Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Sebelum bumi ada, kebijaksanaan sudah ada
Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum samudera raya ada, aku telah lahir, yakni sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam, aku telah ada, dan lebih dahulu daripada bukit-bukit aku telah lahir; sebelum Tuhan membuat bumi dengan padang-padangnya, atau debu dataran yang pertama. Ketika Ia mempersiapkan langit, aku ada di sana, Ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, Ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras; aku ada di sana; Ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan. Setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan aku senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya, dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.
Refren: Betapa megah nama-Mu, Tuhan, di seluruh bumi.
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kaupasang. Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?
Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah, Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Kauberi dia kuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kautundukkan di bawah kakinya.
Domba, sapi, dan ternak semuanya, hewan di padang dan margasatwa, burung di udara dan ikan di laut, dan semua yang melintasi arus lautan.
Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Kristus, dalam kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus.
Saudara-saudara terkasih, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita beroleh jalan masuk karena iman akan kasih karunia Allah. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri, dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Bukan hanya ini saja!. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraaan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Alleluya, alleluya.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, kepada Allah yang ada sejak dahulu, kini dan sepanjang masa mendatang.
Alleluya, alleluya.
Segala sesuatu yang Bapa punya adalah kepunyaan-Ku; Roh akan memberitakan kepadamu apa yang Dia terima dari pada-Ku.
Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya, itulah yang akan dikatakan-Nya, dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang Dia terima daripada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya adalah kepunyaan-Ku, sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang Dia terima daripada-Ku.”
Inilah Injil Tuhan kita!
Invitatorium
Pembukaan
AntifonMarilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita, alleluya.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita, alleluya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Datanglah dan tinggallah bersama kami, ya Allah: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Mazmur 8
Keagungan Tuhan dan martabat manusia
Bapa memberikan Kristus kekuasaan atas ciptaan dan menjadikan-Nya kepala Gereja (Efesus 1:22).
AntifonDatanglah dan tinggallah bersama kami, ya Allah: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Antifon 2Bapa adalah Kasih, Putra adalah rahmat, Roh Kudus adalah ikatan persekutuan mereka; ya Tritunggal yang terberkati.
Mazmur 32 (33)
Nyanyian pujian untuk pemeliharaan Allah yang terus-menerus
Melalui Sabda segala sesuatu dijadikan (Yohanes 1:3).
AntifonBapa adalah Kasih, Putra adalah rahmat, Roh Kudus adalah ikatan persekutuan mereka; ya Tritunggal yang terberkati.
Antifon 3Bapa mengucapkan Kebenaran, Putra adalah Kebenaran yang diucapkan-Nya, dan Roh Kudus adalah Kebenaran; ya Tritunggal yang terberkati.
AntifonBapa mengucapkan Kebenaran, Putra adalah Kebenaran yang diucapkan-Nya, dan Roh Kudus adalah Kebenaran; ya Tritunggal yang terberkati.
Responsorium Lihat Efesus 1:17, 18; 1 Korintus 2:12
Responsorium
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Ya Allah, aku mencari Engkau untuk merasakan kekuatanMu. Alleluya.
Mazmur 62
Antifon 1Ya Allah, aku mencari Engkau untuk merasakan kekuatanMu. Alleluya.
Antifon 2Tiga pemuda dalam tanur api serentak berseru: Terpujilah Allah. Alleluya.
Dan 3,57-88.56
Kidung ini tidak ditutup dengan 'Kemuliaan'.
Antifon 2Tiga pemuda dalam tanur api serentak berseru: Terpujilah Allah. Alleluya.
Antifon 3Para warga Sion bersukaria atas Rajanya. Alleluya.
Mazmur 149
Antifon 3Para warga Sion bersukacita atas Rajanya. Alleluya.
Bacaan Singkat (Roma 11,33-36)
Antifon KidungTerpujilah Tritunggal yang kudus dan tak terbagi, pencipta dan penata segala sesuatu, sekarang, selalu, dan sepanjang segala masa.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTerpujilah Tritunggal yang kudus dan tak terbagi, pencipta dan penata segala sesuatu, sekarang, selalu, dan sepanjang segala masa.
Doa Permohonan
℟. Ya Tuhan, Engkaulah kehidupan dan keselamatan kami.
Pencipta bintang-bintang, permulaan hari ini kami terima penuh syukur dari tanganMu,* sambil mengenangkan kebangkitanMu. ℟.
Semoga rohMu mengajar kami bertindak seturut keinginan hatiMu,* dan semoga kebijaksanaanMu tetap membimbing kami. ℟.
Semoga kami pada hari Minggu ini berhimpun sebagai umatMu,* untuk menyambut santapan sabda dan tubuhMu. ℟.
Kami mengucap syukur kepadaMu,* atas kurniaMu yang tak terbilang banyaknya. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (1 Io 4, 16)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Baiklah berlindung pada Tuhan; kekal abadi kasih setiaNya, alleluya.
Mazmur 117 (118)
Antifon 1Baiklah berlindung pada Tuhan; kekal abadi kasih setiaNya, alleluya.
Antifon 2Tuhanlah kekuatan dan pujaanku, alleluya.
Antifon 2Tuhanlah kekuatan dan pujaanku, alleluya.
Antifon 3Syukur kepadaMu, Tuhan, Engkau mendengarkan daku, alleluya.
Antifon 3Syukur kepadaMu, Tuhan, Engkau mendengarkan daku, alleluya.
Bacaan singkat Gal 6,9-10
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Gal 6, 9-10)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Tuhan meluaskan kekuasaanNya dari Sion, Tuhan meraja selama-lamanya. Alleluya.
Antifon 1Tuhan meluaskan kekuasaanNya dari Sion, Tuhan meraja selama-lamanya. Alleluya.
Antifon 2Bumi bergetar di hadapan Tuhan. Alleluya.
Mazmur 113
Antifon 2Bumi bergetar di hadapan Tuhan. Alleluya.
Antifon 3Tuhan, Allah kita yang mahakuasa, sudah menjadi raja. Alleluya.
Why 19,1-7
Antifon 3Tuhan, Allah kita yang mahakuasa, sudah menjadi raja. Alleluya.
Bacaan singkat 2Kor 1,3-4
Antifon KidungDengan segenap hati dan bibir kami mengakui, memuji, dan memuliakan Dikau: Allah Bapa yang tak dilahirkan, Putera yang tunggal, Roh Kudus Penghibur; Tritunggal yang kudus dan tak terbagi, bagiMu kemuliaan selama-lamanya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungDengan segenap hati dan bibir kami mengakui, memuji, dan memuliakan Dikau: Allah Bapa yang tak dilahirkan, Putera yang tunggal, Roh Kudus Penghibur; Tritunggal yang kudus dan tak terbagi, bagiMu kemuliaan selama-lamanya.
Doa Permohonan
℟. Datanglah kerajaanMu, ya Tuhan.
Ya Penyelamat kami, teguhkanlah umat pilihanMu, agar lebih jelas melambangkan kesatuan umat manusia,* dan menjadi tanda pembawa selamat yang lebih nyata bagi semua bangsa. ℟.
Dampingilah selalu para uskup bersama bapa suci,* dan anugerahilah mereka kesatuan, cinta kasih dan damai. ℟.
Satukanlah seluruh umat Kristen dalam diriMu sebagai kepala,* supaya kami dalam kehidupan sehari-hari memberi kesaksian tentang kerajaanMu. ℟.
Berikanlah perdamaian kepada dunia,* supaya keamanan dan kesejahteraan berkembang di mana-mana. ℟.
Bangkitkanlah semua orang mati pada hari kiamat,* dan ikutsertakanlah kami dalam kebahagiaan mereka. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
Madah
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat Why 22,4-5
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Yakobus Zhou Wen-mo
Zhou Wen-mo lahir pada tahun 1752 di Su-Tcheou, Provinsi Jiang-nan, Tiongkok. Kedua orang tuanya meninggal ketika dia masih anak-anak dan ia dibesarkan oleh seorang bibinya. Ia mengenal ajaran iman Katolik melalui pewartaan para missionaris dan dibabtis dengan nama Yakobus. Ia lalu masuk seminari keuskupan di Beijing, dan ditahbiskan menjadi imam lulusan pertama dari seminari tersebut.
Pada waktu itu, Uskup Alexandre de Gouvea dari Beijing tengah berpikir untuk mengirimkan seorang misionaris ke Korea. Beliau lalu menunjuk pater Yakobus Zhou untuk menjadi misionaris di semenanjung Korea. Bapa Uskup memilihnya berdasarkan kemampuan yang diperlukan dalam menjalankan pelayanannya.
Yakobus Zhou meninggalkan Beijing pada bulan Februari 1794. Ia dijemput secara rahasia oleh dua orang utusan Gereja Katolik Korea, Sabas Ji-Hwang dan Yohanes Pak, di didekat perbatasan Tiongkok - Korea. Namun mereka tidak bisa segera menyeberang ke Korea karena harus menunggu sampai Sungai Yalu (orang Korea menyebutnya: Sungai Amnok) membeku, agar dapat diseberangi. Sambil menanti datangnya musim dingin, pater Zhou mengunjungi umat Katolik di wilayah Liao-dong dan tinggal disitu selama beberapa bulan. Dia baru bisa menyeberangi Sungai Yalu tanggal 24 Desember 1794 dengan menyamar sebagai orang Korea.
Pater Yakobus Zhou tiba di Seoul dan tinggal di rumah Matias Choe In-gil, di wilayah Gyedong (Sekarang Gye-dong, Jongno-gu, Seoul). Dia mulai belajar bahasa Korea dan merayakan misa perdananya bersama umat Katolik Korea pada hari Minggu Paskah tahun 1795. Setelah beberapa waktu, keberadaannya diketahui oleh polisi Kerajaan dan mereka berupaya untuk menangkapnya. Dalam sebuah penggrebekkan Pater Yakobus Zhou berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di rumah Kolumbanus Kang Wan-suk. Namun para katekisnya, Beato Paulus Yun Yu-il dan Beato Sabas Ji-Hwang, serta pemilik rumah Beato Matias Choe In-gil tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Mereka bertiga kemudian gugur sebagai martir Kristus.
Walau dikejar-kejar oleh polisi Kerajaan, Yakobus Zhou tetap merayakan misa bersama umat Katolik Korea secara sembunyi-sembunyi. Ia juga berkeliling memberikan pelayanan Sakramen dan membentuk Myeongdohoe, sebuah perkumpulan awam untuk belajar Katekese dan Kitab Suci. Dia juga menulis buku Katekismus dalam bahasa Korea. Dalam waktu enam tahun karyanya sebagai misionaris, umat Katolik di Korea mulai bertumbuh dari empat ribu orang menjadi Sepuluh Ribu orang.
Pada tahun 1800, Raja Jeongjo (Raja ke-22 dari Dinasti Joseon) meninggal dunia dan digantikan oleh puteranya Pangeran Sun-jo yang saat itu masih berusia sebelas tahun. Pergantian kekuasaan ini memiliki dampak politik dimana kekuasaan berpindah-pindah dari satu fraksi ke fraksi lain. Gereja Katolik Korea yang baru saja bertumbuh terjebak dalam pertarungan politik. Penganiayaan terhadap Gereja Katolik mulai terjadi pada tahun 1801 dan dikenal sebagai masa Penganiayaan Sinyu. Umat Katolik satu per satu mulai ditangkapi dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka lalu disiksa agar murtad dan meninggalkan iman mereka akan Yesus Kristus. Ribuan Umat Katolik Korea tewas sebagai saksi Kristus pada masa penganiayaan ini.
Pater Yakobus Zhou sangat sedih mendengar tentang penyiksaan yang dialami oleh umatnya. Ia mulai berpikir bahwa umat Katolik Korea terbunuh gara-gara dia. Karena itu ia memutuskan untuk kembali ke Tiongkok. Namun, beberapa waktu kemudian ia berubah pikiran. “Aku harus berbagi nasib dengan umatku dan meringankan penganiayaan dan kemartiran mereka.” katanya. Ia lalu memutuskan untuk menyerahkan diri.
Pada tanggal 11 Maret, Yakobus keluar dari tempat persembunyiannya dan muncul dihadapan para penganiaya. Dengan segera ia ditahan dan diinterogasi. Meskipun ia telah disiksa dengan kejam, imam ini tetap menjawab pertanyaan para penyiksanya dengan bijak dan hati-hati.
“Satu-satunya alasan saya datang ke Korea, dengan ditemani Sabas Ji-Hwang, dan melewati berbagai ancaman marabahaya di perbatasan, adalah karena saya mencintai orang Korea. Ajaran Yesus tidak jahat. Melakukan perbuatan yang merugikan orang lain ataupun negara, itu dilarang oleh Sepuluh Perintah Allah, namun demikian, saya tidak dapat melaporkan mengenai urusan Gereja.”
Ia terus-menerus menjalani penyiksaan selama mendekam dipenjara. Pada akhirnya para penganiaya menyadari bahwa mereka tidak akan memperoleh keterangan apapun darinya. Dengan marah mereka lalu menjatuhkan hukuman mati kepadanya berdasarkan hukum militer. Ia akan dipenggal dan kepalanya akan digantung di gerbang perkemahan (mungkin kamp Militer).
Pada tanggal 31 Mei 1801 (19 April berdasarkan penanggalan Lunar), Pater Yakobus Zhou yang saat itu berusia 49 tahun dipenggal di Saenamteo, di dekat sungai Han. Saat hukuman mati berlangsung para saksi mata menuturkan :
“Langit yang cerah tiba-tiba menjadi gelap. Sebuah badai yang hebat menerbangkan bebatuan di sekitarnya. Jarak pandang hanya satu inchi karena hujan yang lebat. Begitu eksekusi selesai, awan-awan menghilang. Sebuah pelangi yang terang muncul di langit. Kemudian menghilang ke langit sebelah timur laut.”Yakobus Zhou Wen-Mo adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia dibeatifikasi pada tanggal 15 August 2014 oleh Paus Fransiskus.
Arti nama
Berasal dari bahasa Latin : Iacomus; yang diturunkan dari bahasa Yunani Ιακωβος (Iakobos). Asli nya berasal dari nama Ibrani יַעֲקֹב (Ya'aqov) yang berarti : Pemegang Tumit / Pengganti (Kej 25:26)
Santa Kamilla Battista da Varano
Santa Camilla Battista da Varano lahir pada tanggal 9 April 1458 di Camerino, Macerata, Italia, dalam keluarga aristokrat Italia yang kaya-raya. Ayahnya adalah pangeran Giulio Cesare da Varano, Duke of Camerino dan ibunya juga seorang wanita ningrat bernama Cecchina di Maestro Giacomo. Sebagai seorang puteri bangsawan, Camilla menerima pendidikan dari guru-guru terbaik dimasa itu, dan sangat berbakat dalam Retorika dan Tata-bahasa.
Saat berusia 9 tahun, Camilla kecil mendengarkan homili hari Jum'at Agung dari seorang biarawan Fransiskan bernama Domenico di Leonessa. Khotbah tentang Sengsara Yesus ini begitu menyentuh, sampai ia menangis tersedu-sedu di dalam Gereja.Pada masa Prapaskah 1479 Camilla kembali mendengarkan khotbah yang menggetarkan hati dari seorang biarawan Fransiskan bernama Francesco di Urbino. Kata-kata biarawan yang dijuluki "sangkakala Roh Kudus" ini membuat hatinya bergetar hebat. Setelah rutin mendengarkan khotbah-kotbah dari don Francesco, Camilla mulai mendengar panggilan Tuhan didalam dirinya untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Keinginannya menjadi biarawati segera ditentang keras oleh sang ayah yang telah mempersiapkan perjodohannya. Namun Camilla teguh mempertahankan panggilannya dan tetap memutuskan untuk menjadi pengantin Kristus.
Saat berusia 21 tahun, camilla masuk sebuah biara suster dan mengucapkan kaulnya pada tanggal 24 Maret 1479 bertepatan dengan hari raya Santa Maria menerima khabar gembira dari malaikat Tuhan. Dua tahun pertamanya sebagai seorang biarawati adalah perjuangan pahit melawan godaan dan cobaan yang berat. Selain sikap keluarganya yang tetap menentang pilihan hidupnya, Camilla juga harus menghadapi ejekan dan gosip dari sesama biarawati yang merasa aneh melihat seorang puteri bangsawan meninggalkan kastil yang megah untuk menjadi seorang biarawati miskin.
Pada tanggal 17 April 1479, Camilla pindah ke biara Klaris (OSC = Ordo Santa Clara) di Urbino Italia yang lebih kontemplatif dan memiliki regula (aturan hidup membiara) yang lebih ketat. Dalam biara inilah Camilla mengalami peningkatan kehidupan rohani yang luar biasa. Ia menjadi seorang suster yang sederhana dan penuh disiplin yang selalu hidup dalam doa dan meditasi. Ia akan berdoa sepanjang malam dan mengawali pagi harinya dengan menerima sakramen tobat. Camilla kemudian diberkati Tuhan dengan Karunia penglihatan dan kerap menerima penampakkan dari para kudus dan para malaikat. Penampakkan-penampakkan Ilahi ini membuka pikirannya untuk memahami konsep-konsep teologi yang kelak dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Camilla mengintensifkan meditasinya pada sengsara Kristus hingga dapat meresapi dan merasakan penderitaan sang Juru Selamat secara nyata, fisik maupun mental. Pada masa ini ia menulis buku “Ricordi di Gesu”, sebuah panduan meditasi dalam bentuk sebuah surat dari Yesus kepadanya.
Pada tanggal 4 Januari 1484 Camilla da Varano ditunjuk menjadi Abbess (kepala biara susteran) biara Santa Maria Nouva di kota kelahirannya, Camerino. Biara ini terletak dekat istana ayahnya dan baru selesai dipugar sang ayah untuk membuat putrinya berada dekat dengannya. Dengan kekuasaannya, pangeran Guilio Cesare da Varano menekan Vikaris Jenderal Ordo Fransiskan, yang memiliki otoritas atas Ordo Santa Clara, untuk menempatkan suster Camilla di biara yang telah ia pugar tersebut. Camilla menolak keras pindah ke Camerino karena campur tangan ayahnya. Namun ia pindah juga setelah diingatkan akan kaul ketaatannya.
Di biara Camerino, Camilla da Varano menulis beberapa buku diantaranya : I dolori mentali di Gesu nella sua Passione (Kesedihan Hati Yesus Saat Menderita Sengsara), yang berisikan renungan panjang mengenai Sengsara Yesus. Antara tanggal 27 Februari dan 13 Maret 1491 Camilla menyusun Vita Spirituale (hidup Spiritual), buku Autobiografinya yang adalah sebuah surat yang panjang untuk don Domenico di Leonessa, biarawan Fransiskan yang telah mengilhami tetesan air matanya saat ia berusia 9 tahun. Dalam Vita Spirituale Camilla mengucapkan terima kasih kepada don Domenico dan menceritakan bagaimana ia telah mengilhami perjalanan hidup spiritualnya.
Pada tahun 1505, Paus Julius II mengirim Suster Camilla ke kota Fermo untuk membangun biara Kalaris di kota itu. Ia pergi dan tinggal disana selama dua tahun lalu kembali ke Camerino. Pada 1521 Camilla diutus ke San Severino Marche untuk membimbing sebuah komunitas biarawati yang baru saja mengadopsi Regula Santa Klara. Disini ia menulis karyanya yang terakhir : Trattato della Purita di cuore yang ia dedikasikan kepada Vikaris Jendral Fransiskan, Giovanni di Fano.
Suster Camilla Battista da Varano tutup usia di biara Klaris di Camerino pada tanggal 31 Maret 1524. Ia dibeatifikasi pada tanggal 7 April 1843 oleh Paus Gregorius XVI dan dikanonisasi pada 17 Oktober 2010, oleh Paus Benediktus XVI. Tubuhnya yang masih tetap utuh, saat ini disemayamkan di biara Santa Klara, Camerino, Macerata, Italia.
Arti nama
Kamilla adalah Bentuk Feminim dari nama Romawi : Kamillus.
Kamillus = nama Romawi yang berasal dari kata Latin : "Camillus" yang berarti : "pelayan atau Petugas (religius)" Sumber : Katakombe.Org
Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet
Pesta ini merayakan kunjungan Santa Perawan Maria kepada saudarinya Elisabet, seperti dikisahkan dalam Injil Lukas. Sesudah menerima kabar dari malaikat bahwa ia akan mengandung Sang Penyelamat, dan bahwa Elisabet yang sudah lanjut usia pun sedang mengandung, Maria segera berangkat ke pegunungan Yudea untuk melayani.
Perjumpaan itu penuh sukacita. Ketika Maria memberi salam, bayi dalam rahim Elisabet, yaitu Yohanes Pembaptis, melonjak kegirangan, dan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus berseru, Diberkatilah engkau di antara semua perempuan (Lukas 1:42). Maria menanggapinya dengan madah Magnificat, nyanyian pujian yang mengagungkan Allah karena berpihak kepada mereka yang rendah dan lapar akan keadilan.
Perayaan ini pertama kali dijalankan oleh para Fransiskan pada tahun 1263 atas anjuran Santo Bonaventura. Kemudian Paus Urbanus VI menetapkannya bagi seluruh Gereja pada tahun 1389, dengan harapan agar melalui perantaraan Maria, perpecahan besar yang saat itu melanda Gereja Barat dapat dipulihkan.
Sesudah pembaruan liturgi Konsili Vatikan II, pestanya ditempatkan pada 31 Mei, di penghujung bulan yang khusus didedikasikan bagi Maria. Letaknya pun bermakna, di antara Hari Raya Kabar Sukacita dan Kelahiran Yohanes Pembaptis. Bagi umat hari ini, pesta ini mengajarkan bahwa membawa Kristus kepada sesama selalu terwujud dalam pelayanan yang nyata dan penuh kasih.
Ditetapkan: bagi Gereja universal oleh Paus Urbanus VI tahun 1389; tanggal 31 Mei ditetapkan dalam pembaruan kalender Konsili Vatikan II.
Santo Felix dari Nicosia
Santo Felix dari Nicosia, O.F.M. Cap, (Italia: Felice di Nicosia) adalah seorang biarawan Fransiskan Kapusin yang kudus dan penuh dengan karunia ajaib. Ia dilahirkan di Nicosia, Pulau Sisilia Italia pada tanggal 5 November 1715, dan dibabtis dengan nama Fillipo Giacomo Amoroso. Filippo kecil selalu bekerja membantu ayahnya yang adalah seorang pembuat sepatu. Toko sepatu ayahnya terletak didekat sebuah biara kapusin; karena itu sejak kecil, ia sudah mengenal para biarawan dan mengagumi cara hidup mereka.
Pada usia 20 tahun, ia meminta pada superior biara Kapusin di Nikosia untuk menyampaikan permohonannya kepada Provinsial biara di Messina agar bisa diterima sebagai seorang Bruder. Permohonannya ditolak karena ia adalah seorang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis. Namun Fillipo tidak patah arang. Setiap tahun Ia kembali lagi mengajukan permohonan. Setelah delapan tahun, melihat kesetiaannya mengajukan permohonan dan kesungguhannya untuk menjadi seorang biarawan, akhirnya ia diterima juga dan dikirim untuk menjalani novisiat di Mistretta.
Fillipo masuk novisiat Kapusin pada tanggal 19 Oktober 1743 dan diberi nama Bruder Felix. Ia mengucapkan kaulnya sebagai seorang biarawan Ordo Fransiskan Kapusin setahun kemudian.
Tidak seperti biasanya, Provinsial biara Kapusin menugaskan Bruder Felix di Kota kelahirannya. Ini sangat bertentangan dengan norma umum yang berlaku dalam biara Kapusin pada saat itu, dimana seorang biarawan muda biasanya akan ditempatkan jauh dari tempat asal mereka. Kehadiran keluarga dan teman-teman lama dianggap dapat menjadi godaan untuk kembali menjalani kehidupan duniawi dan mengganggu perkembangan rohani mereka. Namun karena kehidupan rohani Bruder Felix yang begitu kudus, para atasannya membuat sebuah pengecualian baginya.
Dikota kelahirannya, Bruder Felix ditugaskan menjadi seorang quaestor, yaitu sebagai biarawan pengemis yang tugasnya berkeliling di wilayah sekitar biara untuk meminta-minta dan mengumpulkan sedekah bagi kelangsungan hidup biara. Setiap hari ia akan berkeliling kampung halamannya dan mengetuk pintu rumah para kerabat dan sahabatnya untuk meminta-minta sedekah. Tugas ini sungguh sangat berat untuk dijalani. Hinaan dan ejekan dari orang-orang yang mengenalnya akan selalu diterimanya disepanjang perjalanan. Namun apapun yang diterimanya; Bruder Felix akan tetap tersenyum. Kelembutan hatinya sedemikian rupa sehingga ia akan selalu berkata “Terima kasih”. Bahkan ketika ia diperlakukan dengan sangat kasar, ia akan berseru : “Biarkanlah ini terjadi demi cinta kepada Tuhan.”
Ia memiliki devosi yang sangat mendalam kepada Yesus dan Bunda Maria. Setiap hari Jumat, ia akan berpuasa merenungkan sengsara dan wafat Kristus dan pada setiapo hari Jumat dalam masa prapaskah, ia akan berpuasa berat dengan hanya makan sekerat roti dan segelas air. Ia juga memiliki rasa hormat dan cinta yang mendalam kepada Sakramen Mahakudus. Sering menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk berdoa di depan tabernakel, bahkan setelah mengalami cobaan yang keras setiap hari.
Kekudusannya membuat ia diberkahi Tuhan dengan karunia penyembuhan bagi berbagai macam penyakit, fisik maupun rohani. Dia juga dianugerahi kemampuan untuk bisa hadir di dua tempat berbeda pada saat yang bersamaan (bilokasi); sama seperti penerusnya seorang biarawan Kapusin di zaman modern, Santo Padre Pio.
Pada saat wabah penyakit menyerang kota Cerami di bulan Maret 1777; Bruder Kudus ini dimintai pertolongan untuk dapat membantu menyembuhkan para korban. Dengan penuh semangat Bruder Felix datang dan membantu para pasien. Ia menghibur para korban dan melakukan banyak penyembuhan ajaib bagi mereka.
Selama 33 tahun Bruder Felix hidup di bawah seorang wali yang merasa bahwa adalah tugasnya untuk membuat Felix menjadi seorang Kudus. Wali ini membuat Felix harus menjalani kehidupan yang sangat keras dan penuh dengan penghinaan; namun semuanya itu dengan penuh kerendahan hati dapat dijalani dengan baik olehnya.
Pada bulan Mei tahun 1787 Bruder yang kudus ini terserang demam tinggi secara tiba-tiba saat sedang bekerja di kebun. Ia berkata kepada dokter yang memeriksanya bahwa obat-obatan tidak akan bisa menyembuhkannya, karena ini adalah penyakitnya yang terakhir. Dia begitu menghormati kaul ketaatan pada Ordonya, karena itu ia masih sempat meminta kepada walinya izin untuk mati.
Bruder Felix tutup usia pada tanggal 31 Mei 1787 pada jam dua pagi. Ia di beatifikasi pada tanggal 12 Februari 1888 oleh Paus Leo XIII dan dikanonisasi pada tanggal 23 Oktober tahun 2005 oleh Paus Benediktus XVI.
Arti nama
Beruntung, Sukses (Latin)
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari