Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Panggilan Abraham, bapa Umat Allah.
Di negeri Haran, Tuhan berfirman kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu termasyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan, segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka, berangkatlah Abram sesuai dengan Sabda Tuhan.
Refren: Kasihanilah, ya Tuhan. Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara jiwa mereka dari maut.
Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah Penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
MAZMUR TANGGAPAN No 812 [Pugeran 1996]
Ka-si-ha-ni- lah, ya Tuhan Kaulah pe-ngam-pun yang
Ra- him, dan belas ka-sih-Mu takter- hing- ga.,
Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu yang Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup.
Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Kristus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juru Selamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya, Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Wajah-Nya bercahaya seperti matahari.
Sekali peristiwa, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ, mereka sendirian saja. Lalu, Yesus berubah rupa di depan mata mereka: Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka, tampak kepada mereka, Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengarlah suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu, Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan Ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Kemah yang Tak Jadi Dibangun
Minggu lalu kita berdiri di Kaisarea Filipi, mendengar Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias. Hari ini, enam hari kemudian menurut catatan Matius, Petrus dibawa naik ke gunung yang tinggi bersama Yakobus dan Yohanes. Di sana pengakuan itu diberi penglihatan: Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan dari dalam awan terdengar suara Bapa, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Reaksi Petrus sangat manusiawi: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini." Lalu muncul usulnya: biarlah kudirikan tiga kemah. Kalau sudah seindah ini, untuk apa turun? Mendirikan kemah artinya menetap, membekukan saat bahagia supaya tidak berlalu.
Kita mengenal godaan itu. Ada masa doa terasa manis, retret yang menggetarkan, babak hidup yang segalanya terang. Kita ingin memasang pasak di sana dan tinggal selamanya. Tetapi Injil mencatat dengan datar: usul Petrus tidak pernah dijawab. Kemah itu tidak jadi didirikan. Yang ada, mereka turun gunung, dan jalan di bawah sana menuju Yerusalem, menuju salib. Kemuliaan ditunjukkan sekilas justru supaya mereka kuat menghadapi jalan itu.
Bacaan pertama menampilkan gerak yang berlawanan dengan mendirikan kemah: membongkar kemah. Abram, pada usia tujuh puluh lima tahun, mendengar panggilan, "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Pada umur ketika orang lain menetap dan menikmati hari tua, Abram justru berangkat, tanpa peta, hanya membawa janji. Dan Kitab Suci merangkum imannya dalam kalimat pendek: "Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya."
Iman rupanya lebih mirip perjalanan daripada tempat peristirahatan. Penglihatan di gunung diberikan bukan untuk dinikmati selamanya, melainkan untuk menjadi bekal di jalan yang menurun. Ketiga murid itu kelak menghadapi malam Getsemani; ingatan akan wajah yang bercahaya itulah yang menopang mereka melewati gelap.
Paulus menulis kepada Timotius bahwa Allah menyelamatkan dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan kasih karunia-Nya. Panggilan itu terus bergerak maju, seperti panggilan Abram, seperti jalan turun dari gunung.
Di pekan kedua Prapaskah ini, mungkin kita sedang di gunung, mungkin sedang di lembah. Keduanya bagian dari jalan yang sama. Yang penting satu pesan dari awan itu: dengarkanlah Dia, lalu teruslah berjalan.
Tuhan, terima kasih untuk saat-saat gunung dalam hidupku. Berilah aku keberanian untuk turun dan terus berjalan bersama-Mu, sampai ke Paskah-Mu. Amin.
Invitatorium
Pekan II Mazmur
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pada hari ini, hari pertama,
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Tuhan, Allah kami, dalam kemuliaan dan keagungan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah.
Mazmur 103 (104)
Nyanyian Pujian kepada Allah Sang Pencipta
Berada dalam Kristus berarti menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Yang lama sudah lenyap, kini semuanya dijadikan baru (2 Korintus 5:17).
AntifonTuhan, Allah kami, dalam kemuliaan dan keagungan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah.
Antifon 2Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia.
AntifonTuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia.
Antifon 3Tuhan memandang segala yang telah Dia buat dan melihat bahwa itu sangat baik.
AntifonTuhan memandang segala yang telah Dia buat dan melihat bahwa itu sangat baik.
Responsorium Mazmur 114:1, 2; Keluaran 13:21
Responsorium Ibrani 12:22, 24, 25; Mazmur 95:8
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Tuhan bertindak dengan tangan kuat, tangan Tuhan mahakuasa.
Mazmur 117 (118)
Antifon 1Tuhan bertindak dengan tangan kuat, tangan Tuhan mahakuasa.
Antifon 2Ketiga pemuda menyanyikan madah dalam tanur api sambil memuliakan dan memuji Tuhan.
Dan 3,52-57
(Kemuliaan tidak diucapkan)
Antifon 2Ketiga pemuda menyanyikan madah dalam tanur api sambil memuliakan dan memuji Tuhan.
Antifon 3Pujilah Tuhan di angkasa raya yang gemilang.
Mazmur 150
Antifon 3Pujilah Tuhan di angkasa raya yang gemilang.
Bacaan Singkat: (Lh. Neh 8,9.10)
Antifon KidungTuhan kita Yesus Kristus menghancurkan kematian. Dengan Injil Ia menerangi kita dan memberi kita hidup abadi.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTuhan kita Yesus Kristus menghancurkan kematian. Dengan Injil Ia menerangi kita dan memberi kita hidup abadi.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (1 Thess 4, 1. 7)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Tuhan membaringkan daku di padang rumput yang hijau.
Mazmur 22 (23)
Antifon 1Tuhan membaringkan daku di padang rumput yang hijau.
Antifon 2Di Israel nama Tuhan termasyhur.
Mazmur 75 (76)
Antifon 2Di Israel nama Tuhan termasyhur.
Antifon 3Bumi takut dan tertegun, pada waktu Allah bangkit untuk mengadili.
Antifon 3Bumi takut dan tertegun, pada waktu Allah bangkit untuk mengadili.
Bacaan Singkat: (1Tes 4,1.7)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Dt 4, 29-31)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudaranya, dan bersama-sama mereka mendaki sebuah gunung yang tinggi. Di depan mata mereka berubahlah rupa Yesus.
Antifon 1Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudaranya, dan bersama-sama mereka mendaki sebuah gunung yang tinggi. Di depan mata mereka berubahlah rupa Yesus.
Antifon 2WajahNya bersinar laksana matahari, pakaianNya menjadi putih seperti kapas.
Antifon 2WajahNya bersinar laksana matahari, pakaianNya menjadi putih seperti kapas.
Antifon 3Musa dan Elias berbicara dengan Yesus tentang maksud perjalananNya ke Yerusalem.
Antifon 3Musa dan Elias berbicara dengan Yesus tentang maksud perjalananNya ke Yerusalem.
Antifon KidungJangan ceritakan kepada seorangpun apa yang kamu lihat, sebelum Putera manusia bangkit dari alam maut.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungJangan ceritakan kepada seorangpun apa yang kamu lihat, sebelum Putera manusia bangkit dari alam maut.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
Madah
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat Why 22,4-5
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santa Margaretha dari Cortona
Margaretha tergolong gadis yang malang hidupnya terlebih-lebih setelah ibunya meninggal. Gaya hidupnya sembrono tanpa kendali. Nasehat nasehat saleh dari ibunya tidak lagi dituruti. Demikian pula kewajiban kewajiban agama. Gejolak remajanya tidak sanggup dikendalikannya. Ia bergaul dan bersenang senang dengan pemuda pemuda tanggung yang buruk akhlaknya. Pada usia 16 tahun, ia mengikuti seorang pemuda bangsawan ke Montepulsiano. Di sana ia hidup bersama pemuda itu sebagai selir.
Pada suatu hari ia mengikuti anjing kesayangan tuannya, yang menunjukkan tanda tanda aneh tentang suatu kejadian. Sampai di suatu tempat, anjing itu behenti sambil menyalak nyalak. Ternyata disitu tergeletaklah pemuda bangsawan itu sambil berlumuran darah dan tak bernyawa lagi. Pemuda itu dibunuh oleh orang yang tak diketahui. Karena peristiwa ini, Margaretha diusir keluar dari istana bersama dengan anaknya. Ia pergi ke rumah ibu tirinya tetapi disana ia tidak diterima. Setelah luntang lantung beberapa hari, ia lalu pergi ke biara suster suster Santo Fransiskus untuk meminta perlindungan. Di biara itu ia diterima.
Di biara inilah, Margaretha mulai menyadari kebejatan hidupnya. Ia bertobat dan berniat untuk meninggalkan perbuatan perbuatannya yang bejat itu. Pada suatu hari minggu ia pergi ke kampung halamannya, Laviano, untuk berdoa di Gereja dan mengakui dosa dosanya.
Setelah mengalami banyak percobaan batin yang berat, akhirnya ia diterima sebagai anggota ordo ketiga Santo Fransiskus. Keanggotaannya di dalam ordo ini sungguh suatu anugerah Tuhan baginya. Ia mulai menata hidupnya secara baru dalam doa dan karya karya amal. Akhirnya ia sendiri mendirikan sebuah rumah sakit untuk orang orang miskin. Anaknya sendiri menjadi seorang imam dalam Ordo Santo Fransiskus. Margaretha meninggal dunia pada tahun 1297 di Cortona.
Takhta S. Petrus
Pesta ini bukan menghormati sebuah perabot, melainkan makna rohani di baliknya. Takhta atau kursi (dalam bahasa Latin cathedra) adalah lambang kuno dari kewibawaan seorang guru dan gembala. Maka Takhta Santo Petrus melambangkan perutusan istimewa yang dipercayakan Kristus kepada Petrus dan para penggantinya untuk meneguhkan iman dan memelihara kesatuan Gereja.
Dasar perayaan ini adalah Injil Matius, ketika Yesus berkata kepada Petrus, Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Matius 16:18), dan mempercayakan kepadanya kunci Kerajaan Surga. Amanat kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba Tuhan (Yohanes 21) melengkapi gambaran pelayanan ini.
Sebuah relikui kuno berupa kursi kayu yang menurut tradisi pernah dipakai Santo Petrus disimpan di Basilika Santo Petrus di Roma, terbungkus dalam mahakarya perunggu emas rancangan Bernini. Namun kursi jasmani itu hanyalah tanda; yang dirayakan adalah pelayanan hidup yang diteruskan dari uskup Roma yang satu ke uskup Roma berikutnya.
Roma sudah merayakan pesta ini sejak abad keempat. Dahulu ada dua tanggal, 18 Januari untuk Takhta di Roma dan 22 Februari untuk Takhta di Antiokhia, tempat Petrus menggembalakan sebelum ke Roma. Pembaruan kalender liturgi mempertahankan tanggal 22 Februari sebagai satu perayaan. Bagi umat, pesta ini adalah ajakan mendoakan Paus dan mensyukuri karunia kesatuan yang menopang Gereja di segala zaman.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari