Bacaan Misa
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan." Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa." Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!
Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.
Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Invitatorium
Pekan III Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah menyembah Tuhan, raja mahamulia.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah menyembah Tuhan, raja mahamulia.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Ya Allah, penolong kami di masa lalu,
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Biarlah Allah bangkit, biarlah musuh-musuh-Nya lari dari hadapan-Nya.
Mazmur 67 (68)
Masuknya Tuhan yang jaya ke dalam tempat kudus-Nya
Naik ke tempat tinggi Ia membawa tawanan-tawanan, dan memberi karunia kepada manusia (Efesus 4:10).
AntifonBiarlah Allah bangkit, biarlah musuh-musuh-Nya lari dari hadapan-Nya.
Antifon 2Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan; Dia, Tuhan, memegang kunci-kunci maut.
AntifonAllah kita adalah Allah yang menyelamatkan; Dia, Tuhan, memegang kunci-kunci maut.
Antifon 3Kerajaan-kerajaan bumi, nyanyikanlah pujian bagi Allah, bermazmurlah untuk menghormati Tuhan.
AntifonKerajaan-kerajaan bumi, nyanyikanlah pujian bagi Allah, bermazmurlah untuk menghormati Tuhan.
Responsorium 1 Petrus 2:24; Ibrani 2:14; lihat 12:1
Responsorium (Roma 12:17; 2 Korintus 6:3; Kisah Para Rasul 24:15,16)
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Engkau telah berkenan kepada tanahMu, ya Tuhan; Engkau telah memaafkan kesalahan umatMu.
Mazmur 84 (85)
Antifon 1Engkau telah berkenan kepada tanahMu, ya Tuhan; Engkau telah memaafkan kesalahan umatMu.
Antifon 2Hatiku merindukan Dikau pada waktu malam, dan batinku mencari Engkau pada waktu pagi.
Yes 26,1-12
Antifon 2Hatiku merindukan Dikau pada waktu malam, dan batinku mencari Engkau pada waktu pagi.
Antifon 3Semoga wajah Allah berseri-seri bagi kita.
Mazmur 66 (67)
Antifon 3Semoga wajah Allah berseri-seri bagi kita.
Bacaan Singkat (1Yoh 4,14-15)
Lagu Singkat
Antifon KidungTuhan telah mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa, seperti dijanjikanNya dengan perantaraan para nabiNya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTuhan telah mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa, seperti dijanjikanNya dengan perantaraan para nabiNya.
Doa Permohonan
℟. Ingatlah akan umatMu, ya Tuhan.
Raja dan penebus kami, dengarkanlah umatMu yang memuji Engkau pada permulaan hari ini,* ajarilah kami meluhurkan Dikau, ya Raja mahamulia. ℟.
Engkaulah harapan dan keteguhan kami, padaMu kami percaya,* dan kami takkan dipermalukan. ℟.
Perhatikanlah kelemahan kami dan datanglah cepat untuk membantu kami,* karena tanpa Engkau kami tak berdaya seditipun. ℟.
Ingatlah akan orang yang papa dan yang sendirian, agar hari baru ini jangan menjadi beban bagi mereka,* melainkan hiburan dan sukacita. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan III Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Ier 22, 3)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan III Mazmur
Madah
Antifon 1Cinta kasih itu kesempurnaan hukum.
Mazmur 118 (119),97-104
Antifon 1Cinta kasih itu kesempurnaan hukum.
Antifon 2Ingatlah akan umatMu yang Kauperoleh dahulu kala.
Mazmur 73 (74) I
Antifon 2Ingatlah akan umatMu yang Kauperoleh dahulu kala.
Antifon 3Bangkitlah, ya Tuhan, belalah perkaraMu.
Mazmur 73 (74) II
Antifon 3Bangkitlah, ya Tuhan, belalah perkaraMu.
Bacaan singkat Ul 15,7-8
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan III Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Prv 22, 22-23)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan III Mazmur
Madah
Antifon 1Tuhan melindungi umatNya
Mazmur 124 (125)
Antifon 1Tuhan melindungi umatNya
Antifon 2Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.
Mazmur 130 (131)
Antifon 2Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.
Antifon 3Tuhan, Engkau telah menganugerahi kami martabat raja dan imam di hadapan Allah kita.
Why 4,11; 5,9.10-12
Antifon 3Tuhan, Engkau telah menganugerahi kami martabat raja dan imam di hadapan Allah kita.
Bacaan Singkat (Rom 12,9-12)
Antifon KidungHatiku bersukaria karena Tuhan Allah, penyelamatku.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungHatiku bersukaria karena Tuhan Allah, penyelamatku.
Doa Permohonan
℟. Engkaulah harapan umatMu, ya Tuhan.
Kami bersyukur kepadamu, ya Tuhan, sebab dalam Kristus Engkau telah memperkaya kami dalam segala hal,* dalam segala macam perkataan dan pengetahuan. ℟.
Allah, Engkau menguasai hati orang yang memerintah, berikanlah kebijaksanaan kepada para pemimpin negara,* supaya mereka mengambil kebijaksanaan sesuai dengan keinginan hatiMu. ℟.
Engkau mengurniakan kecakapan kepada para seniman untuk mengungkapkan kemuliaan dan keindahanMu,* sinarilah kiranya dunia ini dengan harapan dan kegembiraan berkat karya seni mereka. ℟.
Engkau tidak membiarkan kami diuji melampaui batas kesanggupan kami,* maka kuatkanlah yang lemah, dan bangunkanlah yang jatuh. ℟.
Dengan perantaraan PuteraMu Engkau telah berjanji bahwa manusia pada hari terakhir akan bangkit kepada kehidupan,* janganlah lupakan orang yang sudah meninggal dunia. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
dan aku mengeluh sepanjang hari.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Aku mengakui dosaku di hadapanMu, Tuhan,*
dan kesalahanku tidak kusembunyikan.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Nasib orang berdosa sengsara belaka,*
tetapi orang yang percaya kepada Tuhan dilimpahi kasih setia.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonJanganlah wajahMu Kaupalingkan dari padaku, sebab kepadaMu aku percaya.
Mazmur 142 (143),1-11
AntifonJanganlah wajahMu Kaupalingkan dari padaku, sebab kepadaMu aku percaya.
Bacaan singkat 1Ptr 5,8-9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beata Marie Rose Durocher
Eulalie Durocher dilahirkan pada tahun 1811 di Quebec, Kanada. Ia adalah anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Ibunya meninggal dunia ketika ia berusia delapanbelas tahun. Saudaranya, seorang imam di sebuah paroki di Beloeil, membawa adiknya ini ke parokinya. Di sana, Eulalie melaksanakan karya kerasulan awam. Ia dipercaya mengurus keperluan rumah tangga bagi saudaranya, sang imam. Ia juga memulai persekutuan doa paroki yang pertama di Kanada. Tigabelas tahun lamanya terlibat dalam kehidupan Gereja dan paroki mempersiapkan jalan baginya untuk suatu karya istimewa bagi Tuhan.
Pada tahun 1843, ketika Eulalie berusia tigapuluh dua tahun, uskup Montreal memintanya untuk memulai suatu misi khusus. Eulalie memulai suatu ordo religius yang baru bagi para perempuan, yang dinamai Suster-suster dari Nama Kudus Yesus dan Maria. Karya khusus mereka bagi Yesus adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak yang paling miskin dan terabaikan. Eulalie menjadi Moeder Marie Rose. Yang lainnya mengikuti jejak perempuan yang murah hati ini. Mereka juga percaya akan pentingnya pendidikan anak-anak demi kasih kepada Yesus.
Moeder Marie Rose hidup hanya enam tahun lamanya sesudah ia memulai kongregasinya. Namun demikian, pastilah ia terus membantu para biarawatinya dari surga sebab komunitasnya terus bertumbuh dan bahkan membuka biara-biara baru. Mereka memulai karya misi di Amerika juga. Mereka pergi ke Oregon pada tahun 1859. Sekarang, Suster-suster dari Nama Kudus Yesus dan Maria tersebar di seluruh penjuru dunia.
Moeder Marie Rose Durocher dimaklumkan sebagai “Beata” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 23 Mei 1982
Santa Fe
Santa Fe (Fides, Foy, Faith) adalah seorang perawan dan martir dari kota Agen - Aquitaine (sekarang wilayah Perancis). Ketika Kaisar Diokletianus mulai menganiaya umat Kristiani, ia bersama Santa Albertha ditangkap dan dipenjarakan karena iman Kristiani mereka.
Mereka lalu ditawari kebebasan apabila mau menyangkal Tuhan Yesus dan mempersembahkan korban bagi dewa - dewi pagan Romawi. Tawaran ini ditolaknya. Dengan tegas Santa Fe menyatakan bahwa ia tidak akan melakukan kekejian tersebut. Karena itu ia pun disiksa sampai mati dengan cara dipanggang diatas bara api.
Kisah kemartiran Santa Fe disebutkan terjadi pada tahun 287 atau 290, sementara tradisi lain menyebutkan berlangsung pada awal tahun 303 saat terjadi penganiayaan besar-besaran atas umat Kristiani oleh Kaisar Diokletianus.
Nama perawan dan martir kudus ini sering secara keliru disebut sebagai Santa Pelindung dari kota “Santa Fe” di Amerika Serikat. Kenyataannya, kedua nama ini sama sekali tidak ada hubungannya. Nama "Santa Fe" ibukota Negara bagian New Mexico Amerika Serikat berasal dari nama : "Villa Real de la Santa Fe de San Francisco de Asis," (Royal Village of the Holy Faith of St. Francis of Assisi. -Inggris) yang kemudian disingkat menjadi Santa Fe.
Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja
Arti nama
Iman, Keyakinan, Kepercayaan
Santa Maria Fransiska dari Lima Luka Yesus
Anna Maria Rosa Gallo, demikianlah nama Santa Maria Fransiska dari Lima Luka Yesus ketika dibaptis. Ia lahir di Napoli - Italia pada tahun 1715, dari sebuah keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahnya bernama Francesco Gallo, seorang yang tamak dan pemarah, dan Ibunya bernama Barbara Basinsin, seorang wanita katolik yang saleh dan penuh kelembutan. Ketika Anna Maria masih berada dalam kandungan, ibu Barbara bertemu dengan Santo Yohanes Yosef dari Salib, seorang mistikus Fransiskan yang waktu itu hidup di Napoli. Mistikus suci ini menenangkan hati ibu Barbara dan menganjurkan supaya anak itu yang didalam kandungannya itu dipelihara dengan khusus, karena kelak ia akan menjadi seorang yang sangat kudus dan dianugerahi Tuhan dengan karunia yang luar biasa.
Maria Fransiska belum berumur empat tahun ketika dia sudah dapat melewatkan berjam-jam dalam doa. Kadang-kadang dia pun bangun pada malam hari untuk maksud itu. Sedemikian besarlah kerinduannya untuk mengetahui kebenaran-kebenaran Iman Katolik, sehingga seorang malaikat menampakkan diri padanya dan secara teratur mengajarinya. Belum sampai dia mencapai umur tujuh tahun, dia sudah ingin menyambut Komuni Suci. Pastornya terheran-heran akan pengetahuan imannya, juga akan keinginannya yang berkobar-kobar menyambut Roti Surgawi itu. Dan pastor pun merasa dirinya tidak dapat menolak untuk memberikan keistimewaan itu pada Maria Fransiska. Benarlah, tidak lama kemudian Maria Fransiska diizinkan untuk menyambut Komuni setiap hari.
Sementara itu, kendati secara fisik dia masih sangat lemah, namun santa yang kecil itu sudah bermanfaat bagi orang tuanya dengan jalan memberikan bantuan dalam pekerjaan mereka. Ayahnya, seorang perajin penganyam tali emas, ingin supaya anaknya itu membantunya sesegera mungkin. Didapatinya bahwa Maria Fransiska tidak hanya sangat bersedia, tetapi juga orang yang paling cekatan dalam pekerjaan ini.
Ketika Maria Fransiska berumur 16 tahun, seorang pemuda bangsawan yang kaya-raya melamarnya pada ayahnya. Merasa mendapat durian runtuh, Francesco dengan segera mengabulkannya. Namun ketika dia mengatakan hal itu kepada Maria Fransiska, dia terkejut karena mendengar puterinya, yang selama ini tidak pernah melawan keinginannya, menolak lamaran pemuda bangsawan tersebut dan menyatakan niatnya yang sungguh-sungguh untuk hidup suci dan mempertunangkan diri dengan Yesus Kristus Sang Pengantin Surgawinya. Maria Fransiska juga memohon izin ayahnya untuk menjadi seorang Tertiaris Fransiskan.
Penolakkan ini membuat Francesco sedemikian marahnya, sampai-sampai dia mengambil seutas tali dan tanpa ampun mulai mencambukki tubuh puterinya yang lemah itu, sampai ibunya campur tangan. Lalu dia pun menguncinya dalam sebuah kamar. Maria Fransiska hanya diberi roti dan air dan tak seorang pun diizinkan berbicara dengannya.
Maria Fransiska merasakan dirinya beruntung dapat mempersembahkan kepada pengantin ilahinya itu pencobaan pertama dari kesetiannya. Dia menganggap pencobaan ini sebagai perayaan sebelum pernikahan. Penjelasan-penjelasan yang tulus dari seorang imam membuat ayahnya akhirnya menyadari bahwa dirinya telah bertindak keliru. Dia pun memberikan izin kepada puterinya mengenakan jubah Tertiaris dan melayani Tuhan sebagai seorang perawan-bakti di rumah, sebagaimana sudah biasa pada waktu itu.
Dipenuhi dengan kegembiraan suci, Maria Fransiska sekarang menerima jubah dan bersama dengan itu namanya ditambahi dengan “dari Lima Luka”. Namanya ini merupakan ramalan bagi hidupnya selanjutnya. Di rumah dia sangat menanggung penderitaan. Ayahnya tidak pernah dapat melupakan bahwa dia telah kehilangan seorang calon menantu dari kalangan bangsawan yang kaya. Ketika Tuhan menganugerahnya dengan rahmat-rahmat yang luar biasa - kadang-kadang dia dianugerahi ekstase sewaktu dia berdoa dan menderita sengsara Tuhan bersama dengan Tuhan - saudara-saudaranya sendiri mencacinya sebagai seorang gadungan. Bahkan Bapa Pengakuannya merasa diri wajib memperlakukan dia dengan kasar. Cukup lama dia hanya dapat menemukan penghiburan pada luka-luka Kristus itu.
Akhirnya, Bapa Pengakuannya pun menyadari bahwa Tuhanlah yang sedang mengerajakan hal-hal sedemikian itu dalam diri Maria Fransiska. Sementara itu, setelah ibunya meninggal dunia, Bapa Pengakuannya itu berusaha supaya Maria Fransiska menemukan sebuah tempat tinggal bersama seorang Tertiaris lain. Pada suatu hari, ketika dia sendiri sedang berbaring sakit di sana, dia mengetahui bahwa ayahnya sedang menghadapi kematian. Dia pun mohon kepada Tuhan yang Mahakuasa untuk mengizinkan dirinya menanggung penderitaan kematian dan api penyucian ayahnya itu. Kedua permohonannya itu pun dikabulkan.
Kendati dia terus menerus menderita, Tuhan kita juga menganugerahi Maria Fransiska dengan rahmat-rahmat dan penghiburan-penghiburan yang besar. Dia menerima tanda luka-luka Kristus dan dianugerahi anugerah kenabian dan banyak mukjizat. Ketika Pius VI dimahkotai menjadi Paus pada 1775, Maria Fransiska melihat dia mengenakan mahkota duri. Dua puluh empat tahun kemudian, Sri Paus Pius itu menutup hidupnya sebagai seorang tahanan dalam penjara Revolusi Perancis di Valence.
Maria Fransiska juga meramalkan peristiwa menyedihkan : Revolusi Perancis. Dan Tuhan pun mendengarkan doanya, mohon supaya dia diambil dari dunia ini sebelum revolusi itu meletus. Dia meninggal dunia pada 6 Oktober 1791, sambil mencium kaki yang tersalib. Tuhan memuliakannya dengan banyak mukjizat. Dia dibeatifikasi oleh Paus Gregorius XVI, dan dikanonisasi oleh Paus Pius IX pada 1867.
Arti nama
Maria Fransiska = Kombinasi dari nama Maria dan Francesca.
Maria ==> Lihat : Maria
Fransiska :
Bentuk Feminim Ejaan Italia dan Catalan untuk nama Latin ==> Fransiskus
Santo Bruno
Bruno lahir di kota Koln, Jerman pada tahun 1030. Semenjak kecil ia bercita-cita menjadi imam. Oleh karena itu ia kemudian masuk Seminari di Rheims. Semasa sekolah ia benar-benar tekun belajar sehingga studinya dapat diselesaikan dalam waktu singkat dan ditahbiskan menjadi imam. Pada usia 26 tahun, ia ditugaskan kembali di Seminari Rheims sebagai pengajar Gramatika dan Teologi. Ia pandai mengajar, jujur dan suka membantu mahasiswa-mahasiswanya yang mengalami kesulitan belajar. Cara hidupnya sendiri menarik minat banyak mahasiswa akan kehidupan sebagai imam. Pada umur 45 tahun, ia ditunjuk sebagai penasehat Uskup Rheims. Inilah saat awal ia mengalami sesuatu hal baru yang kemudian membawanya ke dalam kehidupan sebagai pertapa. Sayang bahwa pada tahun itu juga Uskup Rheims meninggal dunia.
Manases dengan segala caranya yang licik berhasil menjadi uskup pengganti. Ia menyogok: Bruno yang menjadi penasehat uskup dan dosen teologi merasa tidak puas dengan taktik licik dan curang dari Manases. Oleh karena itu ia mengadakan perlawanan keras terhadap Manases. Kebetulan juga bahwa pada masa itu Bruno menjadi salah seorang pendukung Paus Gregorius VII dalam usahanya membaharui cara hidup para rohaniwan. Akibat dari perlawanannya itu ia dipecat Manases dari jabatan dan tugasnya sebagai pengajar Teologi di Seminari Rheims.
Tetapi ia tidak putus asa dengan semua perlakuan Manases. Bersama 6 orang temannya, ia menghadap Uskup Grenoble untuk meminta ditunjukkan suatu tempat pertapaan bagi mereka. Uskup itu yang sekarang dihormati sebagai Santo Hugo - menunjukkan suatu tempat yang cocok bagi hidup bertapa di deretan gunung dekat Grenoble, Prancis. Tempat itu disebut La Grande Chartreuse, yang kemudian dipakai sebagai nama bagi pertapaannya, yaitu-pertapaan 'Kartusian'. Bruno dengan kawan-kawannya mendiami tempat itu pada tahun 1084. Sebagai tahap awal, mereka mendirikan sebuah gereja kecil dan beberapa pondok sederhana di sekelilingnya. Mulanya setiap pondok ditempati oleh dua orang" tetapi kemudian setiap pondok hanya untuk satu orang. Dalam pondoknya masing-masing mereka bertekun dalam doa dan meditasi. Mereka baru berkumpul bersama untuk berdoa pada pagi dan sore hari.
Aturan hidup mereka tergolong keras: mereka bertekun dalam doa dan meditasi, dan hanya makan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari, kecuali pada hari raya. Itu pun hariya makan roti kering. Mereka tidak makan daging. Pakaian mereka kasar dan pendek dan rambut bagian tengah kepala mereka dibotakkan. Tugas utama mereka ialah membaca dan menyalin buku-buku rohani, dan juga bertani.
Mendengar kesucian hidup Bruno di tengah rimba Chartreuse, Paus Urbanus II, bekas muridnya dahulu, memanggilnya ke Roma untuk membantu dia dalam tugas-tugas khusus, teristimewa dalam memperlancar usaha pembaharuan Gereja dan perjuangannya melawan Paus tandingan Klemens III (seorang calon Paus yang diajukan oleh Kaisar Henry IV dari Jerman). Dengan taat, Bruno pergi ke Roma untuk membantu Paus Urbanus II. Di sana sambil menjalankan tugas yang diserahkan kepadanya, ia sendiri tetap menjalankan cara hidup bertapanya. Tetapi tak lama kemudian, ia mulai merasa bahwa kota Roma yang bising itu dan pekerjaan-pekerjaan yang begitu banyak tidak cukup membantu dia berdoa dan bermeditasi dengan tenang sebagaimana dialaminya di pertapaan. Oleh karena itu ia mengajukan permohonan undur diri kepada Paus agar boleh kembali menjalani hidup sebagai pertapa di pertapaannya. Pada kesempatan itu Paus memberikan kepadanya jabatan Uskup Agung dioses Reggio, Italia, tetapi Bruno menolak jabatan itu karena lebih menyukal hidup di dalam kesunyian pertapaan. Dengan sepenuh hati Paus mengizinkan dia pergi ke La Torre, Calabria, untuk mendirikan sebuah pertapaan baru. Pertapaan ini didirikan dengan dukungan keuangan dari Roger, saudara Robert Guiscard.
Di pertapaan La Torre ini, Bruno meninggal dunia pada tahun 1101. Ia tidak pernah secara resmi dinyatakan sebagai 'santo' karena aturan biaranya tidak mengijinkan semua usaha publisitas. Namun pada tahun 1514 Paus Leo X memberi izin khusus kepada para Kartusian untuk merayakan tanggal 6 Oktober sebagai tanggal pestanya.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari