Doa Katolik
Renungan · Minggu, 7 Juni 2026

Roti yang Mengingat

Semua renungan

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Dulu, di paroki tempat saya kecil, perayaan ini ditandai dengan perarakan. Sakramen Mahakudus dibawa keliling halaman gereja di bawah payung kuning, anak-anak menabur bunga, umat berlutut di rumput. Waktu itu saya hanya tahu satu hal: ada yang sangat berharga sedang lewat.

Bacaan pertama membuka perayaan ini dengan satu kata kerja: ingatlah. Musa berdiri di seberang Sungai Yordan, di ujung empat puluh tahun pengembaraan, dan berkata kepada umat: ingatlah seluruh perjalanan itu. Ingat laparmu. Ingat ular dan kalajengking. Ingat tanah gersang yang tidak ada airnya. Dan ingat manna, roti yang tidak kaukenal dan tidak dikenal nenek moyangmu. Mengapa Allah membiarkan mereka lapar dulu sebelum memberi makan? Musa menjawab lugas: supaya engkau mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja.

Lapar rupanya guru yang baik. Orang kenyang jarang bertanya dari mana makanannya datang. Orang lapar menghitung setiap butir. Padang gurun adalah ruang kelas, dan manna adalah pelajarannya: setiap pagi ada, setiap pagi cukup, tidak bisa ditimbun untuk esok. Roti yang mengajar orang untuk percaya hari demi hari.

Lalu Yesus di Kapernaum berkata: Akulah roti hidup yang turun dari surga. Orang Yahudi langsung bertengkar. Bagaimana mungkin Ia memberikan daging-Nya untuk dimakan? Pertanyaan itu jujur dan wajar. Yesus tidak melunakkan kata-kata-Nya. Ia justru memperkeras: barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Manna memberi hidup untuk satu hari. Roti ini memberi hidup yang tidak berakhir.

Paulus menambahkan satu sisi yang sering kita lupakan di tengah kekhidmatan. Roti hanya satu, katanya, maka kita yang banyak ini menjadi satu tubuh. Ekaristi bukan hanya soal saya dan Yesus. Ekaristi juga soal saya dan orang yang antre di belakang saya waktu komuni. Satu roti dipecah, dibagi, diterima oleh ratusan mulut, dan hasilnya bukan ratusan orang kenyang sendiri-sendiri, melainkan satu tubuh.

Saya teringat tumpeng di selamatan kampung. Satu nasi dibentuk kerucut, dipotong puncaknya, dibagikan ke setiap tamu. Tidak ada yang pulang membawa tumpeng sendiri. Semua membawa sebagian dari yang satu. Itulah yang membuat orang sekampung merasa saudara: mereka pernah makan dari nasi yang sama.

Maka perarakan hari ini bukan hanya pameran kekhidmatan. Ia adalah pengingat. Ingatlah perjalananmu. Ingatlah lapar yang pernah Allah izinkan. Ingatlah roti yang diberikan setiap pagi. Dan ingatlah bahwa roti itu kini bernama Yesus, yang berjalan keliling halaman gereja supaya kita tahu: yang sangat berharga itu tidak sekadar lewat. Ia tinggal.

Tuhan Yesus, roti hidup yang turun dari surga, ajari kami mengingat setiap manna dalam perjalanan kami. Satukanlah kami yang banyak ini menjadi satu tubuh, sebab kami makan dari roti yang satu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap

SebelumnyaDua Keping Receh BerikutnyaRoti dari Paruh Gagak