Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Mereka penuh dengan Roh Kudus dan mulai berbicara.
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang yang percaya akan Yesus berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka, penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diilhamkan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem berkumpul orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena masing-masing mendengar rasul-rasul itu berbicara dalam bahasa mereka. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah semua yang berbicara itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita? Kita orang Partia, Media, Elam, kita penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi mau-pun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab; kita semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah.”
Refren: Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan dan jadi baru seluruh muka bumi.
Allahku, nama-Mu hendak kupuji, Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran.
Ya Tuhan, berselubungkan cahaya, bagai jubah raja, langit kaupasang bagai kemah.
Firman-Mu disampaikan oleh angin, api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba.
A
Kita semua telah dibaptis dalam Roh Kudus menjadi satu tubuh.
Saudara-saudara, tidak seorang pun dapat mengaku, “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Ada rupa-rupa karunia, tetapi hanya ada satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu; Dialah yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab kita semua, baik Yahudi maupun Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis dalam satu Roh menjadi satu tubuh, dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
Alleluya, alleluya.
Datanglah, hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka.
Alleluya, alleluya.
Seperti Bapa telah mengutus Aku, kini Aku mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus.
Setelah Yesus disalibkan, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di satu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka, kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikan, Yesus menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Inilah Injil Tuhan kita!
Invitatorium
Pembukaan
AntifonAlleluya. Marilah kita menyembah Roh Tuhan, yang memenuhi seluruh bumi, alleluya.
Mazmur 94 (95)
AntifonAlleluya. Marilah kita menyembah Roh Tuhan, yang memenuhi seluruh bumi, alleluya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Roh berembus ke mana Ia kehendaki; engkau mendengar suara-Nya, tetapi tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi, alleluya.
Mazmur 103 (104)
Nyanyian Pujian kepada Allah Pencipta
Berada dalam Kristus berarti menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Segala yang lama telah lenyap, kini segala sesuatu dijadikan baru (2 Korintus 5:17).
AntifonRoh berembus ke mana Ia kehendaki; engkau mendengar suara-Nya, tetapi tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi, alleluya.
Antifon 2Tiba-tiba dari langit terdengar bunyi angin kencang, alleluya.
AntifonTiba-tiba dari langit terdengar bunyi angin kencang, alleluya.
Antifon 3Utuslah Roh-Mu dan mereka akan diciptakan; dan Engkau akan memperbarui muka bumi, alleluya.
AntifonUtuslah Roh-Mu dan mereka akan diciptakan; dan Engkau akan memperbarui muka bumi, alleluya.
Responsorium Galatia 4:6; 3:26; 2 Timotius 1:7
Responsorium Kisah Para Rasul 2:1-2
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Mazmur 62
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Dan 3,57-88.56
Kidung ini tidak ditutup dengan 'Kemuliaan'.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Mazmur 149
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Bacaan singkat: Kis 5,30-32
Antifon KidungTerimalah Roh kudus, siapapun yang kamu ampuni dosanya, akan diampuni, alleluya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTerimalah Roh kudus, siapapun yang kamu ampuni dosanya, akan diampuni, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Baharuilah muka bumi, ya Tuhan.
Tuhan Yesus, waktu Engkau ditinggikan pada salib, mengalirlah air pemberi hidup dari lambungMu,* utuslah Roh kudus, pemberi hidup, kepada kami. ℟.
Dari kemuliaanMu di sebelah kanan Bapa Kauanugerahkan kurnia Bapa kepada para rasul ,* utuslah RohMu untuk menciptakan dunia baru. ℟.
Para rasul Kauberi kuasa dalam Roh kudus untuk mengampuni dosa,* hancurkanlah kuasa dosa dalam dunia. ℟.
Engkau menjanjikan Roh kudus untuk mengajar kami segala sesuatu dan mengingatkan kembali segala sabdaMu,* utuslah RohMu untuk menerangi iman kami. ℟.
Engkau berjanji mengutus Roh kebenaran untuk memberi kesaksian tentang diriMu,* utuslah RohMu agar kami menjadi saksiMu yang setia. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Cf. 1 Cor 15, 3 b-5)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifonifon dari ibadat pagi, mazmur dari hari minggu I siang, hal. 394
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Mazmur 117 (118)
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Bacaan singkat: 2 Kor 1,21-22
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Rom 6, 4)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Pada hari Pentekosta semua murid Yesus berkumpul di satu tempat, alleluya.
Antifon 1Pada hari Pentekosta semua murid Yesus berkumpul di satu tempat, alleluya.
Antifon 2Tampaklah kepada para rasul lidah-lidah yang menyerupai api dan hinggap di atas mereka masing-masing, alleluya.
Mazmur 113
Antifon 2Tampaklah kepada para rasul lidah-lidah yang menyerupai api dan hinggap di atas mereka masing-masing, alleluya.
Antifon 3Roh yang keluar dari Bapa, akan memuliakan Daku, alleluya.
Why 19,1-7
Antifon 3Roh yang keluar dari Bapa, akan memuliakan Daku, alleluya.
Bacaan singkat: Ef 4,3-6
Antifon KidungHari ini tibalah Pentekosta, alleluya. Hari ini Roh kudus tampak kepada para rasul dalam rupa api dan membagikan anugerah kepada mereka. Hari ini Roh kudus mengutus para rasul ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian. Barang siapa percaya dan dibaptis, akan selamat, alleluya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungHari ini tibalah Pentekosta, alleluya. Hari ini Roh kudus tampak kepada para rasul dalam rupa api dan membagikan anugerah kepada mereka. Hari ini Roh kudus mengutus para rasul ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian. Barang siapa percaya dan dibaptis, akan selamat, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Utuslah Roh kudus kepada umatMu, ya Tuhan.
Semua orang yang percaya kepada Kristus hendak Kausatukan dalam Roh kudus berdasarkan pembaptisan yang satu dan sama,* semoga orang beriman menjadi sehati sejiwa dalam Engkau. ℟.
Engkau memenuhi segenap muka bumi dengan RohMu,* semoga kami sanggup membangun suatu dunia yang adil dan damai. ℟.
Tuhan Allah, Bapa semua orang, Engkau hendak menghimpun putera-puteraMu yang tercerai-berai menjadi satu dalam iman yang sama,* terangilah dunia kami dengan cahaya Roh kudus. ℟.
Engkau membaharui segalanya dalam Roh kudus,* sembuhkanlah yang sakit, hiburkanlah yang berduka, limpahkanlah belaskasihanMu kepada semua orang. ℟.
Engkau membangkitkan PuteraMu dari alam maut dengan kekutan Roh kudus,* hidupkanlah kembali tubuh semua orang mati bagi kehidupan kekal. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
Madah
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat Why 22,4-5
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santa Agatha Kim A-gi
Santa Agatha Kim A-gi berasal dari keluarga yang belum mengenal Kristus, demikian juga dengan suaminya. Pada masa itu, ajaran Katolik dianggap sebagai ajaran sesat setelah kejadian pada tahun 1791, ketika Paulus Yun Chi-ch’ung membakar tablet berhala leluhurnya. Peristiwa itu memicu terjadinya gelombang penganiayaan kepada umat Katolik yang dimulai pada tahun 1801.
Pada mulanya Agatha dan suaminya tidak tertarik untuk mempelajari iman Katolik karena takut dianiaya. Namun demikian, suatu hari, seorang saudari Agatha yang lebih tua datang berkunjung. Saudarinya itu adalah seorang Katolik yang taat. Di ruangan depan di rumah Agatha terdapat sebuah peti beras yang besar dan di atasnya terdapat tablet berhala leluhur. Di sana juga terdapat gambar yang aneh yang berada di dinding. Saudari Agatha ini menganggap semuanya itu adalah dosa besar. Karena itu dalam suatu kesempatan dia berkata kepada Agatha,
“Mengapa kamu menyimpan benda-benda itu di rumahmu? Semua itu adalah takhayul yang tidak berguna. Buang semua itu dan jangan percaya kepada benda itu lagi.”
