Doa Katolik
Hari Raya

Pentakosta

Minggu, 24 Mei 2037· Merah · Pekan Psalterium IV
24 Mei 2037

Bacaan Misa

Pentakosta

Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.

Bacaan Pertama
Kis. 2:1-11

Mereka penuh dengan Roh Kudus dan mulai berbicara.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang yang percaya akan Yesus berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka, penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diilhamkan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem berkumpul orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena masing-masing mendengar rasul-rasul itu berbicara dalam bahasa mereka. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah semua yang berbicara itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita? Kita orang Partia, Media, Elam, kita penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi mau-pun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab; kita semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah.”

Mazmur Tanggapan (PS 040)

Refren: Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan dan jadi baru seluruh muka bumi.

Allahku, nama-Mu hendak kupuji, Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran.

Ya Tuhan, berselubungkan cahaya, bagai jubah raja, langit kaupasang bagai kemah.

Firman-Mu disampaikan oleh angin, api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba.

A

Bacaan Kedua
1 Kor. 12:3b-7.12-13

Kita semua telah dibaptis dalam Roh Kudus menjadi satu tubuh.

Saudara-saudara, tidak seorang pun dapat mengaku, “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Ada rupa-rupa karunia, tetapi hanya ada satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu; Dialah yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab kita semua, baik Yahudi maupun Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis dalam satu Roh menjadi satu tubuh, dan kita semua diberi minum dari satu Roh.

Bait Pengantar Injil

Alleluya, alleluya.

Datanglah, hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka.

Alleluya, alleluya.

Bacaan Injil
Yoh. 20:19-23

Seperti Bapa telah mengutus Aku, kini Aku mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus.

Setelah Yesus disalibkan, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di satu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka, kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikan, Yesus menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Inilah Injil Tuhan kita!

Invitatorium

Pentakosta

Pembukaan

AntifonAlleluya. Marilah kita menyembah Roh Tuhan, yang memenuhi seluruh bumi, alleluya.

Mazmur 94 (95)

Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan,
bersorak-sorai bagi penyelamat kita.
Menghadap wajahNya dengan lagu syukur,
menghormatiNya dengan pujian.

Tuhanlah Allah yang agung,
merajai segala dewa.
Dasar bumi terletak di tanganNya,
puncak gunungpun milikNya.
MilikNyalah laut, Dia membuatnya,
daratanpun buatan tanganNya.

Mari bersujud dan menyembah,
berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita.
Dialah Allah kita, kita umatNya,
Dialah gembala kita, kita kawananNya.

Hari ini dengarkanlah suaraNya:
"Jangan bertegar hati seperti di Meriba,
seperti di Masa, di padang gurun;
ketika leluhurmu mencobai Aku,
walau menyaksikan karya Ku yang agung.

Empat puluh tahun Aku muak akan mereka itu;
maka Aku berkata: Umat ini tersesat hatinya,
mereka tidak mengerti maksud bimbinganKu.
Sebab itu Aku bersumpah dalam murkaKu:
Mereka takkan beristirahat bersama Aku."

AntifonAlleluya. Marilah kita menyembah Roh Tuhan, yang memenuhi seluruh bumi, alleluya.

Ibadat Bacaan

Pentakosta

Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.

Pembukaan

℣.Ya Allah, datanglah menolongku.
℟.Tuhan, bersegeralah menolongku.

Kemuliaan kepada Bapa, dan kepada Putra, dan kepada Roh Kudus:
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Madah

Pada hari ini, hari pertama,

Nama Allah Bapa kita puji;

Yang, Tuhan dan sumber ciptaan,

Membawa dunia dari kegelapan.
Pada hari ini Putra yang kekal

Mengalahkan maut dengan kemenangan-Nya;

Pada hari ini Roh datang

Dengan karunia api yang hidup.
Bapa, yang membentuk manusia

Serupa dengan-Mu dalam rencana kasih-Mu,

Penuhilah kami dengan kasih ilahi itu,

Dan sesuaikanlah kehendak kami dengan kehendak-Mu.
Sabda yang menjadi daging, salam bagi-Mu!

Engkau telah membebaskan kami dari dosa,

Dan bersama-Mu kami mati dan bangkit

Kepada Allah dalam kurban.
Roh Kudus, Engkau menganugerahkan

Karunia kasih kepada setiap hati;

Berilah kami terang dan rahmat, kami mohon,

Penuhilah hati kami pada hari kudus ini.
Allah, Tritunggal Mahakudus,

Terlaksanalah kehendak-Mu yang kudus;

Dalam sabda-Mu jiwa kami bebas.

Dan kami beristirahat pada hari ini bersama-Mu.

Antifon 1Roh berembus ke mana Ia kehendaki; engkau mendengar suara-Nya, tetapi tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi, alleluya.

Mazmur 103 (104)

Nyanyian Pujian kepada Allah Pencipta

Berada dalam Kristus berarti menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Segala yang lama telah lenyap, kini segala sesuatu dijadikan baru (2 Korintus 5:17).

I
Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

Tuhan Allah, betapa agung Engkau,

berpakaian keagungan dan kemuliaan,

diselubungi terang seperti jubah!
Engkau membentangkan langit seperti tenda.

Di atas hujan Engkau membangun kediaman-Mu.

Engkau menjadikan awan kereta-Mu,

Engkau berjalan di atas sayap angin,

Engkau menjadikan angin utusan-Mu

dan api yang menyala hamba-Mu.
Engkau mendirikan bumi di atas dasarnya,

agar teguh dari abad ke abad.

Engkau melingkupinya dengan samudra seperti jubah:

air berdiri lebih tinggi dari gunung-gunung.
Atas ancaman-Mu mereka melarikan diri;

atas suara guntur-Mu mereka lari.

Mereka naik di atas gunung-gunung dan mengalir turun

ke tempat yang telah Engkau tetapkan.

Engkau menetapkan batas yang tidak boleh mereka lewati

agar mereka tidak kembali menutupi bumi.
Engkau membuat mata air memancar di lembah-lembah;

mereka mengalir di antara bukit-bukit.

Mereka memberi minum semua binatang di padang;

keledai liar memuaskan dahaga mereka.

Di tepi-tepi mereka berdiam burung-burung di langit;

dari dahan-dahan mereka menyanyikan lagu mereka.
Kemuliaan kepada Bapa, dan kepada Putra, dan kepada Roh Kudus:

℟ seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

AntifonRoh berembus ke mana Ia kehendaki; engkau mendengar suara-Nya, tetapi tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi, alleluya.

Antifon 2Tiba-tiba dari langit terdengar bunyi angin kencang, alleluya.

II
Dari kediaman-Mu Engkau menyirami bukit-bukit;

bumi minum sampai kenyang dari karunia-Mu.

Engkau menumbuhkan rumput untuk ternak

dan tanaman untuk memenuhi kebutuhan manusia,
agar ia dapat menghasilkan roti dari bumi

dan anggur untuk menyukakan hati manusia;

minyak, untuk membuatnya gembira

dan roti untuk menguatkan hati manusia.
Pohon-pohon Tuhan minum sampai kenyang,

pohon-pohon aras yang ditanam-Nya di Lebanon;

di sana burung-burung membangun sarang mereka;

di puncak pohon bangau memiliki rumahnya.

Kambing-kambing menemukan rumah di gunung-gunung

dan kelinci bersembunyi di bebatuan.
Engkau membuat bulan untuk menandai bulan-bulan;

matahari tahu waktu terbenamnya.

Ketika Engkau menyebarkan kegelapan, itu adalah malam

dan semua binatang hutan merayap keluar.

Singa-singa muda mengaum mencari mangsanya

dan meminta makanan mereka dari Allah.
Saat matahari terbit mereka menyelinap pergi

dan pergi beristirahat di sarang mereka.

Manusia pergi bekerja,

bekerja sampai malam tiba.
Kemuliaan kepada Bapa, dan kepada Putra, dan kepada Roh Kudus:

℟ seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

AntifonTiba-tiba dari langit terdengar bunyi angin kencang, alleluya.

Antifon 3Utuslah Roh-Mu dan mereka akan diciptakan; dan Engkau akan memperbarui muka bumi, alleluya.

III
Betapa banyak karya-Mu, ya Tuhan!

Dalam hikmat Engkau telah membuat semuanya.

Bumi penuh dengan kekayaan-Mu.
Ada laut, luas dan lebar,

dengan gerombolan yang bergerak tak terhitung,

makhluk hidup besar dan kecil.

Kapal-kapal bergerak di sana

dan monster-monster yang Engkau buat untuk bermain.
Semua ini memandang kepada-Mu

untuk memberi mereka makanan pada waktunya.

Engkau memberikannya, mereka mengumpulkannya:

Engkau membuka tangan-Mu, mereka kenyang.
Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut;

Engkau mengambil kembali roh-Mu, mereka mati,

kembali ke debu dari mana mereka berasal.

Engkau mengutus roh-Mu, mereka diciptakan;

dan Engkau memperbarui muka bumi.
Semoga kemuliaan Tuhan kekal selamanya!

Semoga Tuhan bersukacita dalam karya-karya-Nya!

Ia memandang bumi dan bumi gemetar;

gunung-gunung mengeluarkan asap saat disentuh-Nya.
Aku akan bernyanyi bagi Tuhan sepanjang hidupku,

membuat musik bagi Allahku selama aku hidup.

Semoga pikiran-pikiranku menyenangkan bagi-Nya.

Aku menemukan sukacitaku dalam Tuhan.

Biarlah orang-orang berdosa lenyap dari bumi

dan orang-orang fasik tidak ada lagi.
Pujilah Tuhan, hai jiwaku.
Kemuliaan kepada Bapa, dan kepada Putra, dan kepada Roh Kudus:

℟ seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

AntifonUtuslah Roh-Mu dan mereka akan diciptakan; dan Engkau akan memperbarui muka bumi, alleluya.

Hening Suci (ditandai dengan lonceng) – saat untuk merenung dan menerima dalam hati kita resonansi penuh suara Roh Kudus dan untuk menyatukan doa pribadi kita lebih erat dengan sabda Allah dan suara publik Gereja.
Roh Tuhan telah memenuhi seluruh dunia, alleluya.

℟ Ia menopang seluruh ciptaan dan mengetahui setiap perkataan yang diucapkan, alleluya.
Bacaan Pertama

Dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma

8:5-27

Semua yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah
Mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging, mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari roh. Keinginan daging menuju kematian, tetapi keinginan roh menuju hidup dan damai sejahtera. Daging dalam keinginannya memusuhi Allah; ia tidak tunduk kepada hukum Allah. Memang tidak dapat; mereka yang hidup dalam daging tidak dapat menyenangkan Allah.
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging; kamu hidup dalam roh, karena Roh Allah diam di dalam kamu. Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Jika Kristus ada di dalam kamu, tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh hidup karena kebenaran. Jika Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu, maka Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana, melalui Roh-Nya yang diam di dalam kamu.
Maka, saudara-saudaraku, kita berutang—tetapi bukan kepada daging, sehingga kita harus hidup menurut daging. Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan jahat tubuh, kamu akan hidup.
Semua yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah. Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu takut lagi, tetapi kamu menerima Roh pengangkatan sebagai anak, yang olehnya kita berseru, “Abba!” (yaitu, “Bapa”). Roh itu sendiri bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak-anak, maka kita juga adalah ahli waris: ahli waris Allah, ahli waris bersama Kristus, jika saja kita menderita bersama Dia agar kita juga dimuliakan bersama Dia.
Aku menganggap penderitaan zaman sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Memang, seluruh ciptaan dengan rindu menantikan penyataan anak-anak Allah. Sebab ciptaan telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan oleh Dia yang menaklukkannya; namun tidak tanpa harapan, karena ciptaan itu sendiri akan dibebaskan dari perbudakannya kepada kebinasaan dan akan turut serta dalam kemerdekaan mulia anak-anak Allah. Ya, kita tahu bahwa seluruh ciptaan mengeluh dan menderita sakit bersalin sampai sekarang. Bukan hanya itu, tetapi kita sendiri, meskipun kita memiliki Roh sebagai buah sulung, mengeluh dalam hati sambil menantikan penebusan tubuh kita. Dalam pengharapan kita diselamatkan. Tetapi pengharapan bukanlah pengharapan jika objeknya terlihat; bagaimana mungkin seseorang mengharapkan apa yang dilihatnya? Dan mengharapkan apa yang tidak dapat kita lihat berarti menantikannya dengan ketekunan yang sabar.
Roh juga menolong kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa; tetapi Roh itu sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dia yang menyelidiki hati tahu apa maksud Roh, sebab Roh berdoa untuk orang-orang kudus sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Responsorium Galatia 4:6; 3:26; 2 Timotius 1:7

Karena kamu semua adalah anak-anak Allah melalui imanmu kepada Kristus Yesus,

℟ Allah telah mengutus Roh Putra-Nya ke dalam hatimu, yang berseru: Abba, Bapa, alleluya.
Tuhan tidak memberi kita roh yang penakut, melainkan roh kekuatan, kasih, dan pengendalian diri.

℟ Allah telah mengutus Roh Putra-Nya ke dalam hatimu, yang berseru: Abba, Bapa, alleluya.
Bacaan Kedua

Dari risalah Melawan Ajaran Sesat oleh Santo Ireneus, uskup

Pengutusan Roh Kudus
Ketika Tuhan menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi dan mengajar semua bangsa serta membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Ia menganugerahkan kepada mereka kuasa untuk memberikan hidup baru dalam Allah kepada manusia.
Ia telah berjanji melalui para nabi bahwa pada hari-hari terakhir ini Ia akan mencurahkan Roh-Nya ke atas hamba-hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, dan bahwa mereka akan bernubuat. Maka, ketika Putra Allah menjadi Putra Manusia, Roh juga turun ke atas-Nya, dengan cara ini membiasakan diri untuk berdiam bersama umat manusia, untuk hidup dalam diri manusia dan untuk mendiami ciptaan Allah. Roh melaksanakan kehendak Bapa dalam diri manusia yang telah tua dalam dosa, dan memberi mereka hidup baru dalam Kristus. Lukas mengatakan bahwa Roh turun ke atas para murid pada hari Pentakosta, setelah kenaikan Tuhan, dengan kuasa untuk membuka gerbang kehidupan bagi semua bangsa dan untuk memberitahukan kepada mereka perjanjian baru. Demikianlah, orang-orang dari setiap bahasa bersatu dalam menyanyikan satu lagu pujian kepada Allah, dan suku-suku yang tercerai-berai, dipulihkan menjadi satu oleh Roh, dipersembahkan kepada Bapa sebagai buah sulung dari semua bangsa.
Inilah sebabnya Tuhan telah berjanji untuk mengutus Sang Penghibur: Ia akan mempersiapkan kita sebagai persembahan kepada Allah. Seperti tepung kering, yang tidak dapat menjadi satu gumpalan adonan, satu roti, tanpa kelembaban, kita yang banyak ini tidak dapat menjadi satu dalam Kristus Yesus tanpa air yang turun dari surga. Dan seperti tanah kering, yang tidak menghasilkan panen kecuali menerima kelembaban, kita yang dulunya seperti pohon tanpa air tidak akan pernah bisa hidup dan berbuah tanpa curah hujan yang melimpah dari atas ini. Melalui baptisan yang membebaskan kita dari perubahan dan kebusukan, kita telah menjadi satu dalam tubuh; melalui Roh kita telah menjadi satu dalam jiwa.
Roh hikmat dan pengertian, Roh nasihat dan kekuatan, Roh pengetahuan dan takut akan Allah turun ke atas Tuhan, dan Tuhan pada gilirannya memberikan Roh ini kepada Gereja-Nya, mengutus Sang Penghibur dari surga ke seluruh dunia di mana, menurut perkataan-Nya sendiri, iblis juga telah dilemparkan ke bawah seperti kilat.
Jika kita tidak ingin hangus dan menjadi tidak berbuah, kita membutuhkan embun Allah. Karena kita memiliki penuduh kita, kita juga membutuhkan seorang pembela. Maka Tuhan dalam belas kasihan-Nya kepada manusia, yang telah jatuh ke tangan perampok, setelah Ia sendiri membalut luka-lukanya dan meninggalkan dua koin yang bergambar raja untuk perawatannya, Ia mempercayakan dia kepada Roh Kudus. Sekarang, melalui Roh, gambar dan tulisan Bapa dan Putra telah diberikan kepada kita, dan adalah tugas kita untuk menggunakan koin yang dipercayakan kepada kita dan membuatnya menghasilkan keuntungan yang melimpah bagi Tuhan.

Responsorium Kisah Para Rasul 2:1-2

Pada hari Pentakosta mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba dari langit terdengar

℟ bunyi angin kencang, yang memenuhi seluruh rumah, alleluya.
Para murid berkumpul di satu ruangan. Tiba-tiba terdengar bunyi dari surga.

℟ Bunyi angin kencang, yang memenuhi seluruh rumah, alleluya.

Te Deum

Engkau Allah: kami memuji-Mu;

Engkau Tuhan: kami mengagungkan-Mu;

Engkau Bapa yang kekal:

Seluruh ciptaan menyembah-Mu.
Kepada-Mu semua malaikat, semua kuasa surga,

Kerubim dan Serafim, bernyanyi dalam pujian tak berkesudahan:

Kudus, kudus, kudus, Tuhan, Allah segala kuasa,

langit dan bumi penuh kemuliaan-Mu.
Persekutuan para rasul yang mulia memuji-Mu.

Persekutuan para nabi yang luhur memuji-Mu.

Pasukan para martir berjubah putih memuji-Mu.
Di seluruh dunia Gereja kudus mengagungkan-Mu:

Bapa, keagungan-Mu tak terbatas,

Putra-Mu yang sejati dan tunggal, layak disembah,

dan Roh Kudus, pembela dan pembimbing.
Engkau, Kristus, adalah Raja kemuliaan,

Putra Bapa yang kekal.
Ketika Engkau menjadi manusia untuk membebaskan kami

Engkau tidak menolak rahim Perawan.
Engkau mengalahkan sengat maut,

dan membuka kerajaan surga bagi semua orang percaya.
Engkau duduk di sisi kanan Allah dalam kemuliaan.

Kami percaya bahwa Engkau akan datang, dan menjadi hakim kami.
Datanglah, ya Tuhan, dan tolonglah umat-Mu,

yang telah Engkau tebus dengan harga darah-Mu sendiri,

dan bawalah kami bersama para kudus-Mu

ke kemuliaan abadi.
Selamatkanlah umat-Mu, ya Tuhan, dan berkatilah warisan-Mu.

℟ Pimpin dan teguhkanlah mereka sekarang dan selalu.
Hari demi hari kami memuji-Mu.

℟ Kami memuji nama-Mu selamanya.
Jagalah kami hari ini, ya Tuhan, dari segala dosa.

℟ Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah.
Tuhan, tunjukkanlah kasih dan belas kasihan-Mu kepada kami,

℟ karena kami telah menaruh kepercayaan kami kepada-Mu.
Dalam Engkau, ya Tuhan, adalah harapan kami:

℟ Dan kami tidak akan pernah berharap dengan sia-sia.

Doa Penutup

Ya Allah,

yang dengan misteri hari raya agung hari ini

menguduskan seluruh Gereja-Mu di setiap bangsa dan suku,

curahkanlah, kami mohon, karunia-karunia Roh Kudus

ke seluruh muka bumi

dan, dengan rahmat ilahi yang berkarya

ketika Injil pertama kali diwartakan,

penuhilah sekali lagi hati orang-orang percaya.

Demi Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu,

yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persatuan Roh Kudus,

Allah, sepanjang segala abad.

℟ Amin.

AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)

Marilah kita memuji Tuhan.

℟ Dan bersyukur kepada-Nya.

Ibadat Pagi

Pentakosta

Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.

Pembukaan

℣.Ya Allah, bersegeralah menolong aku.℟.Ya Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Madah

Hari ini hari cerah
Kegembiraan melimpah
Hari Roh suci diutus
Memenuhi umat kudus.

Dalam rupa api indah
Yang turun laksana lidah
Mempergandakan bahasa
Mengobarkan nyala cinta.

Ya Allah yang mahamurah
Kami mohon dan menyembah
Kurniakanlah Roh suci
Agar menjiwai kami.

Tolonglah kami Roh suci
Dengan pengaruh ilahi
Agar mengikuti Putra
Slalu mengasihi Bapa. Amin.

Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.

Mazmur 62

Ya Allah, Engkaulah Allahku,*
aku mencari Engkau.

Hatiku haus dan rindu akan Dikau,*
seperti tanah kering dan tandus merindukan air.

Demikian aku ingin memandang Engkau di tempat kediamanMu,*
untuk merasakan kekuatan dan kemuliaanMu.

Sebab kasih setiaMu lebih baik dari pada hidup,*
bibirku memegahkan Dikau

Aku akan memuji Engkau seumur hidupku,*
menadahkan tangan kepadaMu.

Hatiku Kaukenyangkan dengan santapan lezat,*
mulutku memuji Engkau sambil bersyukur.

Di tempat tidurku aku memuji Engkau,*
aku merenungkan Dikau sepanjang malam.

Sebab Engkau yang menolong aku,*
di bawah naungan sayapMu aku bersorak.

Jiwaku melekat padaMu,*
tangan kananMu menopang aku.

Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.

Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.

Dan 3,57-88.56

Pujilah Tuhan, segala karya Tuhan,*
pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, semua malaikat Tuhan,*
pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan seluruh isi surga,*
pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, segala air di atas langit,*
angkasa raya Tuhan, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, matahari dan bulan,*
segala bintang di langit, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, hujan dan embun,*
angin dan taufan, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, api dan panas-terik,*
hawa sejuk dan dingin, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, kabut dan gerimis,*
halilintar dan awan, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, siang dan malam,*
terang dan gelap, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, seluruh bumi,*
pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, gunung dan bukit,*
segala yang tumbuh di bumi, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, segala mata air,*
lautan dan sungai, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, segala yang hidup di dalam air,*
unggas di udara, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, binatang buas dan jinak,*
semua manusia, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, umat Israel,*
pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, para Imam,*
semua pelayanNya, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, orang yang takwa,*
semua yang suci dan rendah hati, luhurkanlah Dia.

Pujilah Tuhan, Ananya, Azarya dan Misael,*
pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Marilah kita memuji Bapa, Putera dan Roh kudus,*
memuji dan meluhurkan Dia selama-lamanya.

Kidung ini tidak ditutup dengan 'Kemuliaan'.

Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.

Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.

Mazmur 149

Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu baru,*
pujilah Dia dalam himpunan umatNya.

Hendaknya Israel bergembira atas Penciptanya,*
dan warga Sion bersuka-cita atas Rajanya.

Hendaknya mereka memuji namaNya dengan tari-tarian,*
bermazmur bagiNya dengan rebana dan kecapi.

Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya,*
memahkotai yang hina-dina dengan keselamatan.

Hendaknya orang takwa bersukaria atas kejayaannya,*
bersorak-sorai dengan gembira.

Hendaknya mereka memuji Tuhan dengan suara lantang,*
sambil memegang pedang yang tajam.

Begitu hendaklah mereka membalas kejahatan para bangsa,*
dan menjatuhkan hukuman kepada mereka;

Membelenggu para rajanya,*
dan mengikat pemukanya dengan rantai besi.

Dengan demikian terlaksana keputusan Allah;*
tugas terhormat bagi umatNya.

Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.

Bacaan singkat: Kis 5,30-32

Allah para leluhur kita telah membangkitkan Yesus yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dia telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kananNya, menjadi pemimpin dan juruselamat, supaya umat Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami ini saksi dari segalanya itu, kami bersama dengan Roh kudus, yang dikurniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Allah.

Lagu singkat:

℣.Semua dipenuhi dengan Roh kudus,* Alleluya, alleluya.℟.Semua.℣.Dan mulai berbicara.℟.Alleluya, alleluya.℣.Kemuliaan.℟.Semua.

Antifon KidungTerimalah Roh kudus, siapapun yang kamu ampuni dosanya, akan diampuni, alleluya.

Kidung Zakaria Luk 1,68-79

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*
putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*
dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*
dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*
dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*
akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*
dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*
sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*
berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan;*
Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*
dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Antifon KidungTerimalah Roh kudus, siapapun yang kamu ampuni dosanya, akan diampuni, alleluya.

Doa Permohonan

Kristus Tuhan telah menghimpunkan umatNya dalam Roh kudus. Marilah kita mohon dengan penuh harapan:

℟. Baharuilah muka bumi, ya Tuhan.

Tuhan Yesus, waktu Engkau ditinggikan pada salib, mengalirlah air pemberi hidup dari lambungMu,* utuslah Roh kudus, pemberi hidup, kepada kami. ℟.

Dari kemuliaanMu di sebelah kanan Bapa Kauanugerahkan kurnia Bapa kepada para rasul ,* utuslah RohMu untuk menciptakan dunia baru. ℟.

Para rasul Kauberi kuasa dalam Roh kudus untuk mengampuni dosa,* hancurkanlah kuasa dosa dalam dunia. ℟.

Engkau menjanjikan Roh kudus untuk mengajar kami segala sesuatu dan mengingatkan kembali segala sabdaMu,* utuslah RohMu untuk menerangi iman kami. ℟.

Engkau berjanji mengutus Roh kebenaran untuk memberi kesaksian tentang diriMu,* utuslah RohMu agar kami menjadi saksiMu yang setia. ℟.

Bapa Kami

Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah namaMu.
Datanglah kerajaanMu.
Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Doa Penutup

Allah yang membaharui segala sesuatu, pada hari raya ini engkau menguduskan umatMu di semua negera dan bangsa. Semoga mukjizat Pentekosta yang Kauadakan pada awal Gereja, kini Kaukerjakan juga dalam diri kami. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup ...

Ibadat Sebelum Tengah Hari

Pentakosta

MINGGU — Masa Paskah — IBADAT SEBELUM TENGAH HARI (Tertia)

Pembukaan

℣.Ya Allah, bersegeralah menolong aku.℟.Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Madah

Ya Roh Kudus, datanglah kini,
satu dengan Bapa dan Putra;
sudilah Engkau bersegera,
mencurah penuh ke hati kami.

Mulut, lidah, budi, dan rasa,
serta tenaga wartakan iman;
berkobarlah kasih bagai api,
nyalanya menjangkau sesama.

Kenalkanlah kami pada Bapa,
dan pada Putra melalui-Mu;
Engkau Roh dari keduanya,
kami imani sepanjang masa. Amin.

Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)

Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.

Mazmur 119 (120)

Dalam kesesakanku aku berseru kepada Tuhan,*
dan Ia mendengarkan daku.

Ya Tuhan, lepaskanlah aku dari bibir pendusta,*
dan dari lidah penipu.

Tuhan pasti membalas kamu,*
Ia pasti mengganjar kamu, hai para penipu!

Dengan panah tajam dari busur tentara,*
dengan bara yang berpijar-pijar.

Celakalah aku entah aku tinggal jauh di daerah Mesekh,*
entah jauh di perkemahan Kedar!

Aku masih tinggal terlalu dekat juga,*
pada orang yang membenci perdamaian.

Kalau aku, perdamaianlah yang kubicarakan,*
sedangkan mereka hanya peperangan.

Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.

Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.

Mazmur 120 (121)

Aku melayangkan pandangan ke Gunung,*
dari manakah dapat kuharapkan pertolongan?

Pertolonganku dari Tuhan,*
yang menjadikan langit dan bumi.

Ia takkan membiarkan kakimu tersandung,*
yang menjagamu takkan mengantuk.

Sungguh, takkan mengantuk dan tertidur,*
yang menjaga Israel.

Tuhan menjaga dan menaungi kamu,*
Yang mahatinggi adalah kekuatanmu.

Matahari takkan menyakiti kamu di waktu siang,*
maupun bulan di waktu malam.

Tuhan menjaga kamu terhadap segala kemalangan,*
Ia menjaga nyawamu.

Tuhan menjaga segala tingkah lakumu,*
sekarang dan selama-lamanya.

Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.

Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.

Mazmur 121 (122)

Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku,*
"Mari kita pergi ke rumah Tuhan".

Sekarang kami telah berdiri,*
di gerbangmu, hai Yerusalem!

Hai Yerusalem, engkau dibangun,*
sebagai kota yang rapat tersusun.

Suku bangsa berziarah kepadamu,*
suku bangsa Tuhan.

Untuk bersyukur kepada Tuhan,*
sesuai dengan peraturan Israel.

Di sanalah terdapat kursi pengadilan,*
kursi keluarga raja Daud.

Mohonkanlah damai sejahtera bagi Yerusalem,*
"Damai sejahtera bagi orang yang mencintai engkau!"

Semoga damai sejahtera turun atas wilayahmu,*
dan kemakmuran atas istanamu.

Atas nama semua saudara dan sahabatku,*
aku mengucapkan selamat kepadamu.

Demi bait Tuhan, Allah kita,*
aku memohonkan kebahagiaan bagimu.

Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.

Bacaan singkat (Cf. 1 Cor 15, 3 b-5)

Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,

Ayat Singkat

℣.Inilah hari yang dijadikan Tuhan, alleluya.℟.Marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya, alleluya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, pada jam ketiga Engkau dihantar ke hukuman salib demi keselamatan dunia; dengan rendah hati kami mohon kepada-Mu, agar atas kejahatan masa lampau kami senantiasa memperoleh ampun pada-Mu, dan terhadap masa depan kami tetap Kaulindungi. Sebab Engkau hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

Ibadat Tengah Hari

Pentakosta

Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.

Pembukaan

℣.Ya Allah, bersegeralah menolong aku.℟.Ya Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Madah

Ya Roh kudus sumber cinta
Serta Bapa dan Putera
Datanglah di tengah kami
Membawa hidup Ilahi

Gerakkanlah hati kami
Agar giat penuh bakti
Menyanyikan lagu puji
Mengamalkan cinta suci

Kabulkanlah doa kami
Ya Allah Bapa surgawi
Bersama Putera dan RohMu
Sekarang serta selalu. Amin.

Antifonifon dari ibadat pagi, mazmur dari hari minggu I siang, hal. 394

Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.

Mazmur 117 (118)

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,*
kekal abadi kasih setiaNya.

Hendaklah Israel berkata:*
kekal abadi kasih setiaNya.

Hendaklah kaum Harun berkata:*
kekal abadi kasih setiaNya.

Hendaklah orang yang takwa berkata:*
kekal abadi kasih setiaNya.

Dalam kesesakan aku berseru kepada Tuhan,*
Ia menjawab dan melegakan daku.

Tuhan di pihakku, aku tidak takut.*
Apa yang dapat dilakukan manusia terhadapku?

Tuhan di pihakku, Ia penolongku.*
Aku melihat pembenciku tersipu-sipu.

Lebih baik berlindung pada Tuhan,*
dari pada percaya kepada manusia.

Lebih baik berlindung pada Tuhan,*
dari pada percaya kepada bangsawan.

Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.

Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.

Segala bangsa mengepung aku,*
tapi berkat nama Tuhan mereka kubinasakan.

Mereka mengepung aku rapat-rapat,*
tapi berkat nama Tuhan mereka kubinasakan.

Mereka mengepung aku seperti lebah,+
seperti nyala api yang menjilat-jilat,*
tapi berkat nama Tuhan mereka kubinasakan.

Aku didesak-desak sampai terjatuh,*
tetapi Tuhan menolong aku.

Tuhanlah kekuatan dan pelindungku,*
Dialah kemenanganku

Suara gembira dan sorak-sorai,*
terdengar di perkemahan para pemenang.

"Tuhan bertindak dengan tangan kuat,*
tangan Tuhan mahakuasa."

Aku tidak akan mati, aku tetap hidup,*
untuk mewartakan karya-karya Tuhan.

Tuhan sering menyiksa aku,*
namun tidak menyerahkan daku kepada maut.

Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.

Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.

Bukalah bagiku gerbang kemenangan,*
supaya aku masuk dan bersyukur kepada Tuhan.

Inilah pintu gerbang Tuhan,*
para pemenang masuk ke dalamnya.

Syukur kepadaMu, sebab Engkau memenangkan daku,*
dan menjadi penyelamatku.

Batu yang dibuang oleh para pembangun,*
telah menjadi batu sendi.

Karya Tuhanlah itu,*
sangat mengagumkan kita.

Pada hari inilah Tuhan bertindak,*
mari kita rayakan dengan gembira.

Ya Tuhan, berilah kami keselamatan!*
Ya Tuhan, berilah kami kesejahteraan!

Terberkatilah yang datang demi nama Tuhan;+
kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan,*
Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita.

Beraraklah dengan membawa ranting berdaun,*
hiasilah tanduk-tanduk mesbah.

Allahkulah Engkau, Engkau kupuji,*
Allahku, Engkau kuagungkan.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,*
kekal abadi kasih setiaNya.

Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.

Bacaan singkat: 2 Kor 1,21-22

Allah telah meneguhkan kami dan kamu dalam Kristus. Dia jugalah yang telah mengurapi dan memeteraikan kita serta mencurahkan RohNya ke dalam hati kita sebagai jaminan.

℣.Roh kudus penghibur, alleluya.℟.Akan mengajar kamu segala kebenaran, alleluya.

Doa Penutup

Allah yang membaharui segala sesuatu, pada hari raya ini engkau menguduskan umatMu di semua negera dan bangsa. Semoga mukjizat Pentekosta yang Kauadakan pada awal Gereja, kini Kaukerjakan juga dalam diri kami. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup ...

Ibadat Sesudah Tengah Hari

Pentakosta

MINGGU — Masa Paskah — IBADAT SESUDAH TENGAH HARI (Nona)

Pembukaan

℣.Ya Allah, bersegeralah menolong aku.℟.Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Madah

Ya Allah, kekuatan yang teguh,
tak tergoyahkan tinggal dalam-Mu;
Engkau menata waktu terang siang
dalam pergantian yang berurutan.

Karuniakanlah senja yang cerah,
agar hidup tak pernah pudar,
melainkan pahala kematian kudus:
kemuliaan kekal menyongsong kami.

Kabulkanlah, ya Bapa mahakasih,
dan Putra Tunggal setara Bapa,
bersama Roh Kudus Penghibur,
yang meraja sepanjang segala masa. Amin.

Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)

Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.

Mazmur 125 (126)

Ketika Tuhan memulangkan tawanan Sion,*
kita seperti orang yang bermimpi.

Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa,*
dan lidah kita dengan sorak-sorai.

Bahkan bangsa-bangsa kafir mengakui,*
"Agunglah karya Tuhan bagi mereka".

Sungguh agung karya Tuhan bagi kita,*
sebab itu kita bersukacita.

Tuhan telah memulihkan nasib kita,*
seperti sungai kering berair lagi di musim hujan.

Yang menabur dengan bercucuran air mata,*
akan menuai dengan bersorak-sorai.

Ia pergi dengan menangis sambil membawa kantong benihnya,*
ia pulang sambil bernyanyi membawa berkas panenannya.

Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.

Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.

Mazmur 126 (127)

Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah,*
sia-sialah para pembangun bekerja.

Jikalau bukan Tuhan yang menjaga kota,*
sia-sialah para pengawal berjaga.

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi,+
pergi tidur larut malam,*
dan mencari nafkah dengan susah payah.

Tetapi Tuhan menganugerahkan kesejahteraan,*
kepada orang yang dicintaiNya.

Putera-putera sungguh anugerah Tuhan,*
dan buah kandungan sungguh ganjaranNya.

Seperti anak panah di tangan pahlawan,*
demikianlah putera yang diperanakkan pada masa muda.

Berbahagialah orang yang mengisi,*
tabung panahnya sampai penuh.

Ia tidak akan dipermalukan oleh musuh,*
tetapi akan menghalau mereka dari pintu gerbang.

Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.

Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.

Mazmur 127 (128)

Berbahagialah setiap orang yang takwa,*
yang hidup sesuai dengan bimbingan Tuhan.

Engkau akan menikmati hasil jerih payahmu,*
hidupmu akan bahagia dan sejahtera.

Isterimu subur dalam rumahmu bagaikan pokok anggur,*
anak-anakMu mengelilingi mejamu bagaikan tunas zaitun.

Demikianlah suami yang takwa akan diberkati,*
semoga Tuhan memberkati engkau dari Sion.

Semoga engkau menikmati kemakmuran Yerusalem seumur hidup,*
dan melihat anak cucumu turun-temurun.

Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.

Bacaan singkat (Rom 6, 4)

Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Ayat Singkat

℣.Inilah hari yang dijadikan Tuhan, alleluya.℟.Marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya, alleluya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkau menghantar penjahat yang bertobat dari kayu salib masuk ke dalam kerajaan-Mu; sambil mengakui dosa-dosa kami, dengan penuh kepercayaan kami mohon kepada-Mu, agar sesudah kematian Engkau membuat kami masuk dengan sukacita melalui pintu firdaus. Sebab Engkau hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

Ibadat Sore

Pentakosta

Pembukaan

℣.Ya Allah, bersegeralah menolong aku.℟.Ya Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Pekan II Mazmur

Madah

Datanglah Roh mahasuci
Kunjungilah hati kami
Penuhilah dengan rahmat
Agar suci dan selamat.

Engkaulah penghibur kami
Rahmat Allah mahatinggi
Engkaulah pancaran cinta
Yang menguatkan segala.

Engkau tangan kanan Bapa
Yang membagikan kurnia
Engkau sudah dinjanjikan
Oleh Yesus Kristus Tuhan.

Tolonglah kami, Roh suci
Dengan pengaruh ilahi
Agar mengikuti Putra
Slalu mengasihi Bapa. Amin.

Antifon 1Pada hari Pentekosta semua murid Yesus berkumpul di satu tempat, alleluya.

Mazmur 109,1-5.7

Tuhan berfirman kepada baginda: "Duduklah di sisi kananKu,*
sampai musuh musuhmu Kujadikan tumpuan kakimu."

Tuhan meluaskan kekuasaan baginda dari kediamanNya di Sion:*
"Berkuasalah atas para musuh.

Engkau berkuasa sejak kelahiranmu, di atas gunung yang suci,*
sejak engkau terkandung, sejak fajar masa mudamu".

Tuhan telah bersumpah dan tidak menyesal:*
"Engkaulah imam seperti Melkisedek, untuk selama-lamanya".

Tuhan mendampingi baginda,*
pada hari kemurkaanNya raja-raja dihancurkanNya.

Tuhan menyertai baginda dalam segala usaha,*
agar baginda berlangkah maju dengan gagah perkasa.

Antifon 1Pada hari Pentekosta semua murid Yesus berkumpul di satu tempat, alleluya.

Antifon 2Tampaklah kepada para rasul lidah-lidah yang menyerupai api dan hinggap di atas mereka masing-masing, alleluya.

Mazmur 113

Ketika Israel keluar dari Mesir,*
keluarga Yakub dari bangsa asing,

Maka Yehuda menjadi wilayah Tuhan,*
Israel daerah kekuasaanNya.

Laut melihat, lalu menyingkir,*
sungai Yordan berbalik ke hulu.

Gunung melompat bagaikan kijang,*
dan bukit laksana anakdomba.

Ada apa, hai laut, sehingga menyingkir,*
hai Yordan, sehingga berbalik ke hulu?

Hai gunung, mengapa melompat bagaikan kijang,*
hai bukit, mengapa laksana anakdomba?

Gemetarlah, hai bumi, di hadapan Tuhan,*
di hadirat Allah Yakub.

Ia mengubah wadas menjadi danau,*
dan batu menjadi mata air.

Antifon 2Tampaklah kepada para rasul lidah-lidah yang menyerupai api dan hinggap di atas mereka masing-masing, alleluya.

Antifon 3Roh yang keluar dari Bapa, akan memuliakan Daku, alleluya.

Why 19,1-7

Alleluya.
Pokok keselamatan, kemuliaan dan kekuasaan ialah Allah kita,*
karena benar dan adillah segala keputusanNya.
Alleluya.

Alleluya.
Pujilah Allah kita, hai sekalian hambaNya,*
semua yang takwa, baik kecil maupun besar.
Alleluya.

Alleluya.
Sebab Tuhan, Allah kita yang mahakuasa,*
sudah menjadi raja.
Alleluya.

Alleluya.
Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai,*
marilah kita memuliakan Tuhan.
Alleluya.

Alleluya.
Hari pernikahan Anakdomba telah tiba,*
dan mempelaiNya sudah siap berhias.
Alleluya.

Antifon 3Roh yang keluar dari Bapa, akan memuliakan Daku, alleluya.

Bacaan singkat: Ef 4,3-6

Berusahalah senantiasa memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai. Satu tubuh dan satu Roh, seperti kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu. Satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan. Satu Allah dan Bapa kita sekalian yang mengatasi semua, menyertai semua dan menjiwai kita semua.

Lagu singkat:

℣.Roh Tuhan memenuhi seluruh dunia,* Alleluya, alleluya.℟.Roh.℣.Ia menyatukan segala sesuatu.℟.Alleluya, alleluya.℣.Kemuliaan.℟.Roh.

Antifon KidungHari ini tibalah Pentekosta, alleluya. Hari ini Roh kudus tampak kepada para rasul dalam rupa api dan membagikan anugerah kepada mereka. Hari ini Roh kudus mengutus para rasul ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian. Barang siapa percaya dan dibaptis, akan selamat, alleluya.

Kidung Maria Luk 1,46-55

Aku mengagungkan Tuhan,*
hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku.

Sebab Ia memperhatikan daku,*
hambaNya yang hina ini.

Mulai sekarang aku disebut: yang bahagia,*
oleh sekalian bangsa.

Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang mahakuasa;*
kuduslah namaNya.

Kasih sayangNya turun-temurun,*
kepada orang yang takwa.

Perkasalah perbuatan tanganNya:*
dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya

Orang yang berkuasa diturunkanNya dari takhta;*
yang hina-dina diangkatnya.

Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan;*
orang kaya diusirNya pergi dengan tangan kosong

Menurut janjiNya kepada leluhur kita,*
Allah telah menolong Israel, hambaNya.

Demi kasih sayangNya kepada Abraham serta keturunannya,*
untuk selama-lamanya.

Antifon KidungHari ini tibalah Pentekosta, alleluya. Hari ini Roh kudus tampak kepada para rasul dalam rupa api dan membagikan anugerah kepada mereka. Hari ini Roh kudus mengutus para rasul ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian. Barang siapa percaya dan dibaptis, akan selamat, alleluya.

Doa Permohonan

Allah Bapa telah menghimpunkan umatNya dengan perantaraan Kristus. Marilah kita dengan hati gembira berdoa:

℟. Utuslah Roh kudus kepada umatMu, ya Tuhan.

Semua orang yang percaya kepada Kristus hendak Kausatukan dalam Roh kudus berdasarkan pembaptisan yang satu dan sama,* semoga orang beriman menjadi sehati sejiwa dalam Engkau. ℟.

Engkau memenuhi segenap muka bumi dengan RohMu,* semoga kami sanggup membangun suatu dunia yang adil dan damai. ℟.

Tuhan Allah, Bapa semua orang, Engkau hendak menghimpun putera-puteraMu yang tercerai-berai menjadi satu dalam iman yang sama,* terangilah dunia kami dengan cahaya Roh kudus. ℟.

Engkau membaharui segalanya dalam Roh kudus,* sembuhkanlah yang sakit, hiburkanlah yang berduka, limpahkanlah belaskasihanMu kepada semua orang. ℟.

Engkau membangkitkan PuteraMu dari alam maut dengan kekutan Roh kudus,* hidupkanlah kembali tubuh semua orang mati bagi kehidupan kekal. ℟.

Bapa Kami

Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah namaMu.
Datanglah kerajaanMu.
Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Doa Penutup

Allah yang membaharui segala sesuatu, pada hari raya ini engkau menguduskan umatMu di semua negera dan bangsa. Semoga mukjizat Pentekosta yang Kauadakan pada awal Gereja, kini Kaukerjakan juga dalam diri kami. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup ...

Pembubaran umat:

℣.Saudara sekalian, dengan ini ibadat sore sudah selesai, alleluya, alleluya.℟.Syukur kepada Allah, alleluya, alleluya.

Ibadat Penutup

Pentakosta

Pembukaan

℣.Ya Allah, bersegeralah menolong aku.℟.Ya Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad. Amin. Alleluya.

Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.

Pekan II Mazmur

Doa Tobat

℟.Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kiat ke hidup yang kekal.℟.Amin.

Madah

Kristus cahaya mulia
Kegelapan Kauenyahkan
Malam maut tak berdaya
Sudah kalah Kaulumpuhkan

Lindungilah kami Tuhan
Selama semalam ini
Kami mohon ketenangan
Dalam istirahat nanti.

Meski mata 'kan tertidur
Semoga hati berjaga
Rapi selalu teratur
Siap menyambut rajanya.

Terpujilah Kristus raja
Bersama Bapa mulia
Dan Roh kudus sumber cinta
Sepanjang segala masa. Amin.

AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Mazmur 90 (91)

Hendaklah orang yang berlindung pada Allah yang mahatinggi,*
menikmati malam yang aman dalam naungan Tuhan.

Hendaklah ia berdoa: "Ya Tuhan, Engkaulah pelindung dan pengungsianku,*
ya Allah, padaMulah aku percaya"

Hanya Tuhanlah yang akan melepaskan dikau dari perangkap,*
melindungi engkau terhadap wabah yang berkecamuk

Ia akan menudungi engkau dengan kepakNya,+
dan di bawah sayapNya engkau akan berlindung,*
lenganNya akan menjadi perisai dan jebang bagimu.

Engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam,*
akan panah yang mengancam di waktu siang;

Akan wabah yang menular dalam kegelapan,*
akan bencana yang mengamuk di siang hari.

Walaupun seribu orang rebah di sebelah kirimu,+
dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,*
namun engkau takkan kejangkitan.

Engkau akan menyaksikan kehancuran musuh,*
dan pembalasan terhadap orang-orang jahat.

Jika engkau memilih Tuhan menjadi pelindungmu,*
dan Allah mahatinggi menjadi penopangmu;

Maka engkau takkan ditimpa malapetaka,*
dan kemahmu takkan diserang wabah;

Sebab Allah akan mengutus malaikatNya,*
untuk menjaga engkau ke manapun engkau pergi.

Mereka akan menatang engkau dengan tangan mereka,*
jangan sampai kakimu tersandung pada batu.

Singa dan harimau akan kaulangkahi,*
ular dan naga akan kauinjak-injak.

Sebab Allah bersabda: "Mengingat bahwa ia berpaut padaKu,*
maka Aku akan menyelamatkannya;

Aku akan menjadi pelindungnya, jika ia mengakui Aku,*
jika ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawabnya.

Aku akan tetap besertanya dan membebaskan dia dari kesesakan,*
dan Aku akan memuliakannya.

Aku akan memuaskan dia dengan usia lanjut,*
dan memperkenankan dia menikmati keselamatanKu".

AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Bacaan singkat Why 22,4-5

Para hamba Allah akan memandang wajah Allah, dan nama Allah tertera pada dahi mereka. Malam takkan ada lagi, cahaya lampu atau sinar matahari takkan mereka perlukan lagi. Sebab Tuhan Allah menerangi mereka, dan mereka akan meraja selama-lamanya.

Lagu Singkat

℣.Ke dalam tanganMu kuserahkan diriku,* ya Tuhan, penyelamatku.℟.Ke dalam.℣.Engkaulah penebusku, ya Allah yang benar.℟.Ya Tuhan, penyelamatku.℣.Kemuliaan.℟.Ke dalam.

Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.

Kidung Simeon

Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hambaMu berpulang,*
dalam damai sejahtera, menurut sabdaMu.

Sebab aku telah melihat keselamatanMu,*
yang Kausediakan di hadapan segala bangsa.

Cahaya untuk menerangi para bangsa,*
dan kemuliaan bagi umatMu Israel.

Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.

Doa Penutup

Tuhan, kunjungilah rumah ini dan berkatilah kami selalu. Jauhkanlah segala tipu daya musuh dari rumah ini dan utuslah malaikatMu untuk membawa damai sejahtera dan menyertai kami. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

Hari Minggu malam:

Tuhan, pelindung kami, pada hari ini kami telah merayakan wafat dan kebangkitan Kristus. Dengarkanlah kiranya ucapan bibir kami, dan jauhkanlah segala mara bahaya. Semoga kami tidur dengan nyenyak dan aman sentosa dalam damaiMu, sehingga kami dapat bangun lagi dengan gembira hati untuk memuji Engkau. Demi Kristus, pengantara kami.

Penutup

℣.Semoga Allah yang mahakuasa menganugerahkan istirahat dalam naungan belaskasihanNya.℟.Amin.

Salam kepada Bunda Maria

Salam, ya ratu, bunda yang berbelas-kasih, hidup, hiburan dan harapan kami. Kami semua memanjatkan permohonan, kami amat susah, mengeluh, mengesah dalam lembah duka ini. Ya ibunda, ya pelindung kami, limpahkanlah kasih sayangmu yang besar kepada kami. Dan Yesus, puteramu yang terpuji itu, s'moga kautunjukkan kepada kami. O ratu, o ibu, o Maria, bunda Kristus.

Santa Agatha Kim A-gi

Martir · 1787-1839

Santa Agatha Kim A-gi berasal dari keluarga yang belum mengenal Kristus, demikian juga dengan suaminya. Pada masa itu, ajaran Katolik dianggap sebagai ajaran sesat setelah kejadian pada tahun 1791, ketika Paulus Yun Chi-ch’ung membakar tablet berhala leluhurnya. Peristiwa itu memicu terjadinya gelombang penganiayaan kepada umat Katolik yang dimulai pada tahun 1801.

Pada mulanya Agatha dan suaminya tidak tertarik untuk mempelajari iman Katolik karena takut dianiaya. Namun demikian, suatu hari, seorang saudari Agatha yang lebih tua datang berkunjung. Saudarinya itu adalah seorang Katolik yang taat. Di ruangan depan di rumah Agatha terdapat sebuah peti beras yang besar dan di atasnya terdapat tablet berhala leluhur. Di sana juga terdapat gambar yang aneh yang berada di dinding. Saudari Agatha ini menganggap semuanya itu adalah dosa besar. Karena itu dalam suatu kesempatan dia berkata kepada Agatha,

“Mengapa kamu menyimpan benda-benda itu di rumahmu? Semua itu adalah takhayul yang tidak berguna. Buang semua itu dan jangan percaya kepada benda itu lagi.”

“Apa yang bisa saya lakukan? Saya menikah dengan seseorang yang mempercayainya”

“Hanya ada satu yang menguasai seluruh dunia. Yaitu Kristus. Sekarang waktunya bagi kamu untuk bangun dari kegelapan untuk belajar dan menjalankan kebenaran.”

Melalui saudarinya itu , Agatha mulai merasakan kerinduan untuk mengenal Kristus. Ia lalu memutuskan mengikuti katakese agar dapat dibabtis menjadi seorang katolik. Meski sadar akan penganiayaan yang dialami oleh umat Katolik di masa itu, namun ia siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Agatha memang terlambat mengenal iman Katolik namun setelah dia memulainya, dia bertumbuh dengan cepat dan penuh bersemangat.

Selama masa katakese, Agatha tidak terlalu menonjol. Ia dianggap lamban karena walau telah berusaha sangat keras, namun ia tetap saja tidak dapat melafalkan doa-doa dasar (yang pada masa itu masih diucapkan dalam bahasa Latin). Dikalangan umat Katolik Korea, Agatha dikenal sebagai seorang wanita yang tidak tahu apa-apa kecuali melafalkan nama “Yesus, Maria” dengan penuh iman.

Pada bulan September 1836 Santa Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi juga ditangkap saat bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke penjara bersama-sama.

Di penjara mereka berkumpul bersama beberapa umat Katolik yang telah ditangkap duluan. Mereka adalah Santo Damianus Nam Myong-hyok yang ditahan dengan tuduhan menyembunyikan jubah Uskup, Santo Petrus Kwon Tug-in yang dituduh menjual salib dan gambar-gambar suci, Santa Anna Pak A-gi yang tetap berada di penjara walaupun suami dan anaknya telah murtad, dan Santa Agatha Yi, kakak perempuan dari Santo Petrus Yi Ho-yong.

Diantara umat beriman ini, orang pertama yang diinterogasi adalah Anna Pak A-gi. Walaupun telah menjalani siksaan yang hebat, namun imannya tidak tergoyahkan. Dia juga menjawab pertanyaan para penyiksanya dengan tenang, “Walau suami dan putra saya telah murtad! Saya memilih untuk mempertahankan iman saya dan mati untuk itu.” Atas jawabannya ini, Wawnita pemberani ini kembali disiksa dengan mengerikan sampai tubuhnya berlumuran darah dan wajahnya hampir tidak dapat dikenali lagi.

Selanjutnya adalah Santa Barbara Han A-gi. Tidak kalah berani dari Anna Pak A-gi, Barbara tetap mempertahankan imannya walau disiksa dengan keji.

Agatha Kim kemudian dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.

“Benarkah kamu percaya akan Gereja Katolik?” tanya petugas penjara.

“Saya tidak tahu apapun selain Yesus dan Maria.”

“Jika kamu dapat menyelamatkan hidupmu dengan menolak Yesus dan Maria, akankah kamu menolak Mereka?”

“Saya lebih baik mati daripada menolak Mereka.”

Walaupun disiksa, Agatha tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikirannya. Melihat hal ini, komisaris polisi kembali memasukkan mereka ke dalam penjara. Ketika tahanan Katolik lainnya melihat Agatha Kim A-gi tiba, mereka bersukacita menyambut dia.

“Inilah dia, Agatha, dia yang tidak tahu apapun selain Yesus dan Maria,” kata mereka ketika memberi selamat atas keberaniannya.

Sebelumnya, karena ketidak-mampuannya untuk belajar agama dan melafalkan doa, Agatha Kim A-gi belum sempat dibaptis. Dia kemudian menerima pembabtisan di penjara selama masa penganiayaan berlangsung. Pembaptisan memberikan dia kekuatan baru, dan oleh karenanya dia dapat mengatasi siksaan dan hukuman yang kejam.

Setelah seluruh penyelidikan dan cobaan, hukuman mati dijatuhkan kepada Damianus Nam Myong-hyok, Petrus Kwon Tug-in dan Anna Pak A-gi pada tanggal 11 Mei 1839. Pada hari berikutnya, Agustinus Yi Kwang-hon dan Lusia Pak Hui-sun juga dijatuhi hukuman mati. Tiga hari kemudian Magdalena Kim Ob-i, Barbara Han A-gi, dan Agatha Kim A-gi juga dihukum karena mempercayai iman Katolik dan menolak untuk murtad. Para pahlawan iman ini akan dieksekusi bersama-sama pada tanggal 24 mei 1839.

Proses eksekusi para martir ini di digambarkan oleh Santo Karolus Cho Shin-ch’ol sebagai berikut,

“Pada hari yang sudah ditentukan, sebuah gerobak sapi dengan palang yang lebih tinggi daripada tinggi rata-rata orang saat itu didirikan bagi mereka. Kemudian mereka dibawa keluar dari penjara. Ketika semuanya sudah siap, para penjaga membawa para tahanan dan mengikat tangan dan rambut mereka pada palang tersebut. Sebuah penahan kaki dipasangkan di kaki mereka dan sinyal keberangkatan dibunyikan. Ketika mereka tiba di bukit yang curam di mana Pintu Gerbang Kecil Barat berada, para penjaga tiba-tiba menarik penahan kaki mereka dan pengemudi gerobak memaksa sapi-sapi itu untuk berlari ke bawah. Jalannya kasar dan berbatu. Gerobak meluncur dan menyebabkan penderitaan hebat bagi para tahanan yang tangan dan rambut mereka digantung pada kayu palang itu. Di tempat eksekusi yang berada di kaki bukit. Para penjaga melepaskan para tahanan dari palang itu dan merobek pakaian mereka. Algojo mengikat rambut mereka pada balok kayu lalu mereka memenggal kepala mereka.”

Sembilan orang martir menerima mahkota mereka pada pukul tiga siang hari itu, jam yang sama ketika Yesus menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di kayu salib puluhan abad yang lalu. Berdasarkan hukum waktu itu, jenazah mereka dibiarkan di tempat eksekusi selama tiga hari.

Santa Agatha Kim A-gi, Santa Magdalena Kim Ob-i, dan Santa Barbara Han A-gi dibeatifikasi bersama Para Martir Korea pada tanggal 5 Juli 1925 dan bersama-sama dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Berasal dari kata Yunani αγαθος (agathos) yang berarti : "Baik" atau "indah"

Santa Agatha Yi So-Sa

Martir · 1784-1839

Agatha Yi lahir pada tahun 1784 di Kuwul, dekat Inchon, Provinsi Kyonggi. Ditahun ini pula, Yi Sung-hun orang Katolik pertama dari Korea, dibaptis di Peking China. Agatha Yi dikenal ramah dan sopan. Ia selalu membawa cahaya dan kegembiraan bagi seisi rumahnya. Ayahnya bukanlah seorang Katolik, dan walaupun ibunya pernah menjadi seorang katekumen, ibunya itu tidak terlalu paham tentang iman kristiani. Karena itu Agatha kecil tidak menerima pelajaran agama yang memadai.

Pada usia tujuh belas tahun, Agatha Yi menikah dengan pria yang berasal dari keluarga non-Katolik. Hidupnya kini nyaris tanpa memiliki agama. Namun, karena dia tidak dapat memiliki anak, Agatha Yi mencari cara lain untuk mengisi kehampaan hidupnya.

Dua tahun setelah pernikahan Agatha Yi, adik laki-lakinya yaitu Yi Ho-yong (Santo Petrus Yi Ho-Yong), lahir. Dia sembilan belas tahun lebih muda daripada Agatha, dia menjadi sumber sukacita bagi Agatha. Setahun kemudian suaminya meninggal dunia. Agatha Yi kini menjadi seorang janda hanya setelah tiga tahun menikah, dan tanpa seorang keturunan. Tragedi ini membuat Agatha Yi merasakan ketidakpastian dan ketidakpercayaan akan masa depannya. Dia merasakan kebutuhan untuk menemukan nilai dan keteguhan dalam hidupnya. Keinginannya semakin merasuki hatinya setelah kematian ayahnya, tidak lama setelah kematian suaminya. Walau sedih karena kepergian ayahnya, namun Agatha juga bersyukur karena sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, ayahnya telah dibabtis oleh ibunya dan membuat ayahnya dapat meninggal dengan tenang.

Setelah kematian sang ayah, Agatha Yi memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya demi menyokong kehidupan ibu yang sudah tua dan adik laki-lakinya Ho-yong yang masil kecil. Kehidupan di rumahnya kini menjadi sangat sulit. Agatha harus merawat ibu dan adiknya sementara harta warisan dari ayahnya telah habis. Ia terpaksa bekerja sebagai penjahit untuk menghidupi keluarganya.

Di tengah kesulitan ini, Agatha tidak pernah kehilangan ketenangannya. Dia bersama adiknya memutuskan untuk mengikuti pelajaran katekese. Bersama-sama, mereka menjalani kemiskinan hidupnya dengan kehidupan yang penuh cinta kepada Tuhan dan sesama. Teladan para martir pada penganiayaan tahun 1801 dan kemenangan abadi mereka melalui kematian selalu hidup dalam hati kedua kakak-beradik ini. Pola hidup mereka yang saleh membuat umat Katolik lainnya menjadikan mereka sebagai teladan keluarga Katolik.

Santo Karolus Hyon Song-mun dalam “Catatan Harian Gihae” yang terkenal itu, menulis tentang Agatha Yi :

“Setelah kematian ayahnya, Agatha kehilangan semua miliknya. Dia hidup bersama ibunya yang sudah tua dan adik laki-lakinya dalam kondisi yang sangat miskin. Semua kesulitan hidup yang dia tanggung tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun hidup dalam kemiskinan, dia selalu tampil dengan kedamaian dengan senyum yang gembira. Tidak mungkin untuk mencatat semua kata-kata yang baik dan indah dan juga perbuatannya. Dia orang yang rendah hati dan sopan, sehingga setiap orang memuji, mencintai, dan mengagumi dia karena keindahan tindakannya.”

Agatha Yi ditangkap oleh polisi bersama dengan adik laki-lakinya Petrus Yi Ho-yong pada bulan Februari 1835. Mereka berdua lalu dipenjarakan dan diinterogasi. Komisaris polisi yang memeriksa mereka membujuk kedua kakak-beradik ini untuk murtad dan meminta mereka untuk melaporkan nama-nama umat beriman lainnya. Namun dengan berani mereka berdua menjawab : “Allah adalah Bapa kami dan kami tidak dapat mengkhianati Dia. Jika kami memberikan nama-nama umat beriman lainnya, maka mereka akan berada dalam bahaya. Karena itu kami tidak dapat melakukan keduanya.”

Komisaris lalu memerintahkan agar mereka berdua disiksa dengan metode penyiksaan yang sangat brutal, yang sudah dilarang melalui dekrit kerajaan tahun 1732, namun metode ini diperkenankan untuk digunakan secara khusus pada umat Katolik. Agatha Yi dipukuli sekujur tubuhnya sampai dagingnya terlepas dan kakinya dibuat sakit terperikan dengan dipelintir kebelakang. Namun imannya tetap tak tergoyahkan. Karena itu para algojo lalu menelanjanginya, menggantung tubuhnya dengan kedua lengan terikat di belakang, lalu kembali memukuli seluruh tubuhnya dengan gada.

Beberapa hari kemudian, Agatha Yi kembali dibawa keluar lalu dipukuli sampai tubuhnya berlumuran darah. Selama penyiksaan yang mengerikan ini, Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut wanita perkasa ini : “Saya tidak dapat mengkhianati Gereja.”

Komisaris segera menyadari bahwa dia tidak akan berhasil membuat kedua kakak beradik murtad. Karena itu ia lalu menyerahkan mereka ke pengadilan. Pengadilan kemudian memutuskan hukuman mati bagi Agatha dan adiknya Petrus Yi Ho Yong. Mereka menghabiskan waktu empat tahun di penjara sambil menunggu keputusan pelaksanaan hukuman mati oleh raja. Enam bulan setelah kematian Petrus Yi Ho-yong dalam penjara, perintah dari raja untuk pelaksanaan eksekusi mati akhirnya turun.

Pada tanggal 24 Mei 1839, Agatha Yi yang saat itu telah berusia lima puluh enam tahun, digiring keluar bersama dengan delapan martir Katolik lainnya yang tertangkap kemudian. Mereka semua dibawa ke sebelah luar Pintu Gerbang Kecil Barat Seoul lalu dieksekusi dengan cara dipenggal. Dikatakan bahwa Agatha Yi membuat tanda salib dengan hormat sebelum menyerahkan kepalanya untuk dipenggal.

Santa Agatha Yi So-Sa dibeatifikasi bersama Para Martir Korea oleh Paus Pius XI pada tanggal 5 Juli 1925 dan dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul, oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Berasal dari kata Yunani αγαθος (agathos) yang berarti : "Baik" atau "indah"

Santa Anna Pak A-gi

Martir · 1783-1839

Santa Anna Pak A-gi lahir pada tahun 1783 dalam keluarga Katolik yang tinggal di sebuah desa kecil di tepi Sungai Han. Dia tidak terlalu pandai dan kesulitan belajar katekese dan melafalkan doa-doa dasar (yang pada masa itu masih diucapkan dalam bahasa Latin), namun dia mencintai Allah dengan sepenuh hati. Dia selalu berkata, “Saya tidak dapat mengenal Allah sebanyak yang saya inginkan namun saya dapat berusaha untuk mencintai Dia dengan sepenuh hati.”

Pada usia delapan belas tahun, dia menikah dengan Fransiskus T’ae Mun-haeong dan melahirkan baginya dua putra dan tiga putri. Dia membesarkan anak-anaknya dengan baik, mengajarkan mereka kebajikan iman. Keluarganya tidak kaya, namun berusaha untuk hidup dengan adil.

Anna Pak A-gi memiliki devosi khusus kepada Kisah Sengsara Tuhan dan dia merenungkan lima luka-Nya dengan air mata. Ketika mendengar ada umat Katolik yang ditangkap dan menderita karena disiksa, dia menjelaskan kepada anak-anaknya tentang para martir Kristus dan mengungkapkan harapannya untuk memperoleh mahkota Kemartiran.

Pada bulan Maret 1836, dia ditangkap bersama suami dan putra sulungnya, Ung-chon. Suami dan putranya tidak dapat menahan siksaan dan memutuskan untuk murtad. Berbeda dengan Anna. Walau sudah disiksa dengan mengerikan, imannya tidak pernah tergoyahkan. Baginya, rasa sakit akibat semua siksaan fisik yang dialami rasanya tidaklah seberapa dibandingkan sakit yang ia rasakan saat melihat suami dan putranya telah murtad.

Setelah bebas dengan menjual imannya, sang suami bersama puteranya kembali ke penjara setiap hari untuk membujuk Anna agar mengikuti jejak mereka. Ia menceriterakan tentang nasib keluarganya setelah ditinggal Anna, kecemasan ibu mertuanya yang sedang sakit, dan tangisan anak-anak yang masih kecil karena ibunya. Ceritera suaminya membawa penderitaan hebat bagi Anna Pak A-gi.

Sejenak imannya goyah. Terbayang dalam benaknya bila ia menyangkal Kristus, ia dapat kembali menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Ia dapat kembali menjadi seorang istri yang taat bagi suaminya dan menjadi seorang menantu yang berbakti bagi ibu mertuanya. Bila ia meninggalkan imannya, ia dapat membawa kembali kedamaian dan kebahagiaan kepada seluruh keluarga. Namun secara luar biasa Anna Pak A-gi dapat mengatasi godaan duniawi ini. Dengan bercucuran air mata Anna menolak permohonan keluarganya untuk murtad. Ia malahan memohon pada suami dan puteranya agar bertobat dari kemurtadan dan kembali menjadi pengikut Kristus yang setia.

Beberapa kerabatnya juga datang ke penjara dan membujuknya untuk murtad. Anna Pak A-gi mendengarkan mereka dan menjawab demikian, “Apakah sepadan memilih kematian kekal hanya agar dapat hidup beberapa hari lagi?. Daripada mendesak saya untuk murtad, lebih baik kalian bertobat. Kalian harus iri akan keberuntungan saya.”

Sipir penjara juga mendesak dia dengan berkata, “Suami dan putramu telah dibebaskan dan kembali ke rumah. Dengan hanya satu kata, kamu dapat berbuat yang sama. Kamu begitu keras hati sehingga tidak dapat digerakkan oleh permohonan mereka. Apakah kamu memiliki banyak nyawa?” Kemudian Anna Pak A-gi menjawab, “Kemurtadan suami dan putra saya adalah urusan mereka. Apa hubungannya dengan saya?. Walau mereka telah murtad! Saya memilih untuk mempertahankan iman saya dan mati untuk itu.”

Ia kemudian disiksa lagi dengan dipukuli sampai dagingnya lepas dan tulang-tulangnya terlihat. Namun Anna Pak A-gi tetap bertahan dan berlutut sambil berdoa. Akhirnya, sang komisaris menyadari bahwa mereka tidak akan dapat mematahkan iman wanita perkasa itu. Anna Pak A-gi lalu dipindahkan ke penjara yang lain. Di sana, dia kembali menjalani siksaan yang mengerikan.

Saat dalam persidangan, Hakim membujuknya untuk murtad; “Suami dan putramu telah dibebaskan. Dengan satu kata saja, kamu juga bebas seperti mereka.” Anna Pak A-gi menjawab, “Itu keinginan mereka sendiri. Keinginan saya adalah mati bagi Tuhan.”

Setelah tiga tahun di penjara, Anna Pak A-gi, yang saat itu berusia 57, tahun dijatuhi hukuman mati pada tanggal 10 Mei 1839 dengan tuduhan membaca buku-buku sesat dan gambar-gambar yang jahat. Ia dieksekusi bersama delapan martir Katolik lainnya pada hari Jumat tanggal 24 Mei 1839 di luar Pintu Gerbang Kecil Barat, Seoul Korea Selatan.

Santa Anna Pak A-gi dibeatifikasi bersama Para Martir Korea lainnya oleh Paus Pius XI pada tanggal 5 Juli 1925 dan dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Anna adalah nama versi Yunani dan Latin dari nama Ibrani חַנָּה (Channah) yang berarti "mendukung" atau "rahmat" atau “Berkat”

Santa Lusia Pak Hui-sun

Martir · 1801-1839

Santa Lusia Pak Hui-sun adalah adik dari Santa Maria Pak K’un-agi. Mereka berasal dari keluarga kaya di kota Hanyang (Seoul). Pak Hui-sun terkenal akan kecantikannya. Pada usia dini ia telah dipanggil menjadi dayang-dayang bagi Permaisuri Kim Sunwon di istana kerajaan. Selain cantik dan menawan, Pak Hui-sun juga pintar dan terampil. Dia fasih berbahasa Korea dan Mandarin sehingga dengan cepat ia dipromosikan. Di sisi lain, kecantikannya juga menjadi sumber masalah. Saat Pak Hui-sun berumur lima belas tahun, Raja Sunjo (raja ke-23 Dinasti Joseon, Korea. Bertakhta sejak tahun 1800 sampai tahun 1834) yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun melihatnya dan segera tertarik pada kecantikannya. Sang raja lalu berusaha untuk merayunya.

Wanita istana biasanya akan menganggap hal ini sebagai suatu kehormatan dan kebanyakan dari mereka akan berusaha keras untuk menarik perhatian raja. Namun Pak Hui-sun menghormati sang Ratu dan tidak ingin menyakiti hatinya. Karena itu dengan keberanian yang luar biasa ia berhasil menghindar dari godaan raja Sunjo. Rumor tentang situasi itu sempat merebak keseluruh istana.

Ketika ia berusia tiga puluh tahun, Pak Hui-sun mendengar tentang Gereja Katolik untuk pertama kalinya. Jenuh dengan kehidupan di istana yang penuh intrik politik, ajaran iman Katolik yang baru dikenalnya menjadi cahaya yang menuntunnya menjalani kehidupan yang lebih baik. Dia ingin mempelajari lebih dalam tentang ajaran iman Katolik, namun aturan ketat dalam istana Kerajaan tidak memungkinkan nya untuk melakukan hal tersebut. Di masa itu, seorang dayang istana biasanya akan hidup selamanya dalam istana. Mereka hanya diperkenankan meninggalkan istana bila memiliki alasan yang sangat serius. Demi beroleh kesempatan mempelajari iman Kristiani, Pak Hui-sun berpura-pura sakit hingga diperbolehkan meninggalkan istana untuk menjalani perawatan.

Ayah Pak Hui-sun sangat marah dengan keputusan puterinya nya keluar dari istana. Ia bertambah murka setelah mengetahui alasan puteri kebanggaannya itu pergi dari istana, yaitu untuk mempelajari ajaran iman Katolik. Pak Hui-sun lalu diusir dari rumah dan terpaksa tinggal bersama dengan keponakannya. Disana Pak Hui-sun menolak semua kemegahan dan kemewahan serta memilih cara hidup yang sederhana. Teladan hidupnya yang kudus membuat keponakannya dan juga keluarga keponakannya tertarik akan ajaran iman Kristiani. Mereka ikut belajar katakese, lalu dibaptis bersama-sama. Pak Hui-sun memilih nama Babtis : Lusia.

Beberapa waktu kemudian, seorang saudarinya yang bernama Pak K’un-agi datang untuk tinggal di rumah tersebut. Tidak lama kemudian saudari ini juga dibabtis dengan nama Maria. Tidak diketahui latar belakang pertobatan Maria Pak K’un-agi. Namun tidak diragukan lagi, pertobatannya terjadi karena pengaruh adiknya Lusia.

Ketika penganiayaan terjadi, mereka berusaha untuk tenang dan tetap hidup bersama-sama. Pada tanggal 15 April 1839 polisi kerajaan mendatangi rumah mereka. Lusia Pak Hui-sun keluar menemui mereka dan mengundang para polisi itu untuk makan dan minum anggur. Kelurganya serta umat Katolik lainnya sangat terkejut akan sikapnya. Namun ia berkata dengan tenang, “Tidak akan terjadi sesuatu tanpa izin Tuhan. Jika ini adalah kehendak-NYA, maka marilah kita menerimanya dengan rela.”

Lusia Pak Hui-sun, kakaknya Maria Pak K’un-agi, dan umat Katolik lainnya lalu ditangkap dan digiring ke penjara. Mereka tahu betul bahwa mereka mungkin akan dianiaya dan dihukum mati, namun mereka sama sekali tidak merasa takut.

Berita penangkapan seorang wanita istana segera kemudian menyebar keseluruh wilayah kerajaan. Sebuah perintah dikeluarkan oleh istana, “Jika ditemukan bukti terhadap seorang mantan wanita istana, ataupun yang masih berstatus sebagai wanita istana, mereka harus ditangkap sesudah pemberitahuan kepada pihak istana.”

Karena Lusia Pak Hui-sun pernah menjadi seorang wanita istana, ia pun disiksa tanpa ampun. Komisaris polisi berteriak kepadanya, “Wanita istana lebih terdidik daripada wanita lainnya, bagaimana kamu bisa percaya akan agama palsu dan tercela ini?” Pak Hui-sun menjawab, “Kami tidak mempercayai agama ini sebagai agama palsu. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu di langit dan di bumi dan telah memberikan kehidupan kepada manusia, sehingga layaklah untuk memuji dan menyembah Tuhan. Adalah suatu kewajiban bagi semua orang untuk memuliakan Tuhan.”

Sang komisaris lalu menatapnya dan berkata, “Tinggalkanlah Gereja Katolik, dan berikan nama-nama umat Katolik lainnya.” Lusia menjawab, “Tuhan adalah Penciptaku dan juga Bapaku, aku tidak dapat meninggalkan-NYA walau apapun yang akan terjadi. DIA juga melarang kita untuk membahayakan nyawa orang lain, karena itu saya tidak dapat memberitahukan nama umat beriman lainnya.” Komisaris segera menyadari bahwa dia tidak akan berhasil membujuk Lusia Pak Hui-sun. Karena itu ia mengembalikan Lusia ke penjara.

Di penjara, Lusia disiksa tiga kali lebih banyak dari umat Katolik yang lain. Ia dicambuk dengan tiga puluh cambukan setiap kali ia disiksa. Dagingnya terkoyak hingga tulang-tulangnya terlihat. Sebuah kakinya lalu dipukuli hingga patah dan ia roboh bermandikan darah. Lusia menyeka luka-lukanya dengan rambutnya sambil berkata, “Sekarang saya dapat sedikit merasakan rasa sakit yang diderita Tuhan Yesus dan Bunda Maria.”. Ia tetap tegar selama menjalani penyiksaan dan menolak untuk menunjukkan rasa sakitnya.

Beberapa hari kemudian, luka-luka disekujur tubuh wanita perkasa ini sembuh dengan sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Mujizat ini dalam beberapa hari dan membuat takjub semua orang dan menggentarkan hati para penjaga dan hakim. Mereka lalu mengaitkan mujizat ini dengan ilmu sihir.

Menyadari tidak ada harapan untuk membujuk para tahanan Kristen untuk mengakui kesalahan dan meninggalkan iman mereka, hakim lalu menjatuhkan hukuman mati kepada meraka. Catatan pengadilan mereka menyebutkan :

“Pak Hui-sun dan teman-temannya tetap bertahan dalam kesesatan mereka. Perbuatan mereka jahat dan tidak tulus. Perkataan mereka dan keheningan mereka semuanya adalah tahayul dan sihir. Dalam perkataan dan bahasa isyarat, mereka tidak melakukan apapun selain kutukan. Mereka menolak untuk menyesalinya dan oleh karena itu mereka pantas dihukum mati.”

Dalam penjara, Lusia Pak Hui-sun menjadi contoh seorang pengikut Kristus yang sejati. Ia menjadi guru katekese bagi para tahanan Kristen, menghibur mereka yang berduka dan menguatkan iman mereka di tengah kekhawatiran dan keraguan. Lusia sendiri dengan tabah mempersiapkan diri untuk menjalani hukuman mati. Dikatakan pada suatu hari ia pernah memanggil algojo dan berkata kepadanya, “Saya memiliki sebuah permintaan. Saat anda memenggal kepala saya, janganlah ragu. Lakukanlah dengan satu kali tebasan.”

Hukum Korea dimasa itu tidak memperbolehkan dua bersaudara untuk dieksekusi pada hari yang sama. Karena itu Lusia dan Maria akan dieksekusi pada waktu yang berbeda. Pada tanggal 24 Mei 1839, Lusia Pak Hui-sun yang saat itu berusia 39 tahun, bersama delapan martir Kristen lainnya digiring keluar penjara menuju Pintu Gerbang Kecil Barat kota Seoul untuk dieksekusi. Dia berpamitan kepada umat di penjara lalu berkata kepada para tahanan yang akan dieksekusi bersamanya; “Mari kita berjalan menuju kemartiran untuk mendapatkan kemuliaan di Surga.” Lusia terus melantunkan berdoa disepanjang jalan menuju tempat eksekusi. Ia tidak kehilangan ketenangannya dan menerima tebasan algojo dengan senyum kemenangan.

Empat bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 3 September 1839, kakaknya Maria Pak K’un-agi dieksekusi ditempat yang sama bersama Santa Barbara Kwon Hui dan beberapa martir lainnya. Mereka dibeatifikasi bersama Para Martir Korea lainnya pada tanggal 5 Juli 1925 oleh paus Pius XI, dan dikanonisasi bersama juga pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Diturunkan dari kata Latin : “Lux” yang berarti : “Cahaya”

Santa Magdalena Kim Ob-i

Martir · 1774-1839

Santa Magdalena Kim Ob-i lahir pada tahun 1774 di kota Seoul. Ia dibabtis menjadi Katolik sejak kecil dan beranjak dewasa dengan iman yang kokoh. Seumur hidupnya ia selalu berupaya untuk menjalani hidup kudus sesuai ajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang wanita katolik sejati yang siap melayani Tuhan dengan cara terbaik dan selalu patuh pada hirarki Gereja.

Dimasa muda, Agatha memimpikan untuk mengucapkan kaul kemurnian namun impiannya tidak bisa terwujud. Kedua Orang tuanya yang bukan Katolik tidak bisa memahami niat mulianya itu. Magdalena muda tidak dapat menentang kehendak orang tuanya hingga akhirnya ia pun menikah. Rahmat Tuhan rupanya selalu menyertai Magdalena, suaminya adalah seorang Katolik begitu juga dengan para kerabatnya. Namun sayangnya, Magdalena kemudian kehilangan sang suaminya dan juga anak-anaknya.

Setelah kematian ibunya beberapa waktu kemudian, Magdalena lalu berkaul untuk menyerahkan sisa hidupnya bagi Tuhan. Ia banyak terlibat dalam berbagai di Gereja dan menjadi guru agama yang mengajar katekese kepada para tetangganya. Kepribadian Magdalena Kim Ob-i begitu menyenangkan sehingga banyak orang suka mendengarkan pelajaran agama darinya. Pada masa-masa inilah pemerintah Korea mulai menganiaya umat Katolik. Magdalena sama sekali tidak merasa gentar. Ia bertekad untuk menyerahkan hidupnya bagi bagi Gereja Kristus, bila diperlukan.

Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama pada bulan September 1836. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi ditangkap bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke tahanan pada hari yang sama.

Pada bulan September 1836 Santa Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi juga ditangkap saat bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke penjara bersama-sama.

Di penjara mereka berkumpul bersama beberapa umat Katolik yang telah ditangkap duluan. Mereka adalah Santo Damianus Nam Myong-hyok yang ditahan dengan tuduhan menyembunyikan jubah Uskup, Santo Petrus Kwon Tug-in yang dituduh menjual salib dan gambar-gambar suci, Santa Anna Pak A-gi yang tetap berada di penjara walaupun suami dan anaknya telah murtad, dan Santa Agatha Yi, kakak perempuan dari Santo Petrus Yi Ho-yong.

Setelah menjalani penyiksaan yang mengerikan, hukuman mati dijatuhkan kepada Damianus Nam Myong-hyok, Petrus Kwon Tug-in dan Anna Pak A-gi pada tanggal 11 Mei 1839. Pada hari berikutnya, Agustinus Yi Kwang-hon dan Lusia Pak Hui-sun juga dijatuhi hukuman mati. Tiga hari kemudian Magdalena Kim Ob-i, Barbara Han A-gi, dan Agatha Kim A-gi juga dihukum karena mempercayai iman Katolik dan menolak untuk murtad. Para pahlawan iman ini akan dieksekusi bersama-sama pada tanggal 24 mei 1839.

Proses eksekusi para martir ini di digambarkan oleh Santo Karolus Cho Shin-ch’ol sebagai berikut,

“Pada hari yang sudah ditentukan, sebuah gerobak sapi dengan palang yang lebih tinggi daripada tinggi rata-rata orang saat itu didirikan bagi mereka. Kemudian mereka dibawa keluar dari penjara. Ketika semuanya sudah siap, para penjaga membawa para tahanan dan mengikat tangan dan rambut mereka pada palang tersebut. Sebuah penahan kaki dipasangkan di kaki mereka dan sinyal keberangkatan dibunyikan. Ketika mereka tiba di bukit yang curam di mana Pintu Gerbang Kecil Barat berada, para penjaga tiba-tiba menarik penahan kaki mereka dan pengemudi gerobak memaksa sapi-sapi itu untuk berlari ke bawah. Jalannya kasar dan berbatu. Gerobak meluncur dan menyebabkan penderitaan hebat bagi para tahanan yang tangan dan rambut mereka digantung pada kayu palang itu. Di tempat eksekusi yang berada di kaki bukit. Para penjaga melepaskan para tahanan dari palang itu dan merobek pakaian mereka. Algojo mengikat rambut mereka pada balok kayu lalu mereka memenggal kepala mereka.”

Di catatan pengadilan waktu itu tertulis sebagai berikut, “Pada tanggal 12 April, Agustinus Yi Kwang-hon, Petrus Kwon Tug-in dan yang lainnya, yang bukan penjahat, mereka semua dieksekusi karena mengikuti agama palsu.”

Uskup Imbert menulis tentang kemartiran mereka :

“Dengan susah-payah kami akhirnya bisa memperoleh jenazah mereka pada tanggal 27 April dini hari. Kami memakamkan jenazah para martir ini pada tempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Pada mulanya saya menginginkan jenazah mereka agar dipakaikan pakaian yang bagus dan diminyaki dengan parfum yang mahal, sesuai tata cara penguburan di Eropa. Namun kami hanyalah orang-orang miskin dan menguburkan mereka dengan cara demikian hanya akan membebani umat Katolik, sehingga kami hanya membungkus jenazah mereka dengan tikar jerami. Sekarang kami memiliki banyak pelindung dari surga. Ketika hari kebebasan beragama terwujud di Korea, sebagai mana kita tahu itu akan terjadi, jenazah mereka akan menjadi warisan iman yang berharga.”

Santa Agatha Kim A-gi, Santa Magdalena Kim Ob-i, dan Santa Barbara Han A-gi dibeatifikasi pada tanggal 5 Juli 1925. Mereka dikanonisasi bersama 103 Martir Korea pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Magdalena bisa berarti "Menara yang tinggi" (Yunani), juga merupakan Nama sebuah desa di Palestina pada jaman Yesus (Magdala)

Santa Yoana

Pendamping Rasul-rasul

Istri pegawai Kerejaan Herodes ini kerapkali mendampingi para Rasul dan murid Yesus dalam tugasnya mewartakan Injil. Pada hari Paskah pagi, ia pergi ke makam Yesus. Namun makam itu tampak kosong dan ditinggalkan oleh Yang Bangkit diantara orang mati. (Luk 8:1-3 dst; 24:10)

Santo Agustinus Yi Kwang-Hon

Martir · 1787-1839

Santo Agustinus Yi Kwang-hon lahir pada tahun 1787 di Kwangju, Gyeonggi-do Korea. Ia berasal dari keluarga bangsawan Kwangju Yi, yang mana pada masa penganiayaan tahun 1801, banyak anggota keluarga bangsawan ini yang gugur menjadi martir Kristus.

Agustinus Yi Kwang-hon bersama dengan adik laki-lakinya, Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol, istrinya Barbara Kwon Hui, dan juga putrinya Agatha Yi, empat anggota dalam satu keluarga ini juga memenangkan mahkota kemartiran dan menjadi menjadi saksi-saksi Kristus yang jaya.

Yi Kwang-hon dikenal sangat cerdas dan cakap dan diketahui pada masa mudanya ia kurang menahan diri dan terjerumus dalam pergaulan bebas. Pada masa ini, Raja Jeongjo (Raja ke-22 dari Dinasti Joseon) meninggal dunia dan digantikan oleh Pangeran Sun-jo yang saat itu masih berusia sebelas tahun. Pergantian kekuasaan ini memiliki dampak politik dimana kekuasaan berpindah-pindah dari satu fraksi ke fraksi lain. Gereja Katolik Korea yang baru saja bertumbuh terjebak dalam pertarungan politik dan penganiayaan terhadap Gereja mulai terjadi pada tahun 1801. Di Tahun itu Gereja Katolik dinyatakan sebagai ajaran yang salah dan terlarang di seluruh wilayah kerajaan. Penganiayaan dimulai dan darah para martir Kristus pun mengalir di tanah Korea.

Pada waktu itu, Yi Kwang-hon berusia tiga puluh tahun dan sudah menikah dengan Kwon Hui selama beberapa tahun. Kebiasaannya untuk keluyuran dan hidup bebas masih belum berubah. Suatu hari, dia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang Katolik yang saleh. Dari orang itulah pertama kalinya dia mendengar tentang Kristus dan iman Kristiani. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yi Kwang-hon merenungkan bahwa Tuhan yang memiliki segala sesuatu di Surga dan bumi itu ada, dan juga Tuhan yang Mahatahu dan Mahakuasa serta menjadi Bapa bagi semua orang. Dan ketika manusia meninggal, tubuhnya kembali menjadi debu, namun jiwanya akan tetap hidup.

Mendalami ajaran Kristiani membuat Yi Kwang-hon merasa bagai dilahirkan kembali. Dia kini dapat melihat pola hidupnya selama ini yang tidak lebih baik daripada seekor binatang buas. Dia merasa menyesal akan dosa masa lalunya dan berharap dapat meneladani hidup Santo Agustinus yang pernah menjalani kehidupan yang bebas dan penuh dosa di masa muda sebelum akhirnya bertobat. Setelah belajar katekese selama beberapa waktu, Yi Kwang-hon kemudian dibabtis dengan nama Agustinus.

Hidup Agustinus Yi Kwang-Hon pun berubah. Ia berhenti minum anggur dan jarang meninggalkan rumah. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan merenung sendirian. Suatu hari, dia memanggil istri bersama adiknya, lalu berkata kepada mereka,

"Beberapa waktu yang lalu saya mendengar tentang Gereja Katolik. Pemerintah telah menyatakan ajaran ini sebagai ajaran terlarang. Tetapi menurut saya, ajaran iman Katolik membuat yang lain (kehidupan duniawi) tampak tiada berarti. Sama seperti adanya matahari dan bulan, dibalik itu semua terdapat Tuhan yang sejati. Karena itu daripada saya mempercayai ajaran ini sendirian, betapa baiknya jika istri dan saudara lelaki saya juga ikut percaya bersama saya. Bagaimana menurut kalian.? "

Istri dan adiknya pernah mendengar tentang Gereja Katolik, dan mereka setuju untuk bergabung dengannya. Masing-masing mereka kemudian dibabtis dengan nama Barbara dan Yohanes Pembabtis. Rumah keluarga bangsawan ini kemudian digunakan sebagai tempat berkumpul bagi umat Katolik dan Agustinus menjadi seorang katekis. Bersama dengan istrinya Barbara, Agustinus berusaha keras memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-NYA dan sekuat tenaga memelihara komunitas umat Katolik di lingkungan mereka.

Sementara itu, tekanan politik semakin memuncak dan penganiayaan atas umat Katolik semakin sering terjadi. Pada malam hari tanggal 7 April 1839, tiba-tiba polisi mengepung sebuah penginapan di seberang rumah di mana para misionaris biasanya tinggal. Banyak umat Katolik yang ada di penginapan itu ditangkap dan dibawa ke penjara. Diantara mereka terdapat seorang wanita yang suaminya masih seorang katekumen, yang tahu banyak tentang umat Katolik diwilayah itu. Mendengar tentang penangkapan istrinya, sang suami bergegas ke kantor polisi dan meminta istrinya untuk murtad agar bisa dibebaskan. Namun sang istri dengan tegas menolak untuk menyangkal imannya. Suaminya menjadi marah lalu membeberkan kepada polisi semua informasi yang ia ketahui tentang umat Katolik termasuk nama lima puluh tiga umat Katolik di wilayah itu.

Berbekal informasi ini, polisi segera melakukan penangkapan dihari berikutnya. Tanggal 8 April rumah Damianus Nam myong-hyok dan Agustinus Yi Kwang-hon digrebek. Agustinus beserta istrinya Barbara Kwon Hui, putri mereka Agatha Yi yang masih berusia tujuh belas tahun, serta dua putra mereka yang masih kecil-kecil, ditangkap bersama puluhan umat Katolik lainnya. Mereka kemudian dibawa ke penjara.

Para pria dimasukkan dalam satu sel penjara, para wanita di sel lainnya, dan anak-anak didalam sel ketiga. Ketika putra Agustinus Yi Kwang-hon yang masih berusia delapan tahun menangis karena ingin bersama dengan kedua orang tuanya, salah seorang penjaga lalu memukulinya. Barbara Kwon Hui pun meradang melihat puteranya dipukuli. “Apa kesalahan yang telah anak itu lakukan sehingga anda memukulinya?” Teriaknya sengit. “Apakah anda sendiri tidak memiliki anak?”.

Tetapi Agustinus menenangkannya, “Bersabarlah”, kata Agustinus. “Kita ini adalah anak domba persembahan bagi Allah. Janganlah kita kehilangan kesempatan ini.” Sejak saat itu, Barbara Kwon Hui menjadi lebih sabar dan tabah. Ia menerima segala perlakuan kasar terhadap dirinya dan mengangapnya sebagai rahmat.

Para tahanan diinterogasi pada pagi hari berikutnya. Agustinus Yi Kwang-hon menjadi orang pertama yang dipanggil. Penjaga berkata kepadanya, “Dengan satu kata dari mulutmu untuk mengkhianati Allah, maka kamu, istrimu, anak-anakmu juga adikmu dapat dibebaskan, dan juga seluruh milikmu akan dikembalikan,”. Namun Agustinus menjawab, “Hal yang paling penting bagi saya di dunia ini adalah iman saya. Bahkan jika saya harus kehilangan segalanya, saya tidak dapat mengkhianati Allah.”

Ketika istrinya Barbara dan putrinya Agatha dipanggil, jawaban mereka juga sama. Hal ini membuat komisaris menjadi sangat marah dan memerintahkan agar bangsawan Agustinus Yi Kwang-hon disiksa dengan keji. Agustinus dibawa ketempat penyiksaan lalu dipukuli dengan gada sampai sebagian besar daging di tubuhnya hancur bagaikan bubur. Namun dengan iman yang tak tergoyahkan, Agustinus menerima semua siksaan ini dengan tabah dan penuh rasa syukur. Ia mengucap syukur karena demi imannya, ia boleh menderita sengsara seperti yang dialami Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju bukit kalvari.

Setelah melalui tiga hari persidangan, hakim lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Agustinus Yi Kwan-Hon dan delapan tahanan Katolik lainnya. Pada tanggal 24 mei 1839, Agustinus Yi Kwang-hon yang saat itu berusia 53 tahun; dieksekusi bersama delapan orang martir Kristus lainnya. Para pahlawan iman ini tewas dipenggal di luar Pintu Gerbang Kecil Barat di pusat kota Seoul.

Pada tanggal 20 Juli 1839, Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol bersama dengan tujuh orang umat Katolik lainnya, dipenggal di Pintu Gerbang Kecil Barat kota Seoul. Pada saat itu Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol berusia 45 tahun. Pada tanggal 3 September 1839, Barbara Kwon Hui bersama dengan lima orang wanita Katolik lainnya dipenggal ditempat yang sama. Pada 9 Januari 1840, puteri Agustinus dan Barbara yaitu Agatha Yi bersama dengan Teresia Kim tewas dicekik penyidik dalam sebuah interogasi di sel tahanan.

Dengan demikian, empat anggota keluarga Agustinus Yi Kwang-Ho telah memenangkan mahkota kemartiran. Mereka dibeatifikasi bersama para Martir Korea lainnya pada tanggal 5 Juli 1925 oleh paus Pius XI, dan dikanonisasi bersama juga pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Agustinus = Penuh Keagungan (Latin)

Santo Damianus Nam Myong-hyok

Martir · 1802-1839

Damianus Nam Myong-hyok lahir pada tahun 1802 dalam sebuah keluarga bangsawan. Ia mengenal iman Kristiani pada usia 30 tahun dan dibabtis oleh Pasifikus Yu Pang-je, seorang imam dari Tiongkok yang diutus ke Korea oleh Uskup Beijing. Pasifikus Yu Pang-je adalah imam kedua yang bertugas di Korea. Ia tiba di Korea pada bulan Januari 1834 dan menjadi satu-satunya imam yang bertugas di semenanjung Korea setelah Beato Yakobus Zhou Wen-mo, Imam pertama yang diutus ke Korea, tewas menjadi martir pada tahun 1801.

Damianus menjadi seorang katekis dan mengajar banyak orang di rumahnya. Dia juga berkarya merawat para tetangganya dan orang-orang sakit. Diketahui ia selalu berusaha membaptis anak-anak dari keluarga pagan yang berada dalam bahaya kematian (Babtisan Darurat). Orang-orang menghormatinya. Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya tentang nama panggilan yang ia inginkan dalam kehidupan kekal. Damianus berkata, “Saya ingin dipanggil Damianus Nam, martir dan anggota Serikat Skapulir Suci.”

Diawal tahun 1839, penganiayaan atas umat Katolik di Korea dimulai. Pada malam hari tanggal 7 April 1839, polisi menangkap umat Katolik yang berada di sebuah penginapan. Diantara mereka yang ditangkap terdapat seorang wanita yang suaminya masih seorang katekumen, dan tahu banyak tentang umat Katolik diwilayah itu. Mendengar tentang penangkapan istrinya, orang itu bergegas ke kantor polisi dan meminta istrinya untuk murtad supaya bisa dibebaskan. Namun sang istri dengan tegas menolak untuk menyangkal imannya. Suaminya menjadi marah lalu membeberkan kepada polisi semua informasi yang ia ketahui tentang 53 orang umat Katolik di wilayah itu, termasuk katekis Agustinus Yi Kwang-hon dan Damianus Nam. Berbekal informasi ini, polisi kembali melakukan penangkapan dihari berikutnya. Tanggal 8 April 1839 Damianus Nam myong-hyok dan Agustinus Yi Kwang-hon ditangkap bersama dengan keluarga mereka. Jubah, mitra dan buku brevir milik Uskup Joseph Imbert (Santo Laurent-Joseph-Marius Imbert, MEP), yang disimpan oleh Damianus jatuh ke tangan para penangkapnya.

Damianus diinterogasi dengan kejam karena barang-barang milik Uskup Imbert. Demi melindungi uskup misionaris dari Perancis itu, Damianus mengatakan bahwa barang-barang itu adalah milik Pastor Yakobus Zhou Wen-mo yang telah menjadi martir pada tahun 1801. Kepala polisi sebenarnya mengetahui bahwa Damianus berbohong, namun ia berpura-pura percaya pada apa yang dikatakannya demi menghindari masalah besar yang akan terjadi apabila ia menangkap orang asing. Kepala polisi lalu menginterogasi Damianus dengan lebih kejam. “Kamu memberi keterangan palsu!”. Teriaknya pada Damianus. “Jubah dan mitra uskup ini masih baru. Bagaimana mungkin benda-benda ini menjadi milik seorang yang sudah meninggal 40 tahun yang lalu?”.

Karena Damianus menolak menyangkal imannya dan tetap tidak mau memberitahukan nama-nama umat Katolik lainnya, dia kembali disiksa dengan kejam. Sekujur tubuhnya dipukuli hingga tulang-tulang nya patah dan ia tidak sadarkan diri selama empat hari. Namun, syukur kepada Allah, kesadarannya pulih kembali.

Setelah melalui persidangan, Damianus dijatuhi hukuman mati. Ia sempat menulis sepucuk surat bagi istrinya menjelang pelaksanaan hukuman mati; "Dunia ini hanyalah sebuah persinggahan yang kita lewati. Rumah kita yang sebenarnya adalah Surga. Ikutilah aku dan jadilah seorang martir. Aku berharap kita bisa bertemu lagi dalam Kerajaan Mulia yang Kekal,".

Pada hari Jumat tanggal 24 Mei 1839, Damianus, yang saat itu telah berusia 38 tahun, dibawa keluar Pintu Gerbang Kecil Barat Kota Seoul bersama delapan umat Katolik lainnya. Mereka lalu dieksekusi mati dengan cara dipenggal. Manurut para saksi mata, Damianus tidak pernah berhenti berdoa sampai kepalanya lepas dari tubuhnya.

Santo Damianus Nam Myong-hyok dibeatifikasi bersama para Martir Korea lainnya pada tanggal 5 Juli 1925 oleh paus Pius XI, dan dikanonisasi bersama pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Arti nama

Damianus = Ejaan Latin untuk nama Yunani : Δαμιανος (Damianos).

Diturunkan dari kata Yunani δαμαω (damao) yang berarti "Menenangkan".

Santo David I dari Scotlandia

Raja · 1080-1183

David dilahirkan pada tahun 1080. Ia adalah putera bungsu St.Margareta, ratu Skotlandia, dan suaminya yang baik, Raja Malcolm. David sendiri diangkat menjadi raja ketika usianya empat puluh tahun. Mereka yang mengenalnya dengan baik tahu betapa sedikit minatnya dalam menerima mahkota kerajaan. Tetapi, begitu ia menjadi raja, ia menjadi seorang raja yang sangat baik bagi rakyatnya.

St. David memerintah kerajaannya dengan adil dan bijaksana. Ia amat murah hati pada kaum miskin. Semua rakyatnya diijinkan menemuinya kapan saja mereka kehendaki. Ia memberikan teladan baik pada semua orang dengan teladan cintanya akan doa. Di bawah pemerintahan raja kudus ini, rakyat Skotlandia semakin bersatu padu sebagai suatu bangsa. Mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih baik. Raja David membentuk keuskupan-keuskupan baru. Ia mendirikan banyak biara-biara baru. Ia menyumbangkan banyak dana bagi Gereja selama dua puluh tahun masa pemerintahannya.

Dua hari sebelum raja mangkat, ia menerima Sakramen Terakhir. Ia menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan berdoa bersama mereka yang menemaninya. Keesokan harinya, mereka mendesak raja untuk beristirahat. Raja David menjawab, “Lebih baik aku memikirkan perkara-perkara Tuhan, agar jiwaku diperkuat dalam perjalanan pulangnya dari pembuangan ke rumah.” Rumah yang dimaksud raja adalah rumah surgawi kita. “Apabila aku berada di hadapan pengadilan Tuhan, kalian tidak akan dapat membelaku,” katanya. “Tak seorang pun akan dapat membebaskanku dari tangan-Nya.” Jadi, ia tetap terus berdoa hingga ajal menjemputnya. St. David wafat pada tanggal 24 Mei 1153

Arti nama

Berasal dari nama Ibrani דָּוִד (Dawid), yang mungkin diturunkan dari kata דוד (dwd) yang berarti "yang terkasih" atau "yang dikasihi"

Santo Petrus Kwon Tug-in

Martir · 1805-1839

Petrus Kwon Tug-in adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir pada tahun 1805 di Seoul, di sebuah keluarga Katolik. Ketika dia masih kecil, ayahnya meninggal. Ibunya seorang Katolik yang saleh, dia juga meninggal ketika Petrus Kwon berusia 16 tahun. Ibunya adalah seorang teladan yang baik yang membuat dia menjadi seorang Katolik yang luar biasa. Dia bangun sebelum ayam pertama kali berkokok dan dia berdoa sampai fajar menyingsing. Dia dikenal sebagai seorang yang baik kepada semua orang.

Setelah ibunya meninggal, dia menikah. Pertama kali dia bekerja di sebuah toko obat herbal kepunyaan saudaranya, namun kemudian dia memiliki usaha kecil sebagai mata pencahariannya. Dia seorang yang miskin, namun dia tidak pernah mengeluh. Setelah dia pindah ke tempat lain, dia membuat salib dan medali suci bukan hanya sebagai mata pencahariannya namun juga untuk biaya Gereja.

Ketika penganiayaan dimulai pada tahun 1839, dia ditangkap bersama dengan keluarganya pada tanggal 16 Januari. Petrus menunjukkan rosarionya kepada para penangkap dalam upaya memberitahukan mereka bahwa dia dan keluarganya semua adalah orang Katolik. Oleh karena itu, mereka menjadi keluarga pertama yang ditangkap ketika penganiayaan tahun 1839. Uskup Imbert yang berada di dekat Suwon, diberitahukan tentang penangkapan itu dan beliau kembali ke Seoul untuk menghibur dan menguatkan umat Katolik yang ketakutan.

Mereka diselidiki dan disiksa dengan berbagai cara. Istri Petrus dan saudara iparnya, tidak dapat menahan siksaan, sehingga mereka menyangkal imannya dan kemudian mereka dibebaskan. Petrus yang masih berada di penjara, menulis surat untuk mereka supaya mereka mengubah pikiran mereka. Berdasarkan kesaksian menantu perempuannya yaitu Agatha Yi, istrinya mengakui kesalahan dan kemurtadannya dan kemudian dia menyesalinya.

Petrus diinterogasi dengan kejam oleh kepala polisi.

“Mengapa kamu percaya akan agama Katolik?”

“Kita semua harus bersyukur kepada Allah, Sang Pencipta malaikat, manusia dan segala sesuatu yang ada di bumi. Setiap orang harus menyembah Dia.”

“Beritahu nama-nama sesamamu umat Katolik.”

“Saya tidak dapat melakukannya karena agama saya mengajarkan untuk tidak melakukan hal membahayakan orang lain.”

Petrus disiksa dengan kejam, dan kepala polisi memerintahkan sesama tahanan yang bersama dia mumukulinya. Mereka memukuli Petrus dengan kejam sehingga dia hampit mati yang kedua kalinya. Berdasarkan catatan Pengadilan Penjara, salah satu alasan hukuman matinya adalah Petrus telah membuat dan menjual artikel keagamaan.

Akhirnya Petrus dipenggal di luar Pintu Gerbang Kecil Barat pada tanggal 24 Mei 1839, bersama dengan delapan orang umat Katolik lainnya, dan dia waktu itu berusia 35 tahun. Dikatakan, wajahnya tersenyum dengan misterius bahkan setelah kepalanya dipenggal.

Arti nama

Petrus : Berasal dari bahasa Yunani Πετρος (Petros) yang berarti "batu". Ini adalah terjemahan yang digunakan dalam kitab Perjanjian Baru untuk nama Aramiac : Cephas (Kefas), yang juga berarti "batu" (Yoh 1:42).

Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari