Bacaan Misa
(6-13) Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: "Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?" Jawab raja: "Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." (6-14) Lalu kata mereka kepada raja: "Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya." (6-15) Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya. (6-16) Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!" (6-17) Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" (6-18) Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa. (6-19) Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur. (6-20) Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; (6-21) dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" (6-22) Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! (6-23) Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." (6-24) Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya. (6-25) Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka. (6-26) Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: "Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! (6-27) Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. (6-28) Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa." (6-29) Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.
Pujilah Tuhan, hai embun dan salju yang membadai, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.
Pujilah Tuhan, hai es dan kedinginan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.
Pujilah Tuhan, hai embun beku dan salju, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.
Pujilah Tuhan, hai siang dan malam, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.
Pujilah Tuhan, hai cahaya dan kegelapan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.
Pujilah Tuhan, hai halilintar dan awan-kemawan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.
Biarlah bumi memuji Tuhan, nyanyikan dan meninggikan Dia selama-lamanya.
"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu." "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."
Invitatorium
Pekan II Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah menghadap Tuhan dengan sukacita.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah menghadap Tuhan dengan sukacita.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Kekuatan mereka sendiri tidak dapat menyelamatkan mereka; itu adalah kekuatan-Mu dan terang wajah-Mu.
Mazmur 43 (44)
Kemalangan umat Allah
Kita mengalahkan semua ini melalui Dia yang mengasihi kita (Roma 8:37).
AntifonKekuatan mereka sendiri tidak dapat menyelamatkan mereka; itu adalah kekuatan-Mu dan terang wajah-Mu.
Antifon 2Kembalilah kepada Tuhan; Ia tidak akan menyembunyikan wajah-Nya.
AntifonKembalilah kepada Tuhan; Ia tidak akan menyembunyikan wajah-Nya.
Antifon 3Bangunlah, Tuhan, jangan tinggalkan kami selamanya.
AntifonBangunlah, Tuhan, jangan tinggalkan kami selamanya.
Bacaan
Responsorium Mazmur 96:11; Yesaya 49:13; Mazmur 72:7
Responsorium Lukas 1:45, 46; Mazmur 66:16
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Kerahkanlah kekuatanMu, ya Tuhan, dan datanglah menyelamatkan kami.
Mazmur 79 (80)
Antifon 1Kerahkanlah kekuatanMu, ya Tuhan, dan datanglah menyelamatkan kami.
Antifon 2Megahlah karya Tuhan, hendaknya dimaklumkan di seluruh bumi.
Yes 12,1-6
Antifon 2Megahlah karya Tuhan, hendaknya dimaklumkan di seluruh bumi.
Antifon 3Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita.
Mazmur 80 (81)
Antifon 3Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita.
Bacaan Singkat (Rom 14,17-19)
Lagu Singkat
Antifon KidungTanamkanlah pengertian akan keselamatan dalam umatMu, ya Tuhan, dan ampunilah dosa kami.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTanamkanlah pengertian akan keselamatan dalam umatMu, ya Tuhan, dan ampunilah dosa kami.
Doa Permohonan
℟. Terangilah hati kami, ya Tuhan.
Syukur padaMu, Tuhan, sebab Engkau telah menerangi kami dengan perantaraan PuteraMu,* semoga kami sepanjang hari disinari cahayaMu. ℟.
Semoga kebijaksanaanMu membimbing kami hari ini, ya Tuhan,* supaya kami menjalani hidup yang baru. ℟.
Semoga kami dengan tabah hati menanggung kesukaran demi Engkau,* agar kami tetap mengabdi Engkau dengan besar hati. ℟.
Arahkanlah pada hari ini pikiran, perasaan dan perbuatan kami kepadamu,* supaya kami menyerahkan diri dengan rela hati kepada bimbinganMu. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Gal 5, 13-14)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1HukumMu sangat berharga melebihi ribuan keping perak dan emas.
Mazmur 118 (119),65-72
Antifon 1HukumMu sangat berharga melebihi ribuan keping perak dan emas.
Antifon 2Pada Allah aku percaya dan tidak takut, apa yang dapat dilakukan manusia terhadapku?
Mazmur 55 (56),2-7b.9-14
Antifon 2Pada Allah aku percaya dan tidak takut, apa yang dapat dilakukan manusia terhadapku?
Antifon 3Besarlah kasihMu, ya Tuhan, setinggi langit.
Mazmur 56 (57)
Antifon 3Besarlah kasihMu, ya Tuhan, setinggi langit.
Bacaan singkat Gal 5,22.23a.25
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan II Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Gal 5, 22. 23a. 25)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Engkau Kujadikan cahaya bagi sekalian bangsa, agar keselamatanKu sampai ke ujung bumi.
Mazmur 71 (72) - I
Antifon 1Engkau Kujadikan cahaya bagi sekalian bangsa, agar keselamatanKu sampai ke ujung bumi.
Antifon 2Tuhan menyelamatkan kaum papa dan miskin, Ia melepaskan mereka dari penindasan.
Mazmur 71 (72) - II
Antifon 2Tuhan menyelamatkan kaum papa dan miskin, Ia melepaskan mereka dari penindasan.
Antifon 3Sekarang telah tiba keselamatan, kekuatan dan pemerintahan Allah kita.
Why 11,17-18;12,10-12
Antifon 3Sekarang telah tiba keselamatan, kekuatan dan pemerintahan Allah kita.
Bacaan singkat 1Ptr 1,22-23
Antifon KidungTuhan memuaskan orang yang lapar akan keadilan dan melimpahi mereka dengan kebaikan.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungTuhan memuaskan orang yang lapar akan keadilan dan melimpahi mereka dengan kebaikan.
Doa Permohonan
℟. Berkatilah umatMu, ya Tuhan.
Allah yang maharahim, lindungilah paus kami bapa... dan uskup kami bapa...* dan anugerahilah mereka kesehatan dan kebijaksanaan demi kepentingan Gereja. ℟.
Lindungilah tanah air kami dengan murah hati, ya Tuhan,* dan bebaskanlah kami dari segala malapetaka. ℟.
Undanglah banyak pemuda untuk mengikuti panggilanMu,* semoga mereka berani meninggalkan segala sesuatu demi kerajaan Allah. ℟.
Peliharalah pemudi-pemudi yang bertekad hidup sebagai perawan,* supaya mereka dapat mengikuti Engkau, Anakdomba Allah. ℟.
Semoga orang-orang mati beristirahat dalam damai abadi,* dan kami semakin erat bersatu dengan mereka dalam iman. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Madah
AntifonTubuhku beristirahat dengan tenteram.
Mazmur 15 (16)
AntifonTubuhku beristirahat dengan tenteram.
Bacaan singkat 1Tes 5,23
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Yakobus Alberione
Yakobus (Giacomo) Alberione lahir pada tanggal 4 April 1884, di San Lorenzo, Fossano (Cuneo), Italia. Ia adalah anak keempat dari enam orang bersaudara, putera-putri pasangan petani yang bersahaja, Michael dan Teresa Alberione. Pada usia enam belas, Yakobus mampu masuk Seminari Alba, atas bantuan finansial dari seorang pamannya yang juga bernama Yakobus. Bersama ayahnya, Yakobus berangkat ke seminari dengan mengendarai gerobak sapi. Kepala Seminari Alba saat itu adalah "Venerabilis" Francesco Chiesa.
Pada malam tanggal 31 Desember 1900, malam peralihan dari abad -19 ke abad- 20, Yakobus berdoa selama lima jam dihadapan Sakramen Mahakudus dan merenungkan masa depan, dan mendapat panggilan Tuhan untuk berkarya bagi masyarakat di milenium baru.
Alberione ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 29 Juni 1907 pada hari Pesta Santo Petrus dan Paulus. Ia kemudian mendapat tugas sebagai pastor paroki di Narzole di Sebelah selatan Torino. Ia menjalankan tugas pastoralnya dengan penuh pengabdian sembari melanjutkan studi Teologi. Studinya selesai pada tahun 1908 dan ia pun menerima gelar doktor dalam bidang Teologi. Pada tahun itu juga Yakobus Alberione ditunjuk sebagai pembimbing rohani para seminaris di Seminari Alba.
Pada tanggal 20 Agustus 1914 Yakobus Alberione mendirikan kongregasi religiusnya yang pertama yang bernama “Society of Saint Paul”. Setahun kemudian, tepatnya pada 15 Juni 1915, ia mendirikan Konggregasi Suster “Putri Putri Santo Paulus” bersama Venerabilis Mother Tecla Merlo.
Yakobus Alberione total mendirikan sepuluh kongregasi religius, Institusi Rohani, dan Serikat Persaudaraan awam. Kongregasi-kongregasi yang didirikannya berkarya dalam berbagai karya sosial dan menerapkan penggunaan teknologi media modern dan menerbitkan materi-materi rohani untuk menyebarkan firman Tuhan.
Beberapa Konggregasi dan Institusi yang didirikannya :
The Association of Pauline Cooperators è Didirikan pada tahun 1918.
The Pious Disciples of the Divine Master (PDDM)
Didirikan pada tahun 1924 bersama “Servant of God” Mother Maria Scolastica Rivata, sebuah komunitas Kontemplatif bagian dari Pauline Family yang para anggotanya secara khusus mendedikasikan diri dalam Adorasi kepada Sakramen Mahakudus, dan pelayanan dalam upacara-upacara Liturgi.
The Sisters of Jesus the Good Shepherd (juga dikenal sebagai : The "Pastorelle")
Didirikan pada tahun 1938 dan berkarya dalam berbagai aktivitas Sosial di Paroki dan melayani pendidikan Rohani.
The Sisters of Mary Queen of Apostles
Didirikan pada tahun 1957. Para Suster kongregasi ini bekerja dan berdoa untuk panggilan dalam “Pauline Family” dan Kehidupan Rohani.
The Institute of St. Gabriel the Archangel
Institusi Kerasulan awam untuk Kaum Pria bagian dari The Pauline Family. Didirikan pada tahun 1958.
The Institute of Mary of the Annunciation
Institusi Kerasulan Awam untuk Kaum Pria bagian dari “The Pauline Family”. Didirikan pada tahun 1958
The Institute of Jesus the Priest
Institusi imam-imam Diosesan yang mengadopsi spiritualitas “Pauline” dalam karya kerasulan mereka. Didirikan pada tahun 1959.
The Institute of the Holy Family
Institusi bagi para Keluarga Katolik. Didirikan pada tahun 1960.
Dalam Konsili Vatican II yang berlangsung pada 11 Oktober 1962 sampai 8 Desember 1965, Yakobus Alberione bertugas sebagai “Peritus” (ahli teologi), dan berpartisipasi dalam berbagai sesi tertutup di mana pasal-pasal keputusan Konsili di rumuskan.
Yakobus Alberione tutup usia karena sebab alami pada tanggal 26 November 1971 di Biara Konggregasi nya di Roma. Dia menerima kunjungan pribadi dari Paus Paulus VI satu jam sebelum ia jiwanya yang kudus kembali ke pangkuan Bapa di Surga. Jenasahnya dimakamkan di katakombe Basilika Santa Maria Ratu para Rasul di Roma.
Yakobus Alberione Beatifikasi oleh Paus Yohannes Paulus II pada tanggal 25 Juni 1996.(qq)
Arti nama
Berasal dari bahasa Latin : Iacomus; yang diturunkan dari bahasa Yunani Ιακωβος (Iakobos). Asli nya berasal dari nama Ibrani יַעֲקֹב (Ya'aqov) yang berarti : Pemegang Tumit / Pengganti (Kej 25:26)
Santo Konradus dari Konstanz
Santo Konradus berasal dari keluarga bangsawan Welf yang sangat berpengaruh. Ia adalah putra kedua Count Heinrich Von Altdorf. Setelah menempuh pendidikan di sekolah katedral di Constance, Konradus diangkat sebagai pengawas Katedral Constance lalu diangkat menjadi Uskup Constance pada tahun 934.
Sebagai uskup, Konradus membimbing para imam dan umatnya melalui teladan dan ajaran. Ia sungguh-sungguh seorang gembala yang rajin. Banyak rumah khusus untuk kaum miskin, orang sakit dan para peziarah didirikan oleh Konradus. Selain itu, ia juga membangun banyak gereja baru dan melayani sesama manusia tanpa pamrih, tanpa mengenal lelah, demi keselamatan jiwa umatnya.
Uskup Konradus menjadi sahabat dan pembimbing rohani bagi Kaisar Otto I (Otto yang Agung, Otto the Great, Otto der Große (Jerman), Ottone il Grande (Italian), Raja Jerman sejak tahun 936 dan Kaisar Kekaisaran Romawi Suci sejak tahun 962 sampai tahun 973). Ia juga pernah menjadi pembimbing Rohani bagi Ibunda Raja Otto I, Ibu Suri Santa Mathilda. Uskup yang kudus ini juga dipercaya menemani Raja Otto I dalam perjalanan ke Roma Italia pada tahun 962. Di Roma, Kaisar Otto dimahkotai oleh Paus Yohanes XII sebagai Romanorum Imperator.
Legenda populer tentang uskup Konradus menuturkan; Ketika sedang merayakan Ekaristi, saat komuni, Konradus menyantap hosti kudus dengan khidmat. Kemudian ia mengangkat piala namun tiba-tiba ia terhenti dan tertegun mengamati piala. Dalam piala berisi anggur itu terdapat seekor laba-laba besar yang amat berbisa. Tetapi beberapa saat kemudian, Konradus meminum Darah Kristus sampai tuntas.Dalam telinganya nyaring terngiang-ngiang sabda Jesus ketika mengutus para rasul supaya mewartakan Kabar Gembira ke penjuru bumi : “Sekalipun kamu meminum racun, namun kamu tak akan mendapat celaka.”
Konradus tercatat melakukan tiga perjalanan ziarah ke Yerusalem. Ia tutup usia dengan tenang di Konstanz pada tahun 975.
Arti nama
Konradus berasal dari element kata Jermanik; kuoni = "berani" dan rad = "nasihat".
Santo Leonardus Porto Morizio
Leonardus lahir di Porto Morizio, Italia pada tanggal 20 Desember 1676. Pada umur 13 tahun, ia dipanggil ke Roma oleh Agustinus, pamannya untuk dididik di kolese Yesuit yang dipimpin oleh Santo Philipus Neri. Pamannya menginginkan dia menjadi dokter, namun ia dengan tegas menolaknya. Oleh karena itu ia tidak lagi diakui oleh pamannya. Sejak itu ia mengatur hidupnya sendiri di Roma tanpa bantuan pamannya.
Pada tahun 1697, ia diterima dalam Tarekat Fransiskan di biara Rifomalla di Ponticelli. Oleh pimpinan Ordo ia kemudian dikirim belajar di Universitas Roma. Di Universitas Bonaventura inilah ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1703. Bersama dengan beberapa rekannya, ia mengambil alih sebuah biara di Florence pada tahun 1709. Di bawah bimbingannya, biara ini kemudian menjadi pusat karya misi di Tuscany. Dari biara inilah, ia berkeliling ke berbagai tempat untuk berkotbah dan mengajar umat, teristimewa umat sederhana dari golongan rakyat jelata.
Leonardus dikenal sebagai seorang misionaris Fransiskan yang rajin dan tekun dalam tugasnya mewartakan Injil. Ia mengelilingi seluruh Italia untuk berkotbah. Dengan gayanya yang lucu, ia mengemukakan prinsip misionernya sebagai berikut: "Berkotbah kepada orang lain harus dimulai dan diselingi dengan berkotbah kepada diri sendiri" Leo menghayati semangat hidup miskin dan sederhana yang tinggi sehingga banyak orang terpikat padanya.
Salah satu keistimewaannya yang membuat dia dikenal hingga sekarang ialah kesukaannya merenungkan peristiwa Sengsara Yesus. Ia mengabdikan devosinya ini dan menjadikannya milik semua umat Katolik dengan merintis kebaktian "Jalan Salib" lengkap dengan 14 stasinya seperti yang kita kenal sekarang. Untuk mengumatkan devosi itu, ia mendirikan 'Jalan Salib Kristus' di berbagai tempat, termasuk di Colosseum, tempat pembantaian dan gelanggang sengsara orang-orang Kristen pertama di Roma. Tentang kebaktian Jalan Salib ini, ia berkata: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia dan berguna bagi pengudusan diri kita daripada merenungkan peristiwa sengsara “Kristus.” Selain devosi itu, ia juga menjadi perintis devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan devosi kepada Bunda Maria.
Sampai usia tuanya ia berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dengan doa-doa pribadi dan perayaan Misa Kudus setiap hari. Pada tahun 1744 ia diutus Paus ke pulau Corsica untuk menenteramkan suasana pertikaian antar umat di sana. Namun sayang bahwa usahanya ini kurang berhasil. Dalam keadaan payah ia kembali ke Roma, dan tak lama kemudian ia meninggal dunia di biara Santo Bonaventura pada tanggal 26 Nopember 1751. Pada tahun 1867 ia dinyatakan sebagai 'santo'.
Santo Sarbel Maklouf
Seorang gadis dan seorang biarawati dengan mata terbelalak memandang ke arah dinding batu karang yang terletak di hadapan mereka. Mereka heran karena melihat bahwa batu (nisan) itu mengeluarkan peluh. Tetesan-tetesan air keluar dari permukaannya. Seperti kena hipnose, gadis itu mengulurkan dan menempelkan tangannya yang lumpuh itu pada batu itu. Sementara itu biarawati itu pun merasa tegang seluruh tubuhnya. Gadis lumpuh yang gemetaran itu, lalu terjatuh di pangkuan biarawati yang sedang tegang itu. Ketika gadis itu siuman lagi, ia merasa sudah terbebas dari penyakit lumpuh yang telah dideritanya selama 14 tahun. Bekas-bekas kelumpuhan pun tidak kelihatan lagi. Sekarang ia telah bersuami dan tinggal di Libanon.
Batu (nisan) yang bertuliskan huruf-huruf Arab itu mengingatkan penduduk setempat akan suatu peristiwa penyembuhan yang terjadi di situ pada tahun 1951. Batu itu adalah batu kubur Sarbel Maklouf, seorang rahib Gereja Maronit Libanon, yang dijuluki "Bapa Kami" oleh orang-orang Libanon, baik Kristen maupun Islam.
Pada tahun 1822, para rahib Maronit di Libanon membangun biara Maron d'Annaya, yang terletak di pegunungan Libanon. Tigapuluh tahun setelah biara itu berdiri, datanglah ke biara itu seorang pemuda sederhana dan miskin dengan pakaian yang tak teratur. Pemuda itulah Sarbel Maklouf. Semula Sarbel adalah petani dan gembala miskin di pegunungan Libanon. Menginjak usia 23 tahun, ia meninggalkan desanya, lalu melangkahkan kakinya ke daerah pegunungan Annaya menuju sebuah biara yang ada di sana. Ia diterima masuk biara itu untuk selamanya. Di sana ia belajar teologi dan giat membantu di paroki. Dalam waktu relatif singkat Sarbel segera terkenal di antara kaum Badui, petani-petani miskin di pegunungan, orang-orang Kristen dan kaum Muslim. Ia selalu menolong mereka yang menderita dan menghibur orang-orang yang bersusah. Pengetahuannya sangat luas tentang rempah-rempah dan aneka jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat. Sesuatu yang luar biasa tidak tampak pada dirinya. Demikian juga setelah ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1859, ia tetap seorang rahib yang rendah hati, sederhana dan rajin membantu siapa saja yang meminta bantuannya.
Duapuluh tiga tahun terakhir hidupnya, ia bertapa di puncak gunung Annaya, dekat dengan biaranya. Dalam biliknya yang sempit, Pastor Sarbel kusuk berdoa sampai larut malam. Pada waktu subuh ia sudah bangun untuk berdoa sebelum merayakan Misa Kudus. Ia selalu sendirian dan bekerja keras di kebun. Ia hanya makan sekali sehari dan itu pun tidak sampai kenyang. Sehari-harinya pertapa ini tidak banyak bicara. Dengan selembar kain yang membelit tubuhnya ia melawan panas dan dinginnya udara yang tidak kenal kompromi. Suatu hari halilintar menyambar kapelnya dan mengoyakkan jubah yang sedang dikenakannya. Namun aneh bahwa Sarbel yang sedang berdoa itu tidak terkena sedikit pun dan terus berdoa dengan tenang. Di tempat pertapaannya itu, Pastor Sarbel menghembuskan nafasnya terakhir pada tanggal 16 Desember 1898. Jenazahnya diletakkan di atas dua lembar papan dan dimasukkan ke dalam lobang yang dipahat pada batu karang.
Sehabis penguburan Pastor Sarbel, orang-orang Badui menyaksikan suatu peristiwa ajaib yang membingungkan mereka: dari makam Sarbel itu terpancarlah berkas-berkas cahaya biru selama 45 hari penuh setelah penguburannya. Hal ini pun dilihat oleh rekan imamnya yang lain: Pastor Elie Abi-Ramia yang berusia 97 tahun dan satu-satunya imam Maronit yang masih hidup di antara biarawan-biarawan yang tinggal bersama Sarbel dibiara Santo Maron d'Annaya. Ia juga hadir pada upacara penguburan Sarbel Maklouf rekannya pada tahun 1898. Tentang Sarbel, ia berkomentar: "Sarbel Maklouf semasa hidupnya dikenal sangat sederhana, rajin dan menaruh perhatian besar kepada orang-orang miskin dan bersusah. Tidak ada sesuatu keistimewaan yang luar biasa pada dirinya. Yang tampak menonjol ialah bahwa ia rajin berdoa dan tekun memperhatikan orang-orang miskin."
Tahun-tahun berikutnya makam itu menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi. Di sana terjadi mujizat penyembuhan berbagai jenis penyakit. Berpuluh-puluh tahun kemudian, setelah menyaksikan berbagai mujizat penyembuhan di makam itu, makam Sarbel menarik perhatian Vatikan untuk turun tangan menyelidikinya.
Atas perintah Vatikan, jenazah rahib saleh itu dikeluarkan kembali dari makamnya untuk diselidiki kebenaranriya. Vatikan mengirim dokter-dokter ahli dan para sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk menyelidiki makam dan jenazah Sarbel dan berbagai penyembuhan yang terjadi di makamnya. Makam itu, yang berbentuk sebuah lobang pahatan di dalam batu karang dan ditutup dengan batu itu, disegel dan dipasangi pintu besi yang berjeruji. Kunci pintu makam itu disimpan oleh ketua panitia internasional yang beranggotakan dokter-dokter ahli dan para sarjana itu. Mereka, bersama rekan-rekan Sarbel yang tinggal di biara Maron d'Annaya, heran menyaksikan bahwa meskipun sudah 68 tahun wafat dan dikuburkan, jenazah Sarbel masih dalam keadaan utuh.
Mereka terus menyelidiki kalau-kalau batu makam tersebut mengandung zat-zat kimia yang mempunyai daya pengawet. Tetapi penyelidikan itu tidak menemukan hal itu. Maka selama 6 tahun, jenazah Sarbel Maklouf dimasukkan kembali ke dalam sebuah lobang dalam batu karang untuk melihat apakah jenazah itu masih tetap mengeluarkan peluh keringat. Karena peluh itu tetap mengalir, jenazah Sarbel dikeluarkan lagi dan dijemur selama tujuh bulan. Akibat penjemuran itu, warna kulit Sarbel menjadi sawo matang dan kulitnya mengerut, sambil tetap mengeluarkan peluh sampai tahun 1927.
Dalam penyelidikan selanjutnya terjadi hal-hal baru yang mengherankan para dokter: ketika jenazah itu diiris sedikit dengan pisau keluarlah darah. Memang warna darah itu hitam, namun anehnya bahwa darah itu terus mengalir keluar seperti orang yang masih hidup. Contoh darah ini dengan bukti-bukti lain yang tak terhitung jumlahnya disimpan di dalam sebuah lemari kaca yang disegel. Sementara itu lembaga-lembaga di Italia, Prancis dan Jerman terus menyelidiki darah itu di laboratorium-laboratorium terkenal. Hasil analisa-analisa itu dikirim ke Vatikan.
Setelah melewati berbagai penyelidikan yang mutakhir, akhirnya Sarbel dinyatakan sebagai 'kudus' oleh Paus Paulus VI (1963-1978) pada tanggal 5 Desember 1965 di basilik Santo Petrus Roma. Hingga sekarang bekas tempat tinggal dan makam Sarbel Maklouf menjadi tempat ziarah terkenal di Libanon, yang dikunjungi banyak orang dari berbagai penjuru dunia, baik Kristen maupun Islam dan Yahudi, terlebih orang-orang Badui setempat.
Tentang mujizat penyembuhan di makam Sarbel Maklouf, Pater Joseph Ejail, seorang imam dari biara Maron d'Annaya yang menguasai tiga bahasa asing dan mengajar di sekolah-sekolah Libanon, memberikan kesaksian pandangan mata berikut: "Di muka makam itu duduk sepasang suami-isteri dari Syria. Mereka orang Islam. Di samping mereka, berbaring anak lelaki mereka berumur 6 tahun di atas sebuah usungan. Oleh dokter-dokter, anak lelaki itu dikatakan tidak bisa sembuh lagi dari kelumpuhannya. Kira-kira setelah sejam mereka berdoa di makam itu, Bapa anak itu menyaksikan peristiwa ajaib kesembuhan anaknya. Anaknya yang lumpuh sejak kecil itu sekonyong-konyong bangkit dan berjalan tegak. Bapa itu langsung jatuh pingsan melihat peristiwa ajaib itu. Demikian juga isterinya; ia tak berdaya karena lemas seluruh badannya. Setelah siuman dan kuat kembali, ia membimbing keluar anak dan isterinya yang lemas itu", demikian kisah pandangan mata Pater Joseph Ejail untuk menguatkan mujizat-mujizat penyembuhan yang terjadi di makam Santo Sarbel Maklouf.
Santo Silvester Gozzolini
Silvester lahir di Osimo, Italia pada tahun 1177 dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya. Pada masa mudanya ia belajar ilmu hukum di Bologna dan Padua sampai selesai dan menjadi seorang ahli hukum di kota asalnya. Namun kemudian ia melepaskan jabatannya itu dan menekuni bidang teologi untuk menjadi imam di Osimo. Kemudian ia meninggalkan semua miliknya dan keramaian kota untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa yang miskin di Grotta (gua) Fucile.
Dari Fucile, ia pindah ke sebuah biara pertapaan di Monte Fano, Italia. Di sana jugalah ia kemudian pada tahun 1231 mendirikan sebuah biara pertapaan untuk menghimpun semua orang yang menjadi muridnya. Persaudaraan religius mereka terkenal dengan nama 'Ordo Santo Silvester'. Mereka menghayati suatu cara hidup yang keras di bawah panduan aturan-aturan Santo Benediktus, tanpa pernah secara resmi menjadi cabang dari salah satu Ordo Benediktin. Di bawah pimpinan Silvester sendiri selama 36 tahun, Ordo Silvestrin ini berkembang sangat pesat. Selama itu ia berhasil mendirikan 25 buah biara di Italia. Ia wafat pada tanggal 26 Nopember 1261 dalam usia 90 tahun, dan dinyatakan 'kudus' oleh Paus Klemens VIII (1592-1605) pada tahun 1598.
Santo Yohanes Berchmans
Yohanes Berchmans lahir di kota Diest, Belgia Tengah pada tanggal 13 Maret 1599. Ayahnya yang tukang kayu itu bercita-cita agar Berchmans kelak menjadi orang yang berpangkat tinggi dan masyhur namanya. Dalam sikapnya yang tenang laksana air jernih tak beriak, Berchmans bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ia mendapat pelajaran bahasa Latin dari Peter Emerich. Imam ini sering mengajaknya ke biara dan pastoran. Pengalaman inilah yang mempengaruhi cita-citanya di kemudian hari yaitu menjadi seorang imam. Tetapi karena perusahaan ayahnya, mengalami kemunduran hebat dan ibunya sakit keras, ia dipanggil pulang ke rumah agar bisa membantu ayahnya dalam memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Ayahnya memutuskan untuk menghentikan studinya.
Mendengar keputusan ayahnya, ia diam tertegun sambil merenungkan nasibnya di kemudian hari. Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya atas tanggungan pribadi dan berjanji untuk makan roti kering saja dan hidup sederhana, asal cita-citanya tercapai. Ayahnya mengalah. Sambil mengikuti pelajaran di sebuah kolese umum, ia bekerja sebagai pelayan di gereja Katedral untuk memperoleh nafkahnya. Berkat kecerdasan serta kemauannya yang keras, ia selalu lulus dalam ujian dengan nilai yang gemilang. Ia bahkan selalu menjadi juara kelas. Teman-temannya sangat baik dan sayang padanya karena tabiatnya yang tenang dan periang. Kegemarannya adalah menjadi pelakon dalam setiap drama yang di pertunjukkan sekolah.
Ketika menginjak tahun terakhir studinya yaitu tahun retorika, ia pindah ke Kolese Yesuit di Malines pada tahun 1615. Hal yang menarik dia ke sana ialah semangat perjuangan dan kemartiran para misionaris Yesuit di Inggris. Tahun 1616, setelah mengalahkan ketegaran hati ayahnya, ia masuk novisiat Yesuit dan setahun kemudian ia dikirim ke Roma untuk melanjutkan studinya di sana. Dari sana ia mengirim surat kepada orang-tuanya: "Dengan rendah hati, aku berdoa untuk ayah dan ibu. Dan dengan segenap kasih-sayangku dan cintaku . . . saya ucapkan 'selamat datang dan selamat tinggal' kepada kalian, karena kalian mempersembahkan kembali aku puteramu, kepada Tuhan. Dia yang telah memberikan aku kepada kalian."
Sebagai novis, Berchmans sangat mengagumkan. Hidup asketik dan tulisan-tulisan rohaninya sangat mendalam, sempurna, seperti tampak di dalam kalimat: "Menabung banyak harta dalam bejana yang kecil." Sekali peristiwa ia membaca riwayat hidup Santo Aloysius. Pedoman yang diambilnya dari Aloysius ialah: "Jika saya tidak jadi orang suci di masa mudaku, maka tak pernah saya akan menjadi demikian." Tuhan memberinya waktu tiga tahun untuk mencapai apa yang diidamkannya. Dua hari sebelum pesta Santa Maria diangkat ke Surga, yaitu tanggal15 Agustus 1621, ia meninggal dunia dalam usia 22 tahun.
Meskipun dia meninggal dalam usia yang begitu muda, namun ia dinyatakan 'kudus' oleh Gereja karena ia menyempurnakan diri dengan melaksanakan tugas-tugas hariannya dengan sangat baik. Ia berhasil mencapai cita-citanya: menjadi seorang biarawan yang tekun melaksanakan tugas-tugas yang sederhana dengan sempurna penuh tanggung jawab, riang dan senang hati demi cinta akan Tuhan. Berchmans menjadi contoh teladan dan pelindung para pelajar.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari