Sinyal Pertama di Pelosok
Ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersenyum ketika berkunjung ke paroki di lereng gunung: menara pemancar kecil berdiri di antara kebun kopi. Dahulu kampung itu disebut daerah tanpa sinyal. Orang harus naik ke bukit untuk sekadar mengirim pesan. Kini justru dari situ kabar dikirim ke mana-mana. Yang dulu paling tertinggal, kini paling dulu tersambung.
Yesaya berbicara tentang tanah seperti itu. Zebulon dan Naftali, wilayah utara yang pertama kali diinjak tentara Asyur, tanah yang direndahkan. Galilea, kata orang Yerusalem, adalah wilayah bangsa-bangsa lain, daerah campuran, pinggiran. Justru di sana, kata nabi, bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar.
Matius mencatat dengan teliti bahwa Yesus tidak memulai karya-Nya di Yerusalem. Ia meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Nubuat itu digenapi bukan di pusat, melainkan di pelosok. Mengapa? Bukankah lebih efisien memulai dari ibu kota, tempat para ahli Taurat dan Bait Allah? Rupanya Allah punya hitungan lain. Terang-Nya terbit lebih dulu di tempat yang paling lama gelap.
Di tepi danau itu Ia memanggil empat nelayan. Bukan ahli kitab, bukan imam. Orang yang tangannya bau ikan dan jalanya sedang dibereskan. Mereka segera meninggalkan jala, perahu, bahkan ayah. Dua kali Matius memakai kata segera. Tidak ada rapat, tidak ada pertimbangan panjang. Panggilan itu rupanya seperti sinyal yang tiba-tiba penuh: begitu tersambung, orang langsung menjawab.
Lalu mengapa Paulus hari ini justru marah? Jemaat Korintus terpecah dalam golongan: golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas. Terang yang satu itu dipotong-potong menjadi kapling. Apakah Kristus terbagi-bagi? tanya Paulus. Pertanyaan yang pedas, tetapi perlu. Sebab terang yang dikapling-kapling berhenti menjadi terang; ia menjadi lampu sorot yang saling menyilaukan.
Orang Jawa punya ungkapan: sing kalah dadi awu, sing menang dadi areng. Yang kalah jadi abu, yang menang jadi arang. Dalam pertengkaran golongan, tak ada yang benar-benar menang. Yesus memanggil para nelayan bukan untuk mendirikan merek masing-masing, melainkan menjadi penjala manusia, menarik orang ke dalam satu jala yang sama.
Di mana Zebulon dan Naftali kita hari ini? Mungkin lingkungan yang jarang dikunjungi, keluarga yang lama tak disapa, rekan kerja yang dianggap tidak penting. Terang itu, kata Yesaya, mulai dari sana. Dan panggilan itu datang di tengah pekerjaan biasa: saat membereskan jala, saat menutup laptop, saat mencuci piring. Pertanyaannya bukan apakah Ia memanggil, melainkan apakah kita segera menjawab.
Tuhan Yesus, Engkau memulai karya-Mu dari tanah yang direndahkan. Terangilah sudut-sudut hidup kami yang paling lama gelap, dan jadikan kami satu, bukan terpecah dalam golongan. Amin.