Bacaan Misa
Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:
TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.
Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah. Sela
Aku menyebut Rahab dan Babel di antara orang-orang yang mengenal Aku, bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia: "Ini dilahirkan di sana."
Tetapi tentang Sion dikatakan: "Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya," dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana." Sela
Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: "Segala mata airku ada di dalammu."
Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu."
Invitatorium
Pekan IV Mazmur
Pembukaan
AntifonTuhan sungguh bangkit, alleluya.
Mazmur 94 (95)
AntifonTuhan sungguh bangkit, alleluya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Tuhan, biarlah seruanku sampai kepada-Mu; janganlah sembunyikan wajah-Mu dariku, alleluya.
Mazmur 101 (102)
Kerinduan dan doa seorang buangan
Allah menghibur kita dalam segala kesusahan kita (2 Korintus 1:4).
AntifonTuhan, biarlah seruanku sampai kepada-Mu; janganlah sembunyikan wajah-Mu dariku, alleluya.
Antifon 2Perhatikanlah, Tuhan, doa orang-orang yang tak berdaya, alleluya.
AntifonPerhatikanlah, Tuhan, doa orang-orang yang tak berdaya, alleluya.
Antifon 3Engkau, ya Tuhan, mendirikan bumi, dan langit adalah karya tangan-Mu, alleluya.
AntifonEngkau, ya Tuhan, mendirikan bumi, dan langit adalah karya tangan-Mu, alleluya.
Responsorium Wahyu 14:7, 6, 7
Responsorium Wahyu 5:9, 10
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Barang siapa melakukan kehendak BapaKu akan masuk kerajaan surga, alleluya.
Mazmur 100 (101)
Antifon 1Barang siapa melakukan kehendak BapaKu akan masuk kerajaan surga, alleluya.
Antifon 2Semoga para bangsa mengenal kasih setiaMu kepada kami, ya Tuhan, alleluya.
Dan 3,26.27.29.34-41
Antifon 2Semoga para bangsa mengenal kasih setiaMu kepada kami, ya Tuhan, alleluya.
Antifon 3Tuhanlah benteng dan pembebasku, alleluya.
Mazmur 143 (144), 1-10
Antifon 3Tuhanlah benteng dan pembebasku, alleluya.
Bacaan singkat: Kis 13,30-33
Antifon KidungKarya yang Kukerjakan atas nama BapaKu memberi kesaksian tentang Aku, alleluya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungKarya yang Kukerjakan atas nama BapaKu memberi kesaksian tentang Aku, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Anugerahilah kami buah kebangkitanMu, ya Tuhan.
Engkau melimpahkan kegembiraan kepada para wanita dan para rasul waktu kebangkitanMu, ya Kristus, penyelamat seluruh dunia,* angkatlah kami menjadi saksiMu. ℟.
Engkau menjanjikan kehidupan baru kepada semua orang,* teguhkanlah kami menjadi pewarta InjilMu. ℟.
Engkau berulang kali menampakkan diri kepada para rasul dan memberi mereka Roh kudusMu,* baharuilah Roh pencipta di dalam hati kami. ℟.
Engkau telah berjanji kepada murid-muridMu bahwa Engkau akan tinggal bersama mereka sampai akhir zaman,* tinggallah hari ini bersama kami, dan dampingilah kami senantiasa. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Act 4, 11-12)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan IV Mazmur
Madah
Antifon 1Berbahagialah kamu, jikalau kamu mengetahui dan melaksanakan ini, alleluya.
Mazmur 118 (119),137-144
Antifon 1Berbahagialah kamu, jikalau kamu mengetahui dan melaksanakan ini, alleluya.
Antifon 2Semoga doaku sampai ke hadiratMu, ya Tuhan, alleluya.
Mazmur 87 (88) I
Antifon 2Semoga doaku sampai ke hadiratMu, ya Tuhan, alleluya.
Antifon 3Aku berseru kepadaMu, ya Tuhan, janganlah Kausembunyikan wajahMu dari padaku, alleluya.
Mazmur 87 (88) II
Antifon 3Aku berseru kepadaMu, ya Tuhan, janganlah Kausembunyikan wajahMu dari padaku, alleluya.
Bacaan singkat: Kol 3,1-2
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Col 3, 1-2)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan IV Mazmur
Madah
Antifon 1Nyanyikanlah bagi kami lagu Sion, alleluya.
Mazmur 136 (137),1-6
Antifon 1Nyanyikanlah bagi kami lagu Sion, alleluya.
Antifon 2Dalam kesesakanku Engkau memelihara hidupku, alleluya.
Mazmur 137 (138)
Antifon 2Dalam kesesakanku Engkau memelihara hidupku, alleluya.
Antifon 3PadaMulah, Tuhan, keluhuran dan kekuasaan, kemuliaan dan kejayaan, alleluya.
Why 4,11; 5,9.10-12
Antifon 3PadaMulah, Tuhan, keluhuran dan kekuasaan, kemuliaan dan kejayaan, alleluya.
Bacaan singkat: 1Ptr 3,4-5
Antifon KidungAku mengenal domba-dombaKu. Domba-dombaKu mengikuti Aku dan Aku memberi mereka hidup kekal, alleluya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungAku mengenal domba-dombaKu. Domba-dombaKu mengikuti Aku dan Aku memberi mereka hidup kekal, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Raja mahamulia, dengarkanlah kami.
Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, bagi para uskup, imam dan diakon, agar mereka melaksanakan tugas pelayanannya dengan giat lagi setia,* dan membangun suatu umat bagiMu yang terbuka bagi setiap kebaikan. ℟.
Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, untuk para pengajar yang membaktikan diri kepada umatMu,* agar mereka mencari kebenaranMu dengan hati yang murni. ℟.
Kami mohon juga kepadaMu, ya Tuhan, untuk seluruh kaum beriman, agar mereka berjuang demi kebaikan berdasarkan iman mereka,* dan setelah mengakhiri masa perjuangannya di dunia ini, menerima ganjaran kerajaanMu yang mulia. ℟.
Engkau menghapus hukuman kami dan memakukan surat keputusannya pada salib,* patahkanlah belenggu kami dan lepaskanlah kami dari kegelapan maut. ℟.
Ketika Engkau turun ke alam maut, Kaubuka pintu gerbangnya,* maka terimalah saudara-saudara kami yang telah meninggal, masuk ke dalam kerajaanMu. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
dan aku mengeluh sepanjang hari.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Aku mengakui dosaku di hadapanMu, Tuhan,*
dan kesalahanku tidak kusembunyikan.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Nasib orang berdosa sengsara belaka,*
tetapi orang yang percaya kepada Tuhan dilimpahi kasih setia.℟.Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonJanganlah wajahMu Kaupalingkan dari padaku, sebab kepadaMu aku percaya.
Mazmur 142 (143),1-11
AntifonJanganlah wajahMu Kaupalingkan dari padaku, sebab kepadaMu aku percaya.
Bacaan singkat 1Ptr 5,8-9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Luchesius
Luchesio Modestini awalnya adalah seorang pedagang di kota kecil Poggibonzi, Tuscania, Italia. Seperti kebanyakan pedagang, Luchesio begitu terobsesi untuk mengumpulkan banyak uang. Ketamakannya membuat ia dikenal sebagai seorang yang rakus dan pelit. Isterinya, Buonadonna, juga bersifat demikian. Dikemudian hari, rahmat Tuhan menyentuh hati Luchesio. Ia menjadi sadar bahwa selama ini ia telah melupakan keselamatan jiwanya. Ia telah hidup demi mengejar harta duniawi yang tidak dapat dibawa ke dalam kehidupan kekal. Kata-kata Yesus bergema dalam hatinya :
"...Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?...." Matius 16:26Maka Luchesio pun mulai berubah. Ia bertekad untuk mempersembahkan sisa hidupnya kepada Yesus. Ia juga berhasil menginsyafkan isterinya untuk mulai berubah dan mengikuti cara hidupnya yang baru. Setiap hari orang akan melihat suami-isteri pedagang yang terkenal pelit ini hadir dalam misa kudus di gereja. Luchesio dan Buonadonna juga membuat penduduk kota Poggibonzi terheran-heran ketika mereka mulai membagi-bagikan sedekah kepada para fakir miskin dan mengerjakan banyak karya amal.
Karena khawatir dapat jatuh kembali kedalam ketamakan, mereka memutuskan untuk meninggalkan dunia bisnis. Luchesio dan Buonadonna lalu menjual semua harta mereka dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Mereka hanya menyisakan sebidang tanah kecil yang kiranya cukup untuk menopang kehidupan mereka. Luchesius beralih profesi menjadi seorang petani sederhana dan menggarap lahannya dengan kedua-tangannya sendiri.
Pada waktu itulah Santo Fransiskus dari Asisi datang dan berkotbah di Tuscania. Kotbahnya tentang pertobatan begitu memukau, sehingga setelah ia selesai berkotbah, banyak orang ingin meninggalkan semua harta duniawinya dan masuk biara. Tetapi Santo Fransiskus menasihati mereka untuk tetap hidup sesuai dengan panggilan hidup mereka. Ia sudah berpikir untuk memberi mereka peraturan khusus yang dapat membimbing mereka untuk hidup melayani Tuhan dengan sempurna sambil tetap hidup di dunia ramai.
Dalam lawatannya ke Tuscany, Santo Fransiskus menyempatkan diri untuk mengunjungi Luchesius di Poggibonzi. Luchesius dan isterinya sudah dikenal oleh sang santo ketika ia membeli bahan bangunan untuk gereja yang sedang diperbaikinya. Santo Fransiskus sangat bergembira mendapati orang yang dahulu begitu rakus kini telah berubah. Dihadapan santo Fransiskus, Luchesius meminta petunjuk agar ia dan isterinya dapat menjalani hidup di dunia ini dengan lebih berkenan pada Tuhan.
Santo Fransiskus lalu menerangkan kepada mereka perihal rencananya untuk mendirikan sebuah ordo bagi kaum awam. Menurut tradisi, seketika itu juga Luchesius dan isterinya meminta untuk diterima dalam ordo tersebut. Karena itulah Luchesius dan Buonadonna disebut sebagai anggota perdana dari Ordo Pertobatan, atau yang dikemudian hari dikenal sebagai Ordo Ketiga Fransiskan (Tertiaris Fransiskan atau disebut juga Ordo Fransiskan Sekular).
Regula (aturan hidup) yang diberikan oleh santo Fransiskus bagi para Tertiaris perdana ini amat sederhana. Pada 1221 regula bagi para tertiaris ini diperbaharui oleh Kardinal Hugolino dalam rumusan-rumusan hukum. Dan pada tahun yang sama Paus Honorius III menyetujui aturan hidup ini. Karena inilah tahun 1221 sering dinyatakan sebagai tahun berdirinya Ordo Ketiga Fransiskan.
Setelah Luchesius mengenakan jubah Tertiaris Fransiskan yang berwarna abu-abu itu, dia pun dengan cepat maju dalam kehidupan rohaninya. Dia menjalankan laku silih dengan keras sebagai tanda pertobatan. Ia sering berpuasa dengan hanya makan roti dan minum air putih. Ia tidur pada lantai kasar, dan dalam setiap kegiatannya ia selalu membawa Tuhan didalam hati.
Kemurahan hatinya pada orang-orang miskin tidak mengenal batas. Pada suatu hari tidak tersisa sepotong roti pun bagi ia dan isterinya. Ketika masih juga seorang miskin datang, ia meminta isterinya untuk mencari makanan apa saja yang bisa mereka berikan kepada orang miskin ini. Buonadonna kalut dan menyalahkan Luchesius.
“Matiraga!”, umpat sang isteri. “Hal itu telah membuatmu gila. Kita terus saja membagi-bagikan makanan sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Kini kita sendiri yang harus kelaparan..”.
Dengan lemah lembut Luchesius meminta isterinya untuk kembali ke ruangan tempat mereka menyimpan bahan makanan. Betapa takjubnya Buonadonna ketika mendapati ruangan yang tadinya kosong kini penuh dengan roti kualitas terbaik. Sejak saat itu Buonadonna seakan berlomba dengan suaminya dalam menjalankan laku silih, matiraga dan karya amal. Luchesius kemudian diberkati Tuhan dengan karunia ektase rohani, levitasi dan penyembuhan.
Ketika suatu wabah penyakit berkecamuk di Poggibonzi dan daerah sekitarnya, Luchesius pergi ke sana dengan seekor keledai yang penuh dengan bahan makanan dan obat-obatan untuk orang-orang sakit. Ketika semua yang dibawanya tidak cukup untuk semua orang, dia mengemis di pinggir jalan demi kepentingan mereka yang menderita itu.
Pada suatu hari Luchesius menggendong seorang cacat yang sakit, yang ditemukannya di pingir jalan. Seorang pemuda urakan berpapasan dengannya dan dengan nada mengejek bertanya, “Iblis malang macam mana pula yang kau gendong itu?” Dengan tenang Luchesius menjawab, “Saya sedang menggendong Tuhanku Yesus Kristus.” Seketika itu juga wajah pemuda itu rusak bentuknya, dan ia menjadi bisu. Dengan penuh penyesalan dia menjatuhkan diri di kaki Luchesius. Dengan tanda Salib, Luchesius memulihkannya dan ia pun dapat berbicara lagi.
Suatu saat Luchesius terbaring dalam keadaan sakit keras. Ia dapat merasakan bahwa waktunya untuk berpulang sudah tiba. Saat ia hendak berpamitan kepada isterinya, Buonadonna berkata kepadanya, “Mohonlah kepada Tuhan, yang telah menganugerahi kita untuk saling mendampingi dalam hidup, semoga ia mengijinkan kita untuk bersama-sama kembali kepadaNYA.”
Luchesius pun berdoa seperti yang diminta, dan beberapa saat kemudian, Buonadonna tiba-tiba jatuh sakit. Setelah dengan khusuk menerima sakramen ekaristi dan minyak suci, Buonadonna meninggal dunia mendahului suaminya. Beberapa waktu kemudian, tepatnya pada tanggal 28 April 1260, dengan senyum kebahagiaan Luchesius menutup matanya untuk selama-lamanya.
Banyak mujizat dilaporkan terjadi di makamnya di gereja Fransiskan di Poggibonzi. Penghormatan yang terus menerus pada dirinya mendapat pengukuhan dari gereja saat ia digelari Beato (yang terberkati) pada tahun 1273 oleh Paus Gregorius X.
Arti nama
Luchesius adalah bentuk lain dari nama Latin “Lucius”
Diturunkan dari kata Latin “LUX” yang berarti “Cahaya / bercahaya / berkilauan”
Santa Gianna Beretta Molla
Gianna Francesca Beretta dilahirkan di Magenta, Milan, Italia pada tanggal 4 Oktober 1922. Ia adalah anak kesepuluh dari tigabelas bersaudara, putera-puteri pasangan Alberto dan Maria Beretta. Ayah dan ibunya adalah orang katolik yang saleh dan menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan (para awam Fransiskan) yang taat.
Oleh karena latar belakang keluarga serta bimbingan agama yang seksama dari kedua orang tuanya, Gianna telah diperkenankan menerima Komuni Pertama pada usia lima setengah tahun. Setelah itu ia tidak pernah absen dalam Misa dan menyambut Komuni Kudus setiap hari. Dua tahun kemudian ia diperkenankan menerima Sakramen Krisma.
Gianna tidak terlalu cemerlang dalam belajar. Ia harus belajar keras di rumah demi memperbaiki nilai-nilainya yang buruk. Ia mengalami masa-masa yang sulit di sekolah, tetapi pada akhirnya ia dapat mengatasi kesulitan belajar dengan ketekunannya. Salah seorang guru mengenangnya sebagai :
“Seorang anak penuh kasih yang tahu bagaimana membangkitkan simpati dan kasih sayang dari mereka yang menghampirinya karena wataknya yang manis dan bersahaja. Kehalusan perasaannya yang tanpa dosa dan jiwanya yang tulus tahu bagaimana mendatangkan atas dirinya simpati dan kasih sayang dari mereka yang datang kepadanya. Wajahnya senantiasa tersenyum, meski terkadang diselimuti suatu tabut melankolis yang memohon belas kasih. Saya berusaha membaca melalui kedalaman matanya yang lembut pikiran-pikiran yang pada saat-saat yang singkat itu menganggu hatinya, tetapi tiada pernah saya mendengar satu kata kejengkelan atau keletihan atau pemberontakan terluncur dari mulutnya….”Pada tahun 1942, ditengah berkecamuknya perang Dunia ke II, Gianna masuk sekolah kedokteran di Milan. Namun ia tidak bisa kuliah karena perang telah sampai ke kota Milan. Bom-bom berjatuhan meratakan segala yang ada dan orang meninggalkan kota itu menuju tempat yang lebih aman. Di masa ini pula ia kehilangan kedua orang tuanya. Ibunya meninggal dunia pada bulan mei 1942 karena serangan jantung, dan ayahnya ikut meninggal dunia empat bulan kemudian. Sementara hidup terasa berat dan nyaris tak tertahankan, Gianna selalu mengatasinya dengan cara membenamkan diri dalam doa dan meditasi, serta mencurahkan isi hatinya kepada Yesus.
Saat perang berakhir, ia melanjutkan kuliah di Pavia bersama saudarinya yang bernama Virginia. Kelak Virginia menjadi seorang Dokter dan seorang biarawati Cannosian yang berkarya di India. Pada tanggal 30 November 1949 Gianna menerima gelar dalam ilmu kedokteran dan bedah dengan nilai mengagumkan. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1952, ia meraih gelar dokter spesialis anak-anak. Gianna kemudian menggabungkan diri dengan seorang kakaknya, dokter Ferdinando, di sebuah klinik kesehatan pribadi di Mesero, dekat kota kelahirannya Magenta.
Sejak masa kanak-kanak, Gianna menyimpan kekaguman dan kecintaan pada karya misionaris gereja. Setelah menjadi dokter, ia sangat berharap dapat membantu kakaknya Alberto, seorang imam Capuchin yang menjadi misionaris di Brasil. Ia ingin mengamalkan keahlian medisnya dalam pelayanan kesehatan yang amat dibutuhkan di sana. Namun karena kesehatannya sendiri yang kurang baik; keinginan dokter Gianna untuk menjadi dokter missionaris tak bisa terkabulkan. Ia lalu melanjutkan karya missionarisnya dengan berpraktek di Italia.
Pada tanggal 24 September 1955, Gianna menikah dengan Pietro Molla, seorang insinyur yang bekerja sebagai direktur teknik. Upacara pemberkatan nikah dilangsungkan di Basilika San Martino di Magenta dan dipimpin oleh kakak Gianna sendiri, pater Guiseppe Beretta. Setahun setelah perkawinannya, Pietro dan Gianna diberkati dengan kelahiran putera pertama mereka, Pierluigi yang lahir pada tanggal 19 November 1956 dan dibaptis beberapa hari sesudahnya oleh pamannya pater Giuseppe. Anak kedua mereka lahir pada tanggal 11 Desember 1957, dan dibabtis dengan nama Maria Zita (Mariolina) oleh pater Giuseppe. Selanjutnya pada tanggal 15 Juli 1959, Laura, anak mereka yang ketiga dilahirkan. Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, sesudah kelahiran masing-masing anak, Gianna akan mengambil sejumlah besar uang dari tabungannya untuk disumbangkan kepada karya-karya misi.
Pada bulan juli 1961 Gianna mengandung anaknya yang keempat. Namun di akhir bulan kedua kehamilannya, ia didiagnosa dokter memiliki fibroma (tumor) di rahimnya. Tumor ini cukup besar hingga mengancam kelangsungan kehamilan dengan menghimpit janin. Ada tiga pilihan dalam kasusnya :
- Pengangkatan rahim (hysterectomy) guna menyingkirkan tumor. Resikonya rendah; tetapi, berdampak pada kematian janin dan meniadakan kemungkinan kehamilan di masa mendatang. Seturut moralitas Katolik, dalam kasus ini hysterectomy bertujuan menyelamatkan nyawa ibu dengan mengangkat rahim yang terjangkit kanker (dengan dampak yang tak diinginkan kematian bayi yang belum dilahirkan).
- Menyingkirkan tumor sekaligus mengakhiri kehamilan, sehingga memungkinkan kehamilan di masa mendatang. Pilihan ini, yang menyangkut aborsi langsung, secara moral Katolik tidak dapat diterima.
- Mengabaikan tumor dan melanjutkan kehamilan dengan penuh resiko.
Gianna tidak pernah memikirkan kemungkinan aborsi. Ia memilih, dengan sukarela dan kemurahan hati yang besar dari pihaknya, untuk melanjutkan kehamilan penuh resiko demi kelangsungan hidup bayinya. Kegagahan yang dilakukan Gianna adalah ia lebih memilih nyawa anaknya walau dalam situasi yang sulit dan tanpa kepastian, pun tanpa peduli resiko bagi dirinya sendiri. (Dengan ultrasonik dan teknologi kedokteran saat ini, lebih banyak informasi dapat diperoleh para dokter dalam bedah modern, tetapi tidak di awal tahun 1960-an).
Sebagai seorang dokter, Gianna tahu benar tingginya resiko yang harus ia hadapi. Kendati ditentang oleh para dokter dan banyak orang, Gianna berkeras pada pilihannya. Ia mengatakan, “Dokter tidak seharusnya ikut campur. Hak hidup anak sama dengan hak hidup ibu. Dokter tidak dapat memutuskan; adalah dosa membunuh bayi dalam rahim.”
Kepada suaminya Pietro, Gianna memohon dengan suara tegas; “Jika engkau harus memilih antara aku dan sang bayi, janganlah ragu; aku mendesak, selamatkan si bayi.” Gianna mempercayakan keselamatan dirinya pada doa dan penyelenggaraan ilahi, “Dengan iman dan pengharapan aku mempercayakan diriku pada Tuhan.... Aku percaya pada Tuhan, ya; tetapi sekarang tergantung padaku untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku memperbaharui persembahan diriku kepada Tuhan. Aku siap untuk segalanya, demi menyelamatkan bayiku.”
Gianna melewatkan tujuh bulan selanjutnya hingga kelahiran sang bayi dalam kekuatan semangat yang tak tertandingi. Selama itu, ia mohon kepada Tuhan untuk menjaga bayi dalam rahimnya agar tak mengalami kesakitan. Pada hari Jumat Agung tahun 1962, Gianna dibawa masuk RS Bersalin Monza. Keesokan harinya, 21 April 1962, ia melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi caesar. Anak keempatnya ini beberapa hari kemudian dibabtis dengan nama Gianna Emanuella.
Kondisi Gianna semakin memburuk segera sesudah melahirkan. Ia memohon bantuan ibunya untuk tinggal dekatnya dan menolongnya, sebab ia tak dapat menahan rasa sakitnya lagi. Penderitaannya tampak bagai suatu kurban yang dramatis dan perlahan, yang menyertai kurban Kristus di salib. Menjelang ajal, ia masih sempat berkata kepada saudarinya, “Andai saja engkau tahu bagaimana hal-hal dinilai secara berbeda di saat ajal! ... Betapa sia-sia tampaknya hal-hal yang di dunia ini begitu kita pentingkan!”. Gianna Beretta Molla wafat pada tanggal 28 April 1962 dalam usia 39 tahun. Wajahnya tampak damai tenang, segala tanda kesakitan sama sekali sirna dan ia tampak dipenuhi kebahagiaan.
Pada tanggal 24 April 1994, dalam tahun yang dicanangkan sebagai Tahun Keluarga, Gianna Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Dalam Misa beatifikasi yang dihadiri oleh suami, saudara-saudari beserta putera-puteri Gianna ini. Bapa Suci mengatakan bahwa Gianna adalah teladan segenap ibu, “Seorang perempuan dengan kasih yang luar biasa, seorang istri dan ibu yang mengagumkan, ia memberi kesaksian dalam hidup sehari-hari akan nilai-nilai Injil. Dengan berpegang pada wanita ini sebagai teladan kesempurnaan Kristiani, kita hendak memuji segenap para ibu keluarga yang penuh semangat, yang memberikan diri sepenuhnya kepada keluarga, yang menanggung derita dalam melahirkan, yang siap sedia bagi segala karya dan segala rupa kurban, agar yang terbaik dari mereka dapat dibagikan kepada sesama.”
Gianna Emanuela yang saat itu telah menjadi seorang dokter dan pejuang Gerakan Pencinta Kehidupan, menyampaikan kesaksiannya;
“Mama sayang, terima kasih telah memberiku hidup dua kali : ketika Mama mengandung aku dan ketika Mama mengijinkanku dilahirkan … Hidupku rindu untuk menjadi kelanjutan hidupmu, sukacita hidupmu, antusiasmu, dan ia mendapati kepenuhan artinya dalam keterlibatan dan dedikasi penuh kepada siapapun yang hidup dalam penderitaan. Mama sayang, mohon bantuan doamu senantiasa bagi segenap ibu dan segenap keluarga yang berpaling kepadamu dan mempercayakan diri mereka kepadamu.”Gianna Beretta Molla dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 16 Mei 2004. Pestanya dirayakan pada tanggal 28 April.(qq)
Arti nama
Gianna = Bentuk Pendek dari nama Giovanna.
Giovanna adalah bentuk feminim dari nama Giovanni (Ejaan Italia untuk nama : Yohanes)
Yohanes Berasal dari nama Yunani Ιωαννης (Ioannes), yang aslinya berasal dari nama Ibrani יוֹחָנָן (Yochanan) yang berarti "YAHWEH Maha pengasih", "Allah Maha Baik"
Santo Louis Marie Grignon de Monfort
Louis Grignon lahir di Monfort, Prancis, dari sebuah keluarga miskin pada tahun 1673. Di masa mudanya, ia dikenal lekas marah bila ada sesuatu yang tidak memuaskan hatinya. Namun ketika ia meningkat dewasa, ia mampu mengendalikan sifatnya itu dan berubah menjadi seorang yang penuh pengertian dan rendah hati. Perubahan ini menjadi suatu persiapan yang baik baginya untuk memasuki perjalanan hidup yang panjang sebagai seorang imam.
Pendidikannya yang berlangsung di Paris dirintangi oleh banyak kesulitan, terutama karena kekurangan uang, baik untuk biaya pendidikannya maupun untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hidupnya sungguh memprihatinkan. Biliknya sangat sempit, tanpa pemanas ruangan di musim dingin. Untuk memperoleh sedikit uang, ia berusaha bekerja malam di sebuah rumah sakit sebagai penjaga jenazah-jenazah. Namun semua penderitaan yang menimpanya dihadapinya dengan penuh ketabahan demi mencapai cita-citanya yang luhur.
Setelah beberapa tahun berkarya sebagai imam misionaris di dalam negeri dan menjadi pembimbing rohani di sebuah rumah sakit, ia berziarah ke Roma untuk bertemu dengan Sri Paus Klemens XI (1700-1721). Di Roma ia diterima oleh Sri Paus. Melihat karya dan kepribadiannya, Sri Paus memberi gelar "Misionaris Apostolik" kepadanya. Oleh Sri Paus, ia ditugaskan untuk mentobatkan para penganut Yansenisme yang sudah merambat di seluruh Prancis. Tugas suci itu diterimanya dengan senang hati dan dilaksanakannya dengan sangat berhasil.
Di Poiters, ia meletakkan dasar bagi Kongregasi Suster-suster Putri Sapientia, sedangkan di Paris ia menyiapkan Anggaran Dasar bagi tarekat imam-imamnya. Ia menghayati kaul kemiskinan dengan sungguh-sungguh dengan menggantungkan seluruh hidupnya kepada kemurahan hati umatnya. Dua kali ia lepas dari usaha pembunuhan oleh para penganut Yansenisme. Di Indonesia ia dikenal sebagai salah satu pelindung Legio Maria. Ia mendirikan Tarekat Monfortan, yang anggota-anggotanya berkarya juga di Kalimantan Barat. Bertahun-tahun terakhir hidupnya dihabiskannya dengan berdiam di sebuah gua yang sunyi untuk berdoa dan berpuasa hingga menghembuskan nafasnya pada tahun 1716 dalam usia 43 tahun.
Santo Petrus Louis Chanel
Petrus Louis Chanel dikenal sebagai misionaris Prancis yang meminta pewartaan Injil di Pulau Futuna, Lautan Teduh. Bersama beberapa misionaris lainnya, ia meninggalkan Prancis pada tahun 1837 menuju Futuna. Sesampainya di Futuna, ia dengan giat mempelajari bahasa dan adat istiadat setempat agar bisa dengan mudah berkomunikasi dengan rakyat setempat. Usahanya ini berhasil menarik perhatian penduduk setempat.
Meskipun demikian, para pemimpin masyarakat tidak menyambut baik, bahkan menentang keras penyebaran iman Kristen diantara penduduk Futuna. Musumusu, salah seorang kepala suku Futuna sangat menentang Petrus. Ia melancarkan aksi penangkapan dan penganiayaan terhadap orang-orang yang mengikuti pelajaran agama pada Petrus. Terhadap Petrus sendiri, ia merencanakan pembunuhan. Untuk maksudnya yang jahat itu, bersama beberapa orang pengawalnya, ia pergi kepada pastor Petrus untuk mengobati kakinya yang luka.
Dengan ramah Petrus menyambut mereka dan mengabulkan permohonannya. Tetapi tiba-tiba mereka menangkap Petrus dan menganiayanya sampai mati. Lalu mereka dengan diam-diam menguburkan Petrus. Pada hemat mereka, kematian Petrus akan mengakhiri semua kegiatan penyebaran iman di Futuna. Tetapi perhitungan itu meleset karena kematian imam yang saleh itu ternyata semakin menyemangati orang-orang serani di seluruh pulau Futuna untuk tetap mempertahankan imannya. Tiga tahun setelah kematian Petrus, seluruh penduduk Futuna telah menjadi Kristen, termasuk Musumusu yang telah membunuh Petrus. Petrus Louis Channel menjadi martir pertama di Kongregasi Persekutuan Santa Perawan Maria dan martir pertama di Pasifik.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari