Bacaan Misa
Pada waktu itu, ketika Yerobeam keluar dari Yerusalem, nabi Ahia, orang Silo itu, mendatangi dia di jalan dengan berselubungkan kain baru. Dan hanya mereka berdua ada di padang. Ahia memegang kain baru yang di badannya, lalu dikoyakkannya menjadi dua belas koyakan; dan ia berkata kepada Yerobeam: "Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku. Tetapi satu suku akan tetap padanya oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem, kota yang Kupilih itu dari segala suku Israel. Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.
Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing.
Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.
Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.
Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!
Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!
Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku.
Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Efata
Perhatikan orang tua yang pendengarannya mulai pergi. Dunia pelan-pelan menjadi sepi; ia tersenyum ragu di tengah percakapan yang tak lagi utuh ditangkapnya. Tuli bukan hanya soal telinga. Ia soal keterputusan.
Dari daerah Tirus, tempat kemarin Ia memuji iman seorang ibu yang gigih, Yesus menuju Dekapolis. Kepada-Nya dibawa seorang yang tuli dan gagap. Menarik memperhatikan cara Yesus menanganinya. Ia tidak menyembuhkan dari jauh dengan satu kalimat. Ia memisahkan orang itu dari keramaian, menyentuh telinganya, meraba lidahnya, menengadah, menarik napas. Bagi orang yang tak bisa mendengar, sentuhan adalah bahasa. Yesus berbicara dengan bahasa yang bisa dipahaminya.
Lalu satu kata: Efata. Terbukalah. Markus menyimpan kata Aram itu apa adanya, seperti saksi mata yang tak sampai hati menerjemahkan detik sepenting itu. Telinga terbuka, pengikat lidah terlepas.
Gereja memakai kata itu dalam upacara baptis sampai sekarang, sebab kita semua lahir dengan derajat tuli tertentu. Tuli terhadap suara Tuhan yang halus. Tuli terhadap tangis tetangga. Gagap untuk bersaksi dan meminta maaf. Kita pun perlu dipisahkan sejenak dari keramaian, agar Ia bisa menyentuh kita.
Tuhan, sentuhlah telingaku: Efata. Bukalah aku terhadap suara-Mu dan suara sesamaku. Amin.
Invitatorium
Pekan I Mazmur
Pembukaan
AntifonBersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setiaNya.
Mazmur 94 (95)
AntifonBersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setiaNya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Bangkitlah, Tuhan, dan datanglah menolong aku.
Mazmur 34 (35)
Tuhan sebagai Juruselamat di masa penganiayaan
Mereka berkumpul… dan merencanakan untuk menangkap Yesus dengan tipu daya dan membunuh-Nya (Matius 26:3-4).
AntifonBangkitlah, Tuhan, dan datanglah menolong aku.
Antifon 2Tuhan yang mahakuasa, berdirilah di sisiku dan belalah aku.
AntifonTuhan yang mahakuasa, berdirilah di sisiku dan belalah aku.
Antifon 3Lidahku akan berbicara tentang kebaikan-Mu sepanjang hari.
AntifonLidahku akan berbicara tentang kebaikan-Mu sepanjang hari.
Responsorium Galatia 5:18, 22, 23-25
Responsorium Mazmur 144:9; 118:28
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Mazmur 50
Antifon 1Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Antifon 2Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Yes 45,15-26
Antifon 2Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Antifon 3Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Mazmur 99
Antifon 3Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Bacaan Singkat (Ef 4,29-32)
Lagu Singkat
Antifon KidungTuhan telah mengunjungi dan membebaskan umatNya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTuhan telah mengunjungi dan membebaskan umatNya.
Doa Permohonan
℟. Anugerahilah kami belaskasihanMu, ya Tuhan.
Kristus fajar dan matahari kami, terangilah kami dengan sinar cahayaMu,* dan kekanglah kecenderungan kami yang jahat. ℟.
Jagailah kiranya pikiran, perkataan dan pekerjaan kami,* agar kami dapat menyenangkan hatiMu hari ini. ℟.
Palingkanlah wajahMu dari dosa-dosa kami,* dan hapuskanlah segala kejahatan kami. ℟.
Demi salib dan kebangkitanMu,* penuhilah kami dengan penghiburan Roh Kudus. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Philp 2, 2 b-4)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Mazmur 118 (119),25-32
Antifon 1Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Antifon 2Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Mazmur 25 (26)
Antifon 2Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Antifon 3Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Mazmur 27 (28),1-3.6-9
Antifon 3Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Bacaan singkat Kol 3,12-13
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Col 3, 12-13)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Mazmur 40
Antifon 1Sembuhkan aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Antifon 2Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Mazmur 45
Antifon 2Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Antifon 3Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Why 15,3-4
Antifon 3Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Bacaan Singkat (Rom 15,1-3a)
Antifon KidungTuhan telah menyambut kita, hamba-hambaNya, demi kasih sayangNya yang besar.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungTuhan telah menyambut kita, hamba-hambaNya, demi kasih sayangNya yang besar.
Doa Permohonan
℟. Tunjukkanlah kerahimanMu kepada kami, ya Tuhan.
Tuhan, Bapa kami yang mahamurah, kami berdoa kepadaMu bagi anggota anggota umatMu yang berdukacita,* sebab Kristus telah mengorbankan diri bagi mereka. ℟.
Lepaskanlah orang yang terbelenggu, anugerahkanlah terang kepada yang buta,* bantulah para janda dan yatim piatu. ℟.
Perlengkapilah semua orang beriman dengan senjata iman dan kasih,* agar dapat bertahan melawan tipu muslihat setan. ℟.
Dampingilah kami, ya Tuhan, pada saat kematian kami,* agar kami terdapat setia dan berpulang dalam damai. ℟.
Hantarlah orang-orang mati kepada cahaya yang Kaudiami,* agar mereka memandang Engkau selama-lamanya. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Engkau datang memanggil orang yang berdosa.
Kristus, kasihanilah kami.℟.Kristus, kasihanilah kami.℣.Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami.
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 87 (88)
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat Yer 14,9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Yordanus Saxony
Beato Yordanus berasal dari keluarga bangsawan Jerman Count of Eberstein. Ia dilahirkan sekitar tahun 1190 di Castle of Borrenstrick, di wilayah Keuskupan Paderborn Jerman. Setelah selesai pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Yordanus dikirim untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Paris Perancis. Di kota ini Yordanus bertemu dengan Santo Dominikus, sang pendiri Ordo Praedicatorum (Ordo para Pengkhotbah) atau Ordo Dominikan.
Terinspirasi oleh kesucian hidup Santo Dominikus, Yordanus memutuskan untuk meninggalkan dunia dan bergabung menjadi seorang Dominikan. Setelah melewati masa novisiat yang panjang, pada hari rabu abu tahun 1220, Yordanus ditahbiskan menjadi seorang imam Dominikan oleh santo Dominikus. Tugas pertama yang diberikan Santo Dominikus kepadanya adalah : melanjutkan studinya yang tertunda karena harus menjalani masa Novisiat.
Yordanus pun kembali ke Universitas, melanjutkan studinya sampai ia meraih gelar master dibidang seni dan Sastra. Pada tahun 1221, Santo Dominikus menunjuk Yordanus sebagai Prior Provincial Dominikan untuk wilayah Lombardy Italia.
Pada tanggal 6 Agustus 1221, Santo Dominikus tutup usia. Yordanus dengan suara bulat terpilih menggantikannya sebagai Superior General Ordo Praedicatorum. Seturut teladan Santo Dominikus, Yordanus hidup kudus, penuh disiplin, dan berkomitmen untuk menegakkan regula Ordo Praedicatorum yang telah dirumuskan oleh Santo Dominikus.
Yordanus akan selalu dikenal sebagai seorang Dominikan sejati. Dibawah pimpinannya, Ordo baru ini berkembang sangat pesat. Dengan bersenjatakan Rosario, Yordanus menjelajahi Eropa untuk berkotbah dan mengadakan visitasi ke biara-biara. Ia adalah seorang pengkotbah yang begitu hebat, sehingga orang-orang terpelajar sesudah mendengarkan kotbahnya, berbondong-bondong datang ingin menjadi Dominikan.
Di kota Padua Italia, kotbah Superior General Dominikan yang kedua ini menggetarkan hati seorang pangeran muda dari Swabia Jerman yang saat itu menjadi mahasiswa. Kata-kata Yordanus yang memukau dalam kotbahnya, mengetuk hati sang pangeran untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi seorang Dominikan. Meski ditentang oleh keluarganya, pangeran muda bernama Albertus ini tidak peduli. Walau ia kemudian dicari-cari dan diancam akan dibawa pulang ke Jerman oleh keluarganya, Albertus tetap bersikukuh untuk menjadi biarawan Dominikan. Saat ini, kita mengenal pangeran Albertus sebagai Santo Albertus Magnus atau Santo Albertus Agung, salah seorang Pujangga besar Gereja; sebuah permata yang indah pada mahkota Gereja Katolik.
Melalui kuliah dan kotbah-kotbahnya di Universitas-universitas ternama di Eropa, Yordanus diperkirakan telah membawa lebih dari 1.000 kaum terpelajar yang terdiri dari para dosen dan mahasiswa kedalam ordo Dominikan. Pertumbuhan yang begitu pesat dari Ordonya membuat Yordanus harus membentuk empat provinsi baru dari delapan provinsi yang sudah ada.
Yordanus meninggal dunia pada usia empat puluh tujuh tahun akibat kecelakaan kapal laut saat ia hendak kembali dari perziarahannya di Tanah Suci Yerusalem. Kapal yang ditumpanginya karam di lepas pantai Suriah pada tanggal 13 Februari 1237. Ia dimakamkan di Gereja Biara Dominikan St. Yohanes di Acre (Akko) Israel. Makamnya masih ada ditempat itu sampai saat ini. Yordanus dibeatifikasi oleh Paus Leo XII pada tahun 1826.(qq)
Arti nama
Yordanus = Bentuk Latin dari nama Ibrani יַרְדֵן (Yarden), yang berarti : "Turun" atau "mengalir"
Awalnya adalah Nama sungai di Israel dan Yordania; yang kemudian diadopsi menjadi nama orang.
Santa Katarina dari Ricci
Santa Katarina Lahir dengan nama Alessandra Lucrezia Romola de’ Ricci pada tahun 1522 dalam keluarga Bangsawan Ricci di Florence, Italia. Ibunya meninggal saat Alessandra masih bayi, dia lalu dibesarkan oleh ibu babtisnya, namun ia selalu menganggap bunda Maria adalah ibunya kandungnya; karena itu Alessandra memiliki devosi yang sangat mendalam padanya. Alessandra kecil adalah seorang anak yang sangat polos, sehingga ia bisa berbicara dengan malaikat pelindungnya, dan dari malaikat pelindungnya ia belajar bagaiman cara berdoa rosario.
Di usia 13 tahun Alessandra masuk biara suster Dominikan di Montecelli. Sebagai biarawati, ia memilih nama Chaterina (Katarina). Suster katerina memiliki Cinta yang sangat mendalam terhadap sengsara Yesus di salib. Dalam keheningan biara ia sering bermeditasi merenungkan kisah sengsara Kristus. Yesus kemudian menganugerahinya hak amat istimewa untuk menerima Tanda-tanda Luka-Nya (Stigmata) di tubuhnya. Dengan gembira Katarina menanggung segala rasa sakit yang timbul oleh karena luka-luka suci yang dia miliki sampai pada akhir hayatnya.
Dalam doa-doanya Katarina mulai menerima Penglihatan-penglihatan (visi) dan mengalami ektase dengan kehadiran Roh Kudus dalam jiwanya. Beberapa rekan biarawati meragukan karunianya ini sebab secara lahiriah Katarina tampak seperti tidur atau diam dan dengan terpesona menatap kesuatu arah ketika karunia penglihatan itu datang. Meskipun begitu semua orang menerima karunia Suster Katarina sebagai bagian dari kehidupan mereka dengan Tuhan.
Pada usia 20 tahun suster Katarina mulai mengalami ektase Sengsara Yesus disalib yang dimulai dari hari kamis siang sampai pada hari jumat sore jam 4:00. Ekstase Sengsara Yesus ini rutin dialami Santa Katarina setiap minggu selama dua belas tahun. Saat Suster Katarina berada dalam ekstase sengsara Yesus ini; luka-luka yang dialami pernah Yesus akan muncul secara ajaib pada sekujur tubuh Katarina. Dan secara ajaib pula luka-luka tersebut muncul dalam urutan seperti yang dialami Yesus. Mulai dari luka akibat dicambuk dan luka dikepala akibat ditusuk mahkota duri. Pada akhirnya suster Katarina akan penuh dengan luka dan bahunya menjorok dari Salib. Suster Katarina mengalami penderitaan yang maha hebat seperti yang pernah Yesus alami. Namun seperti teladan Yesus sendiri; Katarina juga tidak pernah mengeluh. Ia senantiasa bersyukur atas karunia Ilahi yang diterimanya.
Mujizat ini membuat orang-orang mulai ramai datang mengunjungi Biara suster Katarina pada setiap akhir minggu. Banyak yang pada awalnya bersikap skeptis, namun begitu melihat secara nyata akan sengsara Yesus yang dialami oleh Suster Katarina; mereka lalu bertobat dan menjadi percaya. Semakin hari-semakin banyak peziarah rohani yang datang. Mereka bersatu dalam doa bersama dengan Suster Katarina yang sedang mengalami ekstase Sengsara Yesus di salib. Tiga orang yang nantinya terpilih menjadi Paus di masa depan; (Kardinal Cervini yang kemudian menjadi Paus Marcellus II; Kardinal Alexander de Medici, Paus Leo XI, dan Kardinal Aldobrandini, Paus Clement VIII) pernah berada di antara ribuan orang yang berdoa bersama Santa Katarina yang sedang mengalami kembali Sengsara Yesus disalib.
Suatu kali, dalam sebuah penglihatan, Tuhan mengijinkan Katarina untuk melihat jiwa seseorang yang sedang berada di api penyucian. Demikian besar kasihnya sehingga Katarina menawarkan diri untuk menggantikan penderitaan jiwa tersebut. Tuhan mendengar doanya dan Katarina mengalami penderitaan yang amat hebat empat-puluh hari lamanya. Penderitaannya ini merusak kesehatannya secara permanen.
Setelah menderita sakit yang demikian lama serta menyakitkan, St. Katarina wafat pada usia enam puluh delapan tahun pada tanggal 2 Februari 1590. Seratus lima puluh tahun kemudian Ia dinyatakan kudus pada 1746 oleh Paus Benediktus XIV
Arti nama
Berasal dari bahasa Yunani : καθαρος (katharos) yanng berarti "Murni" atau "suci"Santa Kristina dari Spoleto
Agostina Camozzi lahir pada tahun 1435 di Como, Milan Italia. Ia adalah putri tunggal dokter Giovanni Camozzi, seorang dokter ternama dan kaya-raya di kota Milan. Agostina berwajah cantik dan anggun, membuat banyak pemuda jatuh hati dan ingin mempersuntingnya. Namun ia tidak pernah serius menanggapi isi hati mereka. Ia bangga akan kecantikannya dan gemar mempermainkan perasaan para lelaki yang jatuh hati padanya.
Agostina menikah pada usia belia, namun menjadi janda tidak lama setelah pernikahannya. Ia kemudian menjadi gundik seorang tentara dari Milan, dan melahirkan seorang anak laki-laki diluar nikah. Namun anaknya itu meninggal dunia saat masih bayi. Beberapa waktu kemudian Agostina kabur meninggalkan si tentara dan menikah lagi dengan seorang petani kaya di kota Mantua. Namun sekali lagi Agostina harus menjadi janda setelah suaminya yang kedua dibunuh oleh seorang lelaki yang tergila-gila pada kecantikannya.
Semua tragedi ini menyadarkan Agostina Camozzi akan cara hidupnya yang bergelimang dosa. Penyesalan kini menghantui dirinya dan Kasih Tuhan mulai menyentuh hatinya. Ia mulai dapat melihat cara hidupnya yang kotor dengan rasa sesal dan malu.
Di suatu senja di tahun 1450, Agostina tengah berjalan melewati biara Susteran Agustinian. Sayup-sayup terdengar suara para biarawati memadahkan doa. Lantunan doa mereka mengetuk hati Agostina dan membawa langkahnya ke dalam biara. Ia masuk ke kapela dan ikut berdoa bersama para biarawati. Didalam kapela tersebut, sebuah perasaan damai yang “indah” dan “tak terlukiskan” perlahan membelai jiwanya yang gersang. Rasa “Damai” itu begitu menghanyutkan, hingga Agostina tidak mampu lagi berpisah dengan-NYA. Ia ingin tetap disitu dan tidak kembali lagi pada dunia. Saat itu juga ia memutuskan untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama dan menjadi seorang biarawati.
Namun untuk menjadi seorang biarawati, Agostina harus menjalani masa persiapan yang lama dan berat. Walau banyak yang meragukan kesungguhannya, namun ia membuktikan pertobatannya dengan menjalani laku silih selama bertahun-tahun dengan penuh ketabahan. Ia juga mampu menjalani semua peraturan biara yang ketat dengan penuh disiplin. Akhirnya Agustina pun diperbolehkan untuk mengucapkan kaul sebagai seorang biarawati Agustinian. Ia memilih nama biara, “Christina”.
Di dalam biara, Suster Chistina hidup bertapa dengan keras sebagai penitensi bagi dosa-dosanya dimasa lalu. Ia hidup dalam meditasi dan berdevosi pada sengsara Yesus di Salib. Setelah bertahun-tahun hidup bermatiraga, rahmat Tuhan menyertai suster Christina. Ia diberkati-NYA dengan berbagai karunia rohani. Suster Christina menjadi terkenal sebagai seorang suster yang kudus, seorang penyembuh dan pembuat mujizat.
Pada tahun 1457 suster Christina bersama para biarawati Agustinian melakukan perjalanan ziarah ke kota Assisi, Roma dan Yerusalem. Setelah kembali ke Italia, Suster Christina memutuskan untuk tinggal di biara Spoleto Perugia, di mana ia mengabdikan dirinya untuk merawat warga yang sakit akibat wabah penyakit. Ia tetap berkarya di Perugia sampai tutup usia pada tanggal 13 Februari 1458.
Awalnya ia dimakamkan di Gereja biara Agustinian di Spoleto, namun pada tahun 1921 makamnya dipindahkan ke Gereja Santo Gregorius Agung, juga masih di Spaleto.
Suster Christina dibeatifikasi pada tahun 1834 oleh paus Gregoriius XVI. Beatifikasi ini berlangsung setelah diadakan penyelidikan seksama selama ratusan tahun atas berbagai laporan mujizat yang terjadi melalui perantaraan suster Christina.(qq)
Arti nama
Christina = Bentuk Pendek Feminim dari nama Christianus
Christianus adalah nama Latin yang berarti : "Seorang Kristen " atau “Seorang pengikut Kristus”
Santo Yulianus dari Antiokhia
Yulianus Antiokhia adalah seorang warga kota Anazarbos, Silesia, Asia Kecil. Karena imannya, Yulianus menderita berbagai macam siksaan badan. Meskipun demikian para musuhnya tidak berhasil memperoleh apa yang mereka harapkan dari Yulianus, yaitu penyangkalan imannya. Menyaksikan keteguhan iman Yulianus, gubernur kota itu akhirnya memutuskan untuk memperberat siksaan atas diri Yulianus.
Selama setahun Yulianus dibelenggu dan dipaksa berjalan mengikuti rombongan tentara mengelilingi kota dan desa. Sepanjang perjalanan, ia dihina dan diolok-olok oleh semua penduduk desa dan kota. Dengan penyiksaan seperti ini, mereka berharap agar Yulianus menyangkal Kristus yang diimaninya. Namun semua cara itu tidak memberi hasil apa-apa. Keteguhan hati dan imannya tak tergoyahkan sedikitpun oleh semua bentuk siksaan itu.
Sebaliknya keteguhan dan ketabahannya menghibur semua umat Kristen di kota itu. Semangat iman yang ditunjukkannya menjadi suatu kesaksian iman yang kongkret, yang menjelaskan dengan lebih terang keikutsertaan orang-orang Kristen dalam misteri penderitaan Kristus. Sebagaimana Santo Paulus, Yulianus pun dengan penderitaannya mengatakan: memberikan Kristus yang disalibkan: untuk orang – orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun bukan orang Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari manusia.(1Kor1:23-24). Gubernur yang menyadari ketidakberhasilan semua usahanya untuk menaklukkan Yulianus, akhirnya memutuskan untuk melenyapkan nyawa Yulianus. Yulianus di masukkan ke dalam sebuah karung-karung yang berisi ular-ular berbisa dan kalajengking. Lalu ditenggelamkan di dasar laut.
Dalam mata manusia kematian Yulianus merupakan akhir hidup yang mengerikan. Tetapi bagi kaum beriman dan bagi Allah, kematian Yulianus merupakan benih iman yang ditanam dan akan menghasilkan banyak buah. Lebih dari itu, Yulianus yang telah menjadi saksi hidup penderitaan Kristus tentu akan memperoleh mahkota kemenangan di dalam surga dan kematiannya menjadi suatu penghiburan bagi umat Kristen. Ia digelari julukan Santo Yulianus dari Antiokhia, karena jenazahnya dimakamkan di daerah tersebut. Santo Yohanes Krisostomus yang hidup pada abad keempat menulis: Umat Kristen Antiokhia mempunyai kubur seorang martir Kristus yang menjadi sumber rahmat dan karunia-karunia Allah.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari