Bacaan Misa
Lalu datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel." Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah. Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun atas seluruh Israel dan Yehuda. Lalu raja dengan orang-orangnya pergi ke Yerusalem, menyerang orang Yebus, penduduk negeri itu. Mereka itu berkata kepada Daud: "Engkau tidak sanggup masuk ke mari; orang-orang buta dan orang-orang timpang akan mengenyahkan engkau!" Maksud mereka: Daud tidak sanggup masuk ke mari. Tetapi Daud merebut kubu pertahanan Sion, yaitu kota Daud. Lalu makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab TUHAN, Allah semesta alam, menyertainya.
Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu: "Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu.
Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus,
Maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.
Kesetiaan-Ku dan kasih-Ku menyertai dia, dan oleh karena nama-Ku tanduknya akan meninggi.
Aku akan membuat tangannya menguasai laut, dan tangan kanannya menguasai sungai-sungai.
Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.
Tongkat Estafet
Kemarin kita mengenang Saulus yang rebah di jalan ke Damsyik dan bangkit sebagai Paulus. Hari ini Gereja mengenang dua anak rohaninya: Timotius dan Titus. Urutan yang manis. Sesudah kisah pertobatan sang rasul, kita diajak melihat buahnya: iman yang diteruskan.
Paulus tidak bekerja sendirian dan tidak mau warisannya berhenti pada dirinya. Timotius ia sebut anaknya yang kekasih; Titus ia percayai menata jemaat di Kreta. Injil yang diterimanya di jalan Damsyik ia serahkan ke tangan-tangan yang lebih muda, seperti pelari menyerahkan tongkat estafet. Pelari hebat yang menggenggam tongkatnya sampai garis akhir justru menggagalkan seluruh timnya.
Bacaan pertama memperlihatkan pola yang sama. Suku-suku Israel datang kepada Daud dan mengingatkan firman TUHAN: engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel. Menggembalakan, bukan memiliki. Kepemimpinan dalam Kitab Suci selalu bersifat titipan: diterima dari Tuhan, dijalankan bagi umat, dan pada waktunya diserahkan.
Kita semua memegang tongkat masing-masing: iman yang dulu diajarkan ibu, teladan yang ditinggalkan guru, pelayanan yang dirintis para pendahulu di lingkungan. Pertanyaannya sederhana dan agak mendesak: sedang kita serahkan kepada siapa? Iman yang tidak diteruskan akan berhenti pada satu generasi.
Siapa Timotius kita? Siapa Titus kita?
Tuhan, jangan biarkan imanku berhenti padaku. Tunjukkan kepadaku tangan muda tempat tongkat ini kuserahkan. Amin.
Invitatorium
Pekan III Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah menyembah Kristus, raja para gembala umat.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah menyembah Kristus, raja para gembala umat.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Allah kita akan menyatakan diri; Ia tidak akan datang dalam keheningan.
Mazmur 49 (50)
Kasih sejati kepada Allah
Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (lihat Matius 5:17).
AntifonAllah kita akan menyatakan diri; Ia tidak akan datang dalam keheningan.
Antifon 2Persembahkanlah kepada Allah kurban pujian.
AntifonPersembahkanlah kepada Allah kurban pujian.
Antifon 3Aku menghendaki hati yang mengasihi lebih daripada kurban, pengetahuan akan jalan-jalan-Ku lebih daripada kurban bakaran.
AntifonAku menghendaki hati yang mengasihi lebih daripada kurban, pengetahuan akan jalan-jalan-Ku lebih daripada kurban bakaran.
Responsorium Lihat Markus 12:32-33; Sirakh 35:4-5
Responsorium 1 Timotius 6:11-12; Titus 2:1
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur dari hari Minggu I, hlm 390
Antifon 1Berbahagialah orang yang diam di rumahMu, ya Tuhan.
Mazmur 83 (84)
Antifon 1Berbahagialah orang yang diam di rumahMu, ya Tuhan.
Antifon 2Marilah kita naik ke gunung Tuhan.
Yes 2,2-5
Antifon 2Marilah kita naik ke gunung Tuhan.
Antifon 3Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah namaNya.
Mazmur 95 (96)
Antifon 3Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah namaNya.
Bacaan Singkat (Ibr 13,7-9a)
Lagu Singkat
Antifon KidungBukan kamu sendiri yang berbicara, melainkan Roh kuduslah yang berbicara dalam dirimu.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungBukan kamu sendiri yang berbicara, melainkan Roh kuduslah yang berbicara dalam dirimu.
Doa Permohonan
℟. Gembalakanlah umatMu, ya Tuhan.
Kristus, Engkau menunjukkan belaskasihan dan cintaMu melalui gembala-gembala umatMu,* janganlah berhenti berbelaskasih terhadap kami melalui usaha mereka. ℟.
Kristus, Engkau melanjutkan tugas penggembalaan umat dalam diri wakil-wakilMu,* semoga Engkau sendiri memimpin kami dengan perantaraan mereka. ℟.
Kristus, Engkau merawat jiwa raga kami dengan perantaraan para kudus yang memimpin umatMu,* semoga Engkau selalu menghidupkan dan menguduskan kami. ℟.
Kristus, Engkau mendidik kawananMu dengan kebijaksaan dan cinta kasih para kudusMu,* teguhkanlah kami selalu dalam kesucian berkat usaha para gembala kami. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan III Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (2 Cor 13, 11)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan III Mazmur
Madah
Antifon 1Aku selalu mengindahkan perintahMu, ya Tuhan, sebab dengan sabdaMu Engkau menghidupkan daku.
Mazmur 118 (119),89-96
Antifon 1Aku selalu mengindahkan perintahMu, ya Tuhan, sebab dengan sabdaMu Engkau menghidupkan daku.
Antifon 2Tuhan, Engkaulah kepercayaanku, sejak masa mudaku.
Mazmur 70 (71) I
Antifon 2Tuhan, Engkaulah kepercayaanku, sejak masa mudaku.
Antifon 3Semoga juga pada masa tuaku, tidak Kautinggalkan daku.
Mazmur 70 (71) II
Antifon 3Semoga juga pada masa tuaku, tidak Kautinggalkan daku.
Bacaan singkat 1Tim 4,16
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan III Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Col 1, 21-22)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan III Mazmur
Madah
Pendarasan Mazmur dari lingkaran empat pekan
Antifon 1Kita memandang Tuhan sampai Ia mengasihani.
Mazmur 122 (123)
Antifon 1Kita memandang Tuhan sampai Ia mengasihani.
Antifon 2Penolong kita ialah Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Mazmur 123 (124)
Antifon 2Penolong kita ialah Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Antifon 3Allah telah memilih kita menjadi anakNya dengan perantaraan PuteraNya.
Ef 1,3-10
Antifon 3Allah telah memilih kita menjadi anakNya dengan perantaraan PuteraNya.
Bacaan Singkat (1Ptr 5,1-4)
Antifon KidungSetia dan bijaksanalah hamba itu, yang telah diangkat Tuhan untuk memimpin isi rumahNya dan pada waktunya membagikan jatah gandum kepada mereka.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungSetia dan bijaksanalah hamba itu, yang telah diangkat Tuhan untuk memimpin isi rumahNya dan pada waktunya membagikan jatah gandum kepada mereka.
Doa Permohonan
℟. Selamatkanlah umatMu, ya Tuhan.
Kristus, Engkau menerangi GerejaMu melalui para pemimpin yang suci,* semoga umat kristen selalu Kaugembirakan dengan terang cahayaMu. ℟.
Kristus, Engkau mengampuni dosa umat karena para gembala berdoa seperti Musa,* maka kuduskanlah GerejaMu senantiasa berkat doa mereka. ℟.
Kristus, Engkau mengurapi para kudusMu dan mengutus Roh kudus kepada mereka,* maka penuhilah semua pemimpin umatMu dengan Roh kudus. ℟.
Kristus, Engkau sendirilah milik para gembala yang kudus,* semoga semua orang yang sudah Kautebus dengan darahMu tetap bersatu dengan Dikau. ℟.
Kristus, berkat usaha gembala Gereja, Engkau memberikan kehidupan kekal kepada domba-dombaMu,* maka selamatkanlah para arwah dari kematian kekal berkat wafatMu. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Engkau datang memanggil orang yang berdosa.
Kristus, kasihanilah kami.℟.Kristus, kasihanilah kami.℣.Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami.
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonTuhan, Engkau sabar dan penuh kasih setia.
Mazmur 85 (86)
AntifonTuhan, Engkau sabar dan penuh kasih setia.
Bacaan singkat 1Tes 5,9-10
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
S. Timotius dan Titus
Timotius dan Titus adalah dua murid dekat dan rekan sekerja Rasul Paulus, yang kepada mereka Paulus menujukan tiga suratnya dalam Kitab Suci.
Timotius lahir di Listra, di Asia Kecil, dari ibu seorang Yahudi bernama Eunike dan ayah seorang Yunani. Ketika Paulus mewartakan Injil di kotanya, Timotius bersama ibu dan neneknya memeluk iman kepada Kristus. Paulus mengajaknya menyertai perjalanan misi, dan pemuda itu meninggalkan rumahnya untuk mengikuti sang rasul. Ia menjadi sahabat yang setia, dan Paulus memanggilnya "anakku yang sah dalam iman". Menurut tradisi ia diangkat menjadi Uskup Efesus dan wafat sebagai martir.
Titus adalah seorang Yunani yang bukan Yahudi. Ia terbukti dapat dipercaya dan cakap, sehingga Paulus berulang kali mengutusnya untuk meneguhkan iman jemaat dan memulihkan perdamaian saat timbul perselisihan. Paulus mengangkatnya menjadi Uskup di Pulau Kreta, tempat ia berkarya hingga akhir hayatnya.
Kedua tokoh ini dikenang sebagai teladan para gembala yang setia meneruskan iman yang mereka terima dari para rasul.
Pelindung: para uskup dan pemimpin jemaat.
Santa Paula
Paula dikenal sebagai seorang wanita bangsawan Romawi. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia menjalankan kewajiban dengan penuh semangat cinta kasih. Kecuali itu, ia mengisi hari-hari hidupnya dengan suatu hidup yang saleh di hadapan Tuhan. Ketika ia memasuki umur 32 tahun, suaminya yang tercinta meninggal dunia. Sekarang ia sendiri harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dalam semua kebutuhannya, rohani dan jasmani. Pendidikan iman bagi anak-anaknya sungguh mendapat perhatian utama.
Selagi berada dalam kepedihan yang mendalam karena kematian suaminya, Tuhan mengetuk hatinya untuk suatu kehidupan bakti hanya kepada-Nya. Paula yang sudah biasa menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa-doanya, mendengarkan suara Tuhan itu. Ia lalu mengabdikan hidupnya kepada Tuhan dengan hidup menyendiri dalam kesunyian tapa dan karya-karya amal kasih.
Santo Hieronimus dimintainya untuk menjadi pembimbing rohaninya. Setelah menjalani hidup demikian selama tiga tahun, ia meninggalkan anak-anaknya yang sudah dewasa dan berangkat ke Tanah Suci bersama seorang putrinya Eustakia. Ia bermaksud untuk menetap di Betlehem, kota yang dimuliakan sebagai tempat kelahiran Yesus sang Penebus. Ia memberikan devosi khusus kepada Kanak-kanak Yesus dengan berdoa dan bermatiraga. Paula yakin bahwa orang yang tidak pernah merenungkan kehidupan Yesus selagi kanak-kanak, sulit untuk menghayati kebenaran-Nya. Cintanya kepada Yesus, kanak- kanak Suci, melebihi cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Bila berada di gua Betlehem, hatinya terharu dan sambil menangis ia berdoa: Aku memberi Salam kepadamu hai Betlehem, rumah Roti Kehidupan, yang turun dari surga dan dilahirkan oleh Maria Perawan Yang Suci.
Kepada semua orang yang berziarah di Betlehem, ia menyediakan tempat tempat penginapan dan dengan rajin melayani mereka. Untuk Santo Hieronimus dan para biarawannya, ia membangun sebuah rumah khusus. Rumah inilah yang kelak menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Paula meninggal dunia pada tahun 404 dalam usia 57 tahun.
Santo Alberikus
Santo Alberikus bersama Santo Stafanus Harding dan Santo Robertus Molesme adalah para pendiri Ordo Cistercians. Awalnya Alberikus adalah seorang pertapa dari komunitas pertapa yang tinggal di hutan Collan. Kemungkinan besar ia juga adalah seorang dari dua pertapa yang berangkat ke Roma dan membawa petisi pada Paus agar menunjuk abbas Robertus, seorang Benediktin yang saleh, menjadi pemimpin mereka. Bapa suci paus Gregorius VII yang juga seorang Benediktin, mengabulkan petisi mereka.
Pada tahun 1074 abbas Robertus tiba di Collan dan mulai membimbing para pertapa mempraktekkan pola hidup membiara sesuai regula Ordo Benediktin. Setahun kemudian mereka telah mendirikan biara pertapaan di hutan Molesme. Awalnya, biara yang dibangun hanya terdiri dari gubuk-gubuk pertapaan dari kayu yang dibangun mengelilingi sebuah kapel kecil di hutan. Namun biara ini segera berkembang dengan cepat. Reputasi abbas Robertus sebagai seorang biarawan yang saleh, membawa banyak orang datang ke Molesme untuk belajar dan berziarah. Termasuk Santo Bruno dari Cologne yang menjadi murid Robertus dan tinggal beberapa lama bersama para rahib Molesme. Santo Bruno kelak mendirikan komunitasnya sendiri yang disebut Ordo Carthusian. Dibawah kepemimpinan abbas Robertus, komunitas ini menjadi terkenal dan makmur. Tetapi kemakmuran, lama-kelamaan membuat para rahib tidak lagi hidup berdisplin pada aturan hidup membiara.
Pada tahun 1098, Alberikus, Stafanus Harding dan sekitar 20 rahib mengikuti Abbas Robertus meninggalkan biara Molesme dan mendirikan sebuah komunitas baru yang lebih berdisiplin dan lebih kontemplatif. Mereka membangun sendiri biara tersebut di padang liar Citeaux Perancis. Di tempat ini, mereka sungguh-sungguh mengamalkan hidup dalam keheningan dan kemiskinan. Inilah awal berdirinya Ordo Cistercians (Latin : (Sacer) Ordo Cisterciensis disingkat OCist atau SOCist). Nama Cistercians diambil dari kata "Cistercium" nama Latin dari desa Cîteaux tempat dimana biara mereka berdiri. Para rahib Cistercian adalah para pertapa sejati yang meneladani kemiskinan Yesus dan memelihara keheningan serta menjalani hidup kontemplatif dengan sangat ketat.
Pada tahun 1099, para biarawan di Molesme datang kepada Robertus memohon agar ia kembali menjadi pemimpin mereka di biara Molesme. Mereka bersumpah akan patuh sepenuhnya pada kepemimpinan Robertus dan kembali hidup disiplin sesuai regula Ordo Benediktin. Uskup setempat mendukung permohonan mereka dan meminta Robertus untuk kembali ke Molesme, namun Robertus menolak. Kemudian datanglah perintah dari Paus Urbanus II agar Robertus kembali ke Molesme dan membenahi biara yang hampir kolaps tersebut. Patuh pada keputusan Bapa Suci; Robertus lalu mentahbiskan Alberikus sebagai abbas biara Cîteaux, lalu kembali memimpin biara Molesme. Kembalinya abbas Robertus yang kudus, membuat Biara Molesme yang kembali menjadi biara utama Benediktin di wilayah tersebut.
Abbas Albéric kini menjadi pemimpin kedua Ordo Cistercian sesudah Robertus. Ia menegakkan aturan hidup membiara dengan memelihara keheningan serta menjalani hidup kontemplatif dengan sangat ketat. Ia memutuskan untuk memindahkan bangunan biara beberapa kilometer ke utara dan mulai membangun gereja induk Ordo Cistercian. Pembangunan Gereja selesai kurang dari enam tahun kemudian. Abbas Alberikus juga memperkenalkan penggunaan Crowl (penutup kepala) putih bagi para biarawan Cistercian. Menurut legenda, Crowl putih yang saat ini menjadi atribut biarawan Cistercian, diberikan oleh Bunda Maria kepada Alberikus saat ia dan para biarawan tengah melantunkan doa malam.
Santo Alberikus tutup usia pada tanggal 26 Januari 1109 di biara Cistercians yang ia dirikan di Cîteaux Perancis.(qq)
Santo Robertus Molesmes dkk: Alberik dan Stephan Harding
Robertus Molesmes terkenal sebagai pendiri ordo Cistersian. Ia lahir sekitar tahun 1024 di Champagne, Prancis. Ketika berusia 15 tahun, ia masuk Ordo Benediktin di Biara Moutier Lacelle, dekat Troyes. Sebagai seorang pemuda yang luar biasa, ia diangkat menjadi pemimpin biara sesudah menyelesaikan novisiatnya. Pada tahun 1068, ia menjadi Abbas di biara Santo Micheal dari Tonnerre di Langers. Di biara ini ia berusaha menyusun meskipun tidak berhasil aturan-aturan yang lebih keras. Sementara itu, beberapa rahib yang bertapa di hutan Callan meminta Robert mengajari mereka aturan-aturan Santo Benediktus. Dengan restu Paus Aleksander II (1060 - 1073), Robert menjadi Superior kelompok ini. Pada tahun 1075 mereka mendirikan pertapaan di hutan Molesmes. Dibawah kepemimpinan Robert, komunitas ini berkembang pesat, menjadi makmur dan terkenal, tetapi lama kelamaan rahibnya mulai tidak taat lagi pada aturan ordo. Pada tahun 1098, kelompok rahib pembaharu sekitar 20 orang, termasuk 3 serangkai: Robert, Alberik dan Stephan Harding, meninggalkan pertapaan Molesme itu dan mendirikan sebuah komunitas baru di Citeuax, atau Cisterian, yang tidak jauh dari Dijon. Komunitas baru ini, dengan Robert sebagai pimpinannya, mendirikan satu ordo baru yang dikenal sebagai Ordo Cisterian. Tetapi kemudian atas pemohonan para Rahib Molesmes dan atas perintah Paus, Robert kembali ke pertapaan Molesmes untuk memperbaharui komunitas itu. Robert meninggal dunia di Molesmes pada tanggal 2 Maret 1110. Ia dinyatakan Kudus pada tahun 1222.
Santo Stefanus Harding
Stefanus Harding lahir di tahun 1048. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan di biara Sherborne di Dorsetshire. Kemudian sebagai seorang awam ia berziarah ke Roma. Dalam perjalanannya kembali, ia singgah di pertapaan Molesmes, di hutan belantara Burgundy, Prancis. Disana ia meminta bergabung dengan rahib-rahib yang tinggal di pertapaan itu.
Tetapi beberapa tahun kemudian ia mulai merasa tidak puas dengan cara hidup rahib yang ada disana. Menurut pendapatnya, mereka terlalu memperhatikan hal-hal kesenangan duniawi dan lupa mengembangkan kehidupan rohani yang mendalam. Dengan demikian semangat hidup awal yang mendasari pertapaan itu mulai ditinggalkannya. Kesan yang sama menghinggapi juga beberapa rahib yang lainnya. Maka bersama dengan rahib-rahib itu, Stefanus angkat kaki dari pertapaan itu dan berusaha mendirikan pertapaan baru. Pada tahun 1098, mereka mendirikan suatu pertapaan baru di Citeaux. Stefanus menjadi Abbas pertapaan itu pada tahun 1109. Ia berusaha membimbing perkumpulan baru yang berada dalam keadaan yang serba kekurangan itu: tidak ada dana dan sering kehabisan makanan. Selain itu, ia menghadapi kenyataan tidak adanya panggilan baru karena cara hidup mereka yang keras, dan penyakit misterius yang merenggut nyawa beberapa rekannya.
Tetapi pada waktu semangat hidup mereka mulai redup, datanglah 30 orang pemuda meminta diri untuk bergabung bersama mereka. 30 pemuda itu dipimpin oleh Bernadus, yang kemudian menjadi orang Kudus yang terkenal. Semenjak itu wajah pertapaan Citeaux mulai bersinar terang dan berkembang pesat. Dari Citeaux para rahib itu mulai mendirikan rumah-rumah pertapaan baru di Pontigny, Morimond, dan Clairvaux. Bernandus, ketika berusia 24 tahun diangkat sebagai Abbas Clairvaux. Setelah 9 biara didirikan, Stefanus menyusun Konstitusi Cistersian pada tahun 1119. ia kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Abbas pada tahun 1133, karena sudah lanjut umurnya dan mulai buta. Stefanus Harding meninggal dunia di Citeaux paa tahun 1134.
Santo Titus
St.Titus adalah murid langsung dari St.Paulus Rasul. Nama Titus dan Timotius sering disebut-sebut dalam Surat-surat Rasul agung tersebut. Paulus menulis dua pucuk Surat kepada Timotius ( I dan II Timotius ) dan sepucuk surat gembala untuk Titus (Kitab Titus) dimana Paulus menyapa keduanya dengan sebutan : Anakku yang sah dalam Iman. (I Tim 1:2 ; Tit 1:4).
Titus adalah seorang bukan Yahudi yang percaya kepada Tuhan. Ia adalah seorang yang murah hati dan giat bekerja. Dengan penuh sukacita ia mewartakan Kabar Gembira bersama dengan Paulus dalam perjalanan kerasulan mereka. Oleh karena Titus seorang yang dapat dipercaya, Paulus tanpa ragu mengutusnya dalam banyak “misi” kepada komunitas-komunitas Kristiani. Titus membantu umat memperteguh iman mereka kepada Yesus. Ia juga mampu memulihkan perdamaian apabila terjadi perselisihan di antara jemaat Kristiani. Titus dianugerahi karunia istimewa sebagai pembawa damai. Paulus amat menghargai karunia yang dimiliki Titus ini dan mengenalinya sebagai karya Roh Kudus. Paulus akan mengirim Titus untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul.
Ketika Titus ada di antara suatu kelompok jemaat Kristiani, orang-orang yang bersalah akan menyesali perbuatan mereka. Mereka akan memohon pengampunan dan berusaha memperbaiki apa yang telah mereka lakukan. Ketika damai telah tercapai, Titus akan kembali serta melaporkan hasil baiknya kepada Paulus. Hal ini mendatangkan sukacita bagi Paulus dan jemaat Kristiani yang lain. St. Paulus mengangkat Titus sebagai Uskup di Pulau Kreta, di mana ia tinggal hingga akhir hayatnya.
Arti nama
Berasal dari bahasa Latin : titulus yang berarti "Gelar Kehormatan"
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari