Brasil dan menjadi warga asli Kepulauan Canary yang kedua (setelah Santo Petrus dari Santo Joseph Betancur, yang juga seorang misionaris di Amerika Latin) yang dinyatakan kudus oleh Gereja Katolik. (qq)
Arti nama
Joseph Berasal dari bahasa Latin : Ioseph, yang diambill dari bahasa Yunani Ιωσηφ (Ioseph), yang aslinya dari bahasa Ibrani יוֹסֵף (Yosef) yang berarti : "Yang ditambahkan Tuhan".
Santo Primus dan Felicianus
Kedua bersaudara kandung ini berasal dari keluarga kafir di kota Roma. Meskipun mereka masih kafir, namun mereka dikenal sebagai orang baik-baik yang disenangi banyak orang. Semenjak kecil, Primus dan Felicianus hidup di lingkungan kafir dan dididik oleh kafir pula.
Pengenalannya akan iman Kristen sampai menjadi martir, berawal dari perkenalan mereka dengan Paus Feliks I (269-274). Dari bimbingannya kedua bersaudara ini mengenal iman Katolik dan dipermandikan.
Setelah permandiannya, mereka rajin berdoa dan melakukan kegiatan-kegiatan amal kasih, mengunjungi orang-orang Kristen di penjara untuk menghibur dan meneguhkan hati mereka. Tuhan melimpahkan rahmatNya kepada mereka dan melindungi mereka dari segala tindakan kejam para penguasa negara. Selama bertahun-tahun berkarya di tengah-tengah aksi penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh kaisar Diokletianus, Primus dan Felicianus selalu terhindar dari usaha penangkapan.
Tetapi akhirnya mereka di tangkap juga pada tahun 297 dan dipenjarakan bersama orang-orang Kristen lainnya. Namun demikian iman mereka tidak goncang sedikitpun. Mereka saling menghibur dan dengan tekun saling meneguhkan sesamanya yang lain. Setelah beberapa waktu, mereka di bawa ke Nomentum, kota kecil yang berjarak 12 mil dar Roma. Mereka diadili oleh Promotus. Dakwaan dan berbagai ancaman dikenakan pada mereka, namun iman mereka tidak goyah. Akhirnya mereka dijatuhi hukuman mati penggal kepala.
Jenazah mereka dimakamkan di Nomentum. Pada tahun 649, Sri Paus Theodorus I (642-649) menyuruh memindahkan jasad mereka ke kota San Stephanus Rotondo. Inilah peristiwa pertama, dimana tulang-belulang para martir boleh dibawa keluar kota dari kota Roma.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari