Satu Titik Saja
Siapa pun yang pernah menulis kode program tahu rasanya: satu titik koma yang hilang bisa membuat seluruh program menolak berjalan. Ribuan baris sudah benar, tetapi mesin berhenti pada satu karakter. Bagi orang awam itu terasa berlebihan. Masa hanya karena satu titik? Tetapi begitulah bahasa yang teliti. Tiap tanda punya arti.
Minggu lalu Yesus menyebut kita garam dan terang. Hari ini Ia melanjutkan khotbah di bukit dengan kalimat yang mengejutkan: satu noktah atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat. Yesus datang bukan untuk menghapus, melainkan menggenapi. Kata genap itu menarik. Dalam bahasa kita, genap berarti utuh, tidak ganjil, tidak kurang. Taurat bukan dibuang, melainkan dilengkapi sampai penuh.
Bagaimana cara menggenapinya? Yesus memberi contoh lewat pola yang berulang: kamu telah mendengar, tetapi Aku berkata kepadamu. Jangan membunuh, itu hukum lama. Tetapi marah dan memaki saudara, itu pun sudah membunuh dalam hati. Jangan berzinah, itu hukum lama. Tetapi memandang dengan nafsu, itu pun sudah berzinah di dalam hati. Yesus memindahkan hukum dari tangan ke hati, dari perbuatan yang tampak ke niat yang tersembunyi.
Bukankah ini justru lebih berat? Hukum lama bisa dipenuhi dengan menahan tangan. Hukum yang digenapi menuntut hati yang bersih. Di sinilah Sirakh menolong kita. Api dan air telah ditaruh Tuhan di hadapanmu, kata orang bijak itu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. Allah tidak menyuruh orang menjadi fasik. Ia memberi kebebasan memilih, dan Ia percaya kita sanggup memilih hidup.
Ada satu perintah kecil yang mudah terlewat: jika engkau sedang mempersembahkan kurban lalu teringat saudaramu menyimpan sesuatu terhadapmu, tinggalkan persembahanmu, berdamailah dulu. Bayangkan seseorang keluar dari antrean komuni untuk menelepon kakaknya yang sudah setahun tidak disapa. Aneh? Mungkin. Tetapi begitulah hukum yang digenapi: mezbah dan meja makan keluarga ternyata satu jalur.
Lalu soal sumpah. Jangan bersumpah demi langit, demi bumi, demi kepalamu sendiri. Jika ya, katakan ya; jika tidak, katakan tidak. Orang Jawa menyebutnya sabda pandhita ratu: sekali diucapkan, tidak ditarik lagi. Orang yang jujur tidak membutuhkan sumpah, sebab kata-katanya sudah cukup berbobot.
Paulus menyebut semua ini hikmat yang tersembunyi, yang disediakan Allah sejak sebelum dunia dijadikan, yang tidak dilihat mata dan tidak didengar telinga. Hikmat itu bukan sekadar aturan yang lebih ketat, melainkan Roh yang menyelidiki hati. Satu titik saja tidak akan hilang, karena yang menulisnya adalah Kasih yang teliti.
Tuhan Yesus, Engkau datang menggenapi, bukan meniadakan. Bersihkanlah hati kami sampai ke niat yang tersembunyi, supaya ya kami sungguh ya dan tidak kami sungguh tidak. Amin.