Bacaan Misa
Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya: Beginilah firman TUHAN: "Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun! Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang jahat. Jadi katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, --tetapi kamu tidak mau mendengarkan-- maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: "Engkau harus mati! Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN.
Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas.
Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku.
Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;
Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.
Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia!
Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.
Api dari Ranjang Sakit
Sulit sekali percaya bahwa orang yang kita kenal lama bisa berubah. Ah, dia kan dulu begitu. Ah, dia itu anaknya si anu. Label lama lengket seperti cap pada karung. Sekali tertera, seumur hidup dibaca orang.
Yesus mengalaminya di kampung-Nya sendiri. Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Orang Nazaret terlalu hafal masa lalu-Nya untuk bisa melihat siapa Dia sekarang. Yeremia lebih pahit lagi: ia diancam mati di rumah Tuhan, oleh para imam dan nabi sendiri.
Hari ini Gereja mengenang Santo Ignasius dari Loyola, bukti bahwa Allah tidak memenjarakan orang dalam labelnya. Ignasius muda adalah perwira yang haus kehormatan. Peluru meriam di Pamplona meremukkan kakinya sekaligus karier militernya. Di ranjang sakit yang membosankan, karena tidak ada bacaan lain, ia membaca riwayat Kristus dan para kudus. Diam-diam hatinya terbakar. Namanya seakan menjadi nubuat: dekat dengan kata Latin ignis, api. Dari ranjang sakit itu lahirlah Serikat Yesus dan semboyan ad maiorem Dei gloriam, demi semakin besarnya kemuliaan Allah.
Orang Loyola mungkin tetap mengingat Ignasius yang dulu. Untunglah Allah tidak.
Siapa yang masih kukunci rapat dalam label lamanya?
Tuhan, nyalakan api-Mu dalam diriku, dan beri aku mata yang percaya bahwa siapa pun bisa Kauubah. Amin.
Invitatorium
Pekan I Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah menyembah Tuhan, raja para kudus.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah menyembah Tuhan, raja para kudus.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Bangkitlah, Tuhan, dan datanglah menolong aku.
Mazmur 34 (35)
Tuhan sebagai Juruselamat di masa penganiayaan
Mereka berkumpul… dan merencanakan untuk menangkap Yesus dengan tipu daya dan membunuh-Nya (Matius 26:3-4).
AntifonBangkitlah, Tuhan, dan datanglah menolong aku.
Antifon 2Tuhan yang mahakuasa, berdirilah di sisiku dan belalah aku.
AntifonTuhan yang mahakuasa, berdirilah di sisiku dan belalah aku.
Antifon 3Lidahku akan berbicara tentang kebaikan-Mu sepanjang hari.
AntifonLidahku akan berbicara tentang kebaikan-Mu sepanjang hari.
BACAAN-Bacaan Pertama
Responsorium Galatia 1:11,12; 2 Korintus 11:10,7
Responsorium 1 Petrus 4:11, 8
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur dari lingkaran empat pekan
Antifon 1Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Mazmur 50
Antifon 1Ya Tuhan, terimalah kurban sejati di atas mesbahMu.
Antifon 2Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Yes 45,15-26
Antifon 2Seluruh keturunan Israel dinyatakan benar oleh Tuhan dan dimuliakan.
Antifon 3Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Mazmur 99
Antifon 3Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria.
Bacaan Singkat (Rom 12,1-2)
Lagu Singkat
Antifon KidungBarang siapa melakukan kehendak BapaKu, dialah suadara, saudari dan ibuKu, sabda Tuhan.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungBarang siapa melakukan kehendak BapaKu, dialah suadara, saudari dan ibuKu, sabda Tuhan.
Doa Permohonan
℟. Hanya Engkaulah kudus, ya Tuhan.
Engkau sudi menjadi serupa dengan kami dalam segalanya, kecuali dalam hal dosa,* Yesus Tuhan kami, kasihanilah kami. ℟.
Engkau mengundang kami semua untuk menaruh cinta yang sempurna,* Yesus, Tuhan kami, kuduskanlah kami. ℟.
Engkau berpesan agar kami menjadi garam dan terang dunia,* Yesus, Tuhan kami, terangilah hati kami. ℟.
Engkau datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,* Yesus, Tuhan kami, tolonglah kami mengabdi Engkau dan saudara-saudara kami. ℟.
Engkaulah sinar kemuliaan Bapa dan citra wajah Allah,* Yesus, Tuhan kami, semoga kami memandang wajahMu dalam kemuliaan kekal. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Philp 2, 2 b-4)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Antifon 1Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Mazmur 118 (119),25-32
Antifon 1Dengan rajin kuikuti perintahMu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Antifon 2Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Mazmur 25 (26)
Antifon 2Kepada Tuhan aku percaya, tiada aku goyah.
Antifon 3Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Mazmur 27 (28),1-3.6-9
Antifon 3Kepada Tuhan hatiku percaya, dan aku tertolong.
Bacaan singkat Kol 3,12-13
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pekan I Mazmur
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Col 3, 12-13)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Madah
Pendarasan Mazmur dari lingkaran empat pekan
Antifon 1Sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Mazmur 40
Antifon 1Sembuhkan aku, Tuhan, sebab aku berdosa terhadapMu.
Antifon 2Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Mazmur 45
Antifon 2Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng kuatlah bagi kita Allah Yakub.
Antifon 3Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Why 15,3-4
Antifon 3Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapanMu, ya Tuhan.
Bacaan Singkat (Rom 8,28-30)
Antifon KidungKamu telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Aku; sebab itu kamu menerima ganjaran seratus kali ganda dan akan memiliki kehidupan abadi.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungKamu telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Aku; sebab itu kamu menerima ganjaran seratus kali ganda dan akan memiliki kehidupan abadi.
Doa Permohonan
℟. Semoga kami suci seperti Engkau, ya Tuhan.
Bapa yang kudus, Engkau mengangkat kami menjadi putera-puteraMu,* semoga segenap Gereja kudus memuji Engkau di seluruh dunia. ℟.
Bapa yang kudus, Engkau mendorong kami untuk mengabdi Engkau dalam segala hal,* semoga tingkah laku kami menghasilkan buah untuk kerajaanMu. ℟.
Bapa yang kudus, Engkau menyatukan diri kami kembali kepadaMu dengan perantaraan PuteraMu,* semoga kami semua tetap bersatu. ℟.
Bapa yang kudus, Engkau telah mengundang kami ke dalam perjamuan surgawi,* semoga kami semakin berkembang dalam cinta kasih. ℟.
Bapa yang kudus, sudilah mengampuni kesalahan orang-orang berdosa,* semoga orang-orang yang telah meninggal memandang seri wajahMu. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Engkau datang memanggil orang yang berdosa.
Kristus, kasihanilah kami.℟.Kristus, kasihanilah kami.℣.Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami.
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 87 (88)
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat Yer 14,9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Yohanes Columbini
Yohanes Columbini lahir di Siena, Italia pada abad ke-14. Ia tergolong warga yang berkedudukan penting dalam masyarakat dan kaya raya tetapi sembrono hidupnya. Cita-cita hidupnya hanya satu, yakni menjadi semakin kaya. Untuk itu ia senantiasa bekerja keras agar harta kekayaannya semakin bertambah banyak.
Pertobatannya hingga menjadi seorang Abdi Allah dan sesama manusia dimulai dari semangatnya membaca riwayat Santa Maria dari Mesir. Mulanya ia merasa tidak puas bahkan marah terhadap kisah itu. Buku yang dibacanya dibuang jauh-jauh. Tetapi kemudian ia pun tertarik untuk membaca lagi kisah itu. Tanpa disadarinya tumbuhlah dalam hatinya kesadaran akan keadaan dirinya. Ia bertobat dan segera membagi-bagikan semua kekayaannya kepada orang-orang miskin. Ia sendiri menjadi seorang perawat bagi orang-orang sakit di sebuah rumah sakit di kota itu. Perubahan sikap hidupnya ini mengherankan banyak penduduk Siena. Sangat banyak orang berdosa bertobat di kota itu menyaksikan cara hidup baru Columbini. Beberapa orang kaya di kota itu mengikuti jejaknya.
Pada waktu itu di Propinsi Toskania merajalela aksi perampokan dan peperangan antar berbagai suku. Yohanes bersama kawan-kawannya menjelajahi desa dan kota sampai ke pelosok-pelosok untuk mewartakan Injil sambil mendamaikan kelompok-kelompok yang bertikai. Mereka memikat hati banyak orang dengan pengajarannya dan berhasil mempertobatkan banyak orang berdosa.
Yohanes mempersatukan para pengikutnya dalam sebuah perkumpulan awam yang disebut Yesuat. Perkumpulan ini mengabdikan diri pada perawatan orang sakit dan jompo, penguburan orang-orang yang meninggal dan berbagai karya amal lainnya. Yohanes Columbini meninggal dunia pada tahun 1367 dan digelari sebagai 'Beato'.
Santa Eilin
Janda muda yang saleh ini berziarah dari Swedia ke Yerusalem. Oleh sanak keluarganya ia dituduh merencanakan pembunuhan atas suami puterinya. Karena itu Eilin dipukuli dengan tongkat kayu sampai mati. Banyak peziarah yang menyaksikan terjadinya banyak mukzijat pada makamnya. Eilin mati terbunuh pada tahun 1160.
Santo Germanus
Germanus lahir pada tahun 378. Dia adalah anak dari bangsawan Rusticus dan Germanilla, yang adalah keturunan dari keluarga bangsawan tinggi Romawi di Gaul pada abad keempat (Gaul atau Gallia adalah kawasan Eropa bagian Barat yang saat ini adalah negara Italia bagian utara, Perancis, Belgia, Swiss bagian barat, serta bagian wilayah Belanda dan Jerman di barat Sungai Rhein).
Ia menerima pendidikan yang terbaik di sekolah-sekolah khusus bagi kaum bangsawan di Arles dan Lyons, lalu melanjutkan pendidikannya ke Roma, di mana ia belajar tentang hukum perdata. Setelah tamat, ia bekerja pada pengadilan kota. Latar belakangnya yang berasal dari keluarga bangsawan tinggi dan bakat serta kecerdasannya yang luar biasa, membuat Germanus menjadi seorang yang populer di Roma dan diterima dalam lingkungan para pejabat tinggi pemerintahan. Ia menikah dengan seorang wanita yang sangat terhormat di kalangan kekaisaran bernama Eustachia.
Karier duniawi sepertinya membentang cerah dihadapan Germanus ketika Kaisar mengirimkannya kembali ke Gaul sebagai seorang wali negeri. Ia dipercayakan untuk memimpin provinsi itu dan memerintah dari kota Auxerre. Namun Tuhan rupanya memiliki rencana lain bagi Germanus.
Ketika Uskup Auxerre, yang mulia Amator, meninggal dunia, Germanus secara tidak diduga terpilih untuk mengggantikannya. Meskipun pada awalnya ia sangat berkeberatan, namun ia tidak kuasa menolak saat umat berbondong-bondong datang dan memohon agar ia mau menjadi uskup mereka. Ia akhirnya bersedia ditahbiskan sebagai uskup Auxerre pada tanggal 7 Juli 418. Sebagi uskup, Germanus kemudian meninggalkan istrinya. Segala harta miliknya dijual dan digunakannya untuk membangun gereja dan biara.
Di Sekitar tahun 429, tak lama setelah orang-orang Romawi ditarik keluar dari Britania (Inggris), Uskup Germanus dan Uskup Troyes, Lupus, ditugaskan Tahta Suci untuk mengunjungi pulau tersebut. Telah terdengar khabar bahwa bidaah Pelagianisme telah berkembang luas dan telah merasuk ke kalangan para klerus di Inggris. Bahkan pemimpin bidaah ini adalah putra seorang uskup Inggris bernama Agricola. Uskup Germanus dan Uskup Lupus diutus untuk memerangi pelagianisme dan memastikan agar gereja Inggris tidak terjerumus kedalam ajaran sesat tersebut.
Dalam perjalanan ke Inggris mereka melewati kota Nanterre, di mana Germanus dalam kerumunan orang melihat seorang gadis kecil yang berhati kudus bagaikan malaikat. Ditengah kerumunan orang ia memberkati gadis muda tersebut. Gadis belia ini kelak akan mengerjakan banyak perbuatan ajaib dalam nama Tuhan Yesus dan dikenal sebagai Santa Geneviève dari Paris.
Tiba di Inggris, Uskup Germanus dan Lupus dihadapkan dengan para klerus Inggris yang telah menjadi pengikut Pelagianisme dalam sebuah debat terbuka dihadapan publik. Kaum Pelagian digambarkan Germanus sebagai : “mencolok untuk kekayaan, cemerlang dalam berpakaian dan dikelilingi oleh banyak penjilat”. Dua utusan paus ini pun berdebat dengan mereka. Meskipun pada awalnya tidak didukungan oleh kerumunan umat, namun dalam terang Roh Kudus, uskup Germanus mampu mematahkan semua dalil Pelagian dengan menggunakan kecerdasannya dan keterampilan retorikanya yang luar biasanya. Kunjungannya berhasil dengan gemilang dan membawa kembali umat Inggris pada ajaran iman yang benar.
Saat pasukan Pictish dan gerombolan bajak laut Saxon datang menyerang, umat Inggris yang ketakutan memohon perlindungan kepada uskup Germanus. Germanus lalu memimpin mereka ke dalam lembah antara dua gunung tinggi, dan memerintahkan pasukannya untuk berteriak ketika ia memberi tanda. Ketika pasukan bajak laut Saxon mendekati mereka, Germanus berteriak tiga kali : Halleluya.!!, yang diikuti oleh seluruh umat. Suara mereka bergema dari bukit ke bukit dengan begitu keras sehingga pasukan musuh merasa bahwa mereka tengah dikepung oleh ribuan orang tentara. Mereka lalu melemparkan senjata mereka dan melarikan diri.
Germanus mungkin pernah berkunjungan untuk kedua kalinya ke Inggris sekitar tahun 430-an atau sekitar 440-an, namun sebagian ahli meragukan adanya kunjungan kedua ini. Juga hubungan antara santo Germanus dengan santo Patrick, yang menurut tradisi digambarkan sebagai muridnya, juga masih diperdebatkan kebenarannya.
Ketika kembali ke keuskupannya di Gaul, Santo Germanus mendapat khabar bahwa ada sebagian umatnya dari Armorica Brittany akan dihukum mati karena dituduh memberontak melawan kaisar. Germanus berjuang keras membela mereka dan ia berhasil memperoleh penundaan pelaksanaan hukuman mati sampai ia dapat mengajukan banding dihadapan kaisar. Ia berangkat ke Ravenna, Italia dan bertemu dengan Santo Petrus Krisologus yang menghantarnya membawa kasus ini ke hadapan kaisar melalui ibu suri Galla Placidia. Kaisar Valentinian III tidak kuasa menolak petisi dari uskup saleh ini yang datang menghadap bersama seorang kudus lainnya, Santo Petrus Krisologus, dan ibunya. Germanus berhasil memperoleh pengampunan dari kaisar dan mereka yang terancam hukuman mati dibebaskan.
Setelah bandingnya diterima kaisar, Uskup Germanus masih tinggal beberapa saat di Ravenna; namun ia meninggal disana secara tiba-tiba.
Arti nama
Germanus = Saudara (Latin)
Santo Ignasius Loyola
Ignasius Loyola lahir di Azpeitia di daerah Basque, Propinsi Guipuzcoa, Spanyol Utara pada tahun 1491. Putera bungsu keluarga bangsawan Don Beltran de Onazy Loyola dan Maria Sanchez de Licona ini diberi nama Inigo Lopez de Loyola. Semenjak kecil hingga masa mudanya, Ignasius mengecap kenikmatan hidup mewah di lingkungan istana. Ia dididik dalam tradisi dan kebiasaan hidup istana yang ketat. Pada tahun 1517, Ignatius menjadi tentara kerajaan Spanyol. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Mei 1521, Ignasius menderita luka parah terkena peluru ketika mempertahankan benteng Pamplona dari serangan tentara Prancis. Penderitaan fisik dan mental yang hebat ini ditanggungnya dengan sabar dan berani dalam perawatan selama hampir satu tahun.
Masa pemulihan kesehatannya yang begitu lama menjadi baginya suatu masa ber-rahmat, di mana ia menemukan ambang pintu bagi kehidupannya sebagai 'manusia baru'. Selama masa perawatannya, ia ingin sekali menghalau kebosanannya dengan membaca buku-buku kepahlawanan. Sayang sekali bahwa buku-buku heroik yang ingin dibacanya tidak tersedia disitu. Satu-satunya buku yang tersedia ialah buku tentang kehidupan Kristus dan Para Orang Kudus. Demi memuaskan keinginannya, ia terpaksa menjamah dan membolak-balik buku itu. Tanpa disadarinya apa yang dibacanya tertanam dan mulai bersemi dalam lubuk hatinya. Kalbunya serasa sejuk bila menekuni bacaan itu. Lambat laun ia memutuskan untuk menyerahkan seluruh sisa hidupnya bagi Tuhan sebagai Abdi Allah. Ia tidak ingin lagi menjadi pahlawan duniawi. Kepribadiannya berubah secara total. Dari suatu cara hidup duniawi yang sia-sia, ia menjadi seorang rohaniwan yang melekat erat pada Tuhan dalam cinta kasih yang mendalam. Ia bahkan bertekad melampaui pahlawan-pahlawan suci lainnya.
Pada tahun 1522, Ignasius pergi ke biara Benediktin Montserrat, Timur Laut Spanyol. Selama tiga hari berada disana, ia berdoa dengan tekun dan memohon ampun atas semua dosanya di masa silam. Semua miliknya diberikan kepada orang-orang miskin. Niatnya yang sungguh untuk mengabdi Tuhan dan sesama ditunjukkan dengan meletakkan pedangnya di bawah kaki altar biara itu, pada tanggal 24 Maret malam hari. Keesokan harinya setelah merayakan Ekaristi dan menerima Komuni Kudus, Ignasius pergi ke sebuah gua dekat Manresa. Di gua ini ia mengalami suasana tenang dan damai yang menyenangkan. Dan gua ini jugalah yang menjadi tempat kelahiran baru baginya sebagai seorang 'manusia baru'. Meditasi dan doa-doanya selama berada di gua ini mengaruniakan kepadanya suatu pemahaman yang baru tentang kehidupan rohani. Pemahaman ini diabadikannya dalam bukunya yang berjudul 'Latihan Rohani' yang masih relevan hingga sekarang. Dari Manresa, Ignasius bermaksud berziarah ke Tanah Suci untuk menobatkan orang-orang yang belum mengakui Kristus. Tetapi niat ini dibatalkan karena kondisi negeri Palestina yang tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, ia kembali ke Barcelona, Spanyol.
Pada tahun 1524, Ignasius semakin yakin bahwa tugas pelayanan bagi Tuhan dan sesama perlu didukung oleh pendidikan yang memadai. Karena itu, selama 10 tahun ia berjuang memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan. Ia belajar di Alcala de Henares (1526-1527), Salamanca (1527-1528) dan Paris (1528-1535) hingga memperoleh gelar sarjana pada tanggal 14 Mei 1535. Masa pendidikan ini menjadikan dia seorang yang berkepribadian matang, penuh disiplin diri, dan berpengetahuan luas dan mendalam. Kepribadian dan pengetahuan itu sangat penting bagi peranannya sebagai pemimpin di kemudian hari. Kadang-kadang ia memberikan pelajaran agama serta bimbingan rohani kepada orang-orang yang datang kepadanya. Tetapi kegiatan ini menimbulkan kecurigaan para pejabat Gereja. Sebab tidaklah lazim seorang awam mengajar agama dan spiritualisme.
Kariernya sebagai Abdi Allah dimulainya dengan mengumpulkan beberapa orang pemuda yang tertarik pada karya pelayanan kepada Tuhan dan GerejaNya. Pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya yang pertama, antara lain Beato Petrus Faber, Santo Fransiskus Xaverius, Diego Laynez, Simon Rodiquez, Alonso Salmeron, dan Nikolas Bobadilla. Kelompok pertama dari Serikat Yesus ini mengucapkan kaul hidup religius di kapel Biara Benediktin di Montmartre. Selain mengikrarkan ketiga kaul hidup membiara: kemurnian, ketaatan dan kemiskinan, mereka pun mengikrarkan kaul tambahan, yakni kesediaan menjalankan karya misioner di Tanah Suci di antara orang-orang Islam. Ignatius sendiri kemudian ditabhiskan menjadi imam pada tanggal 24 Juni 1937. Karena misi ke Palestina tak mungkin diwujudkan akibat perang waktu itu, maka kaul tambahan 'kesediaan melanjutkan karya misi di Tanah Suci' dibatalkan dan diganti 'Pengabdian khusus kepada Sri Paus'. Untuk itu Ignatius bersama rekan-rekannya menawarkan diri kepada Paus Paulus III (1534-1549) untuk mengerjakan tugas saja yang diberikan oleh Paus, dimana saja dan kapan saja.
Pada tanggal 27 September 1540, Paus Paulus III merestui keberadaan kelompok Ignasian, yang kemudian dikokohkan menjadi sebuah serikat rohaniwan dengan nama Serikat Yesus. Ignasius sendiri diangkat sebagai pemimpin pertama dalam sebuah upacara di basilik santo Paulus. Selama 15 tahun (1541-1556) memimpin Serikat Yesus, Ignasius memusatkan perhatiannya pada pembinaan semangat religius ordonya. Semobayannya-yang kemudian menjadi semboyan umum Serikat Yesus-dalam melaksanakan tugasnya ialah "Ad Maiorem Dei Gloriam". Ia mendirikan banyak kolose antara lain kolose Roma (yang kemudian menjadi Universitas Gregoriana) dan kolose Jerman yang khusus mendidik para calon imam untuk karya kerasulan di wilayah-wilayah Katolik yang sudah dipengaruhi oleh Reformasi Protestan. Selama kepemimpinannya, Ignatius melibatkan imam-imamnya dalam usaha membendung arus pengaruh Protestatisme di Eropa Utara dan dalam Pewartaan Sabda kepada semua orang Katolik tanpa memandang kelas sosialnya. Ia Fransiskus Xaverius, sahabat akrabnya, ke benua Asia yang masih kafir untuk membuka lahan baru bagi karya misioner Gereja.
Ignasius dikenal sebagai seorang rahoniwan yang ramah kepada sesamanya. Kasih sayangnya yang besar kepada orang-orang sakit dan lemah, anak-anak dan pendidikannya, terutama orang-orang berdosa banyak kali membuatnya menangis karena memikirkan kemalangan mereka. Ordo Yesuit yang didirikannya dipoles menjadi sebuah ordo religius yang bebas dari keketatan aturan hidup monastik lama yang kaku. Sebagai reaksi terhadap kekejaman Gereja Abad Pertengahan, yang melahirkan Reformasi Protestan, Ignasius menuntut ketaatan mutlak terhadap Tahkta Suci dan prinsip-prinsip Katolik. Reret yang teratur diupayakannya sebagai suatu sarana ampuh bagi kedalaman spiritualitas orang-orang Kristen.
Sebelum wafatnya pada tanggal 31 Juli 1556, Ignasius menyaksikan keberhasilan Ordonya dalam mengabdi Tuhan dan GerejaNya. Propinsi serikatnya pada masa itu telah berjumlah 12 dengan 1000 orang imam dan kira-kira 100 buah biara dan kolose. Ignasius dinyatakan sebagai 'beato' oleh Paus Paulus V pada tanggal 3 Desember 1609 dan kemudian oleh Paus Gregorius XV dinyatakan sebagai 'santo' pada tanggal 12 Maret 1622. Ignasius diangkat sebagai pelindung semua kegiatan rohani oleh Paus Pius XI pada tahun 1922.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari