Hari Ini Genaplah
Di lemari banyak keluarga tersimpan surat-surat lama. Akta, ijazah, kadang surat cinta kakek kepada nenek. Kita membacanya sebagai kenangan, bukan sebagai kabar. Tidak ada yang menunggu isinya terjadi, sebab semuanya sudah lewat.
Di rumah ibadat Nazaret, Yesus menerima gulungan tua semacam itu: nubuat Yesaya yang berumur ratusan tahun. Roh Tuhan ada pada-Ku, kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi para tawanan. Semua orang hafal teks itu. Lalu Yesus menutup kitab, duduk, dan berkata: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
Hari ini. Surat lama itu tiba-tiba menjadi kabar yang hidup. Yang selama ini dibaca sebagai arsip ternyata janji yang menunggu, dan Penggenapnya sedang berdiri di depan mereka. Nubuat berhenti menjadi kenangan dan mulai menjadi peristiwa.
Kemarin kita mendengar kasih yang melenyapkan ketakutan. Hari ini Yohanes menambahkan: perintah-perintah-Nya tidak berat, dan iman kita adalah kemenangan yang mengalahkan dunia. Ini pun bukan arsip. Ini berlaku hari ini, saat kita mendengarnya.
Pertanyaannya jujur saja: kita membaca Kitab Suci sebagai kenangan orang lain, atau sebagai surat yang dialamatkan kepada kita pagi ini?
Tuhan Yesus, jadikanlah sabda-Mu genap dalam hidupku hari ini, bukan besok, bukan nanti. Amin.