Dua Kali Tidak Mengenal
Minggu lalu kita berdiri di tepi Sungai Yordan dan menyaksikan Yesus turun ke air yang sama dengan para pendosa. Hari ini kita masih di sungai yang sama. Tetapi kamera berpindah. Kali ini yang bicara adalah Yohanes, dan ia mengaku sesuatu yang mengejutkan: "Aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia." Ia mengatakannya dua kali.
Bagaimana mungkin? Yohanes itu saudara sepupu Yesus. Ia melonjak dalam rahim ibunya ketika Maria datang berkunjung. Ia sudah berkhotbah tentang Dia yang akan datang. Lalu kini ia berkata tidak mengenal? Rupanya ada beda antara tahu dan mengenal. Tahu itu soal data. Mengenal itu soal tanda yang diberikan dari atas.
Saya bekerja dengan komputer sejak lama. Ada satu pelajaran yang tidak pernah usang: mesin tidak bisa dipercaya hanya dari tampilannya. Dua server bisa tampak persis sama di layar. Yang membedakan hanyalah tanda tangan digital yang tidak bisa dipalsukan. Begitulah Yohanes. Ia tidak mengandalkan mata jasmaninya. Ia menunggu tanda yang dijanjikan: Roh turun seperti merpati dan tinggal di atas-Nya. Bukan sekadar singgah. Tinggal.
Kata "tinggal" ini kata kesayangan Yohanes penginjil. Nanti ia akan memakainya untuk ranting pada pokok anggur, untuk murid di rumah Guru. Roh yang tinggal adalah tanda bahwa Yesus bukan nabi yang sesekali kejatuhan ilham. Ia adalah tempat Roh berdiam tetap. Maka Yohanes berani berseru, "Lihatlah Anak Domba Allah."
Anak domba, bukan singa. Dalam bacaan pertama, Yesaya sudah menyiapkan kita: hamba Tuhan tidak cukup hanya memulihkan Israel, ia harus menjadi terang bagi bangsa-bangsa sampai ujung bumi. Terang tidak memaksa. Ia hanya menyala dan membiarkan orang melihat. Anak domba juga tidak memaksa. Ia hanya dibawa, dan dosa dunia dihapus-Nya dengan diam.
Lalu apa tugas kita? Sama dengan Yohanes: memberi kesaksian. Paulus membuka suratnya kepada jemaat Korintus dengan menyapa "sekalian saudara di mana pun yang berseru kepada nama Yesus Kristus." Di mana pun. Korintus, Roma, Semarang, Muntilan. Kesaksian bukan monopoli orang berjubah. Setiap orang yang dibaptis sudah menerima Roh yang sama, dan Roh itu tidak singgah. Ia tinggal.
Orang Jawa punya ungkapan: witing tresna jalaran saka kulina. Cinta tumbuh karena terbiasa. Mengenal Yesus pun begitu. Bukan dari satu penglihatan dahsyat, tetapi dari tinggal bersama-Nya hari demi hari, sampai kita bisa berkata seperti Yohanes: "Aku telah melihat-Nya!"
Tuhan Yesus, Anak Domba Allah, buatlah kami mengenal Engkau, bukan sekadar tahu tentang Engkau. Biarlah Roh-Mu tinggal dalam diri kami, supaya hidup kami menjadi kesaksian bagi orang yang belum melihat-Mu. Amin.