Doa Katolik
Renungan · Minggu, 1 Februari 2026

Naik ke Bukit

Nubuat Zefanya 2:3,3:12-13 · Mzm 146:7.8-9a.9bc-10 · Matius 5:1-12a
Semua renungan

Minggu lalu Yesus berjalan menyusur danau, memanggil empat nelayan, lalu berkeliling Galilea. Orang berbondong mengikuti-Nya. Hari ini Matius bercerita apa yang terjadi ketika kerumunan itu sudah besar. Yesus tidak membuka panggung. Ia naik ke bukit, duduk, dan murid-murid-Nya datang mendekat. Baru kemudian Ia berbicara.

Saya sering memperhatikan urutan kecil itu. Naik, duduk, didekati, lalu mengajar. Di zaman kita, orang yang punya pesan besar biasanya memakai pengeras suara. Yesus memilih duduk. Duduk adalah sikap guru di rumah ibadat, bukan sikap orator di alun-alun. Maka yang keluar dari mulut-Nya bukan seruan kampanye, melainkan delapan kalimat yang nadanya nyaris berbisik: berbahagialah.

Berbahagialah siapa? Yang miskin di hadapan Allah. Yang berduka. Yang lemah lembut. Yang lapar akan kebenaran. Kalau daftar ini ditaruh di lowongan kerja, siapa yang mau melamar? Dunia menyusun daftar yang persis terbalik: berbahagialah yang kaya, yang tertawa, yang tegas, yang kenyang. Yesus seolah mengambil daftar dunia, membaliknya, lalu membacanya pelan-pelan dari belakang.

Ternyata ini bukan gagasan baru. Zefanya sudah menulisnya beratus tahun sebelumnya. Di tengah bangsa yang sombong, Allah berjanji menyisakan satu umat yang rendah hati dan lemah, yang mencari perlindungan pada nama Tuhan. Mereka disebut sisa Israel. Bukan yang terkuat yang tersisa, melainkan yang paling bersandar. Seperti domba yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggu. Gambar yang sangat sederhana untuk kata sebesar keselamatan.

Paulus kemudian menyaksikan sendiri bahwa Allah sungguh memilih seperti itu. Ia mengajak jemaat Korintus mengingat keadaan mereka sendiri waktu dipanggil. Tidak banyak yang bijak. Tidak banyak yang berpengaruh. Tidak banyak yang terpandang. Justru yang bodoh di mata dunia dipilih Allah. Bukan karena Allah membenci orang pandai, tetapi supaya tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Kalau yang dipilih adalah orang hebat, orang akan berkata: pantas saja. Kalau yang dipilih adalah orang biasa, orang hanya bisa berkata: ini pasti dari Allah.

Di kampung saya dulu ada ungkapan yang sering diucapkan orang tua: aja dumeh. Jangan mentang-mentang. Jangan mentang-mentang pintar, mentang-mentang punya, mentang-mentang kuat. Rupanya Sabda Bahagia adalah aja dumeh yang diucapkan oleh Allah sendiri, dari atas bukit, sambil duduk.

Lalu untuk apa Yesus naik ke bukit kalau yang disapa adalah orang yang paling bawah? Mungkin justru itulah maksudnya. Dari tempat tinggi, orang bisa melihat seluruh kerumunan sekaligus, termasuk yang berdiri paling belakang, yang tidak sempat mendekat karena malu. Berbahagialah kamu, kata-Nya kepada mereka yang tidak pernah disapa duluan. Kerajaan Surga bukan diperoleh dengan naik, melainkan diterima oleh yang berani tetap rendah.

Pekan ini mungkin kita tidak perlu banyak bergerak. Cukup duduk sebentar, mendekat, dan membiarkan diri disebut berbahagia oleh Dia yang tahu persis betapa kecilnya kita.

Tuhan Yesus, Engkau naik ke bukit dan duduk supaya kami yang kecil berani mendekat. Jadikan kami umat yang rendah hati, yang mencari perlindungan hanya pada nama-Mu, dan yang bermegah hanya dalam Dikau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap

SebelumnyaEngkaulah Orang Itu BerikutnyaMata yang Setia Menunggu