“Apa yang bisa saya lakukan? Saya menikah dengan seseorang yang mempercayainya”
“Hanya ada satu yang menguasai seluruh dunia. Yaitu Kristus. Sekarang waktunya bagi kamu untuk bangun dari kegelapan untuk belajar dan menjalankan kebenaran.”
Melalui saudarinya itu , Agatha mulai merasakan kerinduan untuk mengenal Kristus. Ia lalu memutuskan mengikuti katakese agar dapat dibabtis menjadi seorang katolik. Meski sadar akan penganiayaan yang dialami oleh umat Katolik di masa itu, namun ia siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Agatha memang terlambat mengenal iman Katolik namun setelah dia memulainya, dia bertumbuh dengan cepat dan penuh bersemangat.
Selama masa katakese, Agatha tidak terlalu menonjol. Ia dianggap lamban karena walau telah berusaha sangat keras, namun ia tetap saja tidak dapat melafalkan doa-doa dasar (yang pada masa itu masih diucapkan dalam bahasa Latin). Dikalangan umat Katolik Korea, Agatha dikenal sebagai seorang wanita yang tidak tahu apa-apa kecuali melafalkan nama “Yesus, Maria” dengan penuh iman.
Pada bulan September 1836 Santa Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi juga ditangkap saat bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke penjara bersama-sama.
Di penjara mereka berkumpul bersama beberapa umat Katolik yang telah ditangkap duluan. Mereka adalah Santo Damianus Nam Myong-hyok yang ditahan dengan tuduhan menyembunyikan jubah Uskup, Santo Petrus Kwon Tug-in yang dituduh menjual salib dan gambar-gambar suci, Santa Anna Pak A-gi yang tetap berada di penjara walaupun suami dan anaknya telah murtad, dan Santa Agatha Yi, kakak perempuan dari Santo Petrus Yi Ho-yong.
Diantara umat beriman ini, orang pertama yang diinterogasi adalah Anna Pak A-gi. Walaupun telah menjalani siksaan yang hebat, namun imannya tidak tergoyahkan. Dia juga menjawab pertanyaan para penyiksanya dengan tenang, “Walau suami dan putra saya telah murtad! Saya memilih untuk mempertahankan iman saya dan mati untuk itu.” Atas jawabannya ini, Wawnita pemberani ini kembali disiksa dengan mengerikan sampai tubuhnya berlumuran darah dan wajahnya hampir tidak dapat dikenali lagi.
Selanjutnya adalah Santa Barbara Han A-gi. Tidak kalah berani dari Anna Pak A-gi, Barbara tetap mempertahankan imannya walau disiksa dengan keji.
Agatha Kim kemudian dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.
“Benarkah kamu percaya akan Gereja Katolik?” tanya petugas penjara.
“Saya tidak tahu apapun selain Yesus dan Maria.”
“Jika kamu dapat menyelamatkan hidupmu dengan menolak Yesus dan Maria, akankah kamu menolak Mereka?”
“Saya lebih baik mati daripada menolak Mereka.”
Walaupun disiksa, Agatha tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikirannya. Melihat hal ini, komisaris polisi kembali memasukkan mereka ke dalam penjara. Ketika tahanan Katolik lainnya melihat Agatha Kim A-gi tiba, mereka bersukacita menyambut dia.
“Inilah dia, Agatha, dia yang tidak tahu apapun selain Yesus dan Maria,” kata mereka ketika memberi selamat atas keberaniannya.
Sebelumnya, karena ketidak-mampuannya untuk belajar agama dan melafalkan doa, Agatha Kim A-gi belum sempat dibaptis. Dia kemudian menerima pembabtisan di penjara selama masa penganiayaan berlangsung. Pembaptisan memberikan dia kekuatan baru, dan oleh karenanya dia dapat mengatasi siksaan dan hukuman yang kejam.
Setelah seluruh penyelidikan dan cobaan, hukuman mati dijatuhkan kepada Damianus Nam Myong-hyok, Petrus Kwon Tug-in dan Anna Pak A-gi pada tanggal 11 Mei 1839. Pada hari berikutnya, Agustinus Yi Kwang-hon dan Lusia Pak Hui-sun juga dijatuhi hukuman mati. Tiga hari kemudian Magdalena Kim Ob-i, Barbara Han A-gi, dan Agatha Kim A-gi juga dihukum karena mempercayai iman Katolik dan menolak untuk murtad. Para pahlawan iman ini akan dieksekusi bersama-sama pada tanggal 24 mei 1839.
Proses eksekusi para martir ini di digambarkan oleh Santo Karolus Cho Shin-ch’ol sebagai berikut,
“Pada hari yang sudah ditentukan, sebuah gerobak sapi dengan palang yang lebih tinggi daripada tinggi rata-rata orang saat itu didirikan bagi mereka. Kemudian mereka dibawa keluar dari penjara. Ketika semuanya sudah siap, para penjaga membawa para tahanan dan mengikat tangan dan rambut mereka pada palang tersebut. Sebuah penahan kaki dipasangkan di kaki mereka dan sinyal keberangkatan dibunyikan. Ketika mereka tiba di bukit yang curam di mana Pintu Gerbang Kecil Barat berada, para penjaga tiba-tiba menarik penahan kaki mereka dan pengemudi gerobak memaksa sapi-sapi itu untuk berlari ke bawah. Jalannya kasar dan berbatu. Gerobak meluncur dan menyebabkan penderitaan hebat bagi para tahanan yang tangan dan rambut mereka digantung pada kayu palang itu. Di tempat eksekusi yang berada di kaki bukit. Para penjaga melepaskan para tahanan dari palang itu dan merobek pakaian mereka. Algojo mengikat rambut mereka pada balok kayu lalu mereka memenggal kepala mereka.”
Sembilan orang martir menerima mahkota mereka pada pukul tiga siang hari itu, jam yang sama ketika Yesus menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di kayu salib puluhan abad yang lalu. Berdasarkan hukum waktu itu, jenazah mereka dibiarkan di tempat eksekusi selama tiga hari.
Santa Agatha Kim A-gi, Santa Magdalena Kim Ob-i, dan Santa Barbara Han A-gi dibeatifikasi bersama Para Martir Korea pada tanggal 5 Juli 1925 dan bersama-sama dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Berasal dari kata Yunani αγαθος (agathos) yang berarti : "Baik" atau "indah"
Santa Agatha Yi So-Sa
Agatha Yi lahir pada tahun 1784 di Kuwul, dekat Inchon, Provinsi Kyonggi. Ditahun ini pula, Yi Sung-hun orang Katolik pertama dari Korea, dibaptis di Peking China. Agatha Yi dikenal ramah dan sopan. Ia selalu membawa cahaya dan kegembiraan bagi seisi rumahnya. Ayahnya bukanlah seorang Katolik, dan walaupun ibunya pernah menjadi seorang katekumen, ibunya itu tidak terlalu paham tentang iman kristiani. Karena itu Agatha kecil tidak menerima pelajaran agama yang memadai.
Pada usia tujuh belas tahun, Agatha Yi menikah dengan pria yang berasal dari keluarga non-Katolik. Hidupnya kini nyaris tanpa memiliki agama. Namun, karena dia tidak dapat memiliki anak, Agatha Yi mencari cara lain untuk mengisi kehampaan hidupnya.
Dua tahun setelah pernikahan Agatha Yi, adik laki-lakinya yaitu Yi Ho-yong (Santo Petrus Yi Ho-Yong), lahir. Dia sembilan belas tahun lebih muda daripada Agatha, dia menjadi sumber sukacita bagi Agatha. Setahun kemudian suaminya meninggal dunia. Agatha Yi kini menjadi seorang janda hanya setelah tiga tahun menikah, dan tanpa seorang keturunan. Tragedi ini membuat Agatha Yi merasakan ketidakpastian dan ketidakpercayaan akan masa depannya. Dia merasakan kebutuhan untuk menemukan nilai dan keteguhan dalam hidupnya. Keinginannya semakin merasuki hatinya setelah kematian ayahnya, tidak lama setelah kematian suaminya. Walau sedih karena kepergian ayahnya, namun Agatha juga bersyukur karena sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, ayahnya telah dibabtis oleh ibunya dan membuat ayahnya dapat meninggal dengan tenang.
Setelah kematian sang ayah, Agatha Yi memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya demi menyokong kehidupan ibu yang sudah tua dan adik laki-lakinya Ho-yong yang masil kecil. Kehidupan di rumahnya kini menjadi sangat sulit. Agatha harus merawat ibu dan adiknya sementara harta warisan dari ayahnya telah habis. Ia terpaksa bekerja sebagai penjahit untuk menghidupi keluarganya.
Di tengah kesulitan ini, Agatha tidak pernah kehilangan ketenangannya. Dia bersama adiknya memutuskan untuk mengikuti pelajaran katekese. Bersama-sama, mereka menjalani kemiskinan hidupnya dengan kehidupan yang penuh cinta kepada Tuhan dan sesama. Teladan para martir pada penganiayaan tahun 1801 dan kemenangan abadi mereka melalui kematian selalu hidup dalam hati kedua kakak-beradik ini. Pola hidup mereka yang saleh membuat umat Katolik lainnya menjadikan mereka sebagai teladan keluarga Katolik.
Santo Karolus Hyon Song-mun dalam “Catatan Harian Gihae” yang terkenal itu, menulis tentang Agatha Yi :
“Setelah kematian ayahnya, Agatha kehilangan semua miliknya. Dia hidup bersama ibunya yang sudah tua dan adik laki-lakinya dalam kondisi yang sangat miskin. Semua kesulitan hidup yang dia tanggung tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun hidup dalam kemiskinan, dia selalu tampil dengan kedamaian dengan senyum yang gembira. Tidak mungkin untuk mencatat semua kata-kata yang baik dan indah dan juga perbuatannya. Dia orang yang rendah hati dan sopan, sehingga setiap orang memuji, mencintai, dan mengagumi dia karena keindahan tindakannya.”
Agatha Yi ditangkap oleh polisi bersama dengan adik laki-lakinya Petrus Yi Ho-yong pada bulan Februari 1835. Mereka berdua lalu dipenjarakan dan diinterogasi. Komisaris polisi yang memeriksa mereka membujuk kedua kakak-beradik ini untuk murtad dan meminta mereka untuk melaporkan nama-nama umat beriman lainnya. Namun dengan berani mereka berdua menjawab : “Allah adalah Bapa kami dan kami tidak dapat mengkhianati Dia. Jika kami memberikan nama-nama umat beriman lainnya, maka mereka akan berada dalam bahaya. Karena itu kami tidak dapat melakukan keduanya.”
Komisaris lalu memerintahkan agar mereka berdua disiksa dengan metode penyiksaan yang sangat brutal, yang sudah dilarang melalui dekrit kerajaan tahun 1732, namun metode ini diperkenankan untuk digunakan secara khusus pada umat Katolik. Agatha Yi dipukuli sekujur tubuhnya sampai dagingnya terlepas dan kakinya dibuat sakit terperikan dengan dipelintir kebelakang. Namun imannya tetap tak tergoyahkan. Karena itu para algojo lalu menelanjanginya, menggantung tubuhnya dengan kedua lengan terikat di belakang, lalu kembali memukuli seluruh tubuhnya dengan gada.
Beberapa hari kemudian, Agatha Yi kembali dibawa keluar lalu dipukuli sampai tubuhnya berlumuran darah. Selama penyiksaan yang mengerikan ini, Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut wanita perkasa ini : “Saya tidak dapat mengkhianati Gereja.”
Komisaris segera menyadari bahwa dia tidak akan berhasil membuat kedua kakak beradik murtad. Karena itu ia lalu menyerahkan mereka ke pengadilan. Pengadilan kemudian memutuskan hukuman mati bagi Agatha dan adiknya Petrus Yi Ho Yong. Mereka menghabiskan waktu empat tahun di penjara sambil menunggu keputusan pelaksanaan hukuman mati oleh raja. Enam bulan setelah kematian Petrus Yi Ho-yong dalam penjara, perintah dari raja untuk pelaksanaan eksekusi mati akhirnya turun.
Pada tanggal 24 Mei 1839, Agatha Yi yang saat itu telah berusia lima puluh enam tahun, digiring keluar bersama dengan delapan martir Katolik lainnya yang tertangkap kemudian. Mereka semua dibawa ke sebelah luar Pintu Gerbang Kecil Barat Seoul lalu dieksekusi dengan cara dipenggal. Dikatakan bahwa Agatha Yi membuat tanda salib dengan hormat sebelum menyerahkan kepalanya untuk dipenggal.
Santa Agatha Yi So-Sa dibeatifikasi bersama Para Martir Korea oleh Paus Pius XI pada tanggal 5 Juli 1925 dan dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul, oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Berasal dari kata Yunani αγαθος (agathos) yang berarti : "Baik" atau "indah"
Santa Anna Pak A-gi
Santa Anna Pak A-gi lahir pada tahun 1783 dalam keluarga Katolik yang tinggal di sebuah desa kecil di tepi Sungai Han. Dia tidak terlalu pandai dan kesulitan belajar katekese dan melafalkan doa-doa dasar (yang pada masa itu masih diucapkan dalam bahasa Latin), namun dia mencintai Allah dengan sepenuh hati. Dia selalu berkata, “Saya tidak dapat mengenal Allah sebanyak yang saya inginkan namun saya dapat berusaha untuk mencintai Dia dengan sepenuh hati.”
Pada usia delapan belas tahun, dia menikah dengan Fransiskus T’ae Mun-haeong dan melahirkan baginya dua putra dan tiga putri. Dia membesarkan anak-anaknya dengan baik, mengajarkan mereka kebajikan iman. Keluarganya tidak kaya, namun berusaha untuk hidup dengan adil.
Anna Pak A-gi memiliki devosi khusus kepada Kisah Sengsara Tuhan dan dia merenungkan lima luka-Nya dengan air mata. Ketika mendengar ada umat Katolik yang ditangkap dan menderita karena disiksa, dia menjelaskan kepada anak-anaknya tentang para martir Kristus dan mengungkapkan harapannya untuk memperoleh mahkota Kemartiran.
Pada bulan Maret 1836, dia ditangkap bersama suami dan putra sulungnya, Ung-chon. Suami dan putranya tidak dapat menahan siksaan dan memutuskan untuk murtad. Berbeda dengan Anna. Walau sudah disiksa dengan mengerikan, imannya tidak pernah tergoyahkan. Baginya, rasa sakit akibat semua siksaan fisik yang dialami rasanya tidaklah seberapa dibandingkan sakit yang ia rasakan saat melihat suami dan putranya telah murtad.
Setelah bebas dengan menjual imannya, sang suami bersama puteranya kembali ke penjara setiap hari untuk membujuk Anna agar mengikuti jejak mereka. Ia menceriterakan tentang nasib keluarganya setelah ditinggal Anna, kecemasan ibu mertuanya yang sedang sakit, dan tangisan anak-anak yang masih kecil karena ibunya. Ceritera suaminya membawa penderitaan hebat bagi Anna Pak A-gi.
Sejenak imannya goyah. Terbayang dalam benaknya bila ia menyangkal Kristus, ia dapat kembali menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Ia dapat kembali menjadi seorang istri yang taat bagi suaminya dan menjadi seorang menantu yang berbakti bagi ibu mertuanya. Bila ia meninggalkan imannya, ia dapat membawa kembali kedamaian dan kebahagiaan kepada seluruh keluarga. Namun secara luar biasa Anna Pak A-gi dapat mengatasi godaan duniawi ini. Dengan bercucuran air mata Anna menolak permohonan keluarganya untuk murtad. Ia malahan memohon pada suami dan puteranya agar bertobat dari kemurtadan dan kembali menjadi pengikut Kristus yang setia.
Beberapa kerabatnya juga datang ke penjara dan membujuknya untuk murtad. Anna Pak A-gi mendengarkan mereka dan menjawab demikian, “Apakah sepadan memilih kematian kekal hanya agar dapat hidup beberapa hari lagi?. Daripada mendesak saya untuk murtad, lebih baik kalian bertobat. Kalian harus iri akan keberuntungan saya.”
Sipir penjara juga mendesak dia dengan berkata, “Suami dan putramu telah dibebaskan dan kembali ke rumah. Dengan hanya satu kata, kamu dapat berbuat yang sama. Kamu begitu keras hati sehingga tidak dapat digerakkan oleh permohonan mereka. Apakah kamu memiliki banyak nyawa?” Kemudian Anna Pak A-gi menjawab, “Kemurtadan suami dan putra saya adalah urusan mereka. Apa hubungannya dengan saya?. Walau mereka telah murtad! Saya memilih untuk mempertahankan iman saya dan mati untuk itu.”
Ia kemudian disiksa lagi dengan dipukuli sampai dagingnya lepas dan tulang-tulangnya terlihat. Namun Anna Pak A-gi tetap bertahan dan berlutut sambil berdoa. Akhirnya, sang komisaris menyadari bahwa mereka tidak akan dapat mematahkan iman wanita perkasa itu. Anna Pak A-gi lalu dipindahkan ke penjara yang lain. Di sana, dia kembali menjalani siksaan yang mengerikan.
Saat dalam persidangan, Hakim membujuknya untuk murtad; “Suami dan putramu telah dibebaskan. Dengan satu kata saja, kamu juga bebas seperti mereka.” Anna Pak A-gi menjawab, “Itu keinginan mereka sendiri. Keinginan saya adalah mati bagi Tuhan.”
Setelah tiga tahun di penjara, Anna Pak A-gi, yang saat itu berusia 57, tahun dijatuhi hukuman mati pada tanggal 10 Mei 1839 dengan tuduhan membaca buku-buku sesat dan gambar-gambar yang jahat. Ia dieksekusi bersama delapan martir Katolik lainnya pada hari Jumat tanggal 24 Mei 1839 di luar Pintu Gerbang Kecil Barat, Seoul Korea Selatan.
Santa Anna Pak A-gi dibeatifikasi bersama Para Martir Korea lainnya oleh Paus Pius XI pada tanggal 5 Juli 1925 dan dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Anna adalah nama versi Yunani dan Latin dari nama Ibrani חַנָּה (Channah) yang berarti "mendukung" atau "rahmat" atau “Berkat”
Santa Lusia Pak Hui-sun
Santa Lusia Pak Hui-sun adalah adik dari Santa Maria Pak K’un-agi. Mereka berasal dari keluarga kaya di kota Hanyang (Seoul). Pak Hui-sun terkenal akan kecantikannya. Pada usia dini ia telah dipanggil menjadi dayang-dayang bagi Permaisuri Kim Sunwon di istana kerajaan. Selain cantik dan menawan, Pak Hui-sun juga pintar dan terampil. Dia fasih berbahasa Korea dan Mandarin sehingga dengan cepat ia dipromosikan. Di sisi lain, kecantikannya juga menjadi sumber masalah. Saat Pak Hui-sun berumur lima belas tahun, Raja Sunjo (raja ke-23 Dinasti Joseon, Korea. Bertakhta sejak tahun 1800 sampai tahun 1834) yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun melihatnya dan segera tertarik pada kecantikannya. Sang raja lalu berusaha untuk merayunya.
Wanita istana biasanya akan menganggap hal ini sebagai suatu kehormatan dan kebanyakan dari mereka akan berusaha keras untuk menarik perhatian raja. Namun Pak Hui-sun menghormati sang Ratu dan tidak ingin menyakiti hatinya. Karena itu dengan keberanian yang luar biasa ia berhasil menghindar dari godaan raja Sunjo. Rumor tentang situasi itu sempat merebak keseluruh istana.
Ketika ia berusia tiga puluh tahun, Pak Hui-sun mendengar tentang Gereja Katolik untuk pertama kalinya. Jenuh dengan kehidupan di istana yang penuh intrik politik, ajaran iman Katolik yang baru dikenalnya menjadi cahaya yang menuntunnya menjalani kehidupan yang lebih baik. Dia ingin mempelajari lebih dalam tentang ajaran iman Katolik, namun aturan ketat dalam istana Kerajaan tidak memungkinkan nya untuk melakukan hal tersebut. Di masa itu, seorang dayang istana biasanya akan hidup selamanya dalam istana. Mereka hanya diperkenankan meninggalkan istana bila memiliki alasan yang sangat serius. Demi beroleh kesempatan mempelajari iman Kristiani, Pak Hui-sun berpura-pura sakit hingga diperbolehkan meninggalkan istana untuk menjalani perawatan.
Ayah Pak Hui-sun sangat marah dengan keputusan puterinya nya keluar dari istana. Ia bertambah murka setelah mengetahui alasan puteri kebanggaannya itu pergi dari istana, yaitu untuk mempelajari ajaran iman Katolik. Pak Hui-sun lalu diusir dari rumah dan terpaksa tinggal bersama dengan keponakannya. Disana Pak Hui-sun menolak semua kemegahan dan kemewahan serta memilih cara hidup yang sederhana. Teladan hidupnya yang kudus membuat keponakannya dan juga keluarga keponakannya tertarik akan ajaran iman Kristiani. Mereka ikut belajar katakese, lalu dibaptis bersama-sama. Pak Hui-sun memilih nama Babtis : Lusia.
Beberapa waktu kemudian, seorang saudarinya yang bernama Pak K’un-agi datang untuk tinggal di rumah tersebut. Tidak lama kemudian saudari ini juga dibabtis dengan nama Maria. Tidak diketahui latar belakang pertobatan Maria Pak K’un-agi. Namun tidak diragukan lagi, pertobatannya terjadi karena pengaruh adiknya Lusia.
Ketika penganiayaan terjadi, mereka berusaha untuk tenang dan tetap hidup bersama-sama. Pada tanggal 15 April 1839 polisi kerajaan mendatangi rumah mereka. Lusia Pak Hui-sun keluar menemui mereka dan mengundang para polisi itu untuk makan dan minum anggur. Kelurganya serta umat Katolik lainnya sangat terkejut akan sikapnya. Namun ia berkata dengan tenang, “Tidak akan terjadi sesuatu tanpa izin Tuhan. Jika ini adalah kehendak-NYA, maka marilah kita menerimanya dengan rela.”
Lusia Pak Hui-sun, kakaknya Maria Pak K’un-agi, dan umat Katolik lainnya lalu ditangkap dan digiring ke penjara. Mereka tahu betul bahwa mereka mungkin akan dianiaya dan dihukum mati, namun mereka sama sekali tidak merasa takut.
Berita penangkapan seorang wanita istana segera kemudian menyebar keseluruh wilayah kerajaan. Sebuah perintah dikeluarkan oleh istana, “Jika ditemukan bukti terhadap seorang mantan wanita istana, ataupun yang masih berstatus sebagai wanita istana, mereka harus ditangkap sesudah pemberitahuan kepada pihak istana.”
Karena Lusia Pak Hui-sun pernah menjadi seorang wanita istana, ia pun disiksa tanpa ampun. Komisaris polisi berteriak kepadanya, “Wanita istana lebih terdidik daripada wanita lainnya, bagaimana kamu bisa percaya akan agama palsu dan tercela ini?” Pak Hui-sun menjawab, “Kami tidak mempercayai agama ini sebagai agama palsu. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di langit dan di bumi dan telah memberikan kehidupan kepada manusia, sehingga layaklah untuk memuji dan menyembah Tuhan. Adalah suatu kewajiban bagi semua orang untuk memuliakan Tuhan.”
Sang komisaris lalu menatapnya dan berkata, “Tinggalkanlah Gereja Katolik, dan berikan nama-nama umat Katolik lainnya.” Lusia menjawab, “Tuhan adalah Penciptaku dan juga Bapaku, aku tidak dapat meninggalkan-NYA walau apapun yang akan terjadi. DIA juga melarang kita untuk membahayakan nyawa orang lain, karena itu saya tidak dapat memberitahukan nama umat beriman lainnya.” Komisaris segera menyadari bahwa dia tidak akan berhasil membujuk Lusia Pak Hui-sun. Karena itu ia mengembalikan Lusia ke penjara.
Di penjara, Lusia disiksa tiga kali lebih banyak dari umat Katolik yang lain. Ia dicambuk dengan tiga puluh cambukan setiap kali ia disiksa. Dagingnya terkoyak hingga tulang-tulangnya terlihat. Sebuah kakinya lalu dipukuli hingga patah dan ia roboh bermandikan darah. Lusia menyeka luka-lukanya dengan rambutnya sambil berkata, “Sekarang saya dapat sedikit merasakan rasa sakit yang diderita Tuhan Yesus dan Bunda Maria.”. Ia tetap tegar selama menjalani penyiksaan dan menolak untuk menunjukkan rasa sakitnya.
Beberapa hari kemudian, luka-luka disekujur tubuh wanita perkasa ini sembuh dengan sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Mujizat ini dalam beberapa hari dan membuat takjub semua orang dan menggentarkan hati para penjaga dan hakim. Mereka lalu mengaitkan mujizat ini dengan ilmu sihir.
Menyadari tidak ada harapan untuk membujuk para tahanan Kristen untuk mengakui kesalahan dan meninggalkan iman mereka, hakim lalu menjatuhkan hukuman mati kepada meraka. Catatan pengadilan mereka menyebutkan :
“Pak Hui-sun dan teman-temannya tetap bertahan dalam kesesatan mereka. Perbuatan mereka jahat dan tidak tulus. Perkataan mereka dan keheningan mereka semuanya adalah tahayul dan sihir. Dalam perkataan dan bahasa isyarat, mereka tidak melakukan apapun selain kutukan. Mereka menolak untuk menyesalinya dan oleh karena itu mereka pantas dihukum mati.”
Dalam penjara, Lusia Pak Hui-sun menjadi contoh seorang pengikut Kristus yang sejati. Ia menjadi guru katekese bagi para tahanan Kristen, menghibur mereka yang berduka dan menguatkan iman mereka di tengah kekhawatiran dan keraguan. Lusia sendiri dengan tabah mempersiapkan diri untuk menjalani hukuman mati. Dikatakan pada suatu hari ia pernah memanggil algojo dan berkata kepadanya, “Saya memiliki sebuah permintaan. Saat anda memenggal kepala saya, janganlah ragu. Lakukanlah dengan satu kali tebasan.”
Hukum Korea dimasa itu tidak memperbolehkan dua bersaudara untuk dieksekusi pada hari yang sama. Karena itu Lusia dan Maria akan dieksekusi pada waktu yang berbeda. Pada tanggal 24 Mei 1839, Lusia Pak Hui-sun yang saat itu berusia 39 tahun, bersama delapan martir Kristen lainnya digiring keluar penjara menuju Pintu Gerbang Kecil Barat kota Seoul untuk dieksekusi. Dia berpamitan kepada umat di penjara lalu berkata kepada para tahanan yang akan dieksekusi bersamanya; “Mari kita berjalan menuju kemartiran untuk mendapatkan kemuliaan di Surga.” Lusia terus melantunkan berdoa disepanjang jalan menuju tempat eksekusi. Ia tidak kehilangan ketenangannya dan menerima tebasan algojo dengan senyum kemenangan.
Empat bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 3 September 1839, kakaknya Maria Pak K’un-agi dieksekusi ditempat yang sama bersama Santa Barbara Kwon Hui dan beberapa martir lainnya. Mereka dibeatifikasi bersama Para Martir Korea lainnya pada tanggal 5 Juli 1925 oleh paus Pius XI, dan dikanonisasi bersama juga pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Diturunkan dari kata Latin : “Lux” yang berarti : “Cahaya”
Santa Magdalena Kim Ob-i
Santa Magdalena Kim Ob-i lahir pada tahun 1774 di kota Seoul. Ia dibabtis menjadi Katolik sejak kecil dan beranjak dewasa dengan iman yang kokoh. Seumur hidupnya ia selalu berupaya untuk menjalani hidup kudus sesuai ajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang wanita katolik sejati yang siap melayani Tuhan dengan cara terbaik dan selalu patuh pada hirarki Gereja.
Dimasa muda, Agatha memimpikan untuk mengucapkan kaul kemurnian namun impiannya tidak bisa terwujud. Kedua Orang tuanya yang bukan Katolik tidak bisa memahami niat mulianya itu. Magdalena muda tidak dapat menentang kehendak orang tuanya hingga akhirnya ia pun menikah. Rahmat Tuhan rupanya selalu menyertai Magdalena, suaminya adalah seorang Katolik begitu juga dengan para kerabatnya. Namun sayangnya, Magdalena kemudian kehilangan sang suaminya dan juga anak-anaknya.
Setelah kematian ibunya beberapa waktu kemudian, Magdalena lalu berkaul untuk menyerahkan sisa hidupnya bagi Tuhan. Ia banyak terlibat dalam berbagai di Gereja dan menjadi guru agama yang mengajar katekese kepada para tetangganya. Kepribadian Magdalena Kim Ob-i begitu menyenangkan sehingga banyak orang suka mendengarkan pelajaran agama darinya. Pada masa-masa inilah pemerintah Korea mulai menganiaya umat Katolik. Magdalena sama sekali tidak merasa gentar. Ia bertekad untuk menyerahkan hidupnya bagi bagi Gereja Kristus, bila diperlukan.
Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama pada bulan September 1836. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi ditangkap bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke tahanan pada hari yang sama.
Pada bulan September 1836 Santa Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi juga ditangkap saat bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke penjara bersama-sama.
Di penjara mereka berkumpul bersama beberapa umat Katolik yang telah ditangkap duluan. Mereka adalah Santo Damianus Nam Myong-hyok yang ditahan dengan tuduhan menyembunyikan jubah Uskup, Santo Petrus Kwon Tug-in yang dituduh menjual salib dan gambar-gambar suci, Santa Anna Pak A-gi yang tetap berada di penjara walaupun suami dan anaknya telah murtad, dan Santa Agatha Yi, kakak perempuan dari Santo Petrus Yi Ho-yong.
Setelah menjalani penyiksaan yang mengerikan, hukuman mati dijatuhkan kepada Damianus Nam Myong-hyok, Petrus Kwon Tug-in dan Anna Pak A-gi pada tanggal 11 Mei 1839. Pada hari berikutnya, Agustinus Yi Kwang-hon dan Lusia Pak Hui-sun juga dijatuhi hukuman mati. Tiga hari kemudian Magdalena Kim Ob-i, Barbara Han A-gi, dan Agatha Kim A-gi juga dihukum karena mempercayai iman Katolik dan menolak untuk murtad. Para pahlawan iman ini akan dieksekusi bersama-sama pada tanggal 24 mei 1839.
Proses eksekusi para martir ini di digambarkan oleh Santo Karolus Cho Shin-ch’ol sebagai berikut,
“Pada hari yang sudah ditentukan, sebuah gerobak sapi dengan palang yang lebih tinggi daripada tinggi rata-rata orang saat itu didirikan bagi mereka. Kemudian mereka dibawa keluar dari penjara. Ketika semuanya sudah siap, para penjaga membawa para tahanan dan mengikat tangan dan rambut mereka pada palang tersebut. Sebuah penahan kaki dipasangkan di kaki mereka dan sinyal keberangkatan dibunyikan. Ketika mereka tiba di bukit yang curam di mana Pintu Gerbang Kecil Barat berada, para penjaga tiba-tiba menarik penahan kaki mereka dan pengemudi gerobak memaksa sapi-sapi itu untuk berlari ke bawah. Jalannya kasar dan berbatu. Gerobak meluncur dan menyebabkan penderitaan hebat bagi para tahanan yang tangan dan rambut mereka digantung pada kayu palang itu. Di tempat eksekusi yang berada di kaki bukit. Para penjaga melepaskan para tahanan dari palang itu dan merobek pakaian mereka. Algojo mengikat rambut mereka pada balok kayu lalu mereka memenggal kepala mereka.”Di catatan pengadilan waktu itu tertulis sebagai berikut, “Pada tanggal 12 April, Agustinus Yi Kwang-hon, Petrus Kwon Tug-in dan yang lainnya, yang bukan penjahat, mereka semua dieksekusi karena mengikuti agama palsu.”
Uskup Imbert menulis tentang kemartiran mereka :
“Dengan susah-payah kami akhirnya bisa memperoleh jenazah mereka pada tanggal 27 April dini hari. Kami memakamkan jenazah para martir ini pada tempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Pada mulanya saya menginginkan jenazah mereka agar dipakaikan pakaian yang bagus dan diminyaki dengan parfum yang mahal, sesuai tata cara penguburan di Eropa. Namun kami hanyalah orang-orang miskin dan menguburkan mereka dengan cara demikian hanya akan membebani umat Katolik, sehingga kami hanya membungkus jenazah mereka dengan tikar jerami. Sekarang kami memiliki banyak pelindung dari surga. Ketika hari kebebasan beragama terwujud di Korea, sebagai mana kita tahu itu akan terjadi, jenazah mereka akan menjadi warisan iman yang berharga.”Santa Agatha Kim A-gi, Santa Magdalena Kim Ob-i, dan Santa Barbara Han A-gi dibeatifikasi pada tanggal 5 Juli 1925. Mereka dikanonisasi bersama 103 Martir Korea pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Magdalena bisa berarti "Menara yang tinggi" (Yunani), juga merupakan Nama sebuah desa di Palestina pada jaman Yesus (Magdala)
Santa Yoana
Istri pegawai Kerejaan Herodes ini kerapkali mendampingi para Rasul dan murid Yesus dalam tugasnya mewartakan Injil. Pada hari Paskah pagi, ia pergi ke makam Yesus. Namun makam itu tampak kosong dan ditinggalkan oleh Yang Bangkit diantara orang mati. (Luk 8:1-3 dst; 24:10)
Santo Agustinus Yi Kwang-Hon
Santo Agustinus Yi Kwang-hon lahir pada tahun 1787 di Kwangju, Gyeonggi-do Korea. Ia berasal dari keluarga bangsawan Kwangju Yi, yang mana pada masa penganiayaan tahun 1801, banyak anggota keluarga bangsawan ini yang gugur menjadi martir Kristus.
Agustinus Yi Kwang-hon bersama dengan adik laki-lakinya, Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol, istrinya Barbara Kwon Hui, dan juga putrinya Agatha Yi, empat anggota dalam satu keluarga ini juga memenangkan mahkota kemartiran dan menjadi menjadi saksi-saksi Kristus yang jaya.
Yi Kwang-hon dikenal sangat cerdas dan cakap dan diketahui pada masa mudanya ia kurang menahan diri dan terjerumus dalam pergaulan bebas. Pada masa ini, Raja Jeongjo (Raja ke-22 dari Dinasti Joseon) meninggal dunia dan digantikan oleh Pangeran Sun-jo yang saat itu masih berusia sebelas tahun. Pergantian kekuasaan ini memiliki dampak politik dimana kekuasaan berpindah-pindah dari satu fraksi ke fraksi lain. Gereja Katolik Korea yang baru saja bertumbuh terjebak dalam pertarungan politik dan penganiayaan terhadap Gereja mulai terjadi pada tahun 1801. Di Tahun itu Gereja Katolik dinyatakan sebagai ajaran yang salah dan terlarang di seluruh wilayah kerajaan. Penganiayaan dimulai dan darah para martir Kristus pun mengalir di tanah Korea.
Pada waktu itu, Yi Kwang-hon berusia tiga puluh tahun dan sudah menikah dengan Kwon Hui selama beberapa tahun. Kebiasaannya untuk keluyuran dan hidup bebas masih belum berubah. Suatu hari, dia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang Katolik yang saleh. Dari orang itulah pertama kalinya dia mendengar tentang Kristus dan iman Kristiani. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yi Kwang-hon merenungkan bahwa Tuhan yang memiliki segala sesuatu di Surga dan bumi itu ada, dan juga Tuhan yang Mahatahu dan Mahakuasa serta menjadi Bapa bagi semua orang. Dan ketika manusia meninggal, tubuhnya kembali menjadi debu, namun jiwanya akan tetap hidup.
Mendalami ajaran Kristiani membuat Yi Kwang-hon merasa bagai dilahirkan kembali. Dia kini dapat melihat pola hidupnya selama ini yang tidak lebih baik daripada seekor binatang buas. Dia merasa menyesal akan dosa masa lalunya dan berharap dapat meneladani hidup Santo Agustinus yang pernah menjalani kehidupan yang bebas dan penuh dosa di masa muda sebelum akhirnya bertobat. Setelah belajar katekese selama beberapa waktu, Yi Kwang-hon kemudian dibabtis dengan nama Agustinus.
Hidup Agustinus Yi Kwang-Hon pun berubah. Ia berhenti minum anggur dan jarang meninggalkan rumah. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan merenung sendirian. Suatu hari, dia memanggil istri bersama adiknya, lalu berkata kepada mereka,
"Beberapa waktu yang lalu saya mendengar tentang Gereja Katolik. Pemerintah telah menyatakan ajaran ini sebagai ajaran terlarang. Tetapi menurut saya, ajaran iman Katolik membuat yang lain (kehidupan duniawi) tampak tiada berarti. Sama seperti adanya matahari dan bulan, dibalik itu semua terdapat Tuhan yang sejati. Karena itu daripada saya mempercayai ajaran ini sendirian, betapa baiknya jika istri dan saudara lelaki saya juga ikut percaya bersama saya. Bagaimana menurut kalian.? "
Istri dan adiknya pernah mendengar tentang Gereja Katolik, dan mereka setuju untuk bergabung dengannya. Masing-masing mereka kemudian dibabtis dengan nama Barbara dan Yohanes Pembabtis. Rumah keluarga bangsawan ini kemudian digunakan sebagai tempat berkumpul bagi umat Katolik dan Agustinus menjadi seorang katekis. Bersama dengan istrinya Barbara, Agustinus berusaha keras memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-NYA dan sekuat tenaga memelihara komunitas umat Katolik di lingkungan mereka.
Sementara itu, tekanan politik semakin memuncak dan penganiayaan atas umat Katolik semakin sering terjadi. Pada malam hari tanggal 7 April 1839, tiba-tiba polisi mengepung sebuah penginapan di seberang rumah di mana para misionaris biasanya tinggal. Banyak umat Katolik yang ada di penginapan itu ditangkap dan dibawa ke penjara. Diantara mereka terdapat seorang wanita yang suaminya masih seorang katekumen, yang tahu banyak tentang umat Katolik diwilayah itu. Mendengar tentang penangkapan istrinya, sang suami bergegas ke kantor polisi dan meminta istrinya untuk murtad agar bisa dibebaskan. Namun sang istri dengan tegas menolak untuk menyangkal imannya. Suaminya menjadi marah lalu membeberkan kepada polisi semua informasi yang ia ketahui tentang umat Katolik termasuk nama lima puluh tiga umat Katolik di wilayah itu.
Berbekal informasi ini, polisi segera melakukan penangkapan dihari berikutnya. Tanggal 8 April rumah Damianus Nam myong-hyok dan Agustinus Yi Kwang-hon digrebek. Agustinus beserta istrinya Barbara Kwon Hui, putri mereka Agatha Yi yang masih berusia tujuh belas tahun, serta dua putra mereka yang masih kecil-kecil, ditangkap bersama puluhan umat Katolik lainnya. Mereka kemudian dibawa ke penjara.
Para pria dimasukkan dalam satu sel penjara, para wanita di sel lainnya, dan anak-anak didalam sel ketiga. Ketika putra Agustinus Yi Kwang-hon yang masih berusia delapan tahun menangis karena ingin bersama dengan kedua orang tuanya, salah seorang penjaga lalu memukulinya. Barbara Kwon Hui pun meradang melihat puteranya dipukuli. “Apa kesalahan yang telah anak itu lakukan sehingga anda memukulinya?” Teriaknya sengit. “Apakah anda sendiri tidak memiliki anak?”.
Tetapi Agustinus menenangkannya, “Bersabarlah”, kata Agustinus. “Kita ini adalah anak domba persembahan bagi Allah. Janganlah kita kehilangan kesempatan ini.” Sejak saat itu, Barbara Kwon Hui menjadi lebih sabar dan tabah. Ia menerima segala perlakuan kasar terhadap dirinya dan mengangapnya sebagai rahmat.
Para tahanan diinterogasi pada pagi hari berikutnya. Agustinus Yi Kwang-hon menjadi orang pertama yang dipanggil. Penjaga berkata kepadanya, “Dengan satu kata dari mulutmu untuk mengkhianati Allah, maka kamu, istrimu, anak-anakmu juga adikmu dapat dibebaskan, dan juga seluruh milikmu akan dikembalikan,”. Namun Agustinus menjawab, “Hal yang paling penting bagi saya di dunia ini adalah iman saya. Bahkan jika saya harus kehilangan segalanya, saya tidak dapat mengkhianati Allah.”
Ketika istrinya Barbara dan putrinya Agatha dipanggil, jawaban mereka juga sama. Hal ini membuat komisaris menjadi sangat marah dan memerintahkan agar bangsawan Agustinus Yi Kwang-hon disiksa dengan keji. Agustinus dibawa ketempat penyiksaan lalu dipukuli dengan gada sampai sebagian besar daging di tubuhnya hancur bagaikan bubur. Namun dengan iman yang tak tergoyahkan, Agustinus menerima semua siksaan ini dengan tabah dan penuh rasa syukur. Ia mengucap syukur karena demi imannya, ia boleh menderita sengsara seperti yang dialami Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju bukit kalvari.
Setelah melalui tiga hari persidangan, hakim lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Agustinus Yi Kwan-Hon dan delapan tahanan Katolik lainnya. Pada tanggal 24 mei 1839, Agustinus Yi Kwang-hon yang saat itu berusia 53 tahun; dieksekusi bersama delapan orang martir Kristus lainnya. Para pahlawan iman ini tewas dipenggal di luar Pintu Gerbang Kecil Barat di pusat kota Seoul.
Pada tanggal 20 Juli 1839, Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol bersama dengan tujuh orang umat Katolik lainnya, dipenggal di Pintu Gerbang Kecil Barat kota Seoul. Pada saat itu Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol berusia 45 tahun. Pada tanggal 3 September 1839, Barbara Kwon Hui bersama dengan lima orang wanita Katolik lainnya dipenggal ditempat yang sama. Pada 9 Januari 1840, puteri Agustinus dan Barbara yaitu Agatha Yi bersama dengan Teresia Kim tewas dicekik penyidik dalam sebuah interogasi di sel tahanan.
Dengan demikian, empat anggota keluarga Agustinus Yi Kwang-Ho telah memenangkan mahkota kemartiran. Mereka dibeatifikasi bersama para Martir Korea lainnya pada tanggal 5 Juli 1925 oleh paus Pius XI, dan dikanonisasi bersama juga pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Agustinus = Penuh Keagungan (Latin)
Santo Damianus Nam Myong-hyok
Damianus Nam Myong-hyok lahir pada tahun 1802 dalam sebuah keluarga bangsawan. Ia mengenal iman Kristiani pada usia 30 tahun dan dibabtis oleh Pasifikus Yu Pang-je, seorang imam dari Tiongkok yang diutus ke Korea oleh Uskup Beijing. Pasifikus Yu Pang-je adalah imam kedua yang bertugas di Korea. Ia tiba di Korea pada bulan Januari 1834 dan menjadi satu-satunya imam yang bertugas di semenanjung Korea setelah Beato Yakobus Zhou Wen-mo, Imam pertama yang diutus ke Korea, tewas menjadi martir pada tahun 1801.
Damianus menjadi seorang katekis dan mengajar banyak orang di rumahnya. Dia juga berkarya merawat para tetangganya dan orang-orang sakit. Diketahui ia selalu berusaha membaptis anak-anak dari keluarga pagan yang berada dalam bahaya kematian (Babtisan Darurat). Orang-orang menghormatinya. Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya tentang nama panggilan yang ia inginkan dalam kehidupan kekal. Damianus berkata, “Saya ingin dipanggil Damianus Nam, martir dan anggota Serikat Skapulir Suci.”
Diawal tahun 1839, penganiayaan atas umat Katolik di Korea dimulai. Pada malam hari tanggal 7 April 1839, polisi menangkap umat Katolik yang berada di sebuah penginapan. Diantara mereka yang ditangkap terdapat seorang wanita yang suaminya masih seorang katekumen, dan tahu banyak tentang umat Katolik diwilayah itu. Mendengar tentang penangkapan istrinya, orang itu bergegas ke kantor polisi dan meminta istrinya untuk murtad supaya bisa dibebaskan. Namun sang istri dengan tegas menolak untuk menyangkal imannya. Suaminya menjadi marah lalu membeberkan kepada polisi semua informasi yang ia ketahui tentang 53 orang umat Katolik di wilayah itu, termasuk katekis Agustinus Yi Kwang-hon dan Damianus Nam. Berbekal informasi ini, polisi kembali melakukan penangkapan dihari berikutnya. Tanggal 8 April 1839 Damianus Nam myong-hyok dan Agustinus Yi Kwang-hon ditangkap bersama dengan keluarga mereka. Jubah, mitra dan buku brevir milik Uskup Joseph Imbert (Santo Laurent-Joseph-Marius Imbert, MEP), yang disimpan oleh Damianus jatuh ke tangan para penangkapnya.
Damianus diinterogasi dengan kejam karena barang-barang milik Uskup Imbert. Demi melindungi uskup misionaris dari Perancis itu, Damianus mengatakan bahwa barang-barang itu adalah milik Pastor Yakobus Zhou Wen-mo yang telah menjadi martir pada tahun 1801. Kepala polisi sebenarnya mengetahui bahwa Damianus berbohong, namun ia berpura-pura percaya pada apa yang dikatakannya demi menghindari masalah besar yang akan terjadi apabila ia menangkap orang asing. Kepala polisi lalu menginterogasi Damianus dengan lebih kejam. “Kamu memberi keterangan palsu!”. Teriaknya pada Damianus. “Jubah dan mitra uskup ini masih baru. Bagaimana mungkin benda-benda ini menjadi milik seorang yang sudah meninggal 40 tahun yang lalu?”.
Karena Damianus menolak menyangkal imannya dan tetap tidak mau memberitahukan nama-nama umat Katolik lainnya, dia kembali disiksa dengan kejam. Sekujur tubuhnya dipukuli hingga tulang-tulang nya patah dan ia tidak sadarkan diri selama empat hari. Namun, syukur kepada Allah, kesadarannya pulih kembali.
Setelah melalui persidangan, Damianus dijatuhi hukuman mati. Ia sempat menulis sepucuk surat bagi istrinya menjelang pelaksanaan hukuman mati; "Dunia ini hanyalah sebuah persinggahan yang kita lewati. Rumah kita yang sebenarnya adalah Surga. Ikutilah aku dan jadilah seorang martir. Aku berharap kita bisa bertemu lagi dalam Kerajaan Mulia yang Kekal,".
Pada hari Jumat tanggal 24 Mei 1839, Damianus, yang saat itu telah berusia 38 tahun, dibawa keluar Pintu Gerbang Kecil Barat Kota Seoul bersama delapan umat Katolik lainnya. Mereka lalu dieksekusi mati dengan cara dipenggal. Manurut para saksi mata, Damianus tidak pernah berhenti berdoa sampai kepalanya lepas dari tubuhnya.
Santo Damianus Nam Myong-hyok dibeatifikasi bersama para Martir Korea lainnya pada tanggal 5 Juli 1925 oleh paus Pius XI, dan dikanonisasi bersama pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Damianus = Ejaan Latin untuk nama Yunani : Δαμιανος (Damianos).
Diturunkan dari kata Yunani δαμαω (damao) yang berarti "Menenangkan".
Santo David I dari Scotlandia
David dilahirkan pada tahun 1080. Ia adalah putera bungsu St.Margareta, ratu Skotlandia, dan suaminya yang baik, Raja Malcolm. David sendiri diangkat menjadi raja ketika usianya empat puluh tahun. Mereka yang mengenalnya dengan baik tahu betapa sedikit minatnya dalam menerima mahkota kerajaan. Tetapi, begitu ia menjadi raja, ia menjadi seorang raja yang sangat baik bagi rakyatnya.
St. David memerintah kerajaannya dengan adil dan bijaksana. Ia amat murah hati pada kaum miskin. Semua rakyatnya diijinkan menemuinya kapan saja mereka kehendaki. Ia memberikan teladan baik pada semua orang dengan teladan cintanya akan doa. Di bawah pemerintahan raja kudus ini, rakyat Skotlandia semakin bersatu padu sebagai suatu bangsa. Mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih baik. Raja David membentuk keuskupan-keuskupan baru. Ia mendirikan banyak biara-biara baru. Ia menyumbangkan banyak dana bagi Gereja selama dua puluh tahun masa pemerintahannya.
Dua hari sebelum raja mangkat, ia menerima Sakramen Terakhir. Ia menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan berdoa bersama mereka yang menemaninya. Keesokan harinya, mereka mendesak raja untuk beristirahat. Raja David menjawab, “Lebih baik aku memikirkan perkara-perkara Tuhan, agar jiwaku diperkuat dalam perjalanan pulangnya dari pembuangan ke rumah.” Rumah yang dimaksud raja adalah rumah surgawi kita. “Apabila aku berada di hadapan pengadilan Tuhan, kalian tidak akan dapat membelaku,” katanya. “Tak seorang pun akan dapat membebaskanku dari tangan-Nya.” Jadi, ia tetap terus berdoa hingga ajal menjemputnya. St. David wafat pada tanggal 24 Mei 1153
Arti nama
Berasal dari nama Ibrani דָּוִד (Dawid), yang mungkin diturunkan dari kata דוד (dwd) yang berarti "yang terkasih" atau "yang dikasihi"
Santo Petrus Kwon Tug-in
Petrus Kwon Tug-in adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir pada tahun 1805 di Seoul, di sebuah keluarga Katolik. Ketika dia masih kecil, ayahnya meninggal. Ibunya seorang Katolik yang saleh, dia juga meninggal ketika Petrus Kwon berusia 16 tahun. Ibunya adalah seorang teladan yang baik yang membuat dia menjadi seorang Katolik yang luar biasa. Dia bangun sebelum ayam pertama kali berkokok dan dia berdoa sampai fajar menyingsing. Dia dikenal sebagai seorang yang baik kepada semua orang.
Setelah ibunya meninggal, dia menikah. Pertama kali dia bekerja di sebuah toko obat herbal kepunyaan saudaranya, namun kemudian dia memiliki usaha kecil sebagai mata pencahariannya. Dia seorang yang miskin, namun dia tidak pernah mengeluh. Setelah dia pindah ke tempat lain, dia membuat salib dan medali suci bukan hanya sebagai mata pencahariannya namun juga untuk biaya Gereja.
Ketika penganiayaan dimulai pada tahun 1839, dia ditangkap bersama dengan keluarganya pada tanggal 16 Januari. Petrus menunjukkan rosarionya kepada para penangkap dalam upaya memberitahukan mereka bahwa dia dan keluarganya semua adalah orang Katolik. Oleh karena itu, mereka menjadi keluarga pertama yang ditangkap ketika penganiayaan tahun 1839. Uskup Imbert yang berada di dekat Suwon, diberitahukan tentang penangkapan itu dan beliau kembali ke Seoul untuk menghibur dan menguatkan umat Katolik yang ketakutan.
Mereka diselidiki dan disiksa dengan berbagai cara. Istri Petrus dan saudara iparnya, tidak dapat menahan siksaan, sehingga mereka menyangkal imannya dan kemudian mereka dibebaskan. Petrus yang masih berada di penjara, menulis surat untuk mereka supaya mereka mengubah pikiran mereka. Berdasarkan kesaksian menantu perempuannya yaitu Agatha Yi, istrinya mengakui kesalahan dan kemurtadannya dan kemudian dia menyesalinya.
Petrus diinterogasi dengan kejam oleh kepala polisi.
“Mengapa kamu percaya akan agama Katolik?”
“Kita semua harus bersyukur kepada Allah, Sang Pencipta malaikat, manusia dan segala sesuatu yang ada di bumi. Setiap orang harus menyembah Dia.”
“Beritahu nama-nama sesamamu umat Katolik.”
“Saya tidak dapat melakukannya karena agama saya mengajarkan untuk tidak melakukan hal membahayakan orang lain.”
Petrus disiksa dengan kejam, dan kepala polisi memerintahkan sesama tahanan yang bersama dia mumukulinya. Mereka memukuli Petrus dengan kejam sehingga dia hampit mati yang kedua kalinya. Berdasarkan catatan Pengadilan Penjara, salah satu alasan hukuman matinya adalah Petrus telah membuat dan menjual artikel keagamaan.
Akhirnya Petrus dipenggal di luar Pintu Gerbang Kecil Barat pada tanggal 24 Mei 1839, bersama dengan delapan orang umat Katolik lainnya, dan dia waktu itu berusia 35 tahun. Dikatakan, wajahnya tersenyum dengan misterius bahkan setelah kepalanya dipenggal.
Arti nama
Petrus : Berasal dari bahasa Yunani Πετρος (Petros) yang berarti "batu". Ini adalah terjemahan yang digunakan dalam kitab Perjanjian Baru untuk nama Aramiac : Cephas (Kefas), yang juga berarti "batu" (Yoh 1:42).
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari