Bacaan Misa
Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak." Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.
Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!
Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu,
Bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya,
Sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka.
Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN,
Sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi,
Untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.
Invitatorium
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Tuhan itu adil; Ia akan membela orang miskin.
Mazmur 10
Doa syukur
Berbahagialah orang miskin; kerajaan surga adalah milik mereka (Lukas 6:20).
AntifonTuhan itu adil; Ia akan membela orang miskin.
Antifon 2Tuhan, Engkau mengetahui beban dukacitaku.
AntifonTuhan, Engkau mengetahui beban dukacitaku.
Antifon 3Firman Tuhan itu benar, seperti perak dari perapian.
Mazmur 11 (12)
Seruan minta tolong Allah melawan penindas yang berkuasa
kebenaran telah pergi dari anak-anak manusia.
AntifonFirman Tuhan itu benar, seperti perak dari perapian.
Responsorium Ibrani 3:6; Efesus 2:21
Responsorium Kolose 2:14-15; Yohanes 8:25
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya akan mendaki gunung Tuhan.
Mazmur 23
Antifon 1Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya akan mendaki gunung Tuhan.
Antifon 2Pujilah Tuhan yang adil, agungkanlah raja kekal.
Tb 13,1-9
Antifon 2Pujilah Tuhan yang adil, agungkanlah raja kekal.
Antifon 3Patutlah orang saleh memuji-muji Allah.
Mazmur 32
Antifon 3Patutlah orang saleh memuji-muji Allah.
Bacaan Singkat: (Yl 2,12-13)
Antifon KidungApabila kamu telah meninggikan Putera manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungApabila kamu telah meninggikan Putera manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Il 2, 17)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Berbahagialah orang yang hidup menurut sabda Tuhan.
Mazmur 118 (119),1-8
Antifon 1Berbahagialah orang yang hidup menurut sabda Tuhan.
Antifon 2Hatiku bergembira, karena Engkau menyelamatkan daku, ya Tuhan.
Mazmur 12 (13)
Antifon 2Hatiku bergembira, karena Engkau menyelamatkan daku, ya Tuhan.
Antifon 3Allah telah membiarkan semua orang tidak taat, agar semua memperoleh kerahimanNya.
Mazmur 13 (14)
Antifon 3Allah telah membiarkan semua orang tidak taat, agar semua memperoleh kerahimanNya.
Bacaan Singkat: (Yl 2,17)
Antifonara serambi kenisah dan mesbah hendaknya para imam, pelayan Tuhan, menangis sambil berseru: "Sayangilah umatMu, ya Tuhan, jangan sampai pusakaMu dihina dan menjadi sindiran kaum kafir."
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Is 58, 1-2ia)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Ya Tuhan, semoga doaku membubung ke hadapanMu bagaikan dupa.
Mazmur 140
Antifon 1Ya Tuhan, semoga doaku membubung ke hadapanMu bagaikan dupa.
Antifon 2Engkaulah pelindungku, ya Tuhan, milik pusakaku dalam hidup abadi.
Mazmur 141
Antifon 2Engkaulah pelindungku, ya Tuhan, milik pusakaku dalam hidup abadi.
Antifon 3Tuhan Yesus telah menghampakan diri; sebab itu Allah meninggikan Dia selama-lamanya.
Flp 2,6-11
Antifon 3Tuhan Yesus telah menghampakan diri; sebab itu Allah meninggikan Dia selama-lamanya.
Bacaan Singkat (Rom 11,33-36)
Antifon KidungSesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungSesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu.
Doa Permohonan
℟. Dampingilah umatMu, ya Tuhan.
Tuhan yang kudus, Bapa yang mahakuasa, tegakkanlah keadilan di tanah air kami,* supaya umatMu dapat menikmati kesejahteraan dan damai. ℟.
Hantarlah semua bangsa masuk kedalam kerajaanMu,* supaya akhirnya semua manusia selamat. ℟.
Semoga suami isteri hidup dalam damaiMu, bertindak seturut kehendakMu,* dan saling mencintai seumur hidup. ℟.
Balaslah, ya Tuhan, kebaikan hati semua orang yang menolong kami,* dan anugerahilah mereka kehidupan kekal. ℟.
Kasihanilah semua orang yang meninggal akibat kebencian dan peperangan,* dan terimalah mereka dalam kebahagiaan di surga. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Doa Tobat
Madah
Antifon 1Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Mazmur 4
Antifon 1Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Antifon 2Pujilah Tuhan di waktu malam.
Mazmur 133 (134)
Antifon 2Pujilah Tuhan di waktu malam.
Bacaan singkat Ul 6,4-7
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Didakus Yoseph
Beato Didakus Yoseph (Diego Jose) dilahirkan pada tanggal 29 Maret tahun 1743 di Cadiz, Spanyol. Ia dibaptis dengan nama Francisco José López-Caamaño García-Pérez. Kedua orangtuanya adalah orang Kristen yang saleh. Mereka amat senang apabila melihat Diego kecil membangun sebuah altar serta menghiasinya; lalu Diego akan berlutut dan berdoa kepada Yesus, Bunda Maria dan St.Yosef.
Ketika Diego sudah cukup besar, ia belajar menjadi pelayan altar di gereja Fransiskan Kapusin dekat rumahnya. Diego belajar mencintai Misa. Ia biasa bangun pagi-pagi benar agar dapat tiba di gereja setiap pagi menunggu pintu-pintu gereja dibuka. Tak pernah sekali pun ia absen. Salah seorang dari para imam atau broeder Kapusin memberinya sebuah buku tentang kisah hidup para santo Kapusin. Diego membacanya dan membaca lagi setiap cerita dengan seksama.
Ia mulai mencintai para kudus yang miskin serta bersahaja seperti Yesus. Tibalah harinya ketika ia mohon agar dapat bergabung dalam Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap). Ia diterima dan pergi ke Seville, Spanyol untuk novisiat (masa percobaan sebagai latihan rohani sebelum mengucapkan kaul biara). Ia memulai hidup baru dengan nama yang baru pula, Frater Diego.
Setalah melewati tahun-tahun persiapan, Frater Diego ditahbiskan sebagai imam. Ia diutus untuk mewartakan Injil Yesus. Ia sangat senang akan tugas ini. Homili-homilinya sangatlah jelas serta penuh kasih sehingga orang senang mendengarnya. Mereka bahkan membawa teman-teman mereka untuk mendengarkan khotbahnya juga. Segera saja, gereja biasa menjadi terlalu kecil bagi orang banyak itu. Jika Pastor Diego berkhotbah, pewartaan tersebut perlu diadakan di lapangan terbuka, biasanya di alun-alun kota atau di pinggir jalan.
Pastor Diego amat senang berkhotbah tentang Tritunggal Mahakudus. Ia juga selalu siap sedia mendengarkan pengakuan dosa. Ia senang apabila umat datang untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Apabila waktunya luang, ia mengunjungi penjara-penjara atau rumah-rumah sakit. Ia juga mengunjungi panti-panti jompo. Pastor Diego wafat pada tahun 1801 dan dinyatakan sebagai “beato” oleh Paus Leo XIII pada tahun 1894.
Arti nama
Berasal dari kata Latin Didacus, yang kemungkinan diambil dari bahasa Yunani διδαχη (didache) yang berarti : Mengajarkan
Santa Katarina dari Swedia
Katarina lahir di Ulfasa, Swedia pada tahun 1331. Ia adalah anak keempat Santa Brigita dari Swedia. Ketika berumur 13 tahun, ia menikah dengan Eggard van Kyren, seorang pemuda bangsawan Jerman. Meskipun demikian ia tetap tertarik dengan kehidupan membiara yang telah menjadi cita- citanya semenjak kecil.
Pada tahun 1349, setahun sebelum Eggard suaminya meninggal dunia, Katarina pergi ke Roma untuk mengunjungi ibunya Brigita yang sudah lama berada disana. Pertemuan dengan ibunya mengobarkan lagi panggilan hidup membiara yang dicita- citakannya. Tatkala suaminya meninggal, ia menggabungkan diri dalam perkumpulan yang didirikan ibunya untuk melaksanakan karya- karya cinta kasih. Tampaknya ia sungguh berbahagia dengan cara hidup ini.
Pada tahun 1373 sepeninggal ibunya, Katarina kembali ke Swedia dan berkarya di Vadstena sebagai pemimpin perkumpulan ibunya. Tahun berikutnya ia kembali lagi ke Roma. Ia berkarya disana selama lima tahun sampai waktu penggelaran ibunya sebagai Santa. Setelah itu ia kembali ke Vadstena dan berkarya disana hingga menghembuskan nafasnya pada tanggal 24 Maret 1381. Ia digelari Kudus pada tahun 1484 oleh Sri Paus Innocentius VIII (1484- 1492).
Santo Oscar Romero
Kudus sejak kecil
Santo Óscar Arnulfo Romero y Galdámez, lahir di Ciudad, San Miguel, El Salvador pada 15 Agustus 1917. Ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara buah hati pasangan katolik yang saleh Santos Romero dan Guadaleupe de Jesus Galdamez. Oscar kecil dikenang telah menunjukkan ketertarikannya pada kehidupan religius. Ia selalu rajin ke gereja, rajin berdoa, dan sering berdoa berlama-lama dalam gereja setelah misa selesai. Pada usia tiga belas tahun Oscar masuk Seminari Rendah di kota San Miguel. Catatan di Seminari ini mengungkapkan bahwa ia pernah meninggalkan Seminari selama tiga bulan demi merawat ibunya yang jatuh sakit setelah melahirkan adik bungsunya (yang meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan).
Lulus dari Seminari San Miguel, Romero melanjutkan studi ke Seminari Tinggi di San Salvador. Studi Teologinya kemudian dilanjutkan di Universitas Gregoriana Roma, di mana ia lulus dengan predikat Cum Laude pada tahun 1941. Akan tetapi Oscar tidak segera ditahbiskan menjadi imam. Ia masih harus menunggu selama setahun karena usianya lebih muda dari batas usia yang tentukan. Pentahbisannya baru digelar di kota Roma setahun kemudian tepatnya pada tanggal 4 April 1942. Tidak ada seorang pun keluarga dan kerabatnya yang bisa menghadiri misa pentahbisannya akibat Perang Dunia II. Setelah menjadi imam, Romero masih tinggal di Italia dan melanjutkan studinya hingga meraih gelar Doktor Teologi.
Pulang ke El Salvador
Pada tahun 1943, dalam usia 26 tahun, pater Oscar Romero dipanggil pulang ke El Salvador oleh uskupnya. Bersama pater Valladares, seorang imam El Salvador yang juga telah menyelesaikan studi doktoral nya di Roma, Oscar meninggalkan Eropa menuju kampung halamannya. Mereka singgah sebentar di Spanyol lalu melanjutkan perjalanan menuju Kuba. Di Havana Kuba, mereka ditangkap polisi dengan tuduhan menjadi kaki tangan pemerintah Fasis Italia. Kedua imam muda ini lalu ditahan dan di interogasi dengan ketat.
Setelah beberapa bulan dalam tahanan, pater Valladares jatuh sakit. Para imam Redemptorist lalu berupaya membantu keduanya agar dapat dirawat di rumah sakit Redemptoris milik mereka. Setelah pulih dari sakitnya, kedua imam ini tidak dikembalikan ke tahanan namun diselundupkan dengan kapal laut ke Meksiko. Dari Meksiko perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat ke El Salvador.
Tiba di Kampung halamannya, sejumlah tugas telah menanti pater Romero. Awalnya ia ditugaskan sebagai pastor paroki di Anamorós, lalu pindah ke Paroki San Miguel, kota kelahirannya, di mana dia berkarya selama lebih dari 20 tahun. Disini ia mendirikan berbagai kelompok Serikat kerasulan dan mempelopori pendirian kelompok Alcoholics Anonymous, yang berkarya membantu para pecandu dan mantan pecandu alkohol. Ia juga mempromosikan kembali Devosi pada Santa Perawan Maria dan membangun Katedral San Miguel. Dari paroki San Miguel, Romero kemudian diangkat menjadi Rektor Seminari di San Salvador.
Pada tahun 1966, Romero dipilih menjadi Sekretaris Konferensi Para Uskup untuk El Salvador. Dia juga ditunjuk menjadi Direktur dan Editor koran Orientación, milik Keuskupan Agung. Romero segera dikenal sebagai seorang imam konservatif yang gigih membela Magisterium Tradisional Gereja Katolik.
Menjadi Uskup
Pada tahun 1970, secara mengejutkan bapa suci paus Paulus VI mengangkat Oscar Romero menjadi Uskup Auksilier (Auxiliary Bishop atau Uskup Pembantu) untuk Keuskupan Agung San Salvador. Selanjutnya pada tahun 1974, ia ditunjuk sebagai Uskup Keuskupan Santiago de María, sebuah keuskupan di wilayah pedesaan yang miskin.
Pada tanggal 23 Februari 1977, Uskup Oscar Romero diangkat menjadi Uskup Agung San Salvador. Penunjukkan ini, walau disambut gembira oleh Pemerintah El Salvador, namun mengkhawatirkan beberapa pihak terutama kaum militer sayap kanan dan para pendukung Marxis. Reputasi Uskup Romero sebagai seorang yang dekat dengan kaum miskin papa, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap agenda kaum Marxis yang gencar menyebarkan ideologi mereka pada kaum buruh dan petani di El Salvador. Uskup Romero juga dibenci oleh paramiliter sayap kanan karena selalu bersuara keras menentang berbagai aksi teror, intimidasi dan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang dilakukan aparat militer terhadap rakyat miskin.
Pada tanggal 12 Maret 1977, Rutilio Grande SJ, seorang imam Jesuit yang aktif berkarya dalam pembinaan dan pemberdayaan kaum miskin papa di San Salvador, tewas terbunuh. Kematian sahabatnya itu berdampak besar pada Uskup Romero. Beberapa hari setelah pembunuhan keji tersebut, Romero berkata : "Ketika saya melihat padre Rutilio tewas terbaring di sana, saya jadi berpikir, 'Jika mereka membunuhnya karena karya yang dilakukannya, maka saya pastinya berjalan di jalur yang sama’." Ia berupaya sekuat tenaga mendesak pemerintah untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini, tetapi permintaannya diabaikan. Pers nasional bahkan disensor untuk tidak memberitakan peristiwa pembunuhan ini. Namun pembunuhan ini sama sekali tidak menyurutkan langkahnya. Ia bahkan semakin lantang berbicara menentang berbagai pelanggaran hak asasi manusia seperti penculikkan, penyiksaan dan pembunuhan yang marak terjadi seiring semakin tidak menentunya situasi politik di El Salvador.
Pada tahun 1979, The Revolutionary Government Junta of El Salvador (Spanyol : Junta Revolucionaria de Gobierno, JRG) mengambil alih pemerintahan di El Salvador. Kediktatoran Militer ini berkuasa di tengah-tengah meningkatnya kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh kelompok Paramiliter sayap kanan pro pemerintah dan gerilyawan komunis FMLN. Eskalasi kekerasan dua kelompok yang bertikai ini kemudian meletus menjadi Perang Sipil El Salvador.
“Perang Sipil El Salvador atau Perang Saudara El Salvador (1980-1992) adalah Perang antara Front Pembebasan Nasional Farabundo Martí (FMLN) yang berhaluan Marxis dengan Pemerintah Junta Militer sayap kanan El Salvador yang didukung oleh Amerika Serikat. Sekitar 75.000 orang tewas dalam perang yang berakhir dengan Perjanjian Damai Chapultepec pada tahun 1992.”Ditengah pertempuran dan perang Ideologi antara Pemerintah Junta Militer dan Gerilyawan Marxis FMLN, Uskup Romero memimpin Gereja Katholik El Salvador untuk tidak memihak dan tetap bersuara lantang membela umat yang menderita ditengah perang. Hal ini membuatnya semakin dibenci, baik oleh Junta Militer maupun oleh FMLN.
Perang terus berkobar, kekejaman dan teror terus berlangsung. Puluhan ribu orang tewas dalam perang ini dan jutaan lainnya menjadi pengungsi. Bapa Uskup dengan hati perih menyaksikan umatnya menjadi korban dan menderita berkepanjangan akibat perang. Ia kemudian mendanai dan mengorganisir berbagai relawan kemanusiaan untuk membantu para korban perang.
Berbagai karya kemanusiaan yang dilakukannya segera mendapat perhatian dunia internasional. Pada Februari 1980, ia diberi gelar Doktor kehormatan oleh Universitas Louvain Belgia. Dalam kata sambutannya di Université catholique de Louvain, Belgia, 2 Februari 1980; Uskup Agung Romero mengungkapkan penganiayaan yang harus dialami Gereja Katolik di El Salvador :
“Dalam waktu kurang dari tiga tahun, lebih dari lima puluh imam telah diserang, diintimidasi, ditindas. Enam orang sudah menjadi martir - mereka telah dibunuh. Beberapa telah disiksa dan yang lainnya diusir [dari El Salvador]. Para biarawati juga telah dianiaya. Stasiun radio dan lembaga pendidikan keuskupan, umat Katolik atau Kristen lainnya telah diserang, diancam, diintimidasi, bahkan dibom. Beberapa komunitas paroki telah digerebek. Jika semua ini terjadi pada orang-orang yang merupakan perwakilan Gereja yang paling nyata, Anda dapat menebak apa yang telah terjadi pada umat Kristen biasa, pada para campesinos, para katekis, para pendeta awam, dan kepada komunitas berbasis gerejani. Ada ancaman, penangkapan, siksaan, pembunuhan, penomoran dalam ratusan dan ribuan ....”
Pada kunjungannya ke Eropa kali ini ia juga bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II yang menyatakan keprihatinannya atas apa yang terjadi di El Salvador. Kepada Bapa Suci uskup Romero menjelaskan sikapnya untuk tidak mendukung Pemerintah Junta Militer El Salvador karena meskipun Nasionalis dan anti komunis, mendukung Junta Militer sama saja dengan melegitimasi berbagai aksi teror, intimidasi, serta berbagai penculikan dan pembunuhan politik yang marak terjadi di El Salvador.
Kemartiran
Pada 23 Maret 1980 di San Salvador, Uskup Romero berkotbah dengan lantang dan memohon agar para tentara El Salvador, sebagai orang Kristiani, supaya lebih mematuhi perintah Tuhan untuk saling mengasihi, dan menghentikan aksi teror, penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan atas nama pemerintah. Tanggal 24 maret ia menghadiri rekoleksi yang diorganisir oleh orgnisasi Opus Dei, dan ikut dalam pertemuan bulanan para imam yang dipimpin oleh Mgr. Fernando Sáenz Lacalle.
Malam itu, Uskup Agung Romero merayakan Misa di sebuah kapel kecil di Rumah Sakit de la Divina Providencia, sebuah Rumah Sakit yang dikelola para suster Penyelenggaraan Ilahi. Ia tengah menyelesaikan khotbahnya dan melangkah dari mimbar menuju ke meja altar. Sebuah mobil merah berhenti di jalan di depan kapel dan seorang pria bersenjata turun dari kendaraan. Pria ini melangkah ke pintu kapel, dan melepaskan satu (mungkin dua) tembakan terukur yang tepat menembus jantung Uskup Agung Romero. Gembala umat ini terjungkal dihadapan altar dan tewas saat itu juga. Para pembunuhnya kemudian melarikan diri.
Uskup Oscar Romero kemudian dimakamkan pada 30 Maret 1980 di Katedral Metropolitan San Salvador (Catedral Metropolitana de San Salvador). Misa Pemakaman dihadiri oleh lebih dari 250.000 pelayat dari seluruh dunia. Seorang imam Yesuit, John Dear,SJ mengatakan, "Pemakaman Uskup Romero adalah demonstrasi terbesar dalam sejarah El Salvador, beberapa orang mengatakan dalam sejarah Amerika Latin."
Saat upacara pemakaman berlangsung, sejumlah aksi teror ditebar untuk menakut-nakuti dan mencegah umat untuk mengikuti misa penguburan. Sebuah bom molotov meledak di jalan dekat katedral dan terjadi insiden penembakkan terhadap para pelayat. Banyak orang terbunuh oleh tembakan sniper dan sebagian tewas berdesakan. Sumber resmi melaporkan ada 31 orang tewas, sementara para wartawan mencatat lebih dari 50 orang meninggal dunia. Beberapa saksi mengatakan bahwa para pelaku pelemparan bom dan penembakkan adalah anggota pasukan pemerintah yang berpakaian sebagai warga sipil. Ditengah insiden penembakkan, tubuh Uskup Agung Oscar Romero dimakamkan di lantai bawah tanah Katedral. Bahkan setelah upacara penguburan usai, orang-orang terus berbaris untuk memberi penghormatan kepada Oscar Romero, Uskup Agung dan Martir Pembela Kaum Tertindas.
Dalam misa pemakamannya, hadir Kardinal Ernesto Corripio y Ahumada, sebagai delegasi pribadi Paus Yohanes Paulus II. Kardinal memuji Romero sebagai "Seorang yang penuh kasih dan membangkitkan Damai,". Kardinal juga menyatakan : "Darahnya akan memberi buah bagi persaudaraan, cinta, dan kedamaian."
Sampai saat ini, tidak ada yang pernah dituntut atas pembunuhan Uskup Agung Oscar Romero. Juga tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab. Pria bersenjata yang menembak bapa Uskup pun belum teridentifikasi. Pada 24 Maret 2010 - di ulang tahun ketiga-puluh pembunuhan Uskup Romero, Presiden EL Salvador, Mauricio Funes menyatakan permintaan maaf resmi negara atas pembunuhan Uskup Romero. Berbicara di depan keluarga besar Romero, Perwakilan Gereja Katolik, para diplomat, dan pejabat pemerintah, Presiden Funes mengatakan bahwa mereka yang terlibat dalam pembunuhan itu; "Sayangnya bertindak dengan perlindungan, kolaborasi, atau partisipasi agen negara.”.
Kanonisasi
Pada hari Selasa, 3 Februari 2015, Paus Fransiskus melaui Kardinal Angelo Amato, SDB, (Prefek Kongregasi untuk Penyebab Orang Suci) secara resmi mengesahkan Kemartiran Uskup Agung Romero. Selanjutnya pada tanggal 23 Mei 2015 di Plaza Salvador del Mundo, El Salvador, Uskup Agung Oscar Romero secara resmi di Beatifikasi. Misa beatifikasi dipimpin oleh Kardinal Angelo Amato dan dihadiri sekitar 250.000 umat Katolik.
Santo Oscar Romero dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 14 Oktober 2018 di Basilika Santo Petrus Roma - Vatican.
Umat Katolik El Salvador menyebut namanya sebagai "San Romero". Gereja Katolik di Amerika Latin sering memproklamasikan Romero menjadi santo pelindung tak resmi dari benua Amerika. Di luar Gereja Katolik, Uskup Oscar Romero dihormati oleh denominasi-denominasi Kristen lainnya yang meliputi Gereja Inggris dan Komuni Anglikan. Bagi Gereja Inggris, Uskup Agung Romero merupakan salah satu dari sepuluh martir abad ke-20 yang digambarkan dalam patung-patung di atas Great West Door, Westminster Abbey, London. (qq)
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari