Gantang dan Kaki Dian
Minggu lalu Yesus duduk di bukit dan mengucapkan "berbahagialah" kepada orang miskin, orang berduka, orang lemah lembut. Hari ini Ia masih duduk di tempat yang sama. Kalimat berikutnya langsung menunjuk pendengar-Nya: "Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia." Bukan "kamu harus menjadi". Kamu adalah. Sudah. Sekarang.
Lalu Ia bicara tentang gantang. Gantang itu takaran gandum, wadah kayu atau tanah liat sebesar ember kecil. Siapa yang menyalakan pelita lalu menutupnya dengan ember? Tidak ada orang waras melakukannya. Pelita minyak zaman itu kecil sekali, sebesar telapak tangan. Nyalanya hanya cukup untuk satu ruangan. Tetapi ruangan itulah yang Yesus pikirkan: "sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu." Terang murid bukan mercusuar. Terang murid adalah lampu rumah.
Di sini bacaan pertama membantu kita. Yesaya tidak bicara tentang khotbah, program, atau spanduk. Ia bicara tentang roti yang dibagi, orang tak berumah yang dibawa ke rumah, orang telanjang yang diberi pakaian. Lalu katanya: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah laksana fajar." Terang tidak dinyalakan dengan saklar. Terang merekah, seperti fajar, perlahan, sebagai akibat dari sesuatu yang dilakukan tangan.
Saya lama berkutat dengan listrik dan kabel. Satu hal yang saya pelajari: lampu tidak menghasilkan cahaya dari dirinya sendiri. Ia hanya tempat arus berubah menjadi terang. Putuskan arusnya, lampu itu kaca mati. Begitulah murid. Yesus tidak berkata, "supaya mereka memuji kamu." Ia berkata, "supaya mereka memuliakan Bapamu di surga." Lampu yang baik tidak membuat orang memandangi lampu. Ia membuat orang melihat ruangan.
Paulus menambahkan satu catatan yang menenangkan. Ia datang ke Korintus "dalam kelemahan, dengan sangat takut dan gentar," tanpa kata-kata indah. Terang tidak membutuhkan orator. Kota di atas gunung tidak perlu berteriak supaya kelihatan. Ia hanya perlu ada di tempatnya. Begitu pula garam. Garam yang baik tidak pernah terasa sebagai garam. Yang terasa adalah masakannya menjadi enak. Garam larut, hilang dari pandangan, dan justru di situ ia bekerja.
Maka pertanyaannya bukan "apakah saya cukup terang?" Pertanyaannya: "gantang apa yang sedang menutupi saya?" Mungkin rasa malu. Mungkin kesibukan. Mungkin anggapan bahwa yang kecil tidak berarti. Orang Jawa menyimpan pepatah pendek: urip iku urup. Hidup itu menyala. Bukan menyala untuk dilihat, melainkan menyala supaya orang lain bisa melihat.
Tuhan Yesus, Engkau menyebut kami terang dunia sebelum kami merasa layak. Singkirkanlah gantang yang menutupi kami, dan ajarilah kami membagi roti, supaya terang kami merekah laksana fajar dan Bapa dimuliakan. Amin.