Bacaan Misa
Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.
Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku."
Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.
Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!
Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!
Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!"
Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Invitatorium
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang menjanjikan Roh kudus, alleluya.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang menjanjikan Roh kudus, alleluya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pujilah Tuhan, Yang Mahakuasa, Raja ciptaan!
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Di mana pun Engkau berada, Tuhan, di sana ada belas kasihan, di sana ada kebenaran, alleluya.
Mazmur 88 (89):2-38
Kebaikan Allah kepada keluarga Daud
Menurut janji-Nya, Tuhan telah membangkitkan Yesus, seorang Juruselamat, dari keluarga Daud (Kis. 13:22, 23).
AntifonDi mana pun Engkau berada, Tuhan, di sana ada belas kasihan, di sana ada kebenaran, alleluya.
Antifon 2Ketika Putra Allah datang ke dunia ini, Dia dilahirkan dari garis keturunan Daud, alleluya.
AntifonKetika Putra Allah datang ke dunia ini, Dia dilahirkan dari garis keturunan Daud, alleluya.
Antifon 3Sekali untuk selamanya Aku bersumpah kepada hamba-Ku Daud: dinastinya tidak akan pernah gagal, alleluya.
AntifonSekali untuk selamanya Aku bersumpah kepada hamba-Ku Daud: dinastinya tidak akan pernah gagal, alleluya.
Responsorium 1 Yohanes 5:6; Zakharia 13:1
Responsorium Yohanes 7:37, 38, 39
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Segala bangsa akan datang menyembah Engkau, ya Tuhan, alleluya.
Mazmur 85 (86)
Antifon 1Segala bangsa akan datang menyembah Engkau, ya Tuhan, alleluya.
Antifon 2Kami akan melihat Raja dalam kemegahanNya, alleluya.
Yes 33,13-16
Antifon 2Kami akan melihat Raja dalam kemegahanNya, alleluya.
Antifon 3Segala penjuru bumi menyaksikan penyelamatan Allah kita, alleluya.
Mazmur 97 (98)
Antifon 3Segala penjuru bumi menyaksikan penyelamatan Allah kita, alleluya.
Bacaan singkat: Rom 6,8-11
Antifon KidungSyhukur kepada Allah yang memberi kita kemenangan berkat jasa Tuhan kita Yesus Kristus, alleluya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungSyhukur kepada Allah yang memberi kita kemenangan berkat jasa Tuhan kita Yesus Kristus, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Selamatkanlah kami karena kemenanganMu, ya Tuhan.
Kristus penyelamat, Engkau menggembirakan kami dengan kemenanganMu atas maut; Engkau memuliakan kami dengan kebangkitanMu dan melimpahi kami dengan kurniaMu,* bangkitkanlah semangat kami dan kuduskanlah kami hari ini dengan kurnia Roh kudus. ℟.
Engkau dimuliakan di surga oleh para malaikat, dan disembah di bumi oleh manusia, kami mohon pada masa kebangkitanMu ini,* terimalah kiranya ibadat kami dalam roh dan kebenaran. ℟.
Tuhan Yesus Kristus, selamatkanlah kami dan curahkanlah belaskasihanMu atas umat yang menantikan kebangkitan,* kasihanilah kami dan jagailah kami hari ini terhadap segala kejahatan. ℟.
Raja kemuliaan, Engkaulah kehidupan kami, semoga pada saat Engkau menampakkan diri,* kamipun dimuliakan bersama Engkau. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Cf. Rom 4, 24-25)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Barang siapa mengikuti Aku, tidak berjalan dalam kegelapan, tetapi mempunyai cahaya kehidupan, sabda Tuhan, alleluya.
Mazmur 118 (119),105-112
Antifon 1Barang siapa mengikuti Aku, tidak berjalan dalam kegelapan, tetapi mempunyai cahaya kehidupan, sabda Tuhan, alleluya.
Antifon 2Kami ini miskin dan malang, ya Allah, tolonglah kami.
Mazmur 69 (70)
Antifon 2Kami ini miskin dan malang, ya Allah, tolonglah kami.
Antifon 3Allah memutuskan perkara bukan menurut apa yang kelihatan, melainkan menurut keadilan, alleluya.
Mazmur 74 (75)
Antifon 3Allah memutuskan perkara bukan menurut apa yang kelihatan, melainkan menurut keadilan, alleluya.
Bacaan singkat: Rom 4,24-25
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Cf. Eph 4, 23-24)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Dukacitamu akan berubah menjadi sukacita, alleluya.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Dukacitamu akan berubah menjadi sukacita, alleluya.
Antifon 2Hidup atau mati, kita milik Tuhan, alleluya.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Hidup atau mati, kita milik Tuhan, alleluya.
Antifon 3Segala sesuatu diciptakan berdasarkan Kristus dan dalam Kristus, alleluya.
Kol 1,12-20
Antifon 3Segala sesuatu diciptakan berdasarkan Kristus dan dalam Kristus, alleluya.
Bacaan singkat: Ibr 7,24-27
Antifon KidungKristus akan membaptis kamu dengan Roh kudus dan api, alleluya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungKristus akan membaptis kamu dengan Roh kudus dan api, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Kristus, sumber hidup abadi, dengarkanlah kami.
Ingatlah, ya Tuhan, akan semua orang yang melayani umatMu,* agar mereka sanggup memberi teladan hidup suci kepada orang beriman. ℟.
Berilah semangat keadilan dan damai kepada para pemimpin negara,* agar kami dapat hidup rukun di tengah keluarga bangsa-bangsa. ℟.
Berkatilah hidup kami dengan kesejahteraan,* dan tambahkanlah kesuburan bumi untuk menghindarkan bencana kelaparan. ℟.
Kristus, penyelamat, Engkau telah menerangi seluruh dunia dan memanggil setiap makhluk kepada kehidupan,* terangilah arwah para saudara kami dengan cahaya abadi. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
Antifon 1Sudilah Engkau menjadi gunung pengungsian dan benteng pertahananku yang kuat.
Mazmur 30 (31),1-6
Antifon 1Sudilah Engkau menjadi gunung pengungsian dan benteng pertahananku yang kuat.
Antifon 2Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 129 (130)
Antifon 2Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat Ef 4,26-27
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beata Maria Crescentia Perez
Maria Angelica Perez lahir pada tanggal 17 Agustus 1897 di San Martin, Buenos Aires, Argentina dalam sebuah keluarga petani imigran Spanyol yang sangat bersahaja. Kedua orang tuanya, Agustino Perez dan Ema Rodriguez, adalah anggota gereja katolik yang saleh. Mereka membesarkan Maria Angelica bersama enam orang saudaranya dengan cara katolik, dengan penuh iman, cinta, dan rasa hormat terhadap sesama.
Pada usia delapan belas tahun, Maria Angelica masuk biara konggregasi susteran Daughters of Our Lady of the Garden. Setelah menjalani pendidikan selama setahun, ia mengucapkan kaul hidup membiara pada bulan September 1916 dan menggunakan nama Maria Crescencia. Sebagai seorang biarawati, suster Maria Crescencia senantiasa berusaha melayani Tuhan cara terbaik yang bisa ia lakukan. Dia mengagumi St.Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan sangat terinspirasi oleh kehidupan rohani biarawati karmel tersebut.
Pada tahun 1924 suster Maria Crescentia ditugaskan sebagai perawat di Sanatorium (Rumah sakit Khusus untuk penderita Tuberkolosis) di Mar del Plata Argentina. Pada masa itu, TBC atau Tuberkolosis adalah momok dalam dunia kesehatan. Penyakit yang mudah menular ini belum ditemukan obatnya dan setiap orang yang terjangkit penyakit ini dapat dipastikan akan meninggal. Tanpa mengenal takut, suster Maria Crescentia bekerja merawat para pasien TBC di Sanatorim tersebut. Ia juga mengajar agama, memimpin ibadat, dan memberikan pengiburan rohani bagi para penderita TBC yang telah terbuang dari masyarakat. Tidak sekalipun ia mengeluh, meskipun ia kerap harus melaksanakan begitu banyak pekerjaan akibat minimnya tenaga medis yang bersedia ditempatkan disitu.
Setelah dua tahun melayani para pasien tuberkolosis, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Suster Maria Crescentia terjangkit penyakit mematikan tersebut. Namun ia tidak menjadi sedih. Ia tetap meminta pada atasannya agar diijinkan terus bekerja. Namun para atasannya memutuskan untuk memindahkannya ke Chile agar ia bisa beristirahat dan menjalani perawatan. Di Chile, kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Ia menjadi begitu lemah dan lebih sering terbaring ditempat tidur. Suster yang kudus ini tutup usia pada tanggal 20 Mei 1932.
Banyak mujizat dilaporkan terjadi pada para peziarah yang mengunjungi makamnya. Pada tahun 1966, untuk proses penyelidikan kanonisasi, makamnya dibuka dan jasadnya ditemukan masih utuh meski telah terkubur selama 34 tahun. Sebuah mujizat penyembuhan yang luar biasa terjadi pada seorang teknisi laboraturium bernama Pane. Pane sudah lama berada dalam perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Buenos Aires sambil menunggu donor untuk transplantasi hati. Para dokter memberitahunya bahwa ia hanya memiliki waktu selama tiga hari lagi karena komplikasi dengan diabetes dan hepatitis A. Mendengar berita yang menghancurkan hati ini, Pane dan keluarganya berdoa dengan perantaraan Suster Maria Crescencia. Setelah berdoa berturut-turut selama seminggu, secara ajaib Pane disembuhkan dari semua penyakitnya. Mujizat ini diakui oleh para dokter yang merawat Pane dan dilaporkan pada otoritas Gereja. Setelah melakukan penyelidikan dengan seksama; termasuk juga mewawancarai para dokter skeptis yang pernah merawat Pane, gereja mengakui mujizat ini dan menjadikannya sebagai syarat pelengkap bagi proses beatifikasi Sr.Maria Crescencia.
Setengah abad kemudian, pada tanggal 17 November 2012 Paus Benediktus XVI memaklumkan kesucian Suster Maria Crescentia dan menyatakan dirinya sebagai seorang “Beata” atau “Yang terberkati”.
"Do what God wants, want what God wants, and be where God wants."
Beata Maria Crescentia Perez
Santo Arcangelo Tadini
Arcangelo Tadini lahir dalam sebuah keluarga katolik yang sangat bersahaja di Verolanuove Brescia Italia, pada tanggal 12 Oktober 1846. Pada usia remaja, anak sulung dari empat bersaudara ini mengalami kecelakaan yang membuat sebagian urat saraf di kaki kirinya cacat permanen. Ia terpaksa harus menjalani hidupnya dengan kaki yang pincang. Namun cacatnya ini tidak membuat Arcangelo menjadi rendah diri. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang tabah, tak banyak mengeluh dan sabar.
Pada usia 18 tahun Arcangelo masuk seminari menengah di Bescia. Ia belajar dengan tekun dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1870. Namun sebuah penyakit memaksanya untuk menghabiskan tahun pertamanya imamat dalam perawatan medis ditengah keluarganya. Setelah sembuh, Arcangelo ditugaskan menjadi pastor pembantu di sebuah desa terpencil di wilayah pegunungan Lodrino, Brescia. Dua tahun kemudian ia ditugaskan sebagai pastor paroki di Paroki Santa Maria della Noce, Brescia.
Pada masa itu, disebagian besar wilayah Italia, terjadi krisis ekonomi pasca Revolusi Industri di Eropa. Industrialisasi bidang pertanian, pertambangan, transportasi, manufaktur, dan teknologi, telah menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Kebanyakan yang menjadi penganggur adalah para buruh tani dan buruh pertambangan.
Revolusi industri ini telah menyebabkan sebagian besar warga paroki Santa Maria della Noce, Brescia menganggur dan menjad tuna wisma. Mereka tidak lagi peduli dengan kehidupan rohani. Lebih penting bagi mereka untuk mencari sesuap nasi demi bertahan hidup, daripada pergi ke gereja atau mengikuti kegiatan rohani. Keadaan umat yang menyedihkan ini, membuat pastor Arcangelo terpanggil untuk membantu kehidupan mereka. Gembala yang baik ini yakin bahwa Pemenuhan kebutuhan rohani umatnya haruslah dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan jasmani mereka. Ia lalu membuka dapur umum di pastoran. Setiap hari, ia menyiapkan makanan bagi 300-an tunawisma. Mereka akan makan bersama dan saat itu menjadi kesempatan bagi pastor Arcangelo untuk membimbing mereka.
Pada tahun 1885, Arcangelo ditugaskan menjadi pastor pembantu di Paroki Botticino Sera, masih di Brescia. Dua tahun kemudian ia diangkat menjadi menjadi Pastor Kepala di paroki tersebut. Jabatan ini diembannya sampai ia tutup usia. Di paroki ini pastor Arcangelo berkarya dengan gemilang. Ia melayani umatnya dengan tulus dan membuat iman umat bertumbuh dengan pesat. Ia terkenal sebagai pastor yang suka mengunjungi umatnya dari rumah ke rumah; sesuatu yang jarang dilakukan para pastor paroki pada masa itu (klo sekarang ..?? ).
Awalnya, umat tidak peduli padanya. Dalam kehidupan yang sulit di masa itu, demi bertahan hidup, umat harus pontang-panting mengais rejeki. Mereka tidak lagi peduli untuk berdoa, membaca Kitab Suci atau ikut kegiatan di Gereja. Namun ketika pastor paroki tiba di depan rumah, mereka akan menyambutnya dengan penuh sukacita. Mereka menyadari bahwa untuk mengunjungi mereka, sang gembala telah berjalan kaki dengan terseok-seok menyeret kaki kirinya yang cacat.
Prihatin dengan keadaan umatnya, Pastor Arcangelo lalu mendirikan sebuah lembaga asuransi sosial bagi orang sakit dan lanjut usia. Lembaga ini diberi nama : Worker’s Mutual Aid Association yang bekerja melayani pengobatan semua orang sakit di parokinya, termasuk kaum lanjut usia dan korban kekerasan. Asuransi ini juga menyediakan layanan Konseling bagi para korban Revolusi Industri.
Demi meningkatkan taraf hidup umatnya, pastor Angelo mendirikan sebuah pabrik pemintalan benang. dengan modal sendiri. Pabrik ini diprioritaskan untuk menyediakan lowongan kerja bagi kaum wanita di sekitar Botticino Sera. Semua keuntungannya digunakan untuk membangun tempat tinggal bagi tunawisma, terutama kaum perempuan.
Pada tahun 1900, Arcangelo mendirikan sebuah konggregasi susteran yang diberi nama Congregation of Worker Sisters of the Holy House of Nazareth atau Kongregasi Suster-suster Pekerja dari Rumah Kudus Nazareth (Suster-suster Nazareth). Nama konggregasi ini didedikasikan bagi Keluarga Kudus dari Nazareth. Para Suster Nazareth bekerja dengan buruh wanita dipabrik. Sebelum dan sesudah bekerja, mereka membacakan doa, Kitab Suci, serta refleksi harian kepada para buruh wanita. Hal ini membuat dari mereka yang terpanggil menjadi Suster Nazareth.
Perlahan-lahan pastor Arcangelo menuntun umatnya untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi dan keterpurukan iman. Kerja kerasnya mampu meningkatkan taraf hidup umatnya. Kehidupan rohani mereka juga berkembang pesat. Kini mereka mulai terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan di Gereja.
Santo Arcangelo Tadini tutup usia dengan tenang di Botticino Brescia pada tanggal 20 May 1912. Ia dimaklumkan sebagai Venerabilis pada 21 Desember 1998 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dibeatifikasi oleh Paus yang sama pada 3 Oktober 1999. Pada tanggal 26 April 2009 ia dikanonisasi oleh Paus Benediktus XVI.
Arti nama
Arcangelo : Malaikat Agung
Santo Bernardius dari Siena
Kesalehan hidup Bernardius dari Siena di luar dugaan telah dikenal oleh Santo Vinsensius Ferreri. Gelar “Kudus” yang diberi oleh Gereja kepada Bernardius telah dikatakan secara jelas oleh Vinsensius Ferreri dalam kesempatan khotbahnya di Siena. Dalam khotbahnya di Siena, Vinsensius Ferreri secara tiba-tiba mengatakan kepada para pendengarnya: “Saudara-saudara, diantara kalian yang sekarang hadir disini terdapat seorang saudara kita yang nanti akan menjadi pengkhotbah besar dan akan dihormati Gereja sebagai “Orang Kudus”. Dialah Bernardius yang ada diantara kalian.”
Bernardius lahir di Massa, Siena, Italia, pada tanggal 8 September 1380. Semenjak kecilnya ia sudah hidup sebagai yatim. Ia dibesarkan oleh tantenya. Keluarganya tergolong keluarga berada. Tetapi cita-cita luhur yang berkobar dalam dirinya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan membuat dia tidak menaruh harapan pada kekayaan itu. Ia menaruh perhatian besar pada nasib orang-orang miskin. Sekali peristiwa, bibinya mengusir seorang miskin yang datang meminta bantuan. Menyaksikan perbuatan bibinya itu, Bernardius mogok makan sepanjang hari, karena ia terus memikirkan pengemis malang yang kosong perut itu.
Bernardius kemudian belajar Hukum Gereja dan Hukum Negara. Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1397, ia masuk persekutuan Bunda Maria, yang berpusat di rumah sakit terkenal Santa Maria della Scala di Siena. Tiga tahun kemudian, ketika Bernardus menjabat sebagai direktur rumah sakit itu, wabah epidemi melanda kota Siena. Ia tanpa lelah berusaha menyelamatkan jiwa-jiwa yang terserang epidemi itu. Sementara itu, panggilan suci untuk menjadi seorang imam biarawan pun terus bergejolak dalam dirinya. Maka pada tahun 1402, ia masuk tarekat saudara-saudara Dina Fransiskus, dan ditabhiskan menjadi imam dua tahun kemudian. Setelah menjadi imam, dikatakan bahwa selama 12 tahun ia tidak menampakkan diri di depan umum. Kemungkinan ia memanfaatkan tahun-tahun itu untuk bertapa dalam kesunyian di Capriola, Italia. Setelah itu barulah pada tahun 1417, ia memulai karya misionernya di Milan dan menjelajahi seluruh Italia. Mulanya ia sedikit terhalang oleh suaranya yang halus sehingga khotbah-khotbahnya terasa kurang berhasil. Tetapi atas bantuan Santa Perawan Maria, rintangan itu dapat lenyap. Semenjak itu ia mulai dikenal luas sebagai seorang pengkhotbah ulung selama 38 tahun. Dalam khotbah-khotbahnya ia mengdesak penghapusan riba dan perdamaian antara kubu politik Guelph dan Ghibelline serta mendorong umat untuk melakukan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci.
Senjatanya yang paling utama untuk menentang setiap perbuatan kekafiran umat dan ketidakpedulian umat akan Hukum-hukum Allah, ialah Nama Yesus yang Tersuci. Diatas nama Yesus itulah, Bernardius memulai karyanya dan membangun hidupnya. Karena dituduh menyebarkan ajaran-ajaran sesat seperti menganjurkan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci, maka ia dipanggil ke Roma pada tahun 1427. Disana untuk beberapa waktu, ia dilarang berkhotbah oleh Paus Martinus V (1417-1431). Tetapi karena tuduhan-tuduhan itu tidak benar, maka ia diijinkan berkhotbah kembali. Oleh Sri Paus ia ditawarkan menjadi Uskup Siena. Tawaran ini ditolaknya dengan tegas karena ia lebih suka berkhotbah dimana-mana untuk membaharui hati umat beriman.
Dikemudian hari devosinya kepada Nama Yesus yang Tersuci direstui oleh Gereja dan dirayakan secara khusus dalam Liturgi Gereja. Setelah berkarya selama bertahun-tahun, ia meninggal dunia pada tanggal 20 Mei 1444 di Aquila, Italia. Karena karya pewartaannya sangat berhasil, ia dijuluki “Rasul Italia”.
Santo Ivo
Ivo lahir di Beauvais pada tahun 1040. Ia belajar Teologi di biara Bec dan dikenal sebagai orang pandai. Ia kemudian bekerja di Nestle, Picardy, Perancis Utara, lalu berpindah ke biara Santo Quentin. Di biara ini, Ivo mengajar Teologi, Hukum Gereja dan Kitab Suci. Kemudian ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi selama 14 tahun lamanya. Sebagai pemimpin tertinggi biara, Ivo berusaha meningkatkan disiplin hidup dan kegiatan belajar untuk para biarawan, serta berusaha membaharui banyak aturan yang lama.
Karena kesalehan hidupnya, kepandaian serta kepribadiannya yang menarik, Ivo diajukan oleh umat dan segenap imam pada tahun 1091 untuk menggantikan Goffrey sebagai Uskup Chartres. Setelah didesak oleh Paus Urbanus II (1088-1099), Ivo menerima jabatan itu dan ditabhiskan menjadi Uskup Chartres.
Dalam kepemimpinannya sebagai Uskup Chartres, Ivo dengan tegas menentang raja Philip I yang menceraikan istrinya Bertha dan mengawini Bertrada, istri Fulk, seorang hakim dari Anjou. Oleh raja Philip I, Ivo ditangkap dan dipenjarakan. Seluruh kekayaan dan penghasilannya disita oleh Philip. Tetapi atas desakan Paus Urbanus II dan seluruh umat, Ivo dilepaskan kembali dan menjalankan tugasnya seperti biasa. Selanjutnya, Ivo juga tetap setia kepada raja Philip I dan berusaha mendamaikan raja dengan Tahkta Suci pada kesempatan Konsili Beaugency pada tahun 1104. Ivo meninggal dunia pada tahun 1116.
Santo Protasius Chong Kuk-bo
Protasius Chong Kuk-bo adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir di Songdo, Provinsi Kyonggi pada tahun 1799 di keluarga bangsawan. Pada saat kelahirannya, keluarganya adalah keluarga yang berpengaruh dan kaya. Namun demikian, kakeknya membuat banyak kesalahan dan berbagai ketidakberesan sehingga menghancurkan keluarganya. Ayah dari Protasius yang ingin hidup sebagai orang biasa, dia menyembunyikan kebangsawanan keluarganya dengan pindah ke Seoul dan bekerja di pabrik tali jerami yang dijalankan oleh pemerintah, dia bekerja di sana bersama putranya Protasius.
Protasius adalah seorang yang lembut dan sifatnya yang rendah hati. Bahkan di tengah kemiskinan dan kesulitan hidup, dia seorang yang lembut dan ramah kepada setiap orang.Dia mendengar tentang Gereja Katolik ketika usianya lebih dari 30 tahun dan walaupun dia mendapatkan imannya di akhir hidupnya, dia berkeinginan kuat untuk mempelajari ajaran-ajaran Gereja dan dengan setia menjalankannya. Beberapa tahun kemudian dia dibaptis.
Pastor Yu Bang-je, seorang imam dari Tiongkok, mengakui kesetiaan Protasius dan mempercayakan dia sebuah rumah yang baru dibeli. Rumah itu merupakan tempat peristirahatan untuk umat Katolik yang sedang menuju Seoul dari pedesaan untuk menerima sakramen. Protasius mengurus rumah itu dan memerhatikan para tamu.
Bersama dengan istrinya dia menawarkan dirinya secara penuh dalam melayani orang lain dan kedua suami istri ini adalah contoh dari kehidupan Kristiani. Namun demikian, ketidakberuntungan merundung mereka terus menerus. Terlepas dari kondisi mereka yang sangat miskin, Protasius juga tidak sehat. Mereka memiliki empat belas anak-anak namun mereka semua meninggal satu per satu ketika masih bayi sampai tak seorangpun tersisa. Protasius menerima seluruh cobaan itu sebagai kehendak Allah dan menanggungnya tanpa mengeluh dalam persatuan dengan Kristus di Salib. Dia selalu ingin untuk membaca buku-buku agama dan memiliki keinginan kuat untuk mendengar khotbah dan pengajaran dari Pastor Yu Bang-je maupun dari para katekis.
Ketika Penganiayaan Kihae terjadi pada bulan April 1839, Protasius dan istrinya termasuk orang-orang pertama yang ditangkap dan dipenjarakan. Di sana mereka mengalami siksaan dan penyidikan yang sangat kejam, namun dia menolak untuk menyerah dari agamanya.Namun, ketika dia dikirim ke pengadilan yang lebih tinggi, dia tergoda oleh perkataan halus dan janji-janji dari para petugas. Selain itu, kondisi fisiknya begitu lemah dan diperparah oleh hukuman berat yang melemahkan hatinya. Akhirnya dia jatuh ke dalam godaan dan menyatakan bahwa dia akan menyangkal imannya. Tak lama kemudian, dia dilepaskan dari penjara dan dipulangkan, namun pada saat dia tiba di sana dia dihantam oleh penyesalan. Dia sangat menyesali kemurtadannya dan tidak dapat makan maupun tidur. Dia menghabiskan seluruh waktunya dalam penyesalan, tangisan dan doa tobat.
Dikuatkan oleh sesama umat Katolik, dia memutuskan untuk mengakui imannya. Dia pergi ke pengadilan untuk menyerahkan diri dan memberi tahu hakim bahwa dia menarik kembali pernyataan kemurtadannya.
Penjaga bertanya, “Mengapa kamu kembali?”
“Saya telah mengkhianati Gereja, namun sekarang saya bertobat. Saya harus menarik kembali penyangkalan saya kepada Gereja sebagai pernyataan kebenaran. Sebagai seorang beriman yang setia kepada Kristus dan Gereja, saya akan menebus dosa saya. Saya harus memberi tahu hakim tentang ini.”
“Lihatlah, idiot! Apa yang telah dilakukan tidak dapat dibatalkan. Kamu tidak dapat mengubahnya, jadi enyahlah,” jawab penjaga.
Penjaga mengabaikan dia dan memperlakukan dia sebagai orang gila ketika Protasius memaksa diri menuju ke pengadilan. Namun penjaga tidak memperbolehkan dia bertemu dengan hakim.
Pada hari ketiga dia kembali lagi. Protasius terkena penyakit sehingga dia sulit untuk berjalan. Sekali lagi, penjaga menolak untuk memberikan izin kepadanya untuk bertemu dengan hakim. Pada saat ini, dia menunggu di luar pengadilan sampai hakim keluar dari sana, dan akhirnya mereka bertemu. Pada waktu itu tanggal 12 Mei.
Protasius berkata kepada hakim bahwa dia ingin menarik kembali pernyataan kemurtadannya dengan berkata demikian, “Saya seorang pendosa, namun saya telah bertobat dari kemurtadan saya. Saya seorang yang mempercayai agama Katolik dan telah datang untuk menebus dosa saya. Saya ingin mati sebagai seorang Katolik. Mohon bunuh saya.” Hakim yang merasa kesal dengan kegigihannya akhirnya memerintahkan agar dia dimasukkan kembali ke penjara. Setelah masuk ke penjara, Protasius bersyukur kepada Allah. Dia disambut oleh sesama umat Katolik di penjara dan penuh sukacita karena kembali kepada Gereja dan akan menjadi seorang martir.
Pada hari ketika Protasius kembali ke penjara, dua kakak-beradik yaitu Kolumba Kim Hyo-im dan Agnes Kim Hyo-ju menjadi saksi akan iman mereka kepada Allah dengan menanggung siksaan dengan berani. Protasius dibawa keluar penjara untuk pergi ke pengadilan lagi, dia dipukuli sebanyak dua puluh lima kali dengan menggunakan gada. Karena dia kembali dari penyangkalannya, penyiksa memukuli dia lebih kejam dari sebelumnya, dan meninggalkan dia yang memang sudah lemah itu dan sekarang hampir mati.
Melihat dia menderita penyakit tifoid, penjaga mengembalikan dia ke penjara. Ketika dia kembali ke penjara, dia dalam kondisi setengah mati. Dia meninggal beberapa jam kemudian pada malam itu. Pada saat itu tanggal 20 Mei 1839 dan dia berusia 41 tahun.
Protasius Chong Kuk-bo merupakan orang pertama yang memenangkan kemartiran setelah perintah dari pemerintah untuk melakukan eksekusi yang diumumkan pada bulan April 1839. Kelemahan dia di awal diubah menjadi kemenangan dengan imannya yang sejati. Ia dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 oleh Paus Yohanes Paulus II.
Arti nama
Protasius adalah bentuk Latin dari nama Yunani : Protasios.
Berasal dari kata Yunani Kuno "prōtos (πρῶτος)", yang berarti : "pertama, paling awal, paling utama, paling menonjol"
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari