Bacaan Misa
Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: "Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu." Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang." Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu: "Pergilah, masing-masing ke kotanya."
Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;
Karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah.
Sebab Engkaulah kemuliaan kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami meninggi.
Sebab perisai kita kepunyaan TUHAN, dan raja kita kepunyaan Yang Kudus Israel.
Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."
Seperti Tetangga
Penyakit lama manusia: ingin seperti orang lain. Tetangga membeli motor baru, kita mulai merasa motor sendiri kurang. Anak orang masuk sekolah favorit, kita gelisah. Ukuran hidup diambil dari sebelah rumah, bukan dari dalam hati.
Israel pun terkena penyakit itu. Para tua-tua datang kepada Samuel dan meminta: angkatlah seorang raja atas kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain. Itulah kalimat kuncinya: seperti bangsa-bangsa lain. Padahal justru keistimewaan Israel adalah tidak seperti bangsa lain. Bangsa lain diperintah raja; mereka diperintah Allah sendiri.
Samuel memperingatkan panjang lebar: raja akan mengambil anak-anakmu, ladangmu, sepersepuluh hasil panenmu, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Mereka menjawab pendek: tidak, harus ada raja atas kami. Keinginan untuk seragam mengalahkan akal sehat.
Tuhan berkata kepada Samuel dengan nada pedih: bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak. Setiap kali kita menukar panggilan khas kita demi menjadi seperti orang lain, penolakan serupa terjadi diam-diam.
Padahal Tuhan tidak menciptakan kita sebagai salinan. Iman memberi keberanian untuk berbeda: gaya hidup yang lebih sederhana, cara bersaing yang lebih jujur, keluarga yang tidak ikut arus.
Hari ini, dalam hal apa kita sedang memaksa diri menjadi seperti tetangga?
Tuhan, cukupkan aku dengan panggilanku sendiri, jangan biarkan aku menukarnya dengan keseragaman. Amin.
Invitatorium
Pekan I Mazmur
Pembukaan
AntifonBersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setiaNya.
Mazmur 94 (95)
AntifonBersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setiaNya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Bangkitlah, Tuhan, dan datanglah menolong aku.
Mazmur 34 (35)
Tuhan sebagai Juruselamat di masa penganiayaan
Mereka berkumpul… dan merencanakan untuk menangkap Yesus dengan tipu daya dan membunuh-Nya (Matius 26:3-4).
AntifonBangkitlah, Tuhan, dan datanglah menolong aku.
Antifon 2Tuhan yang mahakuasa, berdirilah di sisiku dan belalah aku.
AntifonTuhan yang mahakuasa, berdirilah di sisiku dan belalah aku.
Antifon 3Lidahku akan berbicara tentang kebaikan-Mu sepanjang hari.
AntifonLidahku akan berbicara tentang kebaikan-Mu sepanjang hari.
Responsorium Lihat Sirakh 43:27, 28
Responsorium Tobit 12:6, 18
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Mazmur 50
Antifon 1Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Antifon 2Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Yes 45,15-26
Antifon 2Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Antifon 3Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Mazmur 99
Antifon 3Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Bacaan Singkat (Ef 4,29-32)
Lagu Singkat
Antifon KidungTuhan telah mengunjungi dan membebaskan umatNya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTuhan telah mengunjungi dan membebaskan umatNya.
Doa Permohonan
℟. Anugerahilah kami belaskasihanMu, ya Tuhan.
Kristus fajar dan matahari kami, terangilah kami dengan sinar cahayaMu,* dan kekanglah kecenderungan kami yang jahat. ℟.
Jagailah kiranya pikiran, perkataan dan pekerjaan kami,* agar kami dapat menyenangkan hatiMu hari ini. ℟.
Palingkanlah wajahMu dari dosa-dosa kami,* dan hapuskanlah segala kejahatan kami. ℟.
Demi salib dan kebangkitanMu,* penuhilah kami dengan penghiburan Roh Kudus. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Philp 2, 2 b-4)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Mazmur 118 (119),25-32
Antifon 1Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Antifon 2Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Mazmur 25 (26)
Antifon 2Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Antifon 3Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Mazmur 27 (28),1-3.6-9
Antifon 3Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Bacaan singkat Kol 3,12-13
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Col 3, 12-13)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Mazmur 40
Antifon 1Sembuhkan aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Antifon 2Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Mazmur 45
Antifon 2Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Antifon 3Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Why 15,3-4
Antifon 3Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Bacaan Singkat (Rom 15,1-3a)
Antifon KidungTuhan telah menyambut kita, hamba-hambaNya, demi kasih sayangNya yang besar.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungTuhan telah menyambut kita, hamba-hambaNya, demi kasih sayangNya yang besar.
Doa Permohonan
℟. Tunjukkanlah kerahimanMu kepada kami, ya Tuhan.
Tuhan, Bapa kami yang mahamurah, kami berdoa kepadaMu bagi anggota anggota umatMu yang berdukacita,* sebab Kristus telah mengorbankan diri bagi mereka. ℟.
Lepaskanlah orang yang terbelenggu, anugerahkanlah terang kepada yang buta,* bantulah para janda dan yatim piatu. ℟.
Perlengkapilah semua orang beriman dengan senjata iman dan kasih,* agar dapat bertahan melawan tipu muslihat setan. ℟.
Dampingilah kami, ya Tuhan, pada saat kematian kami,* agar kami terdapat setia dan berpulang dalam damai. ℟.
Hantarlah orang-orang mati kepada cahaya yang Kaudiami,* agar mereka memandang Engkau selama-lamanya. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Engkau datang memanggil orang yang berdosa.
Kristus, kasihanilah kami.℟.Kristus, kasihanilah kami.℣.Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami.
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 87 (88)
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat Yer 14,9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santa Priscila
Priscila dikenal sebagai seorang gadis Romawi. Ia juga dikenal sebagai pendiri salah satu katakombe tertua di Roma, yakni Katakombe Santa Priscila, di jalan Salaria, Roma.
Tidak banyak hal yang diketahui tentang Pricila, kemungkinan ia adalah isteri Manius Acilius Glabrio, yang meninggal dunia karena teguh mempertahankan imannya pada masa penganiyaan terhadap orang Kristen oleh kaisar Domitianus (81-96).Menurut cerita, Santo Petrus pernah menggunakan rumah Priscila di jalan Salaria sebagai markasnya. Dibawah rumah itu, digali katakombe - katakombe. Santo Pundens dianggap sebagai putera dari Priscila. Priscila meninggal pada tahun 98.
Santo Berardus dkk
Enam biarawan Fransiskan menerima tugas dari St. Fransiskus Asisi untuk pergi ke Maroko. Mereka diutus untuk mewartakan iman Kristiani di tengah masyarakat Muslim. Biarawan Berardus, Petrus, Adjutus, Accursio dan Odo melakukan perjalanan dengan kapal laut pada tahun 1219. Maroko terletak di ujung barat laut Afrika. Perjalanan mereka merupakan perjalanan yang panjang serta berbahaya. Kelompok biarawan tersebut tiba di Seville, Spanyol. Segera mereka mulai berkhotbah di jalan-jalan dan di taman-taman kota. Orang memperlakukan mereka seolah-olah mereka gila dan menangkap mereka. Agar tidak dipulangkan kembali ke negerinya, para biarawan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu sultan. Jadi, gubernur Seville mengirim mereka ke Maroko.
Sultan menerima para biarawan serta memberi mereka kebebasan untuk berkhotbah di kota. Tetapi, sebagian orang tidak suka akan hal ini. Mereka melaporkannya kepada penguasa. Sultan berusaha melindungi para biarawan dengan mengirim mereka untuk tinggal di Marrakech, di pesisir barat Maroko. Seorang pangeran Kristen, yang juga sahabat sultan, Dom Pedro Fernandez, menerima mereka di rumahnya.
Namun, para biarawan tersebut sadar bahwa misi mereka adalah mewartakan iman. Jadi, mereka kembali ke kota sesering mungkin. Hal ini membuat geram sebagian orang yang tidak suka mendengar pesan yang disampaikan para biarawan. Keluhan dan hasutan mereka membuat sultan murka begitu rupa hingga suatu hari, ketika melihat para biarawan itu sedang berkhotbah, ia memerintahkan para biarawan itu untuk segera berhenti atau pergi meninggalkan negeri. Karena para biarawan tidak hendak melakukan keduanya, para biarawan Fransiskan itu dipenggal kepalanya di sana saat itu juga. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 Januari 1220.
Dom Pedro datang menjemput jenasah para martir. Pada akhirnya, ia mengantarkan jenasah para Martir ini ke Gereja Salib Suci di Coimbra, Portugal. Misi para biarawan Fransiskan ke Maroko sangat singkat dan tampaknya gagal. Namun demikian, hasilnya sungguh luar biasa. Kisah para martir yang gagah berani ini membakar semangat para Fransiskan pertama untuk menjadi misionaris dan wafat sebagai martir pula.
Seorang biarawan muda Portugal begitu tersentuh oleh pengorbanan para martir Kristus ini ketika jenazah mereka disemayamkan dibiaranya. Ia kemudian bergabung dengan Ordo Fransiskan agar dapat mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan juga dapat menjadi saksi sekaligus martir Kristus. Pemuda itu adalah Santo Antonius dari Padua.
Santo Honoratus
Sepulang dari berziarah, Honoratus memilih tinggal di pulau terpencil di Perancis Selatan. Disitu ia mendirikan biara Lerin yang termasyur, karena sebagian besar biarawannya adalah cendekiawan. Ia ditabhiskan menjadi Imam dan diangkat menjadi Uskup Arles, walaupun ia sendiri tidak menginginkannya. Santo Hilarius sangat memujinya. Honoratus meninggal dunia pada tahun 429.
Santo Joseph Vaz
Santo Joseph Vaz lahir pada tahun 1651 di Benaulim Goa India, yang saat itu dikenal sebagai Portugis India, dan menjadi bagian dari Kekaisaran Portugis. Ia adalah anak ketiga dari enam orang bersaudara putera-puteri dari Cristóvão Vaz dan Maria de Miranda. Ayah dan ibunya adalah orang Katolik yang taat.
Jospeh Vaz bersekolah di Sancoale lalu melanjutkan pendidikannya di Benaulim. Dia adalah seorang murid yang cerdas dan disenangi oleh para guru dan sesama siswa. Kemajuan pendidikannya membuat ayahnya memutuskan untuk mengirimnya ke Goa untuk melanjutkan studinya di sekolah seminari. Yoseph masuk Seminari Jesuit Santo Paulus di Goa lalu melanjutkan studi filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Santo Thomas Aquinas milik ordo Dominikan. Pada 1675, Joseph Vaz ditahbiskan menjadi diakon untuk Keuskupan Agung Goa oleh Mgr.Custódio de Pinho, Vikaris Apostolik Bijapur dan Golconda. Setahun kemudian ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Goa, Mgr. António Brandão, SOCist.
Segera setelah ditahbiskan, pater Joseph mulai pergi tanpa alas kaki untuk mulai berkarya sebagai seorang miskin. Ia kemudian beroleh reputasi sebagai seorang pengkhotbah ulung dan bapa pengakuan. Dia juga membuka sebuah Seminari di Sancoale.
Setelah berkarya beberapa saat di Goa, Pater Vaz mengajukan permohonan untuk menjadi misionaris di Srilanka. Permohonannya ditolak dan ia malah ditugaskan ke Canara (masih di India Selatan), dimana saat itu sedang terjadi konflik antara uskup Padroado yang ditunjuk oleh pemerintah Portugis dengan Kongregasi Propaganda Fide (Sebuah Lembaga Vatikan yang mengatur upaya misionaris di seluruh dunia). Menyusul permohonannya, pada tahun 1681 Pater Vaz diangkat menjadi Vikaris Forane (Wakil uskup) untuk wilayah Canara oleh Uskup Padroado. Ia segera dikirim kesana dengan tugas utama untuk menegakkan kewenangan Padroado terhadap Propaganda Fide di wilayah tersebut. Setelah tiba di Canara, padre Vaz menemukan situasi Gereja Katolik Roma disana sangat tidak menyenangkan.
Padroado yang berwenang di Goa menetang penunjukan Uskup Thomas de Castro sebagai Vikaris Apostolik untuk wilayah Canara oleh Paus Clement X pada 30 Agustus 1675. Uskup de Castro tidak diakui oleh Uskup Agung dari Padroado di Goa. Akibatnya, mereka tidak menyerahkan yurisdiksi kepadanya meskipun ia memiliki surat pengangkatan dari paus.
Konflik antara Padroado dan Propaganda Fide telah membelah umat Katolik di Canara menjadi dua kubu. Ada yang mengakui otoritas Uskup Agung Padroado di Goa dan ada yang mendukung Uskup Apostolik de Castro. Yang menyedihkan adalah, umat yang mengakui kewenangan Padroado akan dikucilkan oleh uskup de Castro, sementara umat yang mengakui kewenangan Propaganda Fide akan dikucilkan oleh otoritas Padroado di Goa. Kedua pihak dilarang menerima sakramen dari imam-imam dari kelompok lain, dengan ancaman hukuman ekskomunikasi. Dalam sebuah suratnya tertanggal 14 September 1681, Vaz mengeluh tentang keadaan ini :
"Banyak yang percaya bahwa Gereja Katolik telah terbelah, dan bahwa kita, para imam, dan para Uskup bukanlah anak-anak dari Ibu Gereja yang sama, dan bahwa ajaran-ajaran dan sakramen kita berbeda, dan apa yang dilakukan oleh yang satu, akan dihancurkan oleh yang lain. Gereja Katolik disini dibenci dan tidak dapat diterima. "
Melalui upaya diplomasi dan kerendahan hati, Pater Vaz sebagai Vikariat Padroado akhirnya dapat bertemu dengan uskup De Castro di Mangalore. Setelah meyakinkan bapa uskup tentang legitimasi dokumen, mereka memutuskan untuk menyudahi konflik dan meminta keputusan dari paus yang baru terpilih, Paus Innosensius XI. Mengingat fakta bahwa seorang uskup memiliki otoritas yang sah, Pater Vaz mengakui otoritas Uskup de Castro sambil terus mematuhi sistem Padroado. Ia menempatkan kesejahteraan rohani umat diatas segalanya. Karena itu Uskup de Castro pun menghormati Vikaris Padroado ini dan kerap mendelegasikan kewenangan kepadanya.
Pater Vaz sering berbicara kepada bapa uskup dan meminta agar mereka dapat berkarya bersama sambil menunggu keputusan akhir dari Paus. Pater Vaz menunjukkan bahwa konflik ini telah membuat umat Hindu tersinggung dan umat Kristen menjadi kebingungan.
Selama berkarya di Canara antara tahun 1681-1684, pater Vaz telah melakukan banyak pekerjaan misionaris di Mangalore, Basroor, Barcoor, Moolki, Kallianpur dan di daerah lain. Ia menghidupkan kembali kehidupan rohani dan iman umat Katolik, dan membawa perdamaian diantara mereka yang sebelumnya terbelah. Pater Vaz merekonstruksi Katedral Rosario di Mangalore dan membangun gereja-gereja baru di Onore, Basroor, Cundapore, dan Gangolim. Ia juga mendirikan sekolah-sekolah kecil di beberapa desa dengan kerjasama dari warga mereka.
Salah satu karya pater Vaz yang paling penting adalah pembentukan sejumlah besar Irmidades (Confraternities atau di Kota Larantuka pulau Flores di kenal dengan sebutan Konfreria; yang adalah serikat persaudaraan awam) di seluruh wilayah Canara, di mana ia secara berkala akan merayakan acara-acara liturgi dengan meriah. Ia terpaksa membentuk serikat awam seperti ini karena kekurangan tenaga imam. Para Irmidade dilatihnya untuk memimpin umat Katolik di tempat-tempat di mana tidak ada imam atau gereja. Untuk itu, ia membangun gubuk kecil dan meminta umat setempat agar berkumpul di sana pada setiap hari minggu untuk menjalankan ibadat sabda dibawah pimpinan para Irmidades. Hal ini sangat membantu kehidupan rohani umat di daerah - daerah yang tidak memiliki gereja dan imam.
Dalam karya singkatnya, pater Vaz memperoleh reputasi yang besar sebagai seorang kudus. Banyak keajaiban yang dikaitkan dengannya dan legenda disekitar dirinya menyebar dikalangan umat. Sebuah legenda setempat mengatakan bahwa saat bertugas sebagai pastor paroki di Paneer, beberapa kilometer dari Mudipu, Bantwal, beberapa orang Hindu tiba di paroki pada tengah malam dan memintanya untuk menemani mereka untuk memberikan sakramen minyak suci bagi seorang katolik yang sedang sekarat di Mudipu. Orang-orang ini ternyata tengah bersekongkol untuk membunuhnya karena kegiatan misionaris yang tak kenal lelah. Ketika mereka sampai di puncak bukit, orang-orang tersebut menyerangnya. Dengan tenang pater Vaz berlutut di atas sebuah batu dan menghujamkan tongkatnya di tanah. Sebuah cahaya berkelebat di tengah-tengah mereka dan dari tanah dibawah batu tempat ia berlutut memancarlah air dengan deras dan menghalangi orang-orang itu untuk mendekati pater Vaz. Keajaiban ini membuat orang-orang itu melarikan diri dan pater Vaz kembali ke paroki. Sebuah gereja yang didedikasikan kepadanya kelak dibangun disitus tersebut di Mudipu. Sampai hari ini Gereja tersebut setiap tahunnya dikunjungi oleh ribuan umat dan peziarah yang berkah dan berdoa demi penyembuhan berbagai macam penyakit.
Uskup agung baru, Manuel de Sousa e Menezes, tiba di Goa dan tidak senang dengan Vaz karena perjanjian yang telah dibuat dengan uskup de Castro. Ketika Vaz meminta izin untuk kembali ke Goa, permintaan itu ditolak oleh Uskup Agung. Setelah kematian uskup agung tersebut pada tahun 1684, barulah pater Vaz dapat kembali ke Goa.
Di Goa Pater Vaz menghabiskan waktunya untuk berkhotbah di desa-desa sekitarnya. Dia juga bergabung dengan sekelompok imam dari Keuskupan Agung yang telah memutuskan untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas religius. Kelompok ini secara resmi didirikan sebagai sebuah komunitas dari Kongregasi Oratorium santo Filipus Neri pada tanggal 25 September 1685.
Hanya satu tahun kemudian, pada tahun 1687, ia merasa terpanggil untuk meninggalkan Goa dan pergi sebagai misionaris ke pulau Ceylon (sekarang Sri Lanka) di mana ia mendengar kabar bahwa umat Katolik disana dianiaya oleh pemerintah Belanda yang Calvinis, dan selama beberapa puluh tahun umat tidak pernah dilayani oleh imam. Pater Vaz berkarya di Srilanka selama dua puluh empat tahun. Ia melaksanakan pelayanan imamat dengan sangat heroik dalam situasi yang berbahaya. Dia kerap dikejar-kejar oleh pihak berwenang Belanda yang sangat ingin melenyapkan Gereja Katolik. Namun pater Vaz sukses membangun kembali Gereja Katolik di Srilanka dan menjaga kehidupan rohani umat. Walau untuk itu ia harus melakukan perjalanan dengan cara menyamar dan terpaksa merayakan sakramen-sakramen secara diam-diam di malam hari.
Pater Vaz lalu memutuskan untuk membangun basis di kerajaan Kandy di pedalaman Srilanka yang jauh dari jangkauan Belanda. Setibanya di sana ia ditangkap karena dianggap sebagai mata-mata dan dimasukkan ke dalam penjara kerajaan. Namun ia segera dibebaskan setelah hujan turun sesaat setelah ia berdoa memohon hujan untuk mengakhiri kekeringan yang berkepanjangan. Setelah itu raja Kandy yang beragama Buddha memberinya perlindungan pribadinya.
Pada 1696 beberapa imam Oratorium dari Goa datang bergabung dengannya di Srilanka. Kini misi Katolik dapat benar-benar dijalankan disana. Ia menolak posisi Vikaris Apostolik, dan lebih memilih untuk tetap menjadi seorang imam misionaris yang sederhana. Di antara karya pastoral yang lain ia menerjemahkan katekismus dan doa-doa ke dalam bahasa lokal, Singalese dan Tamil. Orang-orang memanggilnya “Sammanasu Swam” yang artinya : imam malaikat.
Pada awal tahun 1711, meskipun kesehatannya sedang memburuk, pater Vaz tetap melakukan perjalanan pastoral untuk mengunjungi umat. Setelah kembali, ia jatuh sakit. Ia pun menyadari bahwa ia sedang sekarat. Tengah malam pada tanggal 16 Januari 1711, dengan lilin di tangannya, pater Joseph Vaz tutup usia di umur enam puluh tahun.
Pengabdian Fr.Joseph terhadap kerasulan pastoral membuatnya menjadi pembawa damai pada saat-saat yang kritis dalam sejarah misionaris Katolik di Asia Tenggara. Selama hidupnya keberhasilan pastoralnya membawanya ke perhatian otoritas Gereja di Portugal dan Roma. Setelah kematiannya semangat dan teladan yang ia lakukan sebagai seorang misionaris membuatnya menjadi inspirasi bagi untuk para imam misionaris di Srilanka. Kerasulannya meninggalkan warisan yang luar biasa : 70.000 umat Katolik, 15 Gereja dan 400 kapela. Karena itu ia di gelari sebagai Rasul dari Srilanka.
Arti nama
Joseph Berasal dari bahasa Latin : Ioseph, yang diambill dari bahasa Yunani Ιωσηφ (Ioseph), yang aslinya dari bahasa Ibrani יוֹסֵף (Yosef) yang berarti : "Yang ditambahkan Tuhan".
Santo Marsellus I
Marsellus menjadi Paus pada tahun 308-309. ia ditetapkan oleh gereja sebagai Martir. Tempat dan hari kelahirannya serta kisah masa mudanya tidak diketahui dengan pasti. Meskipun demikian ia dikenal sebagai seorang imam dalam masa kePausan Santo Marselinus I (296-304).
Kisah tentang dirinya dihubungkan dengan peristiwa penganiyaan dan pembunuhan atas diri Paus(Santo) Marselinus I. Kematian Marselinus mengakibatkan kekosongan kepemimpinan gereja di Tahkta Suci selama beberapa saat. Gereja pada masa itu mengalami kegoncangan besar karena usaha penganiyaan orang - orang Kristen oleh Kaisar Diokletianus (284-305). Tiga tahun setelah kematian Diokletianus yaitu tahun 308, terpilihlah seorang Paus baru, yaitu Marsellus.
Kepemimpinan Marsellus berlangsung ditengah situasi Gereja yang kacau balau. Pelayanan iman dan pewarta sabda tidak berjalan. Umat tercerai berai tanpa bimbingan seorang gembala. Marsellus berkewajiban mengatur kembali administrasi Gereja dan mengatasi semua masalah Gereja. Tindakan pertama yang dilakukan adalah membagi Gereja kedalam wilayah - wilayah pelayanan (paroki) di bawah pimpinan seorang imam. Para imam bertugas mengajar umat, terutama para katekumen; melayani sakramen Pengakuan; mendoakan dan turut menguburkan jenazah orang - orang Kristen yang meninggal; dan bersama umat merayakan upacara untuk mengenang para martir. Marsellus pun membangun sebuah kuburan baru untuk orang - orang Kristen di Jalan Salaria, Roma.
Usaha - usaha Marsellus untuk mengatur kembali Gereja terhambat oleh perbedaan pendapat tentang masalah orang - orang Kristen yang mutrad ketika adanya penganiyaan. Mereka ingin kembali menjadi Kristen lagi tanpa menjalani kewajiban bertobat. Marsellus bertindak tegas dengan menuntut agar orang - orang itu terlebih dahulu harus bertobat, dan mangakui kesalahannya serta menjalankan penitensi yang berat. Hal ini ditentang oleh banyak orang hingga memuncak menjadi suatu peristiwa berdarah. Karena peristiwa ini, Kaisar Maxentius (306-312), menangkap dan mengasingkan Marsellus ke luar Roma. Ia meninggal di pengasingan itu.
Ada banyak cerita yang beredar tentang akhir hidup Marsellus. Salah satu cerita adalah bahwa Kaisar Maxentius yang tidak setuju dengan usaha - usaha Marsellus, menghukumnya dengan menjalankan kerja paksa: membersihkan kandang - kandang ternah Kaisar. Tetapi dengan bantuan umat, Marsellus dapat meloloskan diri dari tempat siksaan itu dan berlindung di dalam rumah seorang keluarga bangsawan di kota. Namun kemudian tempat persembunyian ini diketahui oleh kaki tangan Kaisar Maxentius. Marsellus kemudian ditangkap dan dibunuh dengan sangat keji.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